
Setelah kepergian Vivi, suasana di meja itu pun kembali serius tercipta keheningan sesaat diantara mereka bertiga dan setelahnya Rian dan Alam memutuskan untuk pergi dari tempat itu karena mereka masih ada urusan yang harus diselesaikan. Dan kini tinggal Alam seorang diri yang masih berada disana sambil terus memikirkan Suci dan juga Mirai.
******
Malam harinya di panti asuhan, sesuai dengan apa yang dikatakan Suci kepada Alam melalui pesan, Suci tidak kembali ke rumah dan berniat untuk tinggal di panti selama beberapa hari. Dia ingin sekali menenangkan pikirannya yang sangat berkecamuk, tadi sore Suci sudah meminta bi Ayu untuk memasak makanan yang sangat disukai Alam dan dia juga memberikan pesan kepada bi Ayu agar Alam tidak lupa meminum vitamin kekebalan tubuh. Sungguh Suci benar-benar melakukan tugasnya sebagai seorang istri dan satu lagi, Suci berpesan kepada bi Ayu agar tidak mengatakan bahwa semua itu Suci yang memintanya.
Tok... tok... tok....
Suara ketukan pintu dari luar membuat Suci yang sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur sederhana menjadi sedikit terganggu, Suci pun langsung bangun dan membuka pintu.
“Eh... bunda, aku kira siapa?” kata Suci sambil mengulas senyuman.
“Memangnya kamu kira tadi siapa? suami kamu?” kata Halimah dengan nada sedikit meledek Suci.
“Enggak kok bun... ayo masuk bun!” kata Suci mempersilahkan Halimah untuk masuk.
Halimah dan Suci pun langsung masuk ke kamar, lalu mereka mulai bercerita tentang sesuatu.
*******
Di rumah, Alam sedang merindukan kehadiran Suci. Padahal belum ada sehari Suci tidak ada di rumah itu, tapi Alam merindukan sosok Suci yang biasanya selalu hadir di pandangannya.
“Tuan Alam...” panggil bi Ayu sehingga membuyarkan Alam.
“Iya bi, ada apa?” kata Alam.
“Tuan, saya sudah siapin makanan kesukaan tuan!” kata bi Ayu kepada Alam.
Mendengar perkataan bi Ayu, Alam kembali teringat kepada Suci yang biasanya selalu menyiapkan makanan kesukaannya. Bi Ayu yang tidak mendapat respon dari Alam, melambaikan tangannya ke depan wajah Alam, karena dia takut majikan laki-lakinya itu kesambet.
“Ehm... iya bi maaf,” kata Alam ketika kembali tersadar dari lamunannya, “makasih ya bi Ayu, udah di siapin!” sambung Alam lagi kepada bi Ayu.
“Sama-sama tuan Alam. Oh ya... nanti jangan lupa minum vitamin ya tuan, saya tadi juga udah siapin vitamin itu di samping air yang akan anda minum!” kata bi Ayu lagi kepada Alam, dia melakukan perintah yang diberi oleh istri majikannya itu.
__ADS_1
“Oh... sekali lagi makasih ya bi Ayu!” ujar Alam. Bi Ayu menanggapi perkataan majikannya itu sambil tersenyum dan setelah itu dia langsung pergi dari hadapan Alam.
“Aneh... kok aku merasa bi Ayu melakukan semua ini atas perintah seseorang ya?” ujar Alam seorang diri sambil mengelus dagunya karena merasa heran.
Namun tanpa mau banyak berpikir, Alam pun menuju meja makan untuk menyantap makan malam. Sesampai di meja makan, Alam tidak langsung menyajikan makanan di piringnya, melainkan dia duduk termenung sambil menatap kursi yang biasanya di tempati oleh Suci. Baru kali ini dia merasa ternyata sosok Suci di meja makan sangatlah penting.
******
Di panti asuhan, Suci dan Halimah masih asyik berbincang-bincang, entah apa yang mereka bicarakan tapi ada seulas senyuman di wajah Suci, sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu yang menyenangkan.
“Ya udah, Ci. Ini udah malem, lebih baik kamu tidur aja!” kata Halimah untuk menghentikan perbincangan mereka berdua.
“Ya udah bun. Bunda juga istirahat ya. Selamat malam bunda!” kata Suci sambil mengulas senyuman.
“Iya, selamat malam juga.” Balas Halimah tidak lupa tersenyum dan setelah itu dia meninggalkan Suci.
Setelah kepergian Halimah, Suci tidak langsung tidur melainkan dia memikirkan suaminya, dia merasa gelisah dan penasaran, apakah bi Ayu melakukan pesan yang dia sampaikan atau tidak? Atau apakah karena dia tidak ada dirumah, Alam tidak mengingat dirinya dan tidak kembali ke rumah? Sekilas dia mengingat kedekatan Tiara kepada Alam, dia kembali gelisah dan berpikir yang tidak-tidak tentang Tiara. Memang Suci tidak begitu mengenal Tiara, dan Suci juga tidak tahu bagaimana hubungan antara Alam dan Tiara sebagai partner kerja, tapi yang jelas Suci tahu bahwa Tiara memiliki perasaan yang begitu lebih kepada Alam.
*****
Sedangkan dirumah Alam. Alam tidak bisa tertidur, dia menatap langit-langit kamarnya, pikiran menerawang jauh tentang istrinya.
“Kenapa wanita itu sekarang selalu memenuhi ku hari ini?”
“Apa yang terjadi kepada diriku? Apa aku sudah mulai mencintai dirinya?”
Alam terus bertanya kepada dirinya sendiri sambil memikirkan Suci, dia berbolak-balik memindahkan posisi rebahannya. Entah itu dari telentang, menyamping ataupun tengkurap, tapi dia masih saja memikirkan istrinya itu, karena terlalu lama dirinya memikirkan tentang Suci dia pun tidak bisa tidur malam itu hingga akhirnya dia pun pergi ke kamar Suci yang terletak disebelah kamarnya.
*******
Keesokan harinya, Di panti asuhan Suci sedang membantu bunda Halimah dan beberapa pengurus dapur untuk membuat sarapan pagi untuk para anak-anak panti. Setelah selesai membuat sarapan, Suci pergi ke beberapa kamar anak panti yang belum bangun untuk membangunkan mereka, saat mereka sudah bangun Suci segera menyuruh mereka untuk mandi terlebih dahulu dan jika sudah Suci meminta mereka untuk sarapan bersama-sama.
“Ci, kamu udah kasih kabar ke suami kamu?” tanya Halimah sambil menata makanan yang akan disantap oleh mereka.
__ADS_1
Kasih kabar apa bun?” tanya Suci sambil terus sibuk menata piring plastik.
“Ya ampun... Cici sayang, kamu itu pergi dari rumah kemarin, harusnya kamu kasih kabar sama suami kamu biar dia gak khawatir!” tutur Halimah kepada Suci.
Mendengar perkataan Halimah, Suci menghentikan aktivitasnya sejenak dan memikirkan apa yang dikatakan Halimah, lalu dia juga bertanya kepada dirinya sendiri. Apakah Alam akan mengkhawatirkan dirinya? jika itu mungkin, Alam pasti akan membalas pesan dari dirinya pagi ini, karena tadi pagi dia sempat mengirim pesan kepada Alam bahwa dia masih berada di panti, tapi bagaikan tidak peduli Alam tidak membalas satu huruf pun kepada Suci.
“Ci...!” panggil Halimah lagi karena Suci tidak merespon perkataan darinya.
“Eh... iya bun, maaf Cici ngelamun!” ujar sambil mengulas senyuman diwajahnya.
“Kamu itu... kamu dengar gak sih kalo bunda lagi ngomong?”
Halimah berpura-pura jengkel kepada Suci karena Suci mengabaikan pertanyaan darinya.
“Maaf bunda!” ucap Suci dengan nada manja kepada Halimah.
“Kamu dengar gak tadi bunda bicara apa?”
“Iya... ya dengar bunda. Tadi bunda bilang sama aku ginikan...” Suci menjeda sebentar perkataannya karena dia ingin menirukan suara Halimah, “Ya ampun... Cici sayang, kamu itu pergi dari rumah kemarin, harusnya kamu kasih kabar sama suami kamu biar dia gak khawatir!” ucap Suci benar-benar mengikuti perkataan Halimah tadi.
“Kamu ini, udah mulai berani mengejek bunda ya!!” ucap Halimah sambil menjewer telinga Suci pelan.
“Ampun... ampun bunda, gak lagi-lagi!” kata Suci sambil mengacungkan dua jari kepada Halimah.
.
.
.
.
.
__ADS_1