Pengantin Bayaran

Pengantin Bayaran
Bab 44


__ADS_3

Betapa terkejutnya Wulan ketika di ponsel Suci terdapat banyak panggilan tak terjawab dari Alam, begitu pula saat Wulan mengecek ponselnya sendiri.


“Papi benar, sekarang mami harus menjawab semua pertanyaan dari Alam!” ucap Wulan masih dengan rasa bersalah.


Beberapa saat kemudian, para pasukan polisi pun kembali kepada Ilham dan Wulan. Para petugas polisi itu mengatakan bahwa mereka harus menghentikan pencarian mereka, karena hari sudah semakin gelap dan tidak bisa memungkinkan jika pasukan mereka mencari dalam kondisi gelap gulita, jadi mereka memutuskan untuk melanjutkan pencarian esok hari.


Mendengar perkataan dari polisi, Wulan menjadi meraung-raung dan memohon kepada polisi untuk tetap melanjutkan pencarian mereka. Wulan benar-benar sangat mengkhawatirkan nyawa menantu kesayangannya itu. Ilham pun mengerti dengan apa yang dimaksud oleh pasukan polisi itu, dan dia berusaha untuk menenangkan istrinya.


*******


Waktu telah menunjukkan jam 00:00 tapi Alam masih setia menunggu kedatangan Suci dan Wulan yang tak kunjung pulang, Alam berdecak kesal sekaligus merasa gelisah. Entah kenapa dia merasa bahwa dia akan kehilangan seseorang dalam hidupnya ini untuk waktu yang sangat lama.


Suara deru mobil terdengar memasuki pekarangan rumah Alam, Alam pun langsung mengusap wajahnya yang terlihat kantuk itu dan langsung membuka pintu.


“Mami, papi ....?!!” seru Alam merasa agak ada yang aneh dengan kedatangan Ilham, jelas aneh karena seingat Alam yang datang seharusnya Wulan dan Suci, bukan Wulan dengan Ilham.


“Mam, kok mami datangnya sama papi? Bukannya kata bi Ayu mami pergi sama Suci tadi sore?” tanya Alam dengan memasang tampang bingung, “terus .... Suci mana mam? Kok dia gak pulang bareng mami?” tanya Alam lagi sambil terus mencari keberadaan Suci.


“Nak, ayo kita masuk dulu!” kata Ilham kepada putranya itu.


“Tapi, pi—”


“Al, ayo kita masuk dulu!” kata Wulan dengan raut wajah sedih.


“Ini, sebenarnya ada apa sih?” Alam sudah mulai agak curiga dengan sikap kedua orangtuanya itu.


Ilham dan Wulan tidak langsung menjawab pertanyaan curiga Alam, melainkan Alam menuntut putranya untuk segera masuk ke dalam rumah.


Mau tidak mau dan dengan rasa penasaran Alam pun masuk ke dalam rumah, Mereka bertiga menuju keruang tengah dan langsung duduk di sana, Alam masih menunggu jawaban dari Wulan tentang pertanyaannya tadi.

__ADS_1


“Al, kamu harus sabar ya untuk saat ini!” kata Ilham kepada Alam.


Alam menautkan kedua alisnya karena heran dengan apa yang dikatakan Ilham.


“Sabar ...? Sabar untuk hal apa, Pi?” tanya Alam.


Ilham tidak langsung menjawab pertanyaan dari putranya, dia mencoba mengambil nafas dalam-dalam untuk mengatakan hal yang sebenarnya kepada putranya.


“Pi, jawab dong. Jangan buat Al bingung!” paksa Alam dengan tidak sabaran.


“Suci hanyut di sungai!” kata Ilham tanpa menatap Alam.


Alam langsung terkejut bukan main mendengar perkataan Ilham, namun sesaat kemudian dia tersenyum karena Alam menganggap Ilham sedang bercanda.


“Papi .... papi gak lucu bercanda seperti itu sama Alam!” kata Alam tersenyum karena dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ilham.


“Yang dikatakan papi kamu itu benar, Al!” kata Wulan dengan nada tinggi karena dia mulai emosional.


“Ini semua salah mami, andai aja mami gak bawa Suci ke perkampungan itu dan mami bisa jaga diri baik-baik, Suci gak bakal nolongin mami dan dia juga gak mungkin tergelincir ke sungai itu!” sambung Wulan lagi merasa sangat bersalah ketika mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.


“Apa mam ...? Maksud perkataan mami apa?” Alam meminta penjelasan dari perkataan Wulan.


“Kenapa mami bisa bawa istri aku ke perkampungan? Dan jika mami mau bawa Suci ke perkampungan kenapa sudah malam hari? Apa mami mencoba untuk menyakiti Suci?” Alam menanyakan Wulan dengan penuh kemarahan.


PLAKKZZ.....


Wulan menampar Alam dengan sangat keras sehingga Ilham dan bi Ayu yang menyaksikan sangat terkejut dengan perbuatan Wulan.


“Kenapa mami menampar ku?” tanya Alam dengan heran sekaligus semburat kemarahan yang sedang dia tahan.

__ADS_1


“Kau berani menuduh mami ingin menyakiti Suci? Seharusnya kau berpikir Al, siapa yang selama ini menyakiti Suci? Siapa yang selama ini membuat Suci berada dalam pernikahan palsu?” Wulan berkata dengan penuh amarah kepada putranya itu, “andai saja kau tidak menyakiti Suci selama ini, dan kau menganggap Suci sebagai istri mu, mami tidak akan mencari cara untuk membuat mu bisa menyadari keberadaan Suci!” geram Wulan lagi sambil menatap tajam putranya itu.


Alam kembali terkejut dengan penuturan Wulan, sedangkan Ilham menjadi tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh istrinya itu.


“Bagaimana mami bisa tau?” tanya Alam sambil memasang bingung sekaligus tidak berdosa.


“Tunggu-tunggu ..... sayang, apa maksud semua perkataan mu tadi?” tanya Ilham kepada istrinya dengan penuh rasa ingin tahu.


“Mami sudah tau semuanya Al. Kamu menikah dengan Suci karena paksaan, kamu menikah dengan Suci karena kamu tidak ingin perusahaan jatuh ke tangan orang lain bukan? Dan selama ini kamu menganggap Suci bukan sebagai istri mu, tapi kamu menganggap Suci sebagai partner bisnis di dalam pernikahan palsu kalian itu. Kamu menganggap Suci hanya sebagai pengantin bayaran, yang setiap bulannya kau beri uang dan juga yang lebih parahnya lagi, pernikahan kalian ini hanya akan berlangsung satu tahun. Benar bukan dengan apa yang mami katakan?” Wulan berkata dengan penuh kemarahan.


“Darimana mami tau ini semua? Apa mami tau dari Suci?”


“Heeh .... andai saja mami tau semua pernikahan buruk ini dari menantu kesayangan mami, mami tidak akan sangat marah kepada mu!” kata Wulan sambil tersenyum penuh kekesalan.


“Mami tau semua ini dari Halimah!” jawab Wulan dengan nada dingin.


“Waktu itu mami datang ke panti asuhan Suci, tapi saat sampai disana .... mami tidak sengaja melihat kau bertengkar dengan seorang pria dan mami juga melihat Suci sangat sedih sekali!”


“Mami akhirnya mencari tahu tentang apa yang membuat kau dan pria itu bertengkar melalui Halimah. Halimah menceritakan semuanya kepada mami, tentang kehidupan Suci dan juga pernikahan palsu kalian!”


“Awalnya mami masih ragu dengan perkataan Halimah, akhirnya mami memastikan kebenaran itu melalui bi Ayu. Setelah bi Ayu menceritakan keseharian kalian mami jadi semakin kesal, dan mami membuat rencana dengan bi Ayu untuk membuat kau menyadari keberadaan Suci dan menyatukan kalian!” tutur Wulan dengan raut wajah penuh kekesalan.


“Dan .... Mami juga mengirimkan flashdisk ke kantor mu! Mami harap kau sudah tau apa sebenarnya terjadi antara Suci dengan pria yang bernama Mirai itu!” kata Wulan lagi sambil menatap tajam Alam.




__ADS_1




__ADS_2