
“Baiklah kalau begitu saya permisi nona Halimah!” kata dokter itu dengan nada sopan kepada pengurus panti.
“Bunda, ayo kita lihat Suci, dokter itu pasti bohong!” Suci masih belum terima jika dokter itu berkata benar.
“Cici, dokter itu gak bohong, dia bener!” kata bunda pengurus panti dengan meninggikan suaranya.
Mendengar perkataan Halimah, Suci terkejut kenapa Halimah berkata bahwa dokter itu benar. “Maksud bunda apa?” Suci penuh ingin tahu.
“Waktu itu dokter memang mengatakan kepada kita bahwa Suci akan baik-baik saja setelah operasi, tapi setelah kamu pergi dokter itu bilang kepada bunda kalo keadaan itu bisa bertahan hidup untuk beberapa bulan saja!” kata Halimah memberitahu kepada Suci yang sebenarnya.
Suci sangat marah sekali mendengar perkataan itu, dia berpikir bagaimana Halimah bisa menyembunyikan hal sebesar itu dari dirinya.
“Kenapa bunda gak kasih tau sama Cici?” bentak Suci.
“Bunda sebenarnya ingin kasih tau kamu Ci, tapi Suci melarang bunda buat kasih tau kamu, dia gak mau bikin kamu susah dan sedih!!” kata Halimah lagi dengan sedih.
“Ya tuhan Suci...!!” Suci mengusap kasar wajahnya dan dia langsung masuk keruangan dimana Suci kecil berada.
Suci menatap kain putih yang menutupi Suci kecil itu dengan perasaan sangat sedih, dan dia membuka sebagian penutup itu dan seketika dia langsung menangis tersedu-sedu.
“Suci, kenapa kamu tinggalin kak Cici, kenapa kamu gak bilang kalau operasi itu hanya menunda kepergian kamu sementara? Harusnya kamu bilang sama kak Cici, kakak akan mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan kamu!” kata Suci kepada jenazah Suci kecil dengan berlinang air mata.
“Suci, kamu bilang kamu mau jadi rival kakak yang sempurna, tapi kenapa kamu ninggalin kakak gitu aja!” kata Suci lagi masih dengan sedihnya, dia belum bisa menerima kenyataan kalau rival kecilnya pergi meninggalkan dirinya.
“Bunda kak Cici gak apa-apa?” tanya Dora dengan wajah yang terlihat sedih.
“Iya bunda, kak Cici jadi nangis karena Suci meninggal!” kata Lisa menunjukkan wajah yang sudah siap menjatuhkan air mata.
“Kak Cici gak apa-apa kok sayang, dia cuman lagi ngobrol sebentar sama Suci!” kata Halimah sambil mengusap punggung kedua anak itu dengan halus.
Setengah jam kemudian di resepsionis rumah sakit.
Alam terlihat baru sampai di rumah sakit dimana Suci berada tapi dia tampak kebingungan karena dia tidak tahu Suci ada dimana, dia pun langsung bertanya kepada petugas resepsionis.
__ADS_1
“Permisi suster saya boleh tanya disini ada pasien yang namanya Suci gak?” tanya Alam dengan nada khawatir.
“Sebentar ya pak, saya cek dulu.” Jawab suster itu dan dia langsung mengecek daftar nama pasien.
“Maaf pak, apakah nama pasiennya adalah Suci Ardani?” tanya suster itu meyakinkan.
“Iya suster benar!” Alam membenarkan.
“Maaf pak, pasien atas nama Suci Ardani sudah dipindahkan ke ruangan jenazah.” Kata suster itu menjelaskan.
“Maksudnya sus?” Alam terkejut dan tidak mengerti maksud suster itu, dia tidak tahu nama pasien yang disebutkan oleh suster itu adalah Suci kecil.
“Iya pak, pasien atas nama Suci sudah meninggal setengah jam yang lalu dan sekarang sudah dipindahkan ke ruangan jenazah!” kata suster itu lagi menjelaskan.
Mendengar pernyataan dari suster itu, Alam merasa dunianya runtuh dan jantungnya seakan-akan berhenti, dia pun terjatuh di atas kursi tunggu yang ada disana. Alam tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan dari suster itu. Dia menjambak rambutnya sekuat tenaga dan setelah itu dia mengacak-acak rambutnya, matanya mulai meneteskan air mata.
“Gak mungkin.... gak mungkin Suci meninggal,” Alam meyakinkan dirinya yang sedang kacau, “gw harus cek ke ruang jenazah sekarang” gumam Alam dan dia pun bangkit untuk mencari kebenaran di ruang jenazah.
“Semoga itu bohong!” Alam meyakinkan dirinya lagi sambil berjalan tergesa-gesa menuju ruang jenazah.
Dia mengingat kembali kejadian sepuluh tahun lalu saat anak itu dia temukan dipinggir jalan dalam keadaan lusuh, Suci membawa gadis kecil itu ke panti asuhan dan merawatnya dengan baik, dia menganggap gadis kecil seperti adik kandungnya sendiri.
FLASH BACK 10 TAHUN LALU
Di panti asuhan kasih sayang.
“De, kamu itu masih kecil kenapa kamu ada di pinggir jalan?” tanya Suci yang saat itu masih berusia dua belas tahun kepada gadis kecil yang sedang dia rapikan rambutnya.
“Aku dibuang cama mama ku kak!” jawab gadis kecil itu dengan wajah sedih.
“Ya ampun mama kamu jahat banget sih de!” Suci merasa kasihan dengan jawaban gadis kecil itu.
‘Orang tuanya tega banget sih buang anak sendiri?’ batin Suci merasa kesal, ‘tapi denger jawaban adik ini aku jadi penasaran sama orang tua kandung aku, kira-kira orang tua aku ada dimana ya? Apa jangan-jangan aku juga dibuang sama orang tua aku?’ batin Suci merasa sangat sedih sekali.
__ADS_1
“Oh ya de, kakak belum tau nama kamu, kakak boleh tau nama kamu gak?” kata Suci mengajak berkenalan sambil tersenyum ramah kepada gadis kecil itu.
“Nama kakak ciapa?” tanya gadis kecil itu balik bertanya sambil menatap Suci dengan wajah imutnya.
Suci pun tersenyum manis ketika melihat tampangnya yang imut dan dia langsung mengangkat tubuh gadis kecil dan mendudukinya di pangkuan dirinya.
“Nama kakak itu Suci Ardani. Kalau nama kamu siapa?” Suci bertanya lagi dengan nada lembut.
“Cama kayak kakak!” jawab gadis itu dengan polosnya.
Suci pun terbengong mendengar jawaban dari gadis kecil itu. “Nama kamu sama kayak kakak juga?” Suci bertanya dengan penuh heran.
“Ehem...” gadis kecil itu memanggut-manggutkan kepalanya, “mulai cekarang nama aku cama kayak kakak!” jawab anak itu lagi sambil tersenyum lucu.
“Hah... de, itu nama kakak jadi gak boleh diambil sama kamu. Kalau kamu punya nama seharusnya kamu pakai nama kamu sendiri jangan pake nama orang lain,” Suci menasehati gadis kecil itu.
“Sekarang bilang sama kakak nama kamu siapa?” Suci bertanya lagi.
“Aku gak punya nama kak, jadi aku mau nama kakak!” kata gadis itu dengan wajah yang tertunduk.
Suci pun membulatkan matanya sempurna mendengar jawaban sedih anak itu lagi.
‘Orang tua macam apa mereka? Mereka tidak memberikan nama kepada anaknya dan mereka membuangnya juga. Sungguh orang tua yang tidak punya akhlak sama sekali.’ Suci merasa sangat geram sekali dengan orang tua yang seperti itu.
“Ya udah... kalo gitu gimana kalo kakak kasih kamu nama aja, tapi jangan pake nama kakak ya?!” kata Suci memberikan saran kepada gadis kecil itu.
.
.
.
.
__ADS_1
.