Pengantin Bayaran

Pengantin Bayaran
Bab 40


__ADS_3

“Kenapa gak non Suci aja yang sajikan, non?” tanya bi Ayu heran dengan sikap istri majikannya itu.


“Aku lagi gak mood buat ketemu sama orang asing, bi!” jawab Suci dengan nada sopan.


“Oh .... gitu, ya udah deh!” ucap bi Ayu sambil mengambil cemilan yang dibawa oleh Suci untuk disajikan kepada Tiara.


Tiara melihat Suci yang sedang bercakap-cakap dengan bi Ayu, dia merasa heran kenapa dia bisa bertemu lagi dengan Suci di rumah Alam? Timbullah benih pertanyaan dan kecurigaan lagi di pikiran Tiara.


“Mba Tiara, silahkan dicicipi cemilannya!” kata bi Ayu sambil menaruh piring cemilan di hadapan Tiara.


“Oh ... makasih ya bi!” ucap Tiara sambil tersenyum, lalu pandangannya kembali tertuju kepada Suci.


“Ra, lo udah makan apa belum?” tanya Alam kepada Tiara ketika keluar dari kamarnya.


Pertanyaan Alam kepada Tiara tidak langsung mendapat jawaban dari yang bersangkutan karena Tiara masih sibuk menilai keberadaan Suci yang ada ditempat itu. Alam yang menyadari tidak mendapat jawaban dari Tiara langsung mengikuti pandangan mata Tiara yang ternyata menuju kepada istrinya itu.


‘Sedang apa dia di dapur? Aku kira dia ada dikamar!’ batin Alam merasa agak kesal kepada Suci.


“Non, tuan Alam lagi perhatikan non tuh!” kata bi Ayu kepada Suci yang sedang sibuk dengan sesuatu entah apa yang dia sibukkan.


Suci pun langsung menengok, dan disaat Suci menengok Alam berpura-pura melihat ke arah lain. Suci pun meminta tolong kepada bi Ayu untuk melanjutkan pekerjaannya dan setelah itu dia menghampiri Alam karena dia ingin menyelesaikan kesalahpahaman diantara mereka. Namun saat Suci berjalan menghampiri dirinya, Alam justru duduk di sebelah Tiara sehingga Tiara agak terkejut dengan kedatangan Alam.


Suci menyadari jika suaminya itu sedang menjauhi dirinya, dia pun menjadi murung dan sedih dengan sikap suaminya itu, setelah itu dia pun pergi meninggalkan Alam dan Tiara berdua karena dia tidak mau melihat hal yang membuat dadanya sesak untuk saat ini.


“Al, gw boleh tanya sesuatu gak?” kata Tiara kepada Alam dengan nada ragu-ragu.


“Tanya aja kali gak masalah!” kata Alam dengan nada santai.


“Cewek itu siapa sih? Kenapa dia ada dirumah lo?” tanya Tiara penuh ingin tahu sekali.


Alam pun terdiam sesaat mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Tiara, sedangkan Tiara menatap Alam dengan wajah yang masih penuh ingin tahu.

__ADS_1


“Dia, sepupu gw!” jawab Alam dengan nada datar sambil memalingkan wajahnya kearah lain.


“Hah ....?” Tiara terkejut dengan jawaban Alam, “sejak kapan lo punya sepupu Al? Kok gw gak tau kalo selama ini lo punya sepupu?” tanya Tiara memastikan jawaban Alam yang dia berikan kepadanya dirinya.


“Ya elah Ra .... Lo memang teman gw, tapi emangnya seluruh keluarga gw, lo harus tau semua apa? Memang apa pentingnya buat lo?” kata Alam dengan nada yang terdengar santai namun membuat hati Tiara tertusuk.


“Iya juga sih!” ucap Tiara dengan tersenyum getir.


“Ya udah, ayo kita lanjutkan pekerjaan kita, bukannya kita ingin bahas masalah pekerjaan ya? Kenapa jadi bahas yang gak jelas?” kata Alam kepada Tiara.


Suci yang ternyata diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka dari balik pintu tak terasa meneteskan air mata dengan jawaban yang diberikan oleh Alam kepada Tiara. Ternyata dugaannya benar selama ini Alam belum menganggap dirinya sebagai istri, jangankan menganggap dirinya sebagai istri, untuk masuk ke dalam hati Alam sepertinya Suci juga tidak tahu bisa atau tidak.


“Apa lebih baik aku tidak menjelaskan apapun kepada kak Al ya tentang aku dan Mirai di masa lalu?” kata Suci seorang diri dengan perasaan bingung.


“Aku tidak dianggap istri oleh kak Al, lalu bagaimana jika aku menceritakan yang sebenarnya kepada kak Al, kak Al hanya menganggap itu hanya omong kosong ku saja?” kata Suci lagi.


Suci terus berpikir dengan perasaan bimbang dan cemas, antara menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya dan Mirai atau tidak menceritakan hal apapun kepada suaminya itu.


Keesokan harinya, Suci telah selesai membantu bi Ayu untuk menyiapkan sarapan dan dia langsung menatanya di meja makan. Alam pun terlihat keluar dari kamarnya dan masih mengenakan kaos biasa dan celana pendek, lalu dia pun langsung menuju meja makan.


“Kak, ayo sarapan dulu!” ajak Suci kepada suaminya sambil mengulas senyuman manis di wajahnya


“Ini kamu yang buat?” tanya Alam dengan nada datar kepada Suci.


“Enggak tuan Al, ini semuanya saya yang buat!” kata bi Ayu menjawab pertanyaan dari Alam, bukan maksud bi Ayu untuk bersikap tidak sopan kepada majikannya, tapi saat di dapur tadi Suci meminta bi Ayu untuk tidak mengatakan bahwa dia ikut membantu bi Ayu membuat makanan.


Mendengar jawaban dari bi Ayu, Alam hanya menganggukkan kepalanya pelan dan langsung mengambil segelas air putih yang ada di sampingnya.


Setelah selesai menyajikan makanan bi Ayu langsung kembali melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Suci masih sibuk menyiapkan sarapan untuk suaminya.


“Kak Al, aku boleh bicara sesuatu gak?” tanya Suci dengan nada ragu-ragu.

__ADS_1


“Apa?” tanya Alam datar tanpa memandang Suci.


“Tentang masalah kemarin. Sebenarnya aku dan Mirai--”


“Jika kau ingin membicarakan kekasih mu lebih baik tidak usah!” kata Alam dengan nada yang terdengar dingin dan setelah itu dia meninggalkan meja makan.


“Tapi kak, ini suatu hal yang sangat penting!” ucap Suci berusaha menghentikan langkah suaminya.


“Jika itu sangat penting, kau tidak usah mengatakan hal apapun tentang kekasih mu kepada ku!” jawab Alam dengan nada dingin.


“Tapi kak, Mirai itu bukan — ”


Suci langsung menghentikan perkataannya ketika Alam mengangkat salah satu tangannya menandakan Suci untuk tidak berbicara apapun lagi, lalu setelah itu tanpa berkata apapun Alam kembali ke kamarnya.


“Kenapa kak Al, tidak mau mendengarkan ku terlebih dahulu?” Suci bertanya kepada dirinya sendiri.


Ting.... Tong....


Suara bel rumah berbunyi, Suci pun menjadi buyar dari pikirannya.


“Tamu ....? Siapa tamu pagi-pagi begini?” Suci merasa heran. Akhirnya tanpa banyak berpikir dia pun langsung menuju ke pintu untuk membukanya.






__ADS_1


__ADS_2