
“MIRAI ....!!” perkataan Mirai terhenti ketika mendengar namanya disebut dengan sangat keras oleh suara yang sangat tidak asing di telinganya itu.
Mirai pun langsung menengok kearah suara yang berteriak kepada dirinya sambil meremas kedua tangannya.
“Apa yang sedang kau lakukan kepada para pegawai ku?” bentak orang itu kepada Mirai, orang itu tidak lain adalah Alam.
“Kau tanyakan saja sendiri kepada para pegawai mu yang sangat tidak sopan itu!” jawab Mirai dengan nada tinggi.
“Pegawai ku tidak mungkin bersikap tidak sopan kepada orang lain!” kata Alam merasa tidak terima jika Mirai berbicara buruk tentang para pegawainya.
“Terserah kau percaya atau tidak!” ketus Mirai merasa sangat jengkel.
“Ryu, berikan dokumen itu kepadanya. Aku akan menunggumu di mobil!” kata Mirai kepada sekertarisnya dan setelah itu dia langsung pergi dari tempat itu.
“Hei kau ....” Alam berteriak untuk menghentikan langkah Mirai, namun karena Tiara menghalangi dirinya dia pun tidak melanjutkan teriakkannya itu.
“Sekertaris Ryu, jika ada sesuatu yang sangat penting mari kita bicarakan di ruangan pertemuan!” kata Tiara dengan sopan kepada sekertaris Mirai.
“Tidak usah sekertaris Tiara!” kata Ryu sambil mengulas senyum palsu diwajahnya, “aku hanya ingin memberikan dokumen tentang pemutusan kerja sama kita!” kata Ryu sambil menyodorkan berkas kepada Tiara.
Tiara dan Alam sangat terkejut dengan perkataan dari Ryu.
“A-a-apa maksud perkataan mu sekertaris Ryu?” Tiara bertanya dengan keadaan bingung.
“Aku sudah mengatakan maksud ku, selanjutnya kalian bisa melihat isi dokumen ini!” kata Ryu datar namun terdengar sopan di telinga Tiara dan juga Alam.
“Ta-ta-tapi--”
“Maaf sekertaris Tiara, tuan ku sudah menunggu. Apa sekarang kau bisa mengambil dokumen ini!” kata Ryu lagi yang masih memegang dokumen ditangannya.
Tiara terdiam sejenak dan dia memandang Alam, namun karena Alam terlihat sangat kesal Tiara pun langsung mengambil dokumen di tangan Ryu dengan ragu-ragu.
Setelah Tiara mengambil dokumen itu dari tangannya, Ryu pun langsung berpamitan kepada mereka berdua untuk segera pergi dari tempat itu.
Alam terlihat sangat marah sekali, dia pun langsung berjalan terlebih dahulu daripada Tiara untuk menuju ke ruangannya. Tiara masih berdiri di tempat itu dengan penuh kebingungan lalu setelah itu dia langsung menyusul Alam.
__ADS_1
*****
Sore harinya, Wulan baru terlihat kembali dari panti asuhan. Dia langsung masuk ke kamarnya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, setelah selesai membersihkan dirinya, Wulan langsung duduk di depan meja rias sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk. Saat mengeringkan rambutnya dia teringat cerita Halimah yang menceritakan kehidupan Suci dari kecil sampai kejadian buruk yang menimpa dirinya, dan Wulan juga teringat saat Halimah mengatakan bahwa penyebab putranya bertengkar adalah kesalahpahaman yang diciptakan oleh Mirai yang mengatakan bahwa Suci telah menjadi kekasihnya selama sembilan tahun ini.
Halimah juga menceritakan kepada Wulan, bagaimana pernikahan Suci dengan putranya itu. Wulan terlihat sangat geram saat mengetahui bahwa putranya menikah karena paksaan, dan dia juga sangat geram sekali ketika tahu bahwa selama ini menantu kesayangannya itu dibayar untuk pernikahan palsunya selama ini.
Ya awalnya Suci tidak menceritakan kehidupan pernikahannya kepada siapapun termasuk Halimah sendiri, namun karena lama-kelamaan Halimah merasa curiga dengan uang yang di dapatkan oleh Suci setiap bulannya. Halimah tau bahwa selama ini Suci tidak bekerja namun karena uang yang banyak itu Halimah menjadi sangat curiga dan sempat berpikir buruk kepada Suci, Halimah berpikir Suci mendapatkan uang itu dengan cara kotor. Karena tidak mau membuat Halimah salah paham, Suci pun menceritakan darimana dia mendapatkan uang itu dan bagaimana tentang kehidupan pernikahannya.
“Mam ...” panggil Ilham kepada istrinya.
Wulan yang masih memikirkan cerita Suci dari Halimah tidak mendengar panggilan dari suaminya itu.
“Mam ....” panggil Ilham sekali lagi namun tetap tidak ada jawaban dari Wulan.
Ilham merasa sangat heran dan bertanya kepada dirinya sendiri, apa yang menyebabkan Wulan seserius itu sehingga tidak mendengar panggilan dari dirinya? Ilham pun mendekati Wulan dengan perlahan.
“Mam ...” panggil Ilham lagi sambil menepuk pundak Wulan, Wulan pun tersentak kaget akan hal itu.
“Aduh .... Papa ini bikin mama kaget aja sih!” oceh Wulan kepada suaminya.
“Mama gak kenapa-napa kok pa!” jawab Wulan membohongi suaminya itu.
“Mama yakin gak apa-apa?” Ilham memastikan, karena Ilham merasa istrinya itu menyembunyikan sesuatu dari dirinya.
“Iya pa,” jawab Wulan sambil mengulas senyuman berusaha menyakinkan suaminya, “oh ya ... papa belum makan kan? Gimana kalo kita bawah, mama akan buat makanan kesukaan papa?” kata Wulan kepada suaminya.
“Ya udah ayo— kebetulan papa juga udah laper nih!” kata Ilham dengan nada manja.
Wulan pun mengulas senyuman dan langsung mengajak suaminya ke bawah, lalu setelah itu dia menyuruh Ilham untuk menunggunya di ruangan keluarga karena Wulan ingin memasak terlebih dahulu.
*****
Sedangkan dirumah, Suci terlihat sedang mondar-mandir untuk menunggu kepulangan suaminya. Bi Ayu yang dari tadi memperhatikan istri majikannya itu mondar-mandir saja sudah hampir bosan, rasanya ingin sekali bertanya apa yang menyebabkan kegelisahan kepada istri majikannya itu, tapi karena bi Ayu hanya orang luar dia tidak ingin ikut campur.
Suara mobil pun terdengar dari luar pekarangan rumah, seulas senyuman tampak di wajah Suci, dia pun langsung membuka pintu dan menyambut kepulangan suaminya itu. Tapi— senyuman Suci sirna saat melihat orang yang pertama kali turun dari mobil suaminya, orang itu tidak lain adalah sekertaris Alam.
__ADS_1
‘Kenapa lagi-lagi kak Al bisa pulang bersama Tiara?’ batin Suci merasa sangat gusar.
“Bi Ayu....!!” Suci meneriaki nama bi Ayu.
“Iya non ada apa?” tanya bi Ayu sambil menghampiri istri majikannya itu.
“Bi, tolong bawa kak Al sama tamunya masuk ya!” kata Suci menahan rasa sesak di dadanya dan setelah itu dia kembali masuk ke dalam rumah.
“Tapi non--”
Bi Ayu tidak menyelesaikan perkataannya karena Suci sudah berlalu pergi dari sana, bi Ayu pun langsung menghampiri Alam dan Tiara lalu mempersilahkan mereka untuk masuk.
Suci berlari ke dapur, entah kenapa ada rasa sesak yang amat sangat dihatinya ketika melihat Tiara turun dari mobil suaminya.
“Bi, dia udah pulang?” tanya Alam kepada bi Ayu dengan nada yang terdengar datar.
“Iya, nona sudah pulang tuan!” jawab bi Ayu yang tahu maksud pertanyaan majikannya itu.
Alam hanya mengangguk menanggapi perkataan dari bi Ayu dan langsung masuk ke dalam. Tiara yang mendengar pembicaraan Alam dengan bi Ayu menjadi penasaran siapa yang dimaksud dia oleh Alam? Ingin sekali rasanya Tiara bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya itu, tapi dia mengurungkan niatnya.
“Ra, lo tunggu disini bentar ya, gw mau ke kamar dulu!” kata Alam kepada Tiara dengan nada datar.
“Iya, Al!” sahut Tiara sambil mengulas senyuman. Alam pun langsung masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian santai.
Saat Alam masuk ke kamar Suci keluar dari dapur sambil membawa cemilan dan meminta bi Ayu untuk menyajikannya kepada Tiara.
“Kenapa gak non Suci aja yang sajikan, non?” tanya bi Ayu heran dengan sikap istri majikannya itu.
•
•
•
•
__ADS_1
•