Pengantin Bayaran

Pengantin Bayaran
Bab 10


__ADS_3

“Iya mam, ya udah ya bye bye wife!” kata Ilham dengan nada menggoda istrinya.


“Bye bye juga my husband!” kata Wulan sambil tersenyum. Setelah itu mereka pun langsung mengakhiri panggilan.


“Ya ampun Al, kamu itu lagi kemana sih? Bisa-bisanya kamu buat istri kamu nungguin kayak gitu! Mami kamu pasti bakal marah besar deh sama kamu,” kata Ilham dengan nada geram sembari mencari nomor telepon putranya.


*****


Di tempat lain yaitu di suatu cafe.


“Aku gak nyangka loh kalo lo masih inget cafe ini Al?” kata seorang gadis yang sedang bersama Alam dengan tersenyum.


“Ya masihlah Tiara, cafe ini kan dulu selalu buat tempat sembunyi kita dari kejaran orang tua kita!” kata Alam tersenyum bahagia ketika mengingat kejadian yang telah lampau.


“Iya ya, dulu pas kita kelas lima SD, kita berdua selalu kabur ke sini kalo dicariin sama orang tua kita buat ikut ekskul!” kata gadis yang bernama Tiara itu.


“Oh ya Tiara, sejak kapan lo pulang dari Prancis?” tanya Alam sambil menyeruput kopinya.


“Tadi sore,” jawab Tiara singkat.


“Oh... gimana kabar tante Dewi sama om Ridwan?” Alam menanyai kabar dari kedua orang tua teman masa kecilnya itu.


“Mama sama papa baik kok. Kalo kabar tante Wulan sama om Ilham gimana?” Tiara balik bertanya.


“Baik, mereka baik-baik aja kok!” jawab Alam sambil tersenyum.


Tiara pun memanggut-manggutkan kepalanya dan setelah itu dia meremas kedua telapak tangannya di bawah meja, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu tapi kelihatannya dia ragu-ragu.


“Lo kenapa?” tanya Alam yang melihat keraguan di wajah Tiara.


“Em... Al, gw mau ngomong sesuatu sama lo,” kata Tiara dengan nada yang terdengar gugup.


“Iya mau ngomong apaan?” Alam penasaran.


“Al sebenarnya gw udah--” perkataan Tiara terpotong karena ponsel milik Alam berbunyi sangat nyaring.


“Maaf, gw angkat telpon dulu ya. Ini dari papi gw!” kata Alam. Tiara pun menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Alam, Alam pun menjauh dari Tiara untuk mengangkat telpon.


“Ya halo papi.”


“Al, kamu ini lagi dimana sih? Kamu bukannya udah pulang dari satu jam yang lalu?” tanya Ilham dari sebrang sana dengan nada yang tidak sabaran.

__ADS_1


“Aku lagi ada di cafe,” jawab Alam dengan nada santai.


“Cafe...? Ya ampun Al, barusan mami telpon ke papi, katanya istri kamu nungguin dirumah, kok kamu malah asik-asik di cafe gimana sih?” kata Ilham dengan meningkatkan nada suaranya.


Alam yang mendengar perkataan dari Ilham pun langsung mengusap kasar wajahnya, dia benar-benar lupa kalau Suci ada dirumah kedua orangtuanya.


“Halo Al, kok kamu diam aja?” tanya Ilham.


“Iya papi maaf Al lupa.” Jawab Alam seadanya.


“Udah sekarang kamu cepat pulang, kalo gak mami kamu bakal marah besar sama kamu!” perintah Ilham dengan nada tegas.


“Iya, iya Al pulang sekarang!” kata Alam.


“Ok papi tunggu dirumah!” ucap Ilham dan setelah itu dia mematikan panggilan.


“Duh... gw benar-benar lupa banget!” gerutu Alam dengan rasa bersalah kepada Suci, dia pun langsung menuju ke mejanya untuk pamitan kepada Tiara.


“Eh... Tiara, sorry ya gw pamit dulu, bokap gw udah nyuruh gw pulang!” kata Alam sambil menepuk pundak Tiara.


“Tapi Al, gw--”


“Kapan-kapan kita ketemu lagi aja ya!” ujar Alam sambil berlalu meninggalkan Tiara.


“Buru-buru banget sih dia,” gerutu Tiara merasa heran, “gw kan tadi mau ngomong tentang perasaan gw ke dia, tapi dia malah pergi gitu aja” ucap Tiara dengan nada kecewa, karena perasaannya tidak bisa dia katakan kepada teman masa kecilnya itu.


**


Alam pun akhirnya tiba juga di kediaman orang tuanya, saat dia masuk dua orang sedang menunggu dirinya dengan tatapan garang, siapa lagi jika bukan Ilham dan istrinya.


“Alam, Alam, kamu ini benar-benar keterlaluan ya. Istri kamu nungguin kamu disini tapi kamu malah asik-asik di cafe.” Oceh Wulan merasa kesal dengan putranya.


“Maaf mam, tadi Al abis ketemu sama temen SD!” jawab Alam dengan nada bersalah, “lagian Al kira... Suci udah pulang ke rumah!” kata Alam lagi dengan polosnya.


“Oh... jadi maksud kamu kalo cantik udah pulang ke rumah kamu bakal biarin dia buat nunggu gitu!” kata Wulan dengan menatap tajam putranya.


“Bu-bukan gitu mam, maksud Al itu--”


“Apa mau alasan apa?” Wulan meninggikan sedikit suaranya.


“Aduh.... iya deh mam, Al ngaku salah udah buat Suci nunggu!” kata Al karena merasa terpojok.

__ADS_1


“Ya udah Al mau bangunin Suci dulu deh!” kata Alam dengan mata tertuju kepada istrinya yang masih tertidur di sofa.


“Apa kamu bilang?” sentak Wulan kepada Alam.


“Mau bangunin Suci mam,” Alam mengulang perkataannya.


“Enak aja mau bangunin cantiknya mami!” kata Wulan merasa tidak senang dengan ucapan putranya itu.


“Terus kalo aku gak bangunin dia, gimana kita mau pulang mam?” kata Alam merasa serba salah dengan maminya itu.


“Malam ini kamu sama cantik nginep aja disini, besok pagi kalian baru boleh pulang!” perintah Wulan kepada putranya dengan nada kesal, padahal sebenarnya dia memang ingin menyuruh putra dan menantunya untuk menginap.


“Tapi mam--”


“Gak ada tapi-tapi!” tukas Wulan dengan nada yang tidak bisa dibantah.


“Papi...!” Alam menatap Ilham berharap Ilham bisa membantu dirinya, tapi Ilham menaikkan kedua bahunya tanda dia tidak bisa membantu putranya itu.


“Ya udah deh mam iya!” Alam pun mengikuti kemauan Wulan.


“Memang seharusnya begitu,” ujar Wulan tersenyum senang, “dah sana gendong istri kamu ke kamar, jangan bangunin dia!” perintah Wulan lagi.


Mendengar perintah itu, Alam pun menatap Wulan sembari menautkan kedua alisnya.


“Kenapa kamu ngeliatin mami kayak gitu?” ucap Wulan, “udah cepetan sana bawa si cantik ke kamar kamu!” perintah Wulan lagi.


Alam pun hanya mendengus kesal dengan sikap Wulan, lalu dia langsung membawa Suci yang tertidur sangat pulas ke kamarnya. Setelah Alam masuk ke kamarnya, Wulan dan Ilham langsung tersenyum-senyum bahagia.


Di kamarnya Alam langsung merebahkan tubuhnya Suci di atas tempat tidur miliknya.


“Huh... nyebelin banget sih!” gerutu Alam dan setelah itu dia beranjak ingin meninggalkan Suci, tapi langkahnya terhenti karena Suci menggenggam erat tangannya.


Alam pun berdecak kesal dan dia mencoba melepaskan tangannya dari Suci, tapi Suci tidak melepaskan tangannya justru genggamannya malah semakin erat.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2