Pengantin Bayaran

Pengantin Bayaran
Bab 50


__ADS_3

Memang Suci selalu bersikap baik kepada semua para pelayan yang bekerja di mansion mewah yang ditinggalinya. Oleh karena itu banyak sekali para pelayan yang senang dan baik kepada Suci.


*****


“Halo kak Yani, aku sudah ada di restoran. Tapi .... aku tidak melihat mu, kau ada dimana kak Yani?” kata Suci kepada Yani di telpon.


“.......”


“Oh .... ok baiklah!” ucap Suci lagi dan setelah itu dia mengakhiri panggilannya.


Beberapa menit kemudian.


“Direktur Ardani!!” panggil Yani yang menghampiri Suci.


Suci pun menengok ke arah Yani, Yani pun langsung mengarahkan jalan untuk atasannya itu menuju kliennya.


“Wakil direktur Alam, sekertaris Tiara. Direktur kami sudah tiba!” kata Yani kepada Alam dan juga Tiara.


Alam dan Tiara langsung beranjak berdiri sembari mengulas senyuman untuk menyambut calon rekan kerja samanya itu.


Namun sesaat kemudian Alam dan Tiara sangat syok ketika melihat sosok yang mereka lihat di hadapannya saat ini.


“Selamat pagi ...!!” sapa Suci kepada Alam dan Tiara sambil mengulas senyuman yang ramah.


Alam dan Tiara yang masih sangat terkejut tidak mendengar sapaan dari Suci. Suci dan Yani pun merasa bingung dan mereka pun saling memandang satu sama lain.


“Kak Yani ... kenapa mereka berdua menatap ku seperti itu?” tanya Suci penasaran dengan nada berbisik kepada Yani.

__ADS_1


“Saya juga tidak tahu, direktur Suci!” balas Yani dengan nada yang ikut berbisik.


Yani pun memanggil kedua nama calon rekan kerjanya itu, sehingga akhirnya Alam dan Tiara pun tersadar dari lamunannya.


“Tuan Alam, sekertaris Tiara. Kenapa kalian sangat terkejut melihat ku?” tanya Suci kepada mereka berdua.


“Suci .... kau benar-benar masih hidup?!!” ucap Alam sambil tersenyum penuh kegembiraan.


“Masih hidup ...?” gumam Suci merasa agak heran.


“Wakil direktur Alam, dia adalah direktur di perusahaan kami dan dia memang masih hidup. Memangnya ada yang mengatakan bahwa direktur kami sudah meninggal?” kata Yani kepada Alam dengan nada yang penuh heran.


“Em .... em ... maksud wakil direktur kami bukan begitu!” kata Tiara dengan nada gugup.


“Lalu ...?” tanya Suci dengan menyelidik.


“Oh ...” ucap Suci dengan tidak begitu menanggapi perkataan dari Tiara.


“Ya sudah, apa kita bisa memulai pembicaraan sekarang?” kata Yani kepada Tiara.


“Ya mari, silahkan!” ucap Tiara, lalu mempersilahkan Suci dan Yani untuk duduk, sedangkan Alam masih terus menatap Suci, sehingga Tiara menjadi sangat geram.


Mereka pun memulai pembicaraan bisnis mereka, Suci dan Yani menjelaskan tentang perusahaannya sedangkan Tiara membicarakan tentang keuntungan perusahaan Ardani jika bergabung dengan perusahaannya, Yani dan Tiara sama-sama membicarakan bisnis kerja sama untung dan rugi antara kedua belah pihak, sedangkan Suci mengamati seksama kedua sekertaris itu yang sedang berbicara. Berbeda dengan ketiga wanita yang sedang membicarakan perihal kerja sama, Alam justru terus menatap Suci, di dalam dirinya ada rasa bahagia dan rasa heran, ya dia bahagia karena melihat sosok Suci ada dihadapannya saat ini, dan dia juga merasa heran kenapa Suci seperti tidak mengenal dirinya sama sekali.


*******


Tiga puluh menit kemudian, Yani dan Tiara break sejenak untuk membicarakan bisnis, mereka berempat pun meminta pelayan untuk menyajikan makanan mereka.

__ADS_1


“Nona Suci, ini nasi goreng seafood yang biasa anda pesan!!” kata pelayan saat meletakkan makanan di hadapan Suci, pelayan itu tahu bahwa Suci adalah tamu tetap di hotel.


“Oh ... ya, terima kasih!” ucap Suci kepada pelayan itu sambil mengulas senyuman ramah.


Alam kembali menatap Suci dan dia mengingat masa lalunya saat bersama Suci, dia ingat sekali nasi goreng seafood adalah makanan kesukaan istrinya itu.


“Mba, apa aku boleh meminta daun bawang iris tambahan?!” kata Suci kepada pelayan yang ada disampingnya.


“Baik ... tunggu sebentar ya nona!” jawab pelayan itu dan dia pun segera pergi untuk mengambil pesanan Suci.


Beberapa menit kemudian, sang pelayan pun kembali dengan pesanan yang diminta Suci, Suci pun langsung menaburkan daun bawang di atas nasi gorengnya dan dia langsung menyantap makanannya itu.


Alam yang sedang menyantap makanannya secara perlahan, diam-diam masih memperhatikan Suci. Dia semakin ingat kenangannya bersama Suci, cara makan Suci dan kebiasaan Suci saat makan, sungguh sangat mirip sekali.


‘Dia memiliki kebiasaan dan cara makan yang sama seperti Suci. Tapi .... kenapa dia seperti tidak mengenal diriku!’ batin Alam merasa sangat heran sambil terus menatap Suci yang ada dihadapannya saat ini.


Tiara secara tidak sengaja melirik ke arah Alam, dan dia juga memperhatikan tatapan mata Alam yang terus menatap Suci. Tiara merasa sangat geram sekali dengan tatapan Alam untuk Suci.


‘Kenapa Alam terus memandang direktur Ardani?’ batin Tiara merasa sangat kesal.





__ADS_1



__ADS_2