
“Kenapa lo masih berdiri disitu?” kata pria yang duduk di meja no 5 itu dengan nada yang terdengar arogan.
‘Kok kayak aku kenal dengan suaranya?’ batin Suci sambil mengingat suara orang itu.
“Woy... kok diam sih?” ucap pria itu sambil menatap tajam Suci.
“Kak Alam?” Suci terkejut, “kak Alam yang ingin ketemu sama aku?” tanya Suci merasa penasaran.
“Kalo iya emang kenapa? Ada masalah?” kata Alam arogan.
“E-e-enggak sih,” jawab Suci terbata-bata sambil menundukkan pandangannya.
“Ngapain masih berdiri disitu? cepatan duduk.” Perintah Alam dengan nada yang tidak ingin dibantah, Suci pun langsung mengikuti perintah Alam dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Alam.
“Kak Alam, kenapa nyariin aku?” tanya Suci penasaran sembari masih menundukkan kepalanya.
“Gw nyariin lo karena gw pingin lo kerja ama gw.” Kata Alam langsung bicara kepada intinya.
“Kerja sama kak Alam...? Maksudnya kak?” Suci tidak paham dengan perkataan Alam.
Alam tidak langsung menjawab pertanyaan dari Suci, melainkan dia mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasnya dan menyodorkan di hadapan Suci.
“Ini apa kak?” Suci penasaran.
“Baca aja sendiri, lo bisa baca kan?” ketus Alam.
‘Ya ampun, ternyata ini sifat asli kak Alam!’ batin Suci merasa tidak percaya dengan sifat Alam yang sebenarnya, Suci langsung mengambil kertas itu dan membaca isinya.
{PERJANJIAN KONTRAK}
Pihak A akan menikah dengan pihak B dan akan membayarnya setiap bulan.
Pihak B dilarang menyebar luaskan berita pernikahannya dengan pihak A.
Pihak B dilarang mencampuri urusan pribadi pihak A.
__ADS_1
Pihak B dilarang menyentuh benda apapun milik pihak A.
Pihak B tidak bisa memprotes pihak A.
Perjanjian ini berlaku selama satu tahun, setelah satu tahun pihak A dan pihak B tidak ada ikatan apapun.
Pihak A. Pihak B.
(Alam Adiwiyata) (Suci Ardani)
“Ini maksudnya apa kak?” Suci masih belum mengerti dengan isi kontrak itu, “dan ini kenapa ada kak Alam sebagai pihak A dan aku sebagai pihak B?”
“Udah ada di keterangan no 1, lo belum ngerti juga?” kata Alam datar.
“Ma-ma-maksud kak Alam, aku menikah dengan kak Alam dan akan dibayar setiap bulannya?” kata Suci dengan nada terbata-bata.
“Iya benar,” jawab Alam singkat.
Mendengar perkataan Alam, Suci merasa seakan tersambar petir dan hatinya seperti ditusuk oleh belati yang sudah berkarat.
“Maaf kak, pernikahan itu adalah tali suci, aku gak akan bisa kerja kayak gini!” tolak Suci dengan nada halus.
“Keterangan no 5, pihak B tidak bisa memprotes pihak A!” kata Alam memperingati Suci.
“Kak Alam...” Suci meninggikan sedikit suaranya, “kalo kakak ingin menikah, kakak bisa menikah dengan orang yang kakak cintai gak harus nyewa seseorang buat ini semua!”
“Gw gak ada waktu buat cari orang yang gw suka.” Ketus Alam sehingga membuat Suci semakin kesal.
“Kalo kakak gak ada waktu buat cari orang yang kakak suka, lalu buat apa kakak ingin menikah?” Suci semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran Alam orang yang dicintainya itu, dia tidak tahu jika Alam ternyata punya pikiran sempit seperti itu.
“Buat nurutin syarat kedua dari orang tua gw, karena kalo gak perusahaan bokap gw gak akan bisa jatuh ke tangan gw.” Alam memberitahukan kepada Suci tentang syarat orang tuanya.
“Ya ampun... demi perusahaan doang kakak sam--”
“Lo gak tahu apa-apa tentang hidup gw jadi gak usah nilai gw gitu aja!” tukas Alam dengan wajah yang terlihat garang sehingga wajah Suci tampak ketakutan.
“Kalo kayak gitu, kakak cari aja cewek lainnya yang mau jadi pengantin bayaran kakak!” ketus Suci.
“Gak bisa...” bentak Alam.
__ADS_1
“Kenapa gak bisa?” Suci mengerutkan keningnya karena merasa heran sekaligus kesal sekali.
“Karena lo adalah orang yang cocok buat ini semua. Dan gw juga gak mau tahu lo mau gak mau harus terima semua ini!” kata Alam penuh emosi dan penuh penekanan kalimatnya mengatakan jika kata-katanya tidak bisa dibantah sama sekali, lalu setelah itu dia pergi meninggalkan Suci.
Setelah kepergian Alam, Suci kembali melihat perjanjian kontrak yang ada dihadapannya seketika air matanya menetes dengan sendirinya. Suci memang sangat mencintai Alam dan pernah bermimpi untuk menikah dengan pria itu saat masih sekolah menengah akhir dulu, tapi bukan pernikahan seperti ini yang dia inginkan baginya lebih baik dia mengubur perasaannya dari pada harus menjadi pengantin bayaran dari orang yang dicintainya itu.
Flash back OFF.
**************
Pengantin bayaran, ya itulah yang Suci juluki untuk dirinya sendiri, setelah membuat perjanjian kontrak dua bulan lalu Alam terus memaksa Suci untuk menerima pernikahan itu. Berbagai cara telah Suci lakukan untuk menolak pernikahan konyol itu, tapi semakin Suci menolak, Alam terus membuat Suci hidup dalam kesengsaraan hingga akhirnya berimbas kepada sahabatnya Vivi. Karena dia tidak ingin Vivi kena imbasnya, Suci pun mengikuti permintaan Alam.
Setelah satu bulan menikah, Suci dan Alam diberi tempat tinggal oleh orang tua Alam dan sesuai perjanjian kesepakatan keluarga mereka akhirnya perusahaan milik papi Alam jatuh ke tangan putra semata wayangnya. Mami dan papi Alam sangat senang sekali karena putranya bisa memenuhi syarat kedua mereka yang mana tanpa mereka sadari bahwa pernikahan Suci dan Alam adalah pernikahan palsu.
Selama satu bulan itu juga Suci dan Alam tinggal di satu atap yang sama tapi mereka berpisah ranjang dan sesuai kontrak yang dibuat juga Suci harus memenuhinya.
****
“Halo Suc” kata Vivi dari sebrang telpon sana menghapus kesedihan Suci.
“Iya halo Vi” suara Suci terdengar serak khas orang yang baru selesai menangis.
“Suc, lo abis nangis ya?” tanya Vivi penasaran sekaligus khawatir.
“E-enggak kok Vi, ini aku lagi gak enak tenggorokan aja, jadi suaranya kayak gini!” kata Suci membuat alasan.
“Beneran lo gak abis nangis?” Vivi tidak percaya dengan alasan Suci.
“Iya beneran,” Suci meyakinkan Vivi, “oh ya... kamu ada perlu apa telpon aku?”
“Aku cuman mau kasih tahu kamu, besok kita ada acara buat piknik ke puncak!” Vivi memberitahu alasan dirinya menelpon.
“Puncak...?” Suci agak terkejut.
“Iya ke puncak, kita udah bikin acara itu dari seminggu yang lalu!” ucap Vivi.
“Kok aku gak tau tentang itu?” Suci merasa heran.
“Abis lo izin sampe seminggu sih, gw mau kasih tau lo tapi nomor lo gak pernah aktif, terus gw juga gak tau kontrakan lo yang baru, jadi susah mau kasih tau lo lewat apaan!” kata Vivi karena sudah seminggu ini Suci izin dari kampus dan tidak bisa menghubungi dirinya tidak bisa dihubungi.
“Oh... gitu ya, makasih ya udah di kasih tahu!” ucap Suci sambil mengulas senyuman palsu.
“Ya sama-sama Suc, udah gw cuman mau kasih tau itu aja ke lo. Udah ya bye bye...!” kata Vivi dan setelah itu mereka mengakhiri panggilannya.
.
.
.
__ADS_1
.
.