
‘Kak Alam? Sejak kapan kak Alam punya nomor aku, perasaan aku sama kak Alam gak pernah tukeran nomor?’ Suci merasa heran karena seingat dirinya, dia dan Alam tidak pernah bertukar nomor.
Suci pun langsung membuka pesan yang dikirim oleh Alam. *Jaga diri kamu selama piknik, jangan bikin repot siapapun, karena kalo mami sama papi tau aku gak ikut piknik sama kamu yang ada aku bakal repot kena amukan mereka.* Seperti itulah pesan yang dikirim oleh Alam kepada Suci.
‘Kalo dia gak mau sampe kena amukan mama sama papa kenapa dia nyuruh aku buat ikut piknik? Benar-benar deh jalan pikirannya gak bisa ditebak sama sekali.’ Geram Suci dalam hatinya, ya karena selama menikah ini jika ada hal kecil yang menimpa Suci, kedua orang tua Alam langsung memarahi putranya tersebut dan bukan itu saja panggilan Alam kepada Suci yang tadi lo and gw juga dimarahi oleh mama Wulan, jadi mau tidak mau Alam pun jadi menggunakan kata aku kamu kepada Suci.
Tidak terasa perjalanan mereka menuju ke puncak pun telah tiba, para murid pun berhamburan dan langsung berkumpul untuk sesi pemberitahuan dari guru yang mendampingi mereka, dan setelah selesai mereka pun langsung memulai aktivitas pertama mereka.
*********
Senja pun telah tiba piknik ke puncak pun telah selesai, piknik itu hanya membutuhkan waktu satu hari. Bus yang mengangkut para murid pun kembali menuju kampus, para murid menikmati piknik satu hari ini begitu pula dengan Suci dan Vivi, ya bilang saja piknik hari ini untuk menyegarkan pikiran Suci yang kalut.
**
Suci pun telah sampai di rumah.
“Udah pulang,” kata Alam yang ternyata sedang ada di depan televisi.
“Iya udah,” jawab Suci singkat tanpa menatap Alam yang saat ini sedang menatap dirinya.
Setelah percakapan singkat itu Suci langsung menuju kamarnya bukan maksud untuk mengabaikan suaminya tapi dia mengindari kemarahan suaminya, karena jika Suci masih ada di sana dan mencoba mengajak Alam bicara bukan pembicaraan hangat yang dia dapatkan melainkan kemarahan oleh karena itulah Suci tidak mau berbasa-basi dengan suaminya.
“Dia kenapa...? Abis piknik bukannya seneng kok malah murung gitu?” tanya Alam seorang diri merasa heran.
“Apa dia dapat masalah karena piknik hari ini? Coba gw telpon Glen sama Rian aja deh siapa tahu mereka tahu sesuatu,” kata Alam menjadi penasaran dia pun langsung mengambil ponselnya untuk menelpon kedua sahabatnya, “tunggu-tunggu... gw kenapa jadi penasaran sama dia? Bukan urusan gw dong kalo dia ada masalah atau gak!” sambung Alam lagi dia pun mengurungkan niatnya untuk menelpon kedua sahabatnya.
“Tapi gw penasaran kenapa dia murung kayak gitu?”
Alam merasa bimbang karena dia ingin sekali menelpon kedua sahabatnya untuk bertanya apa yang terjadi dengan piknik hari ini sehingga Suci terlihat tidak bahagia, tapi karena egonya dia pun tidak jadi menelpon temannya lagi.
__ADS_1
Sedangkan di kamar setelah membersihkan diri dengan mandi, Suci duduk di depan cermin dan mengambil kalender yang tergeletak di sana. Dia terlihat sangat murung ketika melihat kalender itu, hari ini adalah tanggal akhir bulan, biasanya dia selalu senang di tanggal akhir bulan seperti ini, karena dia mendapatkan uang hasil kerja kerasnya yaitu gaji, tapi sekarang bukan gaji yang dia dapat melainkan uang penghinaan dari pernikahan yang dia jalankan.
Saat perjalanan pulang dari puncak menuju kampus Suci memang terlihat sangat bahagia karena dia bisa menghilangkan beban yang ada di dalam hidupnya, tapi saat perjalanan pulang dari kampus menuju rumah, Suci kembali murung karena dia ingat dimana tanggal besok adalah tanggal dirinya ditetapkan sebagai pengantin bayaran untuk Alam.
Kruyuk.... kruyuk....
Suara cacing di perut Suci yang demo membuyarkan pikiran Suci, dia merasa sangat lapar sekali karena tadi sebelum pulang dari piknik dia tidak makan. Suci pun keluar kamar dan terjun ke dapur dia berniat untuk memasak mi instan saja untuk dirinya sendiri karena dia kira Alam sudah makan.
“Kamu lagi buat apa?”
Suci yang sedang menyalakan kompor pun terkejut mendengar suara Alam, untung saja kompornya tidak meledak karena Suci memutar pematik apinya sampai habis.
‘Ya tuhan, dia seperti hantu saja!’ batin Suci sambil menghela nafas.
“Kok ditanya diam aja sih?” tanya Alam lagi karena Suci tidak langsung menjawab pertanyaan dari dirinya tadi.
“Oh....” singkat Alam dan setelah itu dia pergi begitu saja meninggalkan Suci tanpa berkata apa-apa lagi.
“Dih... aneh banget, udah kayak jalangkung aja, datang tak diundang pergi tanpa permisi!” gerutu Suci agak kesal.
“Kau mengatakan sesuatu?” tanya Alam lagi yang tiba-tiba muncul.
“E-enggak kok kak,” ucap Suci sambil tersenyum canggung.
‘Tuh kan benar-benar deh, tadi kan udah pergi terus kenapa muncul lagi?’ batin Suci dengan nada geram.
Setelah lima menit Suci pun langsung menuju meja makan setelah selesai membuat mi instan, tapi sebelum dia memakan mi instan yang dia buat, Suci teringat dengan adik-adiknya yang ada di panti asuhan, dia pun memutuskan pergi ke kamarnya sebentar berniat untuk mengambil ponselnya agar bisa menelpon bunda pengurus panti.
Setelah mengambil ponselnya Suci pun balik ke meja makan untuk menyantap mi yang dia buat tadi, tapi saat tiba di meja makan Suci terkejut bukan main ketika mendapati apa yang dia lihat.
__ADS_1
“Kak Alam....?” Suci benar-benar sangat terkejut melihat sosok orang yang ada di meja makan dan seketika pandangannya pun beralih ke piring mi instan yang sudah tinggal separuhnya.
“Kakak makan mi instan ku?” Suci benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat, ya saat ini Alam sedang memakan mi instan yang lima menit lalu dibuat oleh Suci.
“Iya...” ketus Alam, “kenapa emang gak boleh?” ucap Alam sambil terus menyuap mi instan ke mulutnya.
“Emang kak Alam belum makan dari tadi?” tanya Suci.
“Kalo aku udah makan, aku gak bakal makan makanan yang gak bergizi ini!” jawab Alam dengan nada datar, setelah itu dia pun langsung mengelap mulutnya dengan tisu yang tergeletak di atas meja karena dia sudah selesai makan dan setelah itu dia meninggalkan meja makan lalu masuk ke kamarnya.
Suci masih mematung di tempatnya entah saat ini perasaan terkejut, senang, atau sedih yang ada di dalam dirinya ketika melihat Alam mau memakan makanannya hanya Suci dan tuhan saja yang tahu.
Suci pun langsung mencuci piring bekas suaminya makan dan setelah itu dia kembali ke kamarnya dengan perut yang masih lapar.
“Kak Alam itu aneh ya, giliran aku masak buat dia..., dia gak pernah mau makan masakan ku, tapi giliran aku masak mi instan buat aku sendiri dia makan mi itu gitu aja!” gerutu Suci merasa kesal.
“Kalo dia belum makan harusnya dia bilang dong sama aku mau dimasakin apa, toh tadi dia juga ke dapur kan?” Suci merasa agak kesal dengan sikap Alam, “mana mi instan itu cuman sisa satu, seandainya dia bilang dia mau makan mi aku kan jadi bisa bagi dua.” Suci kali ini merasa geram sekali dengan Alam.
Pupus sudah mi instan yang ingin di makan oleh Suci dan pupus sudah keinginan Suci untuk menelpon bunda pengurus panti, Suci mengurungkan niatnya untuk menelpon orang yang sudah menjaga dirinya sejak kecil karena pikiran Suci kembali kacau, kali ini bukan pikirannya saja yang kacau tapi perutnya juga merasa kacau sekali.
.
.
.
.
.
__ADS_1