Pengantin Bayaran

Pengantin Bayaran
Bab 8


__ADS_3

Setelah kelas selesai para murid mulai berhamburan keluar dari kelas dengan gembira ria, sepertinya memang sudah tradisi dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi ya. Selama pelajaran berlangsung para murid ada yang bersemangat dan ada pula yang tidak, tapi saat jam istirahat atau jam sekolah usai semua murid terlihat senang.


“Huft... akhirnya kelas selesai juga!” Vivi merasa sangat lega sekali.


“Seneng amat sih kayaknya!” kata Suci.


“Bukannya seneng, tapi akhirnya pikiran gw bisa bebas dari mata pelajaran tambahan itu!” elak Vivi.


“Oh gitu...” ujar Suci.


“Eh Suc, lo kan udah gak kerja lagi nih, gimana kalo lo temenin gw ke mall?” ajak Vivi kepada Suci.


Suci berpikir sejenak dengan ajakan dari sahabatnya itu dan kemudian dia menganggukkan kepalanya untuk menyetujui ajakan darinya. Namun saat dia beranjak ingin pergi dari kampus tiba-tiba notifikasi pesan milik ponsel Suci berbunyi dan rupanya itu pesan dari Alam, Alam mengatakan bahwa dia menunggu Suci di depan gerbang kampus dan perintahnya tidak bisa dibantah.


“Vi, sorry ya kayaknya hari ini aku gak bisa nemenin kamu ke mall deh!” kata Suci dengan tidak enak hati.


“Kenapa emangnya kok gak bisa?” Vivi berkata dengan wajah cemberut.


“Barusan aku dapat pesan dari bunda panti, katanya ada urusan sebentar.” Kata Suci berbohong kepada sahabatnya itu.


“Ya ampun gak asik banget!” ucap Vivi dengan wajah yang masih cemberut.


“Ya gimana dong, bunda baru kasih tau aku,” Suci benar-benar merasa tidak enak hati, “tapi lain kali kita pasti pergi ke mall deh, aku janji!” ucap suci sambil mengacungkan dua jarinya menandakan dia sangat berjanji.


“Ya udah deh gak apa-apa!” Vivi terpaksa menerima.


“Makasih ya Vi,” ucap Suci seraya mencium pipi sahabatnya itu, “bye Vi, sampe ketemu besok!” kata Suci sambil melambaikan tangannya dan berlalu pergi dari tempat itu untuk menuju dimana suaminya sedang menunggu dirinya.


**


“Kakak gak pergi ke kantor hari ini?” tanya Suci saat dalam perjalanan.


“Kalo aku pergi ke kantor, gak mungkin aku ada di kampus!” ketus Alam tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalan.


“Oh...” singkat Suci.


Keheningan pun tercipta di dalam mobil itu selama beberapa detik, Suci melemparkan pandangannya ke pemandangan jalan yang ada di sebelah kirinya, sedangkan Alam sesekali melirik ke arah Suci.


“Kamu mau pergi kemana?” tanya Alam memecah keheningan diantara mereka.

__ADS_1


“Hah... apa?” Suci berpura-pura tidak mendengar kalimat pertanyaan Alam.


“Kamu mau pergi kemana?” tanya Alam sekali lagi.


“Bukannya kita mau pulang?” Suci balik bertanya kepada Alam.


“Bisa gak sih, kalo aku nanya gak usah dibalikin?” kata Alam dengan nada sedikit membentak.


“Oh... maaf,” Suci menundukkan pandangannya, “aku gak mau kemana-kemana.”


“Serius?!” Alam merasa tidak yakin dengan jawaban Suci.


Suci hanya mengangguk kepalanya untuk menandakan dia serius dengan jawabannya, padahal dia sebenarnya ingin sekali pergi ke panti asuhan karena dia rindu sekali dengan adik-adik dan bunda pengurus panti. Alam masih tidak yakin dengan jawaban Suci, tapi karena Alam tidak mengerti dengan isi hati dari istrinya, Alam pun melajukan mobilnya untuk menuju rumah kedua orangtuanya.


**


Setengah jam kemudian Alam dan Suci pun sampai di kediaman orang tua Alam.


“Kita mau ngapain kak kesini?” tanya Suci penasaran, dia merasa heran sekali karena semenjak mereka menikah Alam tidak pernah mengajak dirinya ke rumah orangtuanya kecuali mertuanya yang datang ke rumah mereka.


“Aku abis ini mau ke kantor, jadi dari pada kamu sendirian dirumah mendingan disini!” jawab Alam sambil melepaskan sabuk pengamannya.


‘Hah... aku gak salah denger nih? Biasanya kalo dia mau ke kantor dan aku sendirian di rumah dia juga gak peduli?’ batin Suci merasa heran.


Suci pun menganggukkan kepalanya dan langsung melepaskan sabuk pengaman, tapi sabuk pengamannya tidak bisa langsung dilepas begitu saja.


“Lama banget sih?” Alam agak kesal karena Suci terlalu lamban.


“Iya kak bentar, ini aku lagi lepas sabuknya!” jawab Suci sambil berusaha melepaskan sabuk pengamannya.


“Ckk... lemot amat,” Gerutu Alam.


Alam pun mendekati Suci bermaksud untuk melepaskan sabuk pengaman. Namun wajah diantara mereka terlalu dekat sehingga membuat jantung Suci berlari maraton dan juga wajahnya bersemu merah. Sabuk pengaman pun telah lepas, dan secara tidak sengaja pandangan mata mereka bertemu sehingga mereka saling menatap sejenak dan hingga akhirnya Suci memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan kegugupannya. Mereka berdua pun langsung turun dari mobil dan masuk ke rumah.


“Selamat datang menantu dan anak kesayangan mami!” sambut Wulan dengan senang hati ketika melihat anak dan menantunya datang.


Wulan pun langsung memeluk Suci dengan senang hati seakan-akan anaknya adalah Suci bukan Alam, Alam pun merasa cemburu ketika melihat maminya lebih dulu memeluk menantunya daripada dirinya sendiri.


“Mami, mami lupa ya siapa anak mami?” kata Alam dengan wajah yang ditekuk.

__ADS_1


“Hahaha... gak dong sayang, mana mungkin mami lupa sama anak mami sendiri!” kata Wulan tertawa geli ketika mendengar pertanyaan dari putranya itu.


“Lagian mami meluk Suci duluan daripada Alam!” keluh Alam.


Lagi-lagi Wulan tertawa dengan perkataan putranya itu, dia pun langsung memeluk putranya dan mencium keningnya, lalu setelah itu dia menyuruh anak dan menantunya masuk.


“Sayang kalian udah pada makan siang belum? Kalo belum kita makan bareng yuk, mami udah masak makanan lumayan banyak!” kata Wulan kepada anak dan menantunya.


“Mami, aku ada urusan di kantor jadi aku gak bisa ikut makan siang!” kata Alam menolak ajakan Wulan dengan halus.


“Loh... kalo kamu ada urusan di kantor kenapa kamu datang kesini?” Wulan menatap anaknya heran.


“Mami... mami gak suka aku datang kesini?” Alam balik bertanya kepada Wulan.


“Aduh... bukan kayak begitu sayang, maksud mami kalo kamu ada urusan di kantor kenapa kamu repot-repot datang ke sini?” Wulan menjelaskan maksud perkataannya.


“Oh... kirain aku mami gak suka aku datang kesini,” gerutu Alam kepada Wulan, “aku kesini karena cuman mau nganterin Suci mam, mungkin aja Suci kalo aku tinggal di rumah sendirian bakal kesepian mam.” Kata Alam menjelaskan kepada Wulan.


“Oh gitu.... ya udah gak apa-apa!” Wulan tersenyum senang karena Alam begitu perhatian kepada Suci.


“Ya udah deh mami, kalo gitu Alam pamit ke kantor dulu ya!” pamit Alam kepada Wulan.


“Ya udah, hati-hati di jalan ya!” seru Wulan kepada putranya, dan setelah itu Alam pergi meninggalkan Wulan dan istrinya, Suci merasa sedih karena Alam tidak pamit kepada dirinya.


Wulan memerhatikan wajah Suci yang terlihat sedih dan dia pun menggelengkan kepalanya karena sikap anaknya.


“Ya udah yuk sayang, kita makan siang dulu!” ajak Wulan sembari menarik tangan menantunya untuk menuju meja makan.


Mereka pun sampai di meja makan, Wulan dan Suci langsung duduk di kursi untuk menyantap makan siang. Tak ada perbincangan di saat mereka makan karena Wulan sangat mendisiplinkan tata krama saat makan tidak boleh berbicara.


Setelah selesai makan siang Wulan dan Suci berkumpul di ruang keluarga.


“Cici sayang,” panggil Wulan kepada menantunya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2