Pengantin Bayaran

Pengantin Bayaran
Bab 37


__ADS_3

“Gak apa-apa kok bu. Ya udah kalo ibu mau keluar kota juga gak apa-apa!” ujar Vivi sambil mengulas senyuman palsu.


Ibu Vivi pun membalas senyuman putrinya sambil mengusap rambut Vivi dan setelah itu dia pergi ke kamarnya untuk mempersiapkan kebutuhan besok dinas.


“Kenapa sih semuanya sekarang pada sibuk sendiri-sendiri? Sahabat gw sibuk sama suaminya, ibu gw sibuk sama pekerjaannya. Sedangkan gw ... gw sibuk sama apa?” gerutu Vivi merasa kesal karena dia merasa semua orang yang ada disekitarnya sudah memiliki kesibukannya masing-masing.


Ditengah-tengah rasa kesalnya, notifikasi chating di ponsel Vivi berbunyi. Vivi pun langsung membuka chating itu dengan wajah yang masih cemberut, namun wajah Vivi semakin cemberut ketika dia membaca chating yang baru masuk.


“Duh ... dia kenapa lagi sih?” gumam Vivi seorang diri.


*******


“Mama ...., Mama kenapa? Kok mukanya ditekuk gitu?” tanya Ilham kepada istrinya yang baru kembali dari bepergian.


“Mama gak kenapa-napa kok, pa!” jawab Wulan dengan nada biasa saja.


“Kalo gak kenapa-napa, terus ..... tuh muka kenapa ditekuk gitu?” tanya Ilham lagi masih penasaran sambil memandangi wajah istrinya itu.


“Udah deh pa, mama mau masuk kamar dulu!” kata Wulan lagi dan dia langsung menuju ke kamar.


Ilham merasa aneh dengan sikap istrinya itu, karena biasanya walaupun sekesal apapun dan dalam kondisi apapun, jika Ilham bertanya kepada dirinya, istrinya itu tidak pernah menghindari pertanyaan maupun tatapan dari dirinya.


“Kayaknya ada masalah serius yang disembunyikan sama Wulan deh? Tapi .... masalah apa yang disembunyikan sama mama ya, kenapa bisa sampai segitunya?” gumam Ilham sambil berpikir tentang masalah apa yang menyebabkan istrinya seperti itu.


Ilham pun merasa sangat penasaran, dia pun mengambil ponselnya dan menelpon sekertarisnya untuk mencari tahu informasi dimana dan dengan siapa Wulan bertemu. Setelah memerintah hal itu kepada sekertarisnya, Ilham langsung pergi ke kamarnya untuk melihat keadaan istrinya.


Di kamar, Wulan sedang memikirkan sesuatu dan merasa sangat-sangat gelisah.

__ADS_1


“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa putra ku bertengkar dengan seseorang? Lalu kenapa menantu ku .... kenapa menantu ku terlihat sangat bersalah? Apa penyebabnya, apa yang terjadi?” ucap Wulan sangat bingung dan terus mondar-mandir sambil meremas kedua tangannya.


“Siapa yang sangat bersalah ma?” tanya Ilham yang tiba-tiba sudah ada dikamar, hingga Wulan sangat terkejut.


“E-e-enggak kok pa.” Wulan menjawab pertanyaan dari Ilham dengan nada terbata-bata sekaligus terkejut.


“Bener .... mama lagi gak bohong sama papa kan?” tanya Ilham kepada istrinya dengan nada dan tatapan yang menyelidik.


Wulan yang mendapat tatapan seperti itu dari suaminya menjadi gugup, dan meremas kedua tangannya di balik tubuhnya, agar suaminya tidak melihat rasa kegugupannya itu. Ilham yang tidak segera mendapatkan jawaban dari istrinya semakin curiga bahwa ada masalah besar yang disembunyikan oleh Wulan saat ini.


“Mam, mama tau kan, kalo papa gak suka jika mama sembunyikan sesuatu dari papa?” ucap Ilham sambil menatap istrinya itu.


Wulan yang mendengar perkataan dari suaminya menjadi semakin gugup dan agak bimbang.


“Iya ..... mama tau kok tentang hal itu. Tapi pa ... mama gak sembunyikan apapun kok dari papa.” Kata Wulan sambil mengulas senyuman palsu di wajahnya.


‘Aduh .... papa kenapa terus curiga gitu sih? Ya tuhan, tolong bantu aku.” Batin Wulan merasa kebingungan, namun dering ponsel milik Ilham pun berbunyi sehingga Ilham mengangkat panggilan itu, Wulan pun bernafas lega.


“Untung saja .... Aku harus mencari kebenaran tentang kejadian yang aku lihat dulu hari ini, baru aku menceritakannya kepada papa!” gumam Wulan seorang diri.


****


Di panti asuhan, Suci masih terus bersedih dan terus memikirkan Alam. Satu masalah yang dialami dirinya belum selesai, lalu sekarang muncul masalah lagi yang membuat Alam sangat marah kepada dirinya.


“Udah Ci ... kamu jangan sedih terus.” Kata Halimah berusaha menenangkan Suci.


“Aku tidak sedih kok bun!” ucap Suci mengelak perkataan Halimah.

__ADS_1


“Ya ampun ... Cici, Cici. Kamu itu lagi bohong apa lagi bercanda sih? Jelas-jelas kamu kelihatan banget lagi sedih kayak gitu, masih aja bilang gak. Itu tuh ya, kelihatan banget dari wajah kamu kalo masih sedih!” oceh Halimah kepada Suci.


“Aduh .... bunda bikin aku--”


“Bikin kamu apa?” tanya Halimah sambil memelototi Suci, sehingga Suci beringsut ketakutan dengan tatapan Halimah.


“Bunda bikin aku tambah sedih .... hiks ... hikss ....” Ucap Suci sambil berpura-pura menangis.


“Aduh .... ini bukan waktunya untuk bercanda!” kata Halimah sambil mencubit pipi Suci karena dia merasa gemas dengan akting Suci.


“Aduh ... bunda!!”


“Sekarang bilang sama bunda, kenapa suami kamu sama Mirai berantem?” tanya Halimah dengan penuh ingin tahu.


Suci pun terdiam sejenak dengan pertanyaan dari Halimah, lalu setelah itu diam menghela nafas dalam-dalam dan menceritakan penyebab Alam dan Mirai bertengkar tadi.







Maaf ya guys, baru bisa update hari ini, soalnya ide barunya belum nemu, jadi otaknya agak buntu. Tapi .... tenang aja masih bakal tetap update kok😊

__ADS_1


__ADS_2