Pengantin Bayaran

Pengantin Bayaran
Bab 29


__ADS_3

Mendengar perkataan Wulan, Alam semakin kesal dan penuh emosi dia pun mengepalkan kedua tangannya. Suci yang melihat ekspresi dari suaminya rasanya ingin sekali menangis, setidak ingin itukah Alam terhadap dirinya sehingga dia sangat marah sekali ketika Wulan mengatakan ingin meminang cucu.


“Emm... aku ingin ke kamar kecil sebentar!” ucap Suci kepada mereka bertiga sambil tersenyum canggung dan setelah itu dia menuju kamar mandi.


Wulan sempat melihat ekspresi dari menantunya yang kelihatan sedih sehingga timbul pertanyaan di benaknya dan setelah itu dia menatap putranya dengan tatapan penuh pertanyaan.


*****


Di dalam perjalanan menuju kembali kerumahnya, Vivi masih memiliki pertanyaan untuk sahabatnya itu.


“Rumah siapa yang Suci datangi tadi? Dan kenapa dia kelihatan akrab banget sama ibu-ibu tadi?” Vivi bertanya seorang diri dengan penuh penasaran sambil terus melajukan mobilnya.


“Kayaknya Suci menyembunyikan sesuatu dari gw deh? Kalo gitu hanya ada satu orang yang bisa jawab pertanyaan gw!” ucap Vivi lagi dan setelah itu dia mengambil jalur putar balik untuk menuju ke suatu tempat dimana seseorang bisa menjawab semua pertanyaan dirinya.


****


Di tempat lain, apartemen Tiara.


Tiara sedang sibuk sekali dengan akun media sosialnya, tapi ditengah kesibukannya itu Tiara juga berkomunikasi dengan kedua orangtuanya yang ada negara Prancis. Tiara dan orang tuanya berkomunikasi untuk melepaskan kerinduan satu sama lain dan juga menanyakan kabar.


‘Tiara, apa kamu ingat besok hari apa?’ tanya Ridwan, yaitu ayah Tiara.


Tiara pun berpikir sejenak, apa yang istimewa dari hari esok sehingga ayahnya menanyakan hal itu? Tiara sangat berpikir keras untuk mengingat hal itu, dan seketika dia teringat dengan sesuatu.


“Oh ya... besok adalah hari kelahiran adik ku,” kata Tiara sambil menepuk jidatnya, “pasti besok mama sangat sedih deh? Karena selama ini kami mengingat hari kelahiran Tari, tapi dia tidak ada ditengah-tengah kita!” ucap Tiara dengan raut wajah sedih.


“Aku saja bahkan tidak tahu bagaimana wajah adik ku sebelum tiada?” sambung Tiara lagi.


Tiara merasa sangat sedih sekali, tak terasa air mata jatuh dari pelupuk matanya karena kehilangan adiknya yang belum pernah dia temui sama sekali semenjak adiknya lahir sampai pergi meninggalkan mereka.


“Tari, walaupun kakak tidak pernah melihat mu, kakak yakin sebelum kamu pergi kamu adalah anak yang baik dan sangat di sayangi oleh mama dan papa!” ucap Tiara dengan nada sangat sedih dan dia mengusap air matanya.


*****

__ADS_1


Vivi telah sampai di panti asuhan kasih sayang, ya Vivi datang ke tempat itu karena Vivi yakin hanya Halimah yang bisa menjawab semua pertanyaan yang ada di dalam pikirannya saat ini. Karena siapa lagi tempat curhat Suci selain dirinya dan juga Halimah, jika Suci menyembunyikan sesuatu dari dirinya pasti Suci tidak akan menyembunyikan apapun kepada orang yang telah dianggap sebagai ibu baptis-nya dari kecil.


“Vivi... kau kemari?” tanya Halimah yang sedang sibuk mengatur anak-anak.


“Iya bunda!” jawab Vivi singkat sambil mengulas senyuman kecil di wajahnya.


“Apa kau datang kemari sendiri?” tanya Halimah lagi ketika tidak mendapati siapa pun selain Vivi.


“Iya bunda, aku kemari sendiri!” jawab Vivi lagi.


Vivi ingin sekali langsung bertanya tentang Suci, tapi karena dia melihat Halimah sepertinya dengan sibuk dengan anak-anak dia pun mengurungkan niatnya itu. Halimah menyadari raut wajah Vivi yang tidak bersahabat hari ini, dia pun menjadi penasaran dengan apa yang ada di dalam pikiran sahabat Suci itu.


“Nak Vivi, kamu ingin mengatakan sesuatu?” tanya Halimah.


“Em... tidak kok bunda, lagian juga bukan urusan penting!” elak Vivi.


“Jika kau ingin mengatakan sesuatu katakan saja, Vivi!” ujar Halimah karena dia menyadari tidak mungkin jika bukan hal penting Vivi akan datang seorang diri ke panti asuhan itu.


Halimah agak heran dengan perkataan Vivi, apa yang dimaksud oleh Vivi?


“Tentang apa...?” Halimah jadi penasaran.


“Bunda, apa boleh kita bicara di tempat yang tenang saja?” Vivi meminta kepada Halimah, karena dia ingin tahu rahasia apa yang disembunyikan Suci dari dirinya dengan suasana tenang.


Halimah pun menyetujui permintaan Vivi, dia pun langsung mengajak sahabat Suci itu ke ruangannya.


“Katakan Vivi, apa yang ingin kau tanyakan kepada bunda tentang sahabat mu itu?”


“Bunda, tadi pagi saat aku dan Suci bertemu di taman, Suci menceritakan kejadian buruk yang menimpa kepada dirinya sembilan tahun lalu dengan orang yang bernama Mirai!”


Halimah ternganga mendengar perkataan Vivi, yang mengatakan jika Suci menceritakan kejadian sembilan tahun yang lalu kepada dirinya.


“Lalu, apa lagi yang ingin kau tanyakan jika Suci sudah menceritakan kejadian itu kepada dirimu?” Halimah masih merasa heran dengan Vivi.

__ADS_1


“Tapi bunda... saat Suci pulang dari taman, aku sengaja mengikuti dirinya, karena aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Suci. Rupanya benar saja, ketika aku mengikutinya aku sangat terkejut kenapa Suci bisa tinggal di perumahan elit dan terlebih lagi Suci terlihat sangat akrab sekali dengan wanita paruh baya yang aku yakini tinggal di rumah itu?” tanya Vivi penuh ingin tahu sekali.


“Wanita paruh baya kata mu...?” tanya Halimah dengan nada menyelidik.


“Iya bunda!” jawab Vivi.


‘Siapa wanita paruh baya yang dimaksud oleh Vivi? Apa wanita itu adalah ibu kandung Cici?’ Halimah menjadi sangat penasaran, ‘apa mungkin Cici sudah menemukan ibu kandungnya? Tapi... bagaimana mungkin Cici menemukan ibu kandungnya secepat ini? Aku saja baru menyerahkan kalung itu belum lama ini.’ Halimah merasa tidak yakin dengan apa yang dia pikirkan.


“Bunda...” panggil Vivi ketika dia tidak mendapati respon dari Halimah.


“Iya ya, Vi. Kamu tau tidak Cici bertemu dengan wanita itu di perumahan mana?” tanya Halimah penuh ingin tahu.


“Perumahan dahlia.” Jawab Vivi secara singkat kepada Halimah.


Mendengar jawaban Vivi, Halimah pun teringat bahwa Suci pernah mengatakan kepadanya jika dia tinggal bersama suaminya di perumahan dahlia. Halimah pun menghela nafas ketika sadar bahwa yang dilihat oleh Vivi mungkin saja adalah ibu mertua Suci.


“Bunda... cerita dong sama Vivi. Sebenarnya bunda tau kan apa yang disembunyikan Suci dari Vivi?” kata Vivi dengan nada merengek-rengek.


“Nak Vivi, jika kamu mau tau, kenapa kamu gak tanya langsung aja sama Cici?”


“Heem... Suci itu orangnya tertutup bun, tadi aja kalo aku gak maksa dia buat cerita, dia gak bakal kasih tau aku.” Kata Vivi dengan wajah yang ditekuk.


“Tapi bunda.... kalo sama bunda dia kan gak pernah tertutup, dia bakal dengan senang hati cerita ke bunda. Jadi ayo dong bunda... ceritain sama Vivi, rahasia besar apa yang disembunyikan Suci dari aku? Aku janji deh kalo aku tau semuanya, aku gak bakal cerita balik ke Suci.” Kata Vivi dengan penuh paksaan, sampai-sampai dia berjanji kepada Halimah tidak akan bercerita lagi kepada Suci jika dia sudah tau segalanya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2