
“Gw heran deh, kenapa sifatnya Al itu berubah banget? Dulu kalo gw salah atau pelupa dia gak pernah kritik gw, dan dulu kalo dia terlambat satu detik aja dia selalu bilang ama gw apa penyebab dia terlambat, tapi sekarang.... sekarang kenapa dia bersikap seperti itu sama gw?” kata Tiara heran sekaligus kesal sekali.
******
“Ya ampun Vi.... Jadi nomor tidak dikenal itu pernah kirim pesan ke nomor ku?” Suci terkejut ketika mendengar perkataan dari sahabatnya itu.
“Iya, maaf ya waktu itu gw gak kasih tau lo!” Vivi memasang tampang bersalah kepada Suci.
Kali ini Suci dan Vivi berada di restoran tempat dulu Suci bekerja, setengah jam yang lalu setelah mendapat pesan dari nomor yang tidak dikenal, Suci meminta Vivi untuk bertemu dirinya di tempat itu, dan setelah itu dia menceritakan kepada Vivi jika dia mendapat pesan dari nomor yang tidak dikenal.
“Waktu itu nomor ini kirim pesan apa?” tanya Suci penuh ingin tahu sekaligus cemas.
“Waktu itu dia cuman kirim pesan. Ci, aku sudah kembali.” Vivi memberitahu isi pertama pesan yang dikirim oleh nomor tidak dikenal itu.
“Terus gw bales iseng.” Kata Vivi lagi kepada Suci.
“Kamu bales...?” Suci menatap Vivi, Vivi menganggukkan kepalanya. “Kamu bales apa?”
“Gak panjang kok. Aku cuman bales, maaf anda salah sambung! ” jawab Vivi kepada Suci.
“Ya ampun Vivi.... kau itu nyebelin banget sih?” Suci agak kesal dengan Vivi.
“Ya maaf... gw kira dia gak bakal hubungi lo lagi!” Vivi merasa bersalah karena tidak memberitahu pesan dari nomor yang tidak dikenal itu sebelumnya.
“Mana dia ngajak ketemuan lagi!” Suci masih kesal.
“Ya udah kalo gitu gimana lo temuin aja orangnya?” Vivi memberikan saran.
“Sembarangan aja... gimana kalo orang jahat?” Suci berpikiran negatif.
“Jangan punya pikiran negatif dulu dong. Nanti kalo pikiran lo gak bener gimana?” kata Vivi kepada Suci.
“Ya namanya juga orang waspada!” kata Suci sambil memasang wajah cemberut.
“Heem...” Vivi menghela nafas.
Ditengah-tengah perbincangan mereka notifikasi pesan di ponsel milik Suci berbunyi dan ternyata dari nomor sama.
“Siapa...?” Vivi ingin tahu siapa yang mengirimkan pesan kepada Suci.
“Masih nomor yang sama, dia maksa buat ngajak ketemuan!” jawab Suci dengan nada sungkan.
“Ya udah sih terima aja. Siapa tau dia orang yang kenal lo?” saran Vivi lagi.
“Tapi--”
__ADS_1
“Udah lo gak usah takut. Gw temenin dah ketemu orang itu!” Vivi memberikan solusi kepada Suci.
“Huftt... ya udah deh!” Suci menyetujui saran dari sahabatnya kali ini. Dia pun langsung meminta lokasi pertemuan mereka kepada sang pemilik nomor tak dikenal itu.
Lima menit kemudian sang pemilik nomor itu pun mengirimkan lokasi dimana mereka harus bertemu dan tanpa banyak berpikir lagi Suci dan Vivi menuju ke lokasi yang telah dikirim oleh sang pemilik nomor.
*****
Di tempat lain, yaitu di restoran tempat langganan Alam.
Alam dan Tiara sedang berbincang-bincang tentang masalah kerja sama dengan Hatake Mirai, mereka membahas kesepakatan yang telah mereka tetapkan beberapa bulan yang lalu. Ditengah perbincangan mereka, mereka juga memesan kopi untuk menemani perbincangan mereka.
“Maaf tuan muda, orang yang anda tunggu akan segera datang kemari bersama temannya!” kata sekertaris Mirai kepada Mirai dengan sopan.
“Hemm... baiklah!” singkat Mirai dan setelah itu sekertarisnya kembali berdiri dibelakangnya.
“Emm... maaf tuan Hatake. Apa anda juga mengundang seseorang kemari?” tanya Tiara kepada Mirai dengan sopan.
“Benar nona Tiara. Aku mengundang teman lama ku kemari!” jawab Mirai sambil mengulas senyuman.
“Oh...” singkat Tiara seraya membalas senyuman Mirai, lalu dia menatap Alam.
‘Tidak profesional sekali. Kenapa dia membuat pertemuan pekerjaan seperti reuni?’ batin Alam agak kesal.
“Tuan Alam, nona Tiara. Tidak masalah bukan jika saya mengundang teman lama saya kemari?” kata Mirai ketika melihat raut wajah Alam dan Tiara.
“Terima kasih kalau begitu.” Ucap Mirai mengulas senyuman ramah.
Alam dan Hatake kembali membicarakan pekerjaan bisnis mereka, mereka benar-benar seperti para pembisnis kelas atas saat sedang serius bekerja.
Suci dan Vivi sudah sampai di tempat tujuan.
“Suc, lo yakin orang yang mau ketemu sama lo ada di tempat ini?” Vivi merasa tidak yakin saat melihat restoran yang begitu mewah dihadapannya.
“Ya emang bener disini,” kata Suci membenarkan, “lagian kamu kenapa? Kamu belum pernah ke restoran bintang lima?” tanya Suci menatap heran sahabatnya.
“Gw pernah ke restoran bintang lima, tapi restoran yang gw datangin gak semewah ini juga!” kata Vivi jujur.
“Ah... udah ayo masuk!” Suci merasa tidak sabar karena ingin segera tahu siapa yang mengirimnya pesan.
“Dasar aneh. Tadi aja... gak mau ketemu sama orang itu, tapi sekarang malah sebaliknya.” Gerutu Vivi merasa tidak mengerti dengan sikap Suci, dan dia langsung menyusul Suci yang sudah jalan memasuki restoran lebih dulu dari dirinya.
**
“Tuan muda, orang yang anda tunggu sudah sampai!” bisik sekertaris Mirai kepada Mirai.
__ADS_1
Mirai hanya menanggapi perkataan dari sekertarisnya dengan anggukan kepala.
“Apa teman anda sudah sampai tuan Hatake?” tanya Tiara.
“Iya dia sudah sampai,” jawab Mirai dan tidak lupa dia mengulas senyuman di wajah tampannya itu.
“Mari silahkan masuk!” sekertaris Mirai mempersilahkan dua orang teman Mirai memasukkan ruangan khusus tamu VVIP yang ditempati oleh Mirai dan juga Alam.
Saat melihat kedua teman yang dimaksud oleh Mirai, Alam sangat terkejut bukan main ketika melihat orang itu, begitu pula dengan orang yang dianggap teman oleh Mirai.
‘Suci....?’ batin Alam sangat terkejut.
‘Kak Alam...? Kenapa dia ada disini?’ Suci juga terkejut sekaligus heran.
“Nona Suci, tuan Hatake sudah menunggu.” Kata sekertaris Mirai dengan sopan kepada Suci.
“Tuan Hatake...? Siapa dia?” Suci tidak mengerti maksud sekertaris Mirai, karena dia juga belum tahu siapa yang ingin bertemu dengannya.
“Sembilan tahun tidak bertemu, apa kau lupa dengan ku Cici?” kata Mirai sambil mengetuk-ngetuk jarinya ke meja.
Suci yang mendengar nama kecilnya disebut oleh seseorang dan mendapat pertanyaan seperti itu langsung melihat kearah sumber suara.
Kali ini betapa terkejutnya Suci ketika melihat Mirai. Kenapa selama ini dia bisa lupa dengan orang yang selalu ingin dia hindari?
“Kenapa kau menatap diriku seperti itu Cici?” kata Mirai dengan nada dingin kepada Suci.
“Suc, dia siapa?” tanya Vivi dengan berbisik, “apa dia orang yang mengirim pesan ke lo?” sambung Vivi lagi.
“Maaf, sepertinya kalian sedang sibuk disini. Kalau begitu aku pulang saja!” kata Suci dengan nada tidak senang kepada Mirai.
“Kenapa kau buru-buru sekali Cici? Aku sudah selesai membahas masalah kerja sama dengan partner ku. Kau bisa duduk disini!” kata Mirai dengan nada angkuh kepada Suci.
Suci mendengar perkataan Mirai agak terkejut, lalu dia menatap Alam yang sedang memasang wajah penasaran kepada dirinya.
“Kenapa kau masih berdiri disana? Ayo duduk disini, aku ingin membicarakan masa la--”
“CUKUP....!!!” tukas Suci dengan nada tinggi, sehingga semua yang ada diruangan itu terkejut dan menatap dirinya.
.
.
.
.
__ADS_1
.