Pengantin Bayaran

Pengantin Bayaran
Bab 30


__ADS_3

“Tapi bunda.... kalo sama bunda Suci kan gak pernah tertutup, dia bakal dengan senang hati cerita ke bunda. Jadi ayo dong bunda... ceritain sama Vivi, rahasia besar apa yang disembunyikan Suci dari aku? Aku janji deh kalo aku tau semuanya, aku gak bakal cerita balik ke Suci.” Kata Vivi dengan penuh paksaan, sampai-sampai dia berjanji kepada Halimah tidak akan bercerita lagi kepada Suci jika dia sudah tau segalanya.


Halimah pun merasa tidak enak hati dengan Vivi, dia sebenarnya bisa saja menolak dengan keras paksaan Vivi. Tapi setelah dipikir-pikir lagi tidak ada salahnya jika seorang sahabat ingin tahu lebih apa masalah yang disembunyikan oleh sahabatnya, akhirnya Halimah menceritakan kejadian yang disembunyikan oleh Suci kepada Vivi.


************


Di dalam perjalanan menuju ke rumah, Vivi masih terus memikirkan perkataan Halimah yang tadi menceritakan tentang Suci.


“Jadi selama ini Suci menyembunyikan hal sebesar itu dari gw?”


“Dia udah nikah, dan dia nikah sama Alam selama enam bulan. Selama itu juga dia gak pernah cerita apa-apa sama gw?”


Vivi merasa agak kesal sekali dengan sikap sahabatnya itu yang tidak pernah menceritakan tentang pernikahannya dengan Alam.


“Jadi perkataan gw tadi yang suruh Suci sia-sia aja dong? Toh, dia udah punya pasangan yang udah jadi suami dia!”


“Jangan-jangan yang tadi gw lihat itu, mama mertuanya lagi?”


“Tapi kalo di lihat sekilas tadi, mama mertuanya kelihatan baik sih. Semoga aja pernikahan lo bahagia Suc, walaupun lo sembunyikan hal sebesar ini dari gw, gw mendoakan yang terbaik aja buat lo!”


Kata Vivi seorang diri, rasanya Vivi kesal karena Suci tidak menceritakan pernikahan dirinya, tapi dibalik rasa kesalnya itu dia juga merasa senang karena Suci tidak menjomblo selamanya. Memang dulu Vivi ingin sekali melihat sahabat terbaiknya memiliki kekasih, tapi Suci selalu bersikap cuek terhadap lawan jenis sehingga Vivi dulu dibuat putus asa dengan sahabatnya itu karena setiap ada pria yang mendekati Suci, Suci selalu menyerahkan urusan itu kepada Suci.


Dan hari ini ketika mendengar cerita dari Halimah bahwa Suci sudah menikah selama enam bulan, Vivi benar-benar terkejut sekaligus tidak percaya karena Vivi pikir Halimah hanya bergurau saja. Tapi karena Halimah mengatakan bahwa yang dia ceritakan itu benar, Vivi pun merasa agak kesal dan dibalik rasa kesalnya itu ternyata Vivi mendoakan semoga pernikahan sahabatnya itu baik-baik saja.


****


Di kediaman Hatake Mirai.


“Ryu, apa kau sudah menyelesaikan tugas yang aku berikan?” tanya Mirai kepada sekertarisnya dengan nada datar.

__ADS_1


“Saya sudah menyelesaikannya tuan muda!” jawab Ryu sambil mengerahkan suatu map biru kepada Mirai.


Mirai pun langsung mengambilnya dan membukanya dengan tidak sabar.


“Nona Suci selama satu setengah ini sudah tidak lagi tinggal di panti asuhan. Tapi sebulan sekali dia selalu datang ke panti asuhan untuk mengunjungi anak-anak di sana. Dan dari informasi yang saya dapatkan, Suci tinggal di rumah seseorang, tapi saya belum tau dimana mereka tinggal. Oleh karena itu saya masih berusaha untuk mencari tahu!” kata Ryu menjelaskan tentang Suci, walaupun sebenarnya Mirai sedang melihat kertas informasi tentang Suci, tapi Ryu tetap mengatakannya.


“Baiklah, cari tahu terus informasi tentang Suci, jangan ada yang terlewat sedikit pun. Jika kau menemukan sesuatu sekecil apapun segera beritahu aku!” kata Mirai memerintah Ryu dengan nada datar.


“Baik tuan muda!”


“Kau bisa kembali ke pekerjaan mu!” perintah Mirai kepada Ryu. Ryu pun membungkukkan badannya dan langsung pergi meninggalkan Mirai seorang diri.


“Tinggal di rumah seseorang? Kira-kira siapa?” gumam Mirai sangat penasaran.


Mirai pun kembali membuka laptopnya dan melihat-lihat foto kebersamaannya dengan Suci sembilan tahun lalu.


**********


Malam harinya di rumah Suci dan Alam.


Suci dan Alam berada di meja, Alam sudah menghabiskan makanannya sedangkan Suci belum makan satu suap pun. Suci merasa sedih setelah pembicaraan tadi siang bersama mertuanya, Alam belum berbicara apapun kepada Suci, Suci mencoba berbicara sedikit kepada Alam tapi suaminya selalu mengabaikannya. Bahkan malam ini Alam sama sekali tidak menyentuh masakan yang dibuat olehnya, barusan dia memakan masakan yang dibuat oleh bi Ayu.


“Kenapa kau tidak makan?” tanya Alam dengan nada ketus saat dia menyadari Suci belum menyuap makanan dari tadi.


“Aku tidak lapar!” Suci berbohong.


“Jika kau tidak lapar untuk apa kau masak?” ketus Alam lagi.


“Ini kan sudah tugas ku memasak untuk mu!” jawab Suci dengan nada rendah.

__ADS_1


“Mulai besok kau tidak usah masak lagi untuk ku!” kata Alam dengan dingin sambil mengelap mulutnya dengan tisu.


“Tapi aku--”


“Tidak ada protes. Aku harap kau masih ingat dengan perjanjian kontrak itu!” kata Alam memperingati isi perjanjian kontrak mereka dengan nada dingin.


Suci pun langsung bungkam dan dia merasa sangat sedih. Setelah mengatakan hal itu Alam pergi meninggalkan Suci dan masuk ke kamarnya. Di meja makan Suci menitikkan air mata dan bertanya kepada dirinya sendiri, kenapa Alam bisa berubah menjadi dingin lagi? Apa penyebabnya? Apa ini ada pengaruhnya tentang sekretarisnya? Atau ada didalam dirinya, yang tidak menceritakan kejadian sebenarnya tentang Mirai kepada Alam?


Sepuluh menit Suci larut dalam kesedihannya, dia pun mengusap air matanya dan langsung membereskan piring makan bekas suaminya. Setelah membereskan dan mencuci peralatan makan, Suci langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.


Suci menuju nakas dan mengambil sesuatu benda yang dia simpan.


“Apa aku benar-benar ditakdirkan hidup dalam kesedihan seperti ini dari kecil?”


“Waktu kecil aku kehilangan orang tua ku, aku tidak tau apa yang terjadi sehingga aku kehilangan orang tua ku dan aku hidup di panti asuhan. Dan sekarang... sekarang aku hidup dalam situasi yang sangat sulit, aku menikah dengan orang yang aku cintai tapi suami ku tidak mencintai ku!”


Suci berkata dalam penuh kesedihan sambil menggenggam kalung Ruby di tangannya, kalung itu diberikan oleh Halimah beberapa waktu lalu. Halimah mengatakan bahwa itu kalung saat dirinya kecil dulu, dulu Halimah menyimpan kalung itu dari Suci karena dia takut kalung itu hilang jika digunakan oleh Suci yang waktu masih anak-anak.


“Apalagi yang harus aku lakukan supaya aku bisa mengubah kehidupan ku yang sedih ini? Kenapa kak Al selalu berubah-ubah kepada ku? Aku hanya ingin dia menganggap ku sebagai istrinya bukan sebagai partner perjanjian kontrak dengannya!” ucap Suci lagi sambil berlinang air mata, apalagi saat dia mengingat jelas bagaimana Alam menolak permintaan dari mertuanya kalau dia tidak ingin punya anak.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2