Pengantin Bayaran

Pengantin Bayaran
Bab 18


__ADS_3

“Ok bunda!” jawab Dora dan Lisa bersamaan.


“Nak Alam...!” panggil Halimah kepada Alam.


“Iya bu--” Alam menghentikan perkataannya karena dia bingung harus memanggil Halimah apa.


“Kamu bisa panggil saya bunda aja kok kayak mereka,” kata Halimah saat menyadari kebingungan Alam.


“Nak Alam, Cici tidak ingin pulang sebelum jenazah Suci bisa dimakamkan besok pagi, jadi dia mau disini sampai Suci bisa dimakamkan, kamu--”


“Iya bunda saya bisa kok!” tukas Alam dengan nada lantang.


Halimah agak terkejut dengan ucapan Alam, dia berpikir apa yang dimaksud bisa oleh Alam, padahal dia sendiri belum menyelesaikan kalimatnya.


“Maksud saya... bunda mau minta saya buat jagain Suci kan? Saya bisa kok bunda!” kata Alam yang mengerti maksud kebingungan di wajah Halimah.


“Oh...” Halimah berucap sambil tersenyum, “ternyata kamu orangnya perhatian ya? Bunda belum selesai bicara tapi kamu udah tau maksud bunda, ya udah kalo gitu bunda sama anak-anak pamit pulang ya, ini udah hampir larut!” sambung Halimah lagi.


“Iya bunda!” kata Alam sambil tersenyum.


Halimah pun membalas senyuman Alam dan setelah itu dia mengajak Dora dan Lisa untuk kembali ke panti asuhan karena sudah hampir larut malam.


Setelah kepergian Halimah, Alam tidak langsung masuk keruangan Suci, melainkan dia kembali duduk dan mengusap wajahnya dengan rasa lega karena mengetahui siapa pasien yang bernama persis seperti istrinya.


Alam tidak menyadari bahwa lambat laut kehadiran Suci telah dia terima di dalam hidupnya bahkan dia tidak sadar jika dia sudah membuka hatinya untuk Suci. Sedangkan di dalam ruangan, Suci masih sedih dengan kepergian adik panti kesayangannya itu, bagi dirinya Suci kecil bukanlah rivalnya tapi Suci sudah menganggap Suci kecil seperti adiknya dan seluruh anak-anak di panti asuhan adalah semangat hidup Suci selama ini.


Alam pun masuk ke dalam ruangan Suci dia mengira Suci sudah tertidur lalu dia pun mendekati Suci dengan perlahan supaya tidak menggangu Suci.


“Kak Alam, kenapa masuk gak ada suaranya?” kata Suci tanpa membalikkan tubuhnya untuk menghadapi Alam, Alam seketika terkejut ketika dia mendengar suara Suci.


“Maaf... aku kira kau sudah tidur!” ucap Alam, “tapi... bagaimana kau tahu bahwa ini adalah aku?” tanya Alam penasaran.


“Hanya asal tebak saja!” jawab Suci sekenanya.


“Oh...” singkat Alam.


“Kak Al, lebih baik pulang saja ke rumah, aku akan baik-baik saja disini!” kata Suci dengan nada memerintah, tapi sebenarnya hatinya tidak berkata seperti itu.


“Kenapa?” Alam merasa terkejut dengan perkataan Suci.


“Tidak ada apa-apa. Besok kan kak Al, pasti banyak pekerjaan lebih baik kak Al pulang saja, kakak tidak usah pedulikan aku. Aku akan baik-baik saja disini!” Suci menjelaskan kepada Alam.


“Tidak bisa!” tolak Alam dengan tegas, “aku udah janji sama bunda Halimah untuk jaga kamu disini.”

__ADS_1


“Tapi kak--”


“Gak ada komentar apapun. Lagian kalo aku tinggalkan kamu disini, terus tiba-tiba mami telpon aku dan tanya tentang kamu, gimana? Kamu tau kan aku kan gak bisa bohong ke mereka kalo menyangkut tentang kamu?” kata Alam memperingati Suci tentang sikap orang tua Alam.


Suci tidak langsung menjawab pertanyaan Alam melainkan dia hanya menghembuskan nafas kasar setelah mendengar perkataan dari suaminya dan dia pun kembali membelakangi Alam lalu dia mencoba memejamkan matanya.


‘Dasar wanita yang merepotkan!’ gerutu Alam dalam hatinya.


Alam pun duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang Suci, dia menatap punggung Suci yang membelakanginya.


********


Keesokan harinya di pemakaman Suci kecil.


Pemakaman jenazah Suci kecil telah selesai semua para penyelayat sudah pergi untuk meninggalkan pemakaman, tapi Halimah dan Alam masih menunggu Suci yang sedang berkabung di depan batu nisan adik kecilnya itu.


“Nak Alam, terima kasih ya karena semalam kamu sudah menemani Suci!” kata Halimah walaupun sebenarnya dia tahu tidak perlu berterima kasih kepada pria yang sudah berstatus suami bagi Suci.


“Tidak usah berterima kasih bunda, itu memang sudah seharusnya!” jawab Alam.


Mereka berdua sama-sama tersenyum dan setelah itu mereka saling memandang Suci.


“Boleh bunda tanya satu hal sama kamu nak Alam?” tanya Halimah dengan nada serius.


“Kenapa pernikahan kalian disembunyikan?”


Pertanyaan dari Halimah membuat Alam terkejut dan bingung karena dia tidak tahu harus menjawab pertanyaan dari Halimah dengan jawaban apa, dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada Halimah.


“Bunda...!!” belum sempat Halimah mendengar jawaban dari Alam, Suci sudah menghampiri mereka berdua.


“Ya sayang,” sahut Halimah.


“Bunda lagi bicara apa sama kak Al?” tanya Suci ingin tahu.


Halimah dan Alam saling memandang satu sama lain sehingga membuat Suci agak heran dengan mereka.


“Bunda...!” Suci menatap Halimah dengan heran.


“Ehm... bunda cuman nanya sama nak Alam apa semalam dia kerepotan buat jagain kamu?!” Halimah beralasan.


“Benar, bunda nanya hal itu sama kak Al?” Suci tidak yakin dengan jawaban Halimah karena dia melihat ekspresi tegang di wajah suaminya.


“I-i-iya Suc, bunda memang nanya kayak gitu sama aku!” kata Alam dengan nada terbata-bata.

__ADS_1


“Oh... ya udah kalo gitu,” ucap Suci walaupun dia sebenarnya belum percaya dengan jawaban mereka.


“Cici, kamu mau pulang sama suami kamu apa mau ke panti asuhan dulu?” tanya Halimah kepada Suci.


Suci tidak langsung menjawab pertanyaan dari Halimah melainkan dia menatap suaminya sehingga membuat Alam yang ditatap menjadi bingung.


“Ehm... Suci, kalo kamu mau ke panti juga gak apa-apa kok, nanti sore setelah pulang dari kantor aku jemput kamu!” kata Alam yang baru mengetahui apa maksud dari tatapan Suci.


“Benaran kak?” Suci merasa tidak yakin dengan ucapan Alam.


Alam meyakinkan Suci dengan senyuman lembutnya, begitu pula Suci membalas senyuman dari Alam dengan terpaksa.


“Ya udah kalo gitu bunda. Ayo aku antar kalian ke panti!” kata Alam kepada Halimah dan juga istrinya.


Halimah pun mengangguk-angukan kepalanya dan mereka langsung menuju ke mobil Alam untuk kembali ke panti asuhan.


****


Setelah mengantar Halimah dan Suci ke panti asuhan kasih sayang, Alam kembali ke rumah sebentar dan langsung pergi menuju ke kantor.


Sedangkan Suci di panti asuhan sedang mengingat kembali peristiwa saat dirinya bersama Suci kecil.


****************


Dua minggu kemudian setelah kepergian Suci kecil, Suci Ardani kembali menjalani kehidupan normalnya dan kembali bersemangat demi kehidupan dirinya dan juga adik-adik panti yang selalu menjadi penyemangat hidupnya.


Sedangkan Alam suaminya, selalu sibuk dengan urusan kantornya dan dalam kesibukannya itu dia sudah mulai dibantu oleh sekertaris barunya yaitu Tiara. Tanpa Suci sadari bahwa pernikahan pura-puranya itu sedang diambang kehancuran dengan kedatangan Tiara yang bekerja sebagai sekertaris.


.


.


.


.


.


Untuk update selanjutnya tidak begitu pasti.


Jangan lupa dukungannya ya para readers.


Ditunggu vote dan likenya.

__ADS_1


(Arigatogozaimashita 🙏)


__ADS_2