
“Ampun... ampun bunda, gak lagi-lagi!” kata Suci sambil mengacungkan dua jari kepada Halimah.
Halimah pun tersenyum melihat tingkah kekanak-kanakan Suci dan dia langsung melepaskan tangannya dari telinga Suci.
“Kak Cici... kak Cici...” teriak Dora memanggil Suci dengan berlari kecil menghampiri Halimah dan juga Suci, sehingga mereka berdua pun menengok kepada Dora.
“Dora jangan berlari seperti itu, nanti kau jatuh!” tutur Suci memperingati Dora.
“Dora... kamu kenapa berlari seperti itu sambil memanggil nama kak Cici?” tanya Halimah kepada Dora dengan penasaran.
“Kak Cici, tadi... aku... liat...” Dora berbicara terputus-putus karena masih berusaha mengatur nafasnya.
“Cici liat apa?” Suci berjongkok menyamakan tinggi Dora sambil bertanya penuh penasaran.
“Tadi aku liat... tadi, ada yang berantem di depan panti.” Kata Dora mengatakan apa yang tadi dia lihat di depan panti.
“Berantem....? Memangnya siapa yang berantem di depan panti, sayang?” tanya Suci ingin tahu.
“Iya nak, siapa yang berantem? Apa mereka teman-teman kamu?” tanya Halimah memastikan.
“Bukan bunda!” jawab Dora.
“Ya udah... kalo bukan anak panti, ataupun teman-teman kamu, lebih baik kita gak usah ikut campur ya. Biar nanti pak RT aja yang melerai mereka!” ucap Suci sambil mengulas senyuman diwajahnya
Suci tidak bermaksud untuk membiarkan orang lain bertengkar di depan panti, tapi karena Suci tidak mau salah satu orang dari panti asuhan ikut terlibat dalam pertengkaran orang lain, apalagi untuk orang yang tidak ada sangkut-pautnya dengan mereka.
“Aduh bunda... kak Cici... orang yang berantem emang bukan teman-teman aku, tapi yang berantem itu temannya kak Cici!” kata Dora sambil menunjuk kepada Suci.
Suci pun terkejut mendengar perkataan dari Dora, dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan gadis kecil itu.
“Maksud kamu apa?” Suci mencoba bertanya dengan keadaan bingung.
“Aduh... udah deh, lebih baik kakak sama bunda ikut aku aja, ayo...!” kata Dora sambil menarik tangan Suci.
“Tapi Dora, maksud kamu siapa?” Suci mencoba bertanya lagi.
“Udah ayo... kakak ikut aku aja...” ucap Dora sambil berjalan menarik tangan Suci.
Halimah yang sangat penasaran dengan perkataan Dora, dia pun mengikuti Dora dan Suci di belakangnya.
__ADS_1
“Kak Cici, itu orangnya yang lagi berantem.” Kata Dora ketika sampai dan dia pun langsung menunjuk kepada dua orang yang sedang bertengkar hebat di depan panti.
Suci pun langsung melihat ke arah tangan Dora menunjuk dan dia terkejut bukan main ketika melihat dua orang yang sedang bertengkar itu.
“Mereka....? Kenapa mereka bertengkar seperti itu?” Suci merasa sangat heran, akhirnya tanpa berpikir panjang Suci langsung menuju kedua orang yang sedang bertengkar itu.
Saat Suci sedang menuju kedua orang itu, Halimah datang dan bertanya kepada Dora.
“Dora, dimana Cici?”
“Kak Cici lagi menuju ke sana.” Jawab Dora sambil menunjuk Suci yang sedang berjalan.
Suci pun sampai kepada dua orang sedang bertengkar hebat itu, entah apa yang membuat mereka berdua bertengkar.
“Kak Alam..., Mirai...” teriak Suci kepada dua orang yang masih bertengkar itu.
Ya, yang sedang bertengkar itu adalah Mirai dan juga Alam. Mendengar nama mereka disebut oleh orang yang sedang mereka perdebatkan, mereka pun langsung menengok ke pemilik empu suara.
“Apa ini?” tanya Suci dengan nada tinggi, “apa yang terjadi...? Kenapa kalian bertengkar di depan panti?” tanya Suci penasaran namun masih dengan nada tinggi.
“Cici... katakan kepada ku, apa yang dikatakan oleh pria ini benar?” tanya Mirai kepada Suci masih dengan penuh emosi sambil menunjuk Alam yang wajahnya tidak kalah emosi.
Suci yang tidak mengerti dengan perkataan mereka menjadi sangat kebingungan.
“Apa yang kalian tanyakan kepada ku? Aku saja tidak tahu apa yang menyebabkan kalian bertengkar, kenapa tiba-tiba kalian bertanya pertanyaan yang tidak aku tahu?” kata Suci penuh kesal sekali kepada mereka berdua, karena pasalnya Suci saja tidak tahu apa yang menyebabkan mereka bertengkar.
Namun bukannya menjawab pertanyaan dari Suci, mereka berdua malah saling menatap dengan tatapan yang mematikan.
“Kenapa kalian diam saja? Jawab aku!!” bentak Suci kepada mereka berdua.
“Dia bilang kau adalah istrinya.”
“Dia bilang kau adalah kekasihnya.”
Alam dan Mirai menjawab dengan bersamaan tapi tanpa memandang Suci, melainkan masih menatap satu sama lain dengan tatapan maut.
Suci sontak sangat terkejut mendengar jawaban mereka berdua, rasanya dirinya seperti tersambar petir. Saat ini Suci seperti terjebak di dalam dua kubu, satu kubu Alam yang telah menjadi suaminya dan disisi lain Mirai yang ingin mendapatkan dirinya.
“Kenapa kau diam saja? JAWAB PERTANYAAN KU!!” bentak Alam kepada Suci dengan penuh emosi, sehingga Suci terlonjak kaget karena bentakan Alam.
__ADS_1
“HEIII.... kau tidak berhak membentak Cici seperti itu...!!!” kata Mirai dengan penuh emosi sambil menunjukkan jarinya kepada Alam, karena dia tidak terima Suci dibentak.
“Kenapa kau diam saja.... cepat jawab pertanyaan ku??” bentak Alam lagi kepada Suci karena dia tidak kunjung mendapatkan jawaban dari istrinya.
“Heii.... KAU---”
“Sudah cukup....” Suci menukas perkataan Mirai dengan penuh marah sekaligus sedih.
“Kalian bertengkar karena diriku...??” Suci bertanya dengan penuh emosi.
“Ci... kau tidak boleh bersedih!!” kata Mirai dengan nada rendah kepada Suci, karena dia tidak ingin melihat Suci bersedih.
“Cukup Mirai.... kau tidak usah berbicara dengan nada seperti itu kepada ku!!” bentak Suci sambil mengangkat tangannya kepada Mirai.
“Bukankah kemarin sudah aku bilang kepada mu untuk tidak menemui ku lagi dimana pun aku berada? Kenapa kau sekarang datang kemari dan berdebat dengan suamiku?” kata Suci penuh emosi.
“Apa...?” Mirai terkejut dengan perkataan Suci.
“Bukan hanya itu saja.... kenapa kau berdebat dengan dirinya dan mengatakan kepadanya bahwa aku adalah kekasih mu...? Memangnya sejak kapan aku menjadi kekasih mu?” ucap Suci lagi membentak Mirai.
“Cici... apa yang kau katakan? Katakan semua ini bohong.” Mirai tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Suci.
“Wuah.... sepertinya aku menjadi orang ketiga di sini. Tadi Mirai mengatakan bahwa kalian sudah menjadi pasangan kekasih sembilan tahun lalu, tapi sekarang karena kenyataannya aku sudah menikah dengan dirimu, kau tidak mengakui bahwa Mirai adalah kekasih mu!!” Alam tersenyum masam kepada mereka yaitu Suci dan Mirai.
Lagi-lagi Suci terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Alam, dan dia menatap Mirai dengan tatapan yang semakin tajam.
“Kak Al, apa yang kau katakan?” Suci bertanya dengan keadaan linglung.
“Itu adalah kenyataannya, sebelum kami bertengkar tadi kami sempat berbicara dengan baik-baik. Mirai mengatakan kepada ku bahwa kau dan dia sudah menjadi sepasang kekasih selama sembilan tahun namun karena tidak tahu apa yang terjadi kau jadi membenci dirinya dan dia pun pergi meninggalkan mu untuk sementara waktu. Lalu aku pun terkejut dengan perkataannya dan aku mengatakan kepadanya bahwa kau adalah istriku, tapi aku tidak menyadari bahwa dia sangat marah hingga akhirnya kami bertengkar.”
.
.
.
.
.
__ADS_1