Pengantin Bayaran

Pengantin Bayaran
Bab 7


__ADS_3

Pupus sudah mi instan yang ingin di makan oleh Suci dan pupus sudah keinginan Suci untuk menelpon bunda pengurus panti, Suci mengurungkan niatnya untuk menelpon orang yang sudah menjaga dirinya sejak kecil karena pikiran Suci kembali kacau, kali ini bukan pikirannya saja yang kacau tapi perutnya juga merasa kacau sekali.


*******


Keesokan harinya setelah selesai menyiapkan sarapan untuk suaminya Suci bersiap-siap untuk pergi ke kampus karena hari ini dia ada mata kuliah pagi, semalam Suci mendapat pemberitahuan dari Vivi bahwa pelajaran tambahan yang mereka ambil ada di jam pagi.


“Bi Ayu, saya berangkat ya!”


“Non Suci gak sarapan dulu?” tanya bi Ayu.


“Enggak bi, aku sarapan di kampus aja. Lagian aku cuman siapin sarapan buat kak Alam doang kok bi,” kata Suci seraya mengulas senyuman yang terpaksa, karena dia tahu apa yang akan terjadi dengan makanan itu, dia berpikir kejadian semalam mungkin hanya kebetulan saja Alam mau memakan makanannya.


“Ya udah ya bi, saya berangkat dulu!” pamit Suci lagi.


“Ya udah non, hati-hati ya di jalan!” ucap bi Ayu.


“Iya bi,” ucap Suci singkat setelah itu dia pergi meninggalkan rumah.


Setelah kepergian Suci, Alam pun keluar dari kamarnya, dia juga sudah terlihat rapi dengan kaos berbalut jaket tipis bersama tas ranselnya.


“Tuan Alam mau ke kantor apa ke kampus?” tanya bi Ayu yang melihat majikannya itu.


“Hari ini aku mau ke kampus bi,” jawab Alam dengan nada sopan, “bi Ayu bikin sarapan apa buat saya?” tanya Alam.


“Tuan Al, kan tau sendiri saya gak pernah buat sarapan untuk tuan. Itu tadi non Suci yang buat nasi goreng untuk tuan!” jawab bi Ayu mengatakan kenyataan.


“Oh...” ucap Alam singkat dan setelah itu dia meninggalkan meja makan.


“Tuan gak mau sarapan?” tanya bi Ayu.


“Gak mood bi,” jawab Alam dengan nada sungkan.


“Tuan Al, boleh gak saya ngomong sesuatu sama tuan?” tanya bi Ayu, Alam yang sudah ada di ambang pintu pun menghentikan langkahnya.


“Mau ngomong apa bi?” Alam penasaran.

__ADS_1


“Maaf tuan sebelumnya saya ingin berkata lancang. Saya gak tahu ada masalah apa tuan sama non Suci, tapi saya cuman bilang tuan Al seharusnya menghargai non Suci, saya gak tega liat non Suci sedih terus. Ya mungkin menurut tuan Al selama ini non Suci baik-baik aja, tapi tuan sebenarnya hatinya terlalu rapuh, buktinya aja tadi pagi saat nyiapin sarapan buat tuan dia sedih banget!” tutur bi Ayu kepada Alam karena selama ini dia selalu melihat istri dari majikannya itu bersedih tapi Suci selalu berusaha terlihat tegar, apalagi saat tadi pagi dirinya melihat Suci sempat menitikkan air mata ketika sedang menyiapkan sarapan.


Alam yang mendengar penuturan bi Ayu tentang Suci merasa hatinya jadi sangat sedih tapi sekali lagi ego di dalam dirinya mengalahkannya.


“Makasih bi udah di kasih tau, tapi lain kali bi Ayu gak usah ikut campur masalah saya sama Suci!” kata Alam dengan nada datar tanpa menghadap bi Ayu dan setelah itu dia pergi dari rumah.


“Rumah tangga yang rumit!” gumam bi Ayu dan setelah itu dia melanjutkan pekerjaannya.


**


Di kampus Suci dan Vivi sedang ada di kantin untuk sarapan, Suci memakan sarapannya dengan sangat lahap sekali sehingga membuat Vivi menautkan alisnya karena heran dengan nafsu makan sahabatnya pagi ini.


“Eh Suc, lo gak makan berapa hari sih? Kayaknya gak biasanya lo makan sampai segitunya?!” tanya Vivi.


“Maaf Vi, aku laper banget. Dari kemarin abis pulang piknik belum makan!” jawab Suci sambil mengunyah makanan.


“Hem... lagian lo bergaya banget sih, kemarin diajak makan kagak mau!” kata Vivi saat mengingat kemarin Suci tidak mau diajak makan. Suci tidak menghiraukan perkataan dari sahabatnya melainkan dia terus menyantap sarapannya.


“Tunggu-tunggu....” Vivi merasa ada yang aneh dengan Suci hari ini, dia menyadari sesuatu.


“Kayaknya bukan nafsu makan lo yang aneh deh, tapi sikap lo juga!” Vivi menerka-nerka.


“Aneh...? Aneh kenapa sih?” tanya Suci.


“Biasanya walaupun gimana lapernya lo, lo masih bisa makan dengan kalem, tapi... entah kenapa hari ini rasanya beda?” kata Vivi heran, “lo lagi ada masalah besar yang disembunyikan dari gw ya?” tanya Vivi menyelidik.


Suci pun merasa tercekat dengan pertanyaan Vivi, dia pun meminum airnya sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia pun kembali teringat dengan saldo uang 10 juta yang masuk ke rekeningnya tadi pagi, seulas kesedihan kembali terukir di wajahnya. Uang 10 juta itu adalah sengaja dikirim oleh Alam yang membayar dirinya sebagai pengantin wanitanya.


“Woy... Suci!” Vivi menyadarkan Suci dari kesedihannya.


“Emm...” Suci kembali memasang wajah seolah-olah tidak ada kesedihan.


“Lo kok ditanya diam aja sih kayak orang budeg?!” Vivi sedikit kesal karena pertanyaannya tidak langsung dijawab oleh Suci.


“Aku udah selesai. Yuk kita langsung ke kelas, sepuluh menit lagi kelasnya mau mulai!” kata Suci sambil membawa tasnya dan langsung berjalan mendahului Vivi.

__ADS_1


‘Bener ada yang aneh tuh sama dia!’ batin Vivi dan setelah itu dia pun beranjak menyusul Suci.


Di sisi lain kampus Alam, Glen, dan Rian sedang temu kangen karena sudah dua minggu Alam tidak masuk ke kampus karena kesibukan barunya untuk mengurus perusahaan papi kesayangannya.


“Al, lo hebat juga ya bisa penuhi dua syarat dari nyokap and bokap lo!” Glen merasa kagum dengan Alam.


“Iya Al, kalo gw mungkin gak bakal mau kayak lo, walaupun dijanjiin perusahaan!” puji Rian karena dia merasa dirinya tidak bisa seperti Alam.


“Eh tunggu-tunggu... tapi gw penasaran, gimana caranya kok lo bisa yakinin si gadis desa mau jadi pasangan lo?” Glen merasa penasaran.


“Iya sama gw juga!” sambung Rian.


“Gw maksa dia buat setuju,” jawab Alam datar, “entah kenapa gw merasa gak ada cewek lain yang cocok untuk jadi pasangan pura-pura gw!” jawab Alam seadanya.


“Hah... serius lo paksa dia?” Rian merasa terkejut.


“Iya gw gak percaya sama ucapan lo Al, mana mungkin sih seorang Al maksa cewek. Padahal selama ini kan banyak para cewek berbaris buat jadi pasangan lo?!” Glen merasa tidak yakin dengan ucapan Alam, karena mana mungkin hanya untuk seorang gadis yang berpura-pura menjadi pasangannya seorang Alam harus memaksa gadis tersebut, padahal jika dia mau banyak gadis yang mengantri jadi pasangannya.


“Terserah lo mau percaya apa gak, tapi memang itu kenyataannya!” ketus Alam lalu setelah itu dia beranjak pergi.


“Eh... lo mau kemana?” tanya Glen dengan sedikit berteriak.


“Ke kantin,” jawab Alam singkat tanpa menoleh ke belakang.


Glen dan Rian hanya mendengus kesal dengan Alam dan setelah itu mereka beranjak untuk mengikuti Alam.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2