
“Iya benar, anda siapa?” tanya Tiara dengan sopan kepada pemuda itu.
“Saya Hatake Mirai, perwakilan dari perusahaan Hatake!” kata pemuda itu sambil mengulas senyum menambah kesempurnaan di wajah tampannya.
“Oh... tuan Hatake. Mari-mari silahkan duduk!” kata Alam dengan sopan mempersilahkan Mirai untuk duduk.
“Apa kalian sudah lama menunggu?” tanya Mirai kepada mereka berdua.
“Oh... tidak-tidak, kami tidak lama menunggu!” Alam berbohong sambil mengulas senyuman palsu.
“Ok... kalau begitu mari kita mulai saja pembicaraannya!” kata Mirai kepada mereka untuk memulai pembahasan kerja.
Tiara pun langsung mengeluarkan lembar kontrak dari dalam tasnya dan langsung menjelaskan tentang peraturan dan isi kontrak. Begitu pula dengan Alam dia menambahkan beberapa pembahasan tentang isi kontrak, sedangkan Mirai bersama sekertaris pribadinya hanya mendengarkan pembicaraan mereka.
Saat mereka sedang membicarakan masalah kontrak, notifikasi pesan di ponsel milik Mirai berbunyi. Mirai pun langsung membuka ponselnya dan membaca isi pesan tersebut, seketika dia tersenyum senang ketika membaca isi pesan tersebut.
“Tuan Hatake, seperti itulah kesepakatan dalam kontrak kita. Apakah anda--”
“Aku akan menandatangani kontrak itu, dan aku akan bekerja sama dengan perusahaan kalian!” kata Mirai memotong pembicaraan dari Tiara.
Tiara dan Alam pun tersenyum senang dengan jawaban dari Mirai, Mirai pun langsung mengeluarkan bolpoin miliknya dan menandatangani lembar kontrak kerja sama itu tanpa membaca atau berpikir panjang lagi.
“Terima kasih tuan Hatake, karena anda mau bekerja sama dengan perusahaan kami!” kata Alam tersenyum sumringah sambil mengulurkan tangannya kepada Mirai tanda bahwa mereka sepakat untuk bekerja sama.
“Semoga perusahaan anda tidak mengecewakan, dan kita bisa bekerja sama selamanya!” kata Mirai sambil membalas uluran tangan Alam sembari mengulas senyuman di wajah tampannya.
“Itu pasti tuan Hatake!” jawab Alam meyakinkan.
“Emm... tuan Hatake, kami sudah memesan makanan. Bagaimana jika kita makan siang bersama?” kata Tiara dengan mengajak Mirai untuk makan siang bersama.
Mirai menyunggingkan senyuman diwajahnya, “Maaf nona Tiara. Aku ada janji dengan seseorang, jadi aku tidak bisa makan bersama kalian!” tolak Mirai dengan nada sedikit sopan.
“Baiklah, tidak apa-apa tuan Hatake. Kita bisa makan bersama lain kali!” kata Alam merasa senang karena dia tidak perlu berlama-lama dengan kliennya.
Mirai pun kembali mengulas senyuman lagi kepada Alam dan Tiara, lalu setelah itu dia berpamitan kepada keduanya dan langsung pergi dari restoran itu.
“Al, syukurlah kita dapat bekerja sama dengan perusahaan Hatake!” Tiara merasa sangat senang sekali, “sungguh... ini benar-benar pengalaman pertama kerja gw yang menyenangkan!” Tiara begitu bahagia sekali sehingga dia banyak bicara.
“Lo benar, ternyata pekerjaan lo lumayan juga ya, Ra!” puji Alam.
“Baiklah kalau gitu, gimana kalo kita rayakan keberhasilan pertama ini?” saran Tiara kepada Alam.
Alam mengulas senyuman kepada Tiara, bukan senyuman untuk menyetujui melainkan senyuman penolakan.
__ADS_1
“Sorry, Ra. Gw ada janji sama orang, jadi gw gak bisa lama-lama disini!” tolak Alam sembari tersenyum.
“Hah... lo ada janji sama siapa?” Tiara sangat penasaran.
“Ini gak ada urusannya sama lo!” kata Alam kepada Tiara, “ya udah gw pergi dulu ya, bye Ra!” sambung Alam lagi dan setelah itu dia langsung pergi meninggalkan Tiara.
“Al, setidaknya lo bilang sama gw lo ada janji sama siapa?” teriak Tiara dengan nada penuh ingin tahu sekali, tapi perkataan dari teriakkannya itu tidak di dengar oleh Alam karena Alam sudah pergi menjauh darinya.
“Siapa sih yang punya janji sama Al, kayaknya orang itu penting banget buat dia?” Tiara sangat penasaran sekali.
Sedangkan dalam perjalanan di mobil Mirai, Mirai sedang mengamati foto seseorang yang sudah sangat lama dia dambakan.
“Tuan muda, kita akan kemana?” tanya sekertaris Mirai yang sedang menyetir mobil.
“Kita ke villa saja,” jawab Mirai kepada sekertarisnya itu, “aku belum bisa bertemu dengannya hari ini karena sekarang belum waktunya!” sambung Mirai kepada sekertarisnya lagi.
Sekertarisnya yang tau apa maksud dari perkataan atasannya hanya bisa menyunggingkan senyuman jahilnya dan langsung melajukan mobil ke villa pribadi Mirai.
***
Hari pun sudah semakin sore, Suci dan Vivi masih asyik bermain bersama anak-anak. Suci tidak tahu jika Alam datang ke panti asuhan untuk bertemu dengan dirinya, yang tahu hanya Halimah saja. Alam sengaja meminta Halimah untuk tidak mengatakan kepada Suci bahwa dirinya ada di tempat itu, selain karena Alam tidak ingin sahabat Suci tahu tentang hubungannya dengan Suci, Alam juga tidak ingin mengganggu kebahagiaan Suci yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
“Suc, udah sore nih pulang yuk!” ajak Vivi kepada Suci.
“Cici, Vivi...!!” panggil Halimah kepada mereka berdua.
“Iya bunda!” sahut Suci dan Vivi bersamaan.
“Kalian udah mau pulang?” tanya Halimah.
“Iya bunda, ini udah sore. Aku masih ada--”
“Cici, bunda masih ada urusan sama kamu. Kamu bisa kan bicara sama bunda lagi sebentar?” Halimah menukas perkataan Suci.
“Mau bicara apa lagi bunda?” Suci menjadi penasaran.
“Ada hal yang penting!” jawab Halimah.
“Oh...” singkat Suci, lalu setelah itu dia menatap Vivi dengan penuh arti.
Vivi yang mengetahui apa arti dari tatapan Suci hanya bisa memakluminya. “Iya ya gw tau maksud lo, ya udah deh gw balik duluan aja!” kata Vivi sambil memasang wajah cemberut.
“Hehehe... emang kamu doang Vi, yang bisa ngertiin aku!” kata Suci cengengesan.
__ADS_1
“Ya udah gw balik ya!” kata Vivi lagi.
“Ok, hati-hati ya!” ucap Suci.
“Bunda, aku pulang duluan ya.” Pamit Vivi lagi kepada Halimah, Halimah menanggapi perkataan Vivi dengan senyuman dan setelah itu Vivi langsung pergi dari panti asuhan.
Setelah kepergian Vivi, Suci langsung bertanya kepada Halimah.
“Bunda, memang ada hal penting apalagi yang belum dibicarakan?” Suci penuh ingin tahu.
“Gak ada!” jawab Halimah singkat.
Suci pun menjadi heran dengan jawaban Halimah, jika tidak ada hal penting yang ingin dia bicarakan lalu apa penyebabnya dia bilang seperti itu tadi?
“Tuh dari tadi suami kamu udah ada disini.” Kata Halimah sambil menunjuk Alam yang ada di dalam mobilnya.
“Hah...” Suci terkejut dengan perkataan Halimah dan dia langsung melihat ke arah mobil yang letaknya tidak begitu jauh dari panti asuhan.
“Bener juga, itu memang mobilnya kak Alam. Sejak kapan dia ada disini?” gumam Suci merasa heran.
“Dia disini dari jam satu siang tadi!” kata Halimah yang mendengar gumaman dari Suci.
“APA....?? Jam satu siang?” lagi-lagi Suci terkejut dengan perkataan Halimah.
“Kenapa bunda gak bilang sama aku?” kata Suci.
“Dia sendiri yang melarang bunda agar tidak memberitahu mu!” jawab Halimah lagi.
“Ya ampun bunda...” Suci merasa agak cemas, “ya udah kalo gitu aku pulang dulu ya bun, gak enak sama kak Al.” Kata Suci berpamitan kepada Halimah dengan nada cemas.
“Ya sudah hati-hati!” kata Halimah.
Suci pun langsung pergi dari pandangan Halimah dan menuju ke mobil suaminya.
“Kak Alam...!!” panggil Suci ketika masuk ke dalam mobil suaminya.
.
.
.
.
__ADS_1
.