Pengantin Bayaran

Pengantin Bayaran
Bab 36


__ADS_3

“Itu adalah kenyataannya, sebelum kami bertengkar kami sempat berbicara dengan baik-baik. Mirai mengatakan kepada ku bahwa kau dan dia sudah menjadi sepasang kekasih selama sembilan tahun namun karena tidak tahu apa yang terjadi kau jadi membenci dirinya dan dia pun pergi meninggalkan mu untuk sementara waktu. Lalu aku pun terkejut dengan perkataannya dan aku mengatakan kepadanya bahwa kau adalah istriku, tapi aku tidak menyadari bahwa dia sangat marah hingga akhirnya kami bertengkar.”


Alam menjelaskan kejadian sebelum mereka bertengkar dengan nada yang terdengar menyindir Suci, seakan-akan Suci adalah orang yang sangat bersalah atas pertengkaran mereka.


“Kak Al, kenapa kau seakan-akan menyalahkan diriku?” tanya Suci dengan nada sedih kepada Alam.


“Ya... kau memang salah. Sangat salah...!! kau telah memiliki seorang kekasih selama sembilan tahun, kenapa kau mau menikah dengan ku? Dan kenapa saat aku bertanya apa hubungan mu dengan Mirai, kau tidak menjawab ku waktu itu?” kata Alam dengan nada tinggi.


“Alam.... kau tidak bisa berbicara dengan nada tinggi kepada Cici!!” kata Mirai membentak Alam.


“Kau diam saja...” Alam menatap tajam Mirai sambil mengacungkan jari kepada Mirai, “aku adalah suaminya saat ini, jadi aku berhak bicara kepadanya dengan nada apa pun!!” kata Alam dengan penuh penekanan.


“Kak Al... apa kau bisa mendengar perkataan ku terlebih dahulu?” kata Suci dengan nada terdengar sedih.


“Aku tidak mau mendengar perkataan dari mu lagi Suci!!” bentak Alam, “mungkin saja jika waktu aku bertanya kepada mu, kau mau menjawab pertanyaan ku, aku akan mendengarkan mu. Tapi kali ini... kali ini sudah tidak ada yang perlu kau katakan lagi!!” kata Alam penuh emosional kepada Suci, lalu setelah itu dia pergi meninggalkan tempat yang itu dengan penuh kemarahan.


Suci seketika teringat dengan perkataan ibu mertuanya bahwa Alam tidak suka jika orang lain menyembunyikan sesuatu darinya, lalu setelah itu Suci menitikkan air matanya yang sudah tidak sanggup dia bendung lagi.


Halimah yang dari tadi menyaksikan mereka bertiga dari kejauhan langsung menghampiri mereka saat melihat Alam pergi dari sana dengan penuh kemarahan dan juga melihat Suci menangis.


“Cici... kamu kenapa? Kenapa kamu nangis?” tanya Halimah dengan nada khawatir, lalu dia menatap Mirai yang masih ada disana dengan kemarahan.


“Kau...., Mirai... apa yang kau perdebatkan dengan Alam? Lalu... kenapa Cici bisa menangis?” kata Halimah dengan nada tinggi kepada Mirai.


“Bunda... ini hanya--”


“Bunda, aku tidak ingin mendengarkan dia bicara lagi!” ucap Suci kepada Halimah untuk menukas perkataan Mirai.


“Ci, dengarkan aku dulu--” Mirai menghentikan perkataannya karena Suci mengangkat tangannya kepada Mirai, menandakan Suci tidak ingin mendengarkan apapun dari Mirai.


Setelah itu Suci langsung meninggalkan Mirai dan masuk ke panti asuhan dengan wajah yang masih terlihat sedih dan marah.

__ADS_1


Halimah yang penasaran dengan apa yang terjadi tidak menghentikan Suci yang berlalu pergi begitu saja. Halimah langsung menatap Mirai yang masih ada disana dengan penuh kemarahan.


“Kau ini.... apa kau belum puas menghancurkan kepercayaan Suci kepada mu? Sekarang apa lagi yang kau lakukan kepada Suci?” bentak Halimah sangat marah kepada Mirai.


Mirai merasa bersalah kepada Halimah dan dia berusaha untuk menjelaskan kepada Halimah, namun karena Halimah sangat mengkhawatirkan Suci, Halimah tidak mau mendengarkan penjelasan dari Mirai dan dia langsung menyusul Suci ke dalam panti asuhan.


“Aaaarrrggghhhhh.....” Mirai berteriak sangat kesal, “apa yang sebenarnya terjadi sembilan tahun lalu? Kenapa Suci dan bunda Halimah sangat marah kepada ku?” tanya Mirai seorang diri dengan penuh emosional, dia pun menendang batu kerikil yang ada dihadapannya.


Kali ini pikiran Mirai sangat bercampur aduk antara kemarahan, kebingungan dan juga tidak menerima kenyataan bahwa Suci sudah menjadi milik orang lain. Dia pun langsung masuk ke mobilnya dan meninggalkan pekarangan panti asuhan.


Setelah kepergian Mirai dan diyakini bahwa tempat kejadian perkara itu tidak ada orang lagi, seorang wanita paruh baya turun dari mobil, orang itu ternyata diam-diam menyaksikan pertengkaran antara Mirai dan Alam. Wanita itu merasa sangat bingung kenapa dua orang itu bertengkar? Apalagi ditambah kehadiran Suci dan tiba-tiba wanita itu juga melihat ekspresi sedih di wajah Suci.


***


Di tempat lain, di apartemen Glen. Glen sedang kebingungan dengan apa yang terjadi kepada temannya itu yang bernama Alam, karena pasalnya Alam terlihat sangat kacau sekali. Ya setelah pergi meninggalkan panti asuhan, Alam mendatangi apartemen Glen, karena letak apartemen Glen dan panti asuhan kasih sayang tidak begitu jauh.


****


“Dia itu kenapa sih, kalo gw ada sesuatu yang penting banget buat diomongin sama dia, dia itu susahhh... banget dihubungin? Macam orang sibuk aja!!” ucap Vivi kesal dan masih terus mencoba menghubungi nomor Suci.


“Sayang...” panggil ibu Vivi kepada Vivi.


“Iya bu...!!” sahut Vivi dengan nada kaget karena tiba-tiba ibunya sudah ada dibelakangnya.


“Kamu lagi ngapain sih? Kok... sampe kaget gitu lihat ibu?” tanya ibu Vivi merasa heran.


“Enggak kaget kok bu, Vivi cuman terkejut aja!” ujar Vivi sambil mengulas senyuman.


“Itu sama aja...” ucap ibu Vivi, “emangnya kamu lagi ngapain sih, kayaknya serius amat?”


“Ini loh bu, dari tadi aku coba nelpon Suci, tapi gak diangkat-angkat sama dia!” jawab Vivi dengan nada bingung.

__ADS_1


“Ohhh....” ibu Vivi berucap panjang, “mungkin aja Suci lagi sibuk, sayang. Jadi... dia gak angkat telpon dari kamu!” ibu Vivi mencoba memberikan asumsi tentang Suci kepada putrinya.


‘Sibuk...? Sibuk apaan?’ Vivi bertanya kepada dirinya sendiri dengan keadaan bingung.


‘Ohhh... jangan-jangan dia lagi sibuk sama suaminya lagi, jadi dia lupa sama gw dan gak mau angkat telpon dari gw?’ Vivi asal menebak saja.


“Huuh... nyebelin banget sih tuh anak!” gerutu Vivi agak kesal.


“Udah... udah..., sayang ibu jangan kesel gitu dong!” ujar ibu Vivi tersenyum sambil mengusap rambut Vivi.


“Oh ya... besok ibu ada urusan di luar kota selama seminggu. Kalo kamu takut sendirian dirumah, kamu kayak biasa aja suruh Suci menginap disini!” kata ibu Vivi memberitahu putrinya bahwa besok dia harus ke luar kota karena ada urusan pekerjaan.


“Ya ampun ibu... baru dua minggu lalu ibu ada tugas di luar kota, masa udah mau ke luar kota lagi sih!” ucap Vivi dengan wajah yang ditekuk.


“Ya namanya juga sangkutan pekerjaan, mau gimana lagi sayang?” ucap ibu Vivi.


‘Pantes aja selama ini kalo gw minta Suci buat nginep di rumah gw, dia selalu gak mau. Orang dia udah nikah!!’ batin Vivi dengan mendengus sebal.


“Hei... sayang, kok kamu cemberut gitu sih?” tanya ibu Vivi penasaran.


“Gak apa-apa kok bu. Ya udah kalo ibu mau keluar kota juga gak apa-apa!” ujar Vivi sambil mengulas senyuman palsu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2