
“Ra, makasih ya lo udah bawa gw pulang.” Kata Alam dengan nada biasa saja.
“Sama-sama Al, lagi pula kita inikan teman dari kecil!” kata Tiara sambil tersenyum.
“Ya udah. Ini udah malem, lebih baik lo pulang aja sana, gak baik kalo cewek pulang larut malam!” perintah Alam, mengusir Tiara dengan cara halus. Tapi sepertinya perkataan dari Alam dianggap bentuk perhatian oleh Tiara dan juga Suci.
“Ya udah gw pulang ya!” kata Tiara tersenyum senang ketika mendapat perkataan dari Alam.
Alam hanya mengangguk kepalanya dengan memasang tampang datar dan setelah itu Tiara segera pergi dari rumah Alam.
Setelah kepergian Tiara, Suci kembali ke dapur untuk mengambil air minum untuk dirinya. Alam yang melihat Suci menuju dapur langsung mengikuti istrinya itu.
‘Kenapa aku merasa Tiara tidak menganggap kak Al sebagai atasannya?’ batin Suci sambil meneguk air yang barusan dia ambil tadi.
‘Apa hubungan mu dengan tuan Hatake, Suci? Kenapa aku merasa ada yang aneh diantara kalian?’ batin Alam sambil menatap istrinya itu.
Suci pun langsung berbalik berniat untuk kembali menemui Alam, tapi dia terkejut ketika melihat Alam ada dibelakangnya.
“Kak Al... kak Alam butuh sesuatu?” tanya Suci kepada Alam.
“Iya, aku butuh sesuatu.” Jawab Alam yang nadanya terdengar dingin ditelinga Suci.
“Kak Al butuh apa?” tanya Suci sambil memalingkan wajahnya kearah lain, karena menghindari tatapan suaminya.
“Aku butuh penjelasan.”
Suci pun menautkan kedua alisnya karena merasa bingung dengan maksud ucapan Alam, apalagi dengan tatapan tajam Alam, sehingga membuat Suci semakin heran.
“Penjelasan....? Penjelasan tentang apa?” tanya Suci kebingungan.
“Kau ini bodoh, atau pura-pura gak inget?” ketus Alam kepada Suci.
Suci pun semakin tidak mengerti dengan Alam. Suci berpikir apa dia mengetahui bahwa dirinya sedikit tidak senang dengan Tiara?
“Apa maksud kakak... tentang sekertaris kakak itu?”
Alam pun menjadi agak kesal dengan Suci, kenapa pikiran istrinya jadi tidak bekerja seperti itu? Padahal dia sedang menanyakan kejadian tadi siang.
__ADS_1
“Apa maksud mu dengan Tiara?” tanya Alam dengan nada datar, “yang aku maksud adalah kejadian tadi siang, ada hubungan apa kau dengan tuan Hatake? Kenapa dia bisa kenal dengan mu?” ketus Alam bertanya penuh ingin tahu.
Suci pun kembali teringat kejadian tadi siang saat di restoran, baru saja dia ingin lupa tentang kejadian itu tapi sekarang suaminya malah bertanya dan terlihat kesal tentang kejadian itu.
“Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan dia.” Jawab Suci dengan nada yang sangat datar, dia sama sekali tidak ingin membahas hal itu kepada Alam.
“Apa maksud mu tidak ada hubungan apa-apa?” Alam meninggikan suaranya, “jika kau tidak ada hubungan apa-apa, bagaimana dia bisa kenal dengan mu? Dan kenapa dia bilang sudah sembilan tahun tidak bertemu?” Alam semakin emosi ketika mengingat perkataan Mirai kepada Suci yang mengatakan bahwa mereka sudah lama tidak bertemu.
Suci tampak terlihat geram, dia mengepalkan kedua tangannya, seketika kejadian sembilan tahun lalu terlintas dipikirannya sehingga dia semakin geram.
“Kenapa kau diam saja? Apa kau benar-benar ada hubungan dengan dirinya?” bentak Alam sambil mengguncang bahu istrinya.
“Sudah cukup....” bentak Suci sambil menghempas tangan Alam dari bahunya, “aku tidak ingin membahas pria itu sekarang!” kata Suci sambil menatap Alam dengan mata yang berkaca-kaca.
Suci pun berjalan pergi meninggalkan suaminya, tapi seketika langkahnya terhenti ketika mengingat sesuatu.
“Jika kau lapar, aku sudah menyiapkan makan malam!” ucap Suci tanpa memandang kearah suaminya dan setelah itu dia benar-benar pergi dari hadapan Alam.
Alam terlihat sangat kesal sekali dengan sikap Suci yang tidak mau menceritakan kejadian tadi siang, dia pun memukul dinding yang ada dihadapannya sehingga tangannya terasa sakit tapi dia tidak mengaduh kesakitan.
“Kenapa dia datang lagi? Apa maunya?” geram Suci sangat marah.
Suci menuju nakas dan mengambil ponselnya, lalu dia mengirim pesan singkat kepada Halimah.
Sedangkan Alam yang juga kesal karena Suci tidak mau membahas kejadian tadi siang dia kembali pergi dari rumah.
******
Keesokan harinya di suatu taman, Suci dan Vivi sedang duduk santai di salah satu bangku taman. Berbeda dengan Vivi yang sedang sibuk dengan ponselnya, pikiran Suci justru masih bertanya-tanya tentang kemunculan Mirai dan juga sikap Tiara kepada suaminya, ditambah lagi pagi ini dia tidak menemukan suaminya dirumah.
‘Apa arti semua ini? Disaat aku dan kak Alam sudah mulai dekat, dua masalah datang dalam hidup ku. Pertama Tiara, sekretaris kak Al sekaligus teman masa kecilnya. Dan kedua Hatake Mirai, orang yang seharusnya tidak pernah ada di dunia ini!’ batin Suci merasa kesal sekaligus heran.
‘Apalagi aku merasa Tiara sepertinya punya perasaan lebih terhadap kak Al. Apa pernikahan ku benar-benar akan seperti ini, dan aku akan tetap menjadi pengantin bayaran kak Alam?’ batin Suci merasa bimbang sekaligus sedih.
Vivi yang dari tadi sibuk dengan ponselnya jadi melirik Suci dengan perasaan heran, Vivi merasa sahabatnya itu punya banyak beban dipikirannya.
“Suc...” panggil Vivi kepada sahabatnya, Suci pun langsung menengok kearah Vivi.
__ADS_1
“Iya, Vi. Kau ngomong apa?” tanya Suci sambil mengulas senyuman terpaksa.
Vivi langsung memasang wajah masam dengan ucapan Suci.
“Gw belum ngomong apa-apa juga!” ucap Vivi.
“Oh... aku kira kamu ngomong.”
“Suc, lo itu sebenarnya kenapa sih? Kelihatannya lo punya banyak beban?” tanya Vivi penuh keingintahuan.
“Huftt....”
“Lah... ditanya malah menghela nafas!” ucap Vivi sambil menautkan kedua alisnya karena heran.
“Kayaknya kalo aku cerita sama kamu, kamu bakal terkejut sekaligus gak bakal ngerti deh!” kata Suci, belum apa-apa dia sudah menilai sahabatnya tidak akan mengerti jika dia menceritakan masalahnya.
“Yee... kebiasaan banget sih lo. Cerita aja belum udah nilai gw gak bisa bantu masalah!” Vivi terlihat tidak terima dengan perkataan Suci, “ayo dong cerita, lo sebenarnya punya masalah apa? Apalagi sama cowok yang kemarin ngirim pesan ke lo itu?” Vivi sangat ingin tahu sekaligus berkata dengan penuh paksaan.
“Emang benar kamu bakal ngerti sekaligus bisa bantu aku?” Suci menatap Vivi dengan rasa tidak yakin.
“Mudah-mudahan aja!” Vivi juga menjawab dengan tidak begitu yakin.
“Tapi ya udah deh... biar kamu kedepannya gak kepo-kepo aku bakal cerita.”
“Nah... gitu dong!”
“Waktu itu, saat aku masih berumur tiga belas tahun.....”
.
.
.
.
.
__ADS_1