
“Dasinya gak di pakai kak Al?” tanya Suci.
“Em... aku gak bisa pasang dasi, jadi aku pake di kantor aja minta bantuan papi!” jawab Alam dengan memalingkan wajahnya karena dia malu.
‘Gak bisa pasang dasi?’ batin Suci merasa heran, Suci pun tersenyum kecil dengan kelemahan Alam yang belum pernah dia ketahui.
“Kenapa senyum-senyum gitu? Ngeledek ya?” ketus Alam.
“E-enggak kok, siapa juga yang ngeledek!” Suci mengelak dengan menahan tawanya.
“Udah ah... aku mau berangkat!” ucap Alam sambil beranjak pergi.
“Eh tunggu....” Suci menghentikan langkah Alam.
“Kenapa?” tanya Alam singkat tanpa menoleh kearah istrinya.
‘Gak aku sangka, ternyata dia memang gak bisa pasang dasi!’ batin Suci sambil mendekati Alam.
“Kasih ke aku dasinya,” pinta Suci sambil mengadahkan tangannya kepada Alam.
“Buat apa?” tanya Alam menatap Suci sambil menautkan kedua alisnya.
“Udah kasih ke aku aja!” pinta Suci dengan nada memaksa.
“Kamu tau kan aku gak suka kalo kamu sentuh barang-barang aku?” kata Alam dengan nada memperingati Suci.
Mendapat peringatan seperti itu dada Suci pun kembali sesak tapi dia bisa menepisnya. “Iya aku tau, tapi kan itu kalo aku nyentuh barang kak Alam tanpa izin dan tanpa sepengetahuan kakak,” jawab Suci dengan nada berani, “udah cepat mana dasinya?” pinta Suci lagi memaksa.
Alam pun mendengus kesal dengan perkataan Suci dan akhirnya dia pun langsung memberikan dasinya kepada Suci. Suci langsung mengalungkan dasi itu kepada Alam.
“Mau ngapain?” tanya Alam dengan nada menolak perbuatan Suci.
“Udah diam aja!” perintah Suci dengan nada tegas sehingga akhirnya Alam pun mengikuti perintahnya.
Dengan cekatan Suci memasang dasi di kemeja suaminya dan tanpa Suci sadari Alam sedang menatap dirinya dengan tatapan yang sangat dalam.
‘Kalo diliat-liat dia cantik juga ya!’ batin Alam menatap Suci dalam-dalam. Jantung Alam pun seketika berdetak kencang sekali ketika menatap istrinya itu.
__ADS_1
“Dah selesai,” ucap Suci sambil merapikan sedikit dasi suaminya, Alam tidak mendengar perkataan Suci karena dia masih menatap kecantikan istrinya yang belum pernah dia tahu sama sekali.
Suci yang tidak mendapat respon dari suaminya pun merasa heran dan dia pun menyadari bahwa dia sudah bersikap lancang, dia pun segera menjauhi dirinya dari Alam.
“Maaf, maaf kak!” ucap Suci dengan pandangan tertunduk dan setelah itu dia pergi meninggalkan Alam yang masih menatap dirinya.
“Eh... aku lagi ngapain sih?” Alam akhirnya tersadar juga dan dia pun langsung beranjak pergi dari tempat itu.
Di kamar, Suci sedang menetralkan jantungnya yang sedang lari maraton.
“Ya ampun, bisa gak sih jantung aku gak berdetak!” gerutu Suci sambil memegang dadanya, “eh tunggu... maksud aku gak berdetak kencang, mati dong kalo aku jantung aku gak berdetak!” gerutu Suci lagi ketika menyadari dirinya salah berbicara.
“Ah... udahlah lebih baik aku siap-siap buat pergi ke kampus aja!” gumam Suci sembari sibuk mempersiapkan diri.
*************
Empat jam kemudian di kampus.
“Ya ampun katanya jadwal pelajarannya jam sembilan, tapi akhirnya diundur satu jam, kalo tau kayak gini mendingan tadi senam pagi dulu!” gerutu Vivi dengan nada kesal karena mata pelajaran yang diikuti mereka diundur satu jam.
“Gak usah kesel gitu juga kali Vi, lagian bukannya kamu seneng kalo jam diundur?” kata Suci kepada Vivi.
“Ya ampun, kita kan juga gak tau kalo jam mata pelajaran bakal diundur, kalo tau juga gak bakal kayak gini kan?” kata Suci sembari menatap Vivi yang sedang cemberut karena menolak ajakan orangtuanya.
“Ya udah.... daripada kamu cemberut terus kayak gitu, gimana kalo kita ke kantin aja, aku yang traktir deh...!” ajak Suci membujuk Vivi yang masih cemberut.
“Tumben....?” Vivi menautkan kedua alisnya merasa heran karena ini baru pertama kalinya Suci mentraktir.
“Gak apa-apa kan sekali-kali?” kata Suci sambil tersenyum.
“Kalo gitu boleh juga deh!” Vivi mulai tersenyum, lalu mereka berdua pun berjalan menuju ke kantin.
**
Di kantin setelah Suci dan Alam memesan makanan.
“Makasih ya Suc, udah ditraktir!” kata Vivi sambil mengulas senyum, “andai aja ini bisa jadi momen untuk mengabadikan pertama kalinya lo traktir gw!” kata Vivi lagi.
__ADS_1
“Lebay banget deh....” ujar Suci.
Mereka berdua pun sama-sama tersenyum dan setelah itu mereka menyantap makanan mereka masing-masing. Namun saat ditengah-tengah keasikan mereka menyantap makanan, biang masalah dalam kehidupan mereka di kampus pun datang, siapa lagi jika bukan trio Vio.
“Grils, ada cewek desa tuh disini!” bisik Viola kepada dua temannya sambil menatap kearah Suci dan Vivi.
“Iya tuh La, gimana kalo kita kerjain aja tuh mereka?” Viona memberikan ide kepada Viola.
“Bener banget tuh kata Ona, La. Kita kerjain aja tuh mereka, lagian tangan gw gatel banget nih udah dua hari gak kerjain mereka!” Viora menyetujui saran dari Viona.
“Ok tenang-tenang, sabar dong gw juga pinginnya kayak gitu tapi kita pikirin dulu rencana yang bagus!” kata Viola, “ya udah kita cari tempat duduk deket mereka aja biar gampang kerjainnya!” ajak Viola sembari berjalan menuju tempat duduk yang terdekat dengan Suci dan Vivi. Viona dan Viora pun tersenyum kecut dan setelah itu dia mengikuti Viola.
‘Duh... trio Vio kenapa duduk di situ sih?” batin Suci dengan perasaan yang kurang nyaman.
“Ya ampun biang masalah kenapa duduk disitu lagi?” ketus Vivi sembari menyeruput minumannya.
“Udah gak usah diladenin, kalo dia gak cari masalah sama kita, kita gak usah cari masalah duluan!” kata Suci menasehati Vivi.
“Iya... gw juga tau kali!” jawab Vivi sambil menyuap sisa makanan terakhirnya, “ehm... sekali lagi makasih ya Suc, hari ini lo udah traktir gw!” sambung Vivi lagi dengan mulut yang masih berisi makanan.
“Aduh.... Vivi, dibilang kalo lagi makan jangan sambil ngomong!” keluh Suci, Vivi pun tersenyum canggung mendengar keluhan sekaligus nasehat dari Suci.
Sedangkan di meja trio Vio, Viola tersenyum licik ketika mendengar percakapan dari Vivi dan Suci, dia pun mendapat ide yang cemerlang untuk mengerjai Suci habis-habisan.
“Guys.... guys... perhatian... perhatian....” Viola berteriak dengan suara kencang sehingga seluruh kantin melihat ke arah dirinya.
“Hari ini gw mau bilang ke kalian, kalian boleh makan apa aja sepuasnya karena hari ini ada orang yang akan traktir kalian!” kata Viola kepada mereka semua, Viona dan Viora yang belum mengetahui maksud dari Viona hanya bisa saling memandang satu sama lain.
“Widih... beneran nih La, ama apa yang lo bilang?” kata seorang mahasiswa.
.
.
.
.
__ADS_1
.