
“Kau...? Siapa kau? Kenapa ada didalam kamar ku?” tanya Mirai dengan nada tinggi.
Suci pun heran dengan perkataan Mirai, lalu seketika dia tersenyum renyah dengan pertanyaan Mirai.
“Kau ini, bercanda mu tidak lucu sama sekali.” Kata Suci masih tersenyum renyah kepada Mirai.
“Aku tidak sedang bercanda.” Ucap Mirai lagi masih dengan nada tinggi.
“Jika kau tidak bercanda, kenapa kau mengajukan pertanyaan bodoh seperti itu kepada diriku?” tanya Suci menatap Mirai heran.
“Apa kau adalah wanita panggilan yang dibawa oleh salah satu pelayan ku?” kata Mirai dengan nada datar.
Suci sontak terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mirai. Bagaimana dia bisa berkata seperti itu? Padahal Mirai sendiri yang membawa dirinya sendiri.
“Apa yang kau katakan?” tanya Suci dengan nada tinggi.
“Kau sendiri yang membawa ku kemari, dan kau juga yang mengatakan agar aku datang ke kamar mu. Lalu kenapa kau berkata seperti itu?” Suci merasa sangat kesal.
“Kau benar-benar tidak tau malu. Kau yang datang kemari sendiri tapi kau mengatakan aku yang membawa mu ke sini!” ucap Mirai dengan senyum menghina kepada Suci.
“Baiklah... karena kau sudah ada disini, aku tidak akan menyia-nyiakan dirimu!” ucap Mirai menyeringai sambil perlahan-lahan mendekati Suci.
Suci merasa aneh dengan sikap Mirai, dia pun sontak mundur ketika Mirai mendekati dirinya.
“Mirai.... apa yang akan kau lakukan?” tanya Suci menatap tajam Mirai sekaligus dengan nada yang ketakutan.
Mirai pun berhenti sejenak mendengar pertanyaan Suci. Suci yang merasa bahwa Mirai sudah agak sadar dia pun bernafas lega sambil menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang ada dibelakangnya.
‘Mirai...? Rupanya dia adalah wanita Mirai. Tapi.... sayang sekali, aku ini bukanlah Mirai, tapi aku adalah Zirai!’ batin pria itu yang rupanya dia adalah saudara kembar Mirai, yaitu Hatake Zirai.
Zirai pun kembali mendekati Suci dengan tatapan yang penuh melecehkan, Suci pun kembali terkejut dengan tatapan Zirai. Suci tau itu adalah tatapan para pria yang ingin sekali memuaskan hasratnya kepada wanita.
__ADS_1
“Mirai... kau mau apa? Jangan berbuat macam-macam!” kata Suci memperingati Zirai yang dia anggap adalah Mirai.
“Aku bukan anak kecil, tentu saja aku harus berbuat hal yang sewajarnya dengan mu!” ucap Zirai sambil menyeringai penuh nafsu.
Suci jadi semakin ketakutan dengan seringai itu, dia menghindar dari Zirai tapi Zirai dengan mudahnya menahan Suci agar tidak lari darinya.
“Mirai... lepaskan aku!!” teriak Suci penuh ketakutan.
“Aku tidak akan melepaskan mu!” ucap Suci sambil meniup telinga Suci, Suci jadi merinding dan semakin ketakutan.
“Mirai, apa yang aku lakukan? Tolong lepaskan aku!” Suci memohon kepada Zirai.
Zirai tidak mengindahkan perkataan Suci, Zirai terus menghimpit tubuhnya dengan Suci, Suci merasa sangat ketakutan sekali, dia berusaha menginjak kaki Zirai tapi Zirai tetap tidak melepaskannya. Justru Zirai mulai menyentuh setiap inchi tubuh Suci, Suci sudah mulai menitikkan air mata dan menjerit dalam hatinya, dia berdoa pada tuhan semoga dia tidak kehilangan kesadaran dan kehormatannya.
Suci terus menginjak kaki Zirai, tapi tetap saja Zirai tidak melepaskan Suci, padahal jika dilihat sebenarnya Zirai tampak kesakitan karena Suci terus menginjak kakinya dengan sepatu heels Suci yang lancip.
Seketika pandangan Suci tertuju kepada botol kaca yang tidak jauh dari jangkauannya, dan dengan susah payah Suci mengambil botol itu dan dia langsung memukul kepala Zirai dengan botol kaca. Kali ini Zirai mengaduh kesakitan dan langsung melepaskan Suci. Suci langsung berlari dan menyelematkan diri dari Zirai, tapi sialnya pintu kamar Zirai terkunci.
Zirai yang masih merasa kesakitan pun langsung menyeringai jahat dan dia berusaha kembali mendekati Suci. Suci tidak putus asa untuk melarikan diri dari tempat itu, dia pun mencari cara agar Zirai tidak mendekati dirinya dan dia juga bisa kabur. Suci pun melihat jendela yang terbuka dikamar itu, dan dia langsung berlari menuju jendela itu, syukurlah jendela itu tidak terkunci dari luar, lalu setelah Zirai semakin dekat dengan dirinya dia pun melompat keluar melalui jendela itu.
*****
Setelah kejadian itu, Suci sangat membenci Mirai dan dia tidak ingin bertemu lagi dengan Mirai. Mirai yang tidak mengerti dengan perubahan sikap Suci pun merasa sangat aneh dan dia bertanya kepada Halimah, tapi pertanyaannya tidak disambut baik oleh Halimah, dia bahkan mengusir Mirai dan meminta Mirai untuk tidak datang lagi menemui Suci atau hanya sekedar datang berkunjung, karena Halimah takut Mirai akan berbuat hal yang tidak sepatutnya lagi.
Mirai menjadi semakin heran dengan perubahan semua sikap orang-orang panti kepada dirinya, dia pun pergi dari panti asuhan dan semenjak itulah dia tidak pernah kembali ke panti asuhan dan lambat laun Suci mulai bisa melupakan kejadian buruk itu, walaupun tidak sepenuhnya.
FLASH BACK OFF.
*************
“Ya ampun.... jadi gitu, masa lalu lo serem amat ya!” ucap Vivi sambil bergidik ketika membayangkan apa yang terjadi dengan Suci di masa lalu.
__ADS_1
“Nah... terus lo mau gimana? Sekarang dia datang lagi!” tanya Vivi penuh ingin tahu apa yang akan Suci perbuat kepada Mirai.
“Mau apa lagi. Aku harus menghindar dari dia sejauh mungkin!” jawab Suci dengan nada datar.
“Tapi ni ya Suc, menurut saran gw, lo seharusnya cepet-cepet cari pasangan supaya ada yang melindungi lo dari dia!” saran Vivi kepada Suci.
Suci yang mendapat saran dari sahabatnya langsung menatap Vivi dengan tatapan heran dan penuh tanda tanya.
“Maksud kamu...?”
“Ya ampun, sejak kapan sahabat gw yang super cerdas jadi lemot? Biasanya sekali gw ngomong lo langsung paham!” oceh Vivi.
“Maksud gw itu, lebih baik lo cepat-cepat cari pacar. Jadi kalo misalnya si... siapa namanya itu?” Vivi lupa dengan nama Mirai.
“Mirai”
“Ya, dia... kalo misalnya dia berusaha buat melecehkan lo lagi. Lo bisa minta pertolongan sama pasangan lo!” Vivi menjelaskan maksud sarannya tadi.
“Emang hal itu bakal berpengaruh ya?” kata Suci dengan memasang tampang polos.
“Ya... gak tau juga,” ucap Vivi sambil menaikkan kedua bahunya, “tapi gak ada salahnya kan, lo ikutin saran gw?” sambung Vivi lagi.
‘Apa saran dari Vivi berguna?’ Suci tidak yakin dengan saran dari Vivi.
‘Tapi, orang kayak begitu bukannya gak bakal peduli targetnya punya pasangan apa enggak?’ batin Suci lagi dengan pikiran yang bercampur aduk.
.
.
.
__ADS_1
.
.