Pengantin Bayaran

Pengantin Bayaran
Bab 17


__ADS_3

“Ya udah... kalo gitu gimana kalo kakak kasih kamu nama aja, tapi jangan pake nama kakak ya?!” kata Suci memberikan saran kepada gadis kecil itu.


“Gak mau...” tolak gadis kecil itu, “aku gak mau nama lainnya aku mau nama kakak aja, aku mau semua kayak kakak!” kata gadis kecil itu dengan nada merengek-rengek.


“Ya tapi gak boleh begitu sayang, kamu harus punya nama kamu sendiri, kamu harus jadi diri kamu sendiri!” kata Suci menasehati gadis kecil dengan nada membujuk.


“Gak mau... aku maunya nama yang cama kayak kakak!” tolak gadis kecil dengan wajah yang terlihat kesal dan setelah itu dia pergi meninggalkan Suci yang terlihat bingung bagaimana menghadapi gadis kecil itu.


FLASH BACK OFF.


“Suci... Suci...” suara seseorang yang memanggil nama Suci dengan nada yang sangat khawatir.


Suci mengerjapkan matanya sehingga cahaya lampu memasuki matanya yang agak buram, dan sosok pria yang selama ini selalu ada dipikirannya ada dihadapannya dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.


“Kak Alam...?” Suci merasa heran.


“Syukurlah kamu udah sadar Ci,” kata Halimah merasa sangat lega melihat Suci siuman.


“Sadar...? Emang aku kenapa bunda? Dan... kak Alam kenapa ada disini juga?” Suci merasa sangat penasaran karena pasalnya dia tidak tahu sama sekali apa yang terjadi, karena seingat dirinya tadi dia ada di depan ruangan jenazah.


“Tadi aku nemuin kamu terbaring di depan ruang jenazah!” kata Alam dengan nada lembut sambil mengusap rambut Suci.


“Terbaring di depan ruang jenazah...?” Suci merasa sangat heran.


“Tapi kak Alam tau darimana aku ada dirumah sakit kanker?” tanya Suci.


“Tadi bi Ayu telpon aku, jadi aku langsung kesini. Saat aku tiba di sini aku langsung nanya resepsionis dan dia bilang kamu udah meninggal dan ada di ruang jenazah, lalu aku menemukan kamu terbaring di sana, tapi syukurlah kamu cuman pingsan!” kata Alam menjelaskan.


“Oh...” ucap Suci dengan nada sungkan.


“Suc, sebenarnya apa yang terjadi sih? Terus kenapa suster di resepsionis tadi bilang kamu udah meninggal setengah jam yang lalu?” Alam bertanya penuh dengan keingintahuan.


“Kak Al, boleh gak aku jelasin ke kakak tentang ini nanti aja?” Suci ingin menghindari pertanyaan Alam.


Alam mendengar perkataan Suci hanya bisa pasrah dan dia pun mengulas senyuman lalu mengusap rambut istrinya.


“Ya udah tidak masalah. Kamu perlu sesuatu biar aku ambilkan?” tanya Alam penuh perhatian.


Suci yang menyadari perubahan sikap Alam pun merasa heran sekali, dalam hatinya dia bertanya. ‘Apa yang menyebabkan dia berubah?’ itulah yang ditanyakan Suci di dalam hatinya.

__ADS_1


“Suci...?” panggil Alam, karena pertanyaannya tidak mendapatkan respon dari Suci.


“Gak ada kak,” jawab Suci singkat.


“Ya udah kalo kamu perlu apa-apa kamu panggil aku aja ya, aku mau keluar dulu sebentar!” kata Alam dengan nada lembut dan setelah itu dia meninggalkan Suci.


Setelah kepergian Alam, Halimah pun mendekati Suci dan bertanya tentang sesuatu.


“Cici, sebenarnya apa yang terjadi sama kamu? Kenapa anak muda tadi bilang sama bunda kalo dia itu suami kamu?” tanya Halimah dengan rasa penasaran yang sedari tadi memuncak.


“Gak ada masalah apa-apa kok bunda?” jawab Suci sembari tersenyum.


“Terus dia itu bukan suami kamu beneran kan?” tanya Halimah lagi.


“Dia memang suami aku bunda, aku menikah dengannya udah hampir tiga bulan!” jawab Suci lagi.


“Apa...?” Halimah terkejut bukan main, “kamu udah nikah selama tiga bulan kok gak pernah kasih tau sama bunda sih?” kata Halimah.


“Maaf bunda, aku belum sempat kasih tau ke bunda tentang pernikahan ini, karena kami memang ingin menyembunyikan pernikahan kami!” jawab Suci seadanya.


“Loh... kenapa bisa begitu Cici? Pernikahan itu gak baik buat disembunyikan, itu tidak akan sah jika tidak ada saksi!” nasihat Halimah kepada Suci.


“Bunda tenang aja, pernikahan aku dan kak Alam sah kok, karena ada kedua mertua aku dan teman kak Alam yang menjadi saksi!” tanggap Suci kepada Halimah.


“Udah dong bunda, seharusnya kita gak bahas masalah aku sekarang. Kita ini kan lagi berduka tentang kepergian Suci!” Suci mengalihkan pembicaraan.


“Kalo gitu bunda, aku ingin ke toilet sebentar!” kata Suci lagi sambil turun dari ranjang rumah sakit.


“Ya udah hati-hati ya!” titah Halimah sambil membantu Suci.


Sedangkan di kursi tunggu di depan ruangan Suci, Alam sedang mengusap kasar wajahnya karena memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.


“Kakak.... kakak ini temannya kak Cici ya?” tanya Dora kepada Alam.


Alam yang mendapat pertanyaan itu dari seorang anak kecil pun langsung menatap dua anak kecil yang ada dihadapannya saat ini.


“Kakak, kakak ini temannya kak Cici bukan?” Lisa bertanya lagi kepada Alam.


“Siapa yang kalian maksud dengan nama Cici?” tanya Alam.

__ADS_1


“Itu loh, kak Cici yang tadi kakak gendong!” jawab Dora.


“Cici...?” Alam merasa heran dengan panggilan Dora kepada Suci.


“Dek, yang tadi kakak gendong namanya Suci bukan Cici!” kata Alam kepada Dora dengan nada ramah.


“Aku sama teman aku juga tau kak, kalo namanya kak Suci!” jawab Lisa, “tapi semua yang ada di panti manggil kak Suci itu Cici!” sambung Lisa lagi.


“Kok bisa dipanggil Cici?” Alam menjadi heran kenapa Suci dipanggil Cici.


“Temen aku yang tadi meninggal namanya sama banget kayak kak Suci, jadi bunda Halimah bilang ke kita semua kalo kita harus manggil kak Suci itu Cici, jadi kalo kita panggil Suci, kak Cici gak bingung!” jawab Dora menjelaskan kepada Alam.


Alam sedikit mencerna perkataan dari Dora dan dia pun teringat kembali tentang perkataan suster di resepsionis yang menyangkut nama Suci.


“Apa nama teman kamu namanya Suci Ardani?” Alam memastikan kepada mereka berdua.


“Heem...” Lisa dan Dora sama-sama menganggukkan kepalanya.


“Jadi yang meninggal itu temen kalian?” Alam bertanya lagi dengan penuh penasaran.


“Iya kak, Suci itu teman kita dan kak Cici bilang dia itu lipal kak Cici!” kata Lisa.


“Lipal...?” gumam Alam merasa bingung dengan apa yang dikatakan oleh Lisa.


“Kakak, gak tau lipal ya?” Dora menatap Alam dengan tatapan polosnya, “kata kak Cici bilang, lipal itu sama persis kayak kembaran!” sambung Dora lagi.


‘Kembaran...? Apa yang dimaksud oleh mereka adalah rival?’ batin Alam.


Ditengah-tengah kebingungan Alam, pintu ruangan Suci terdengar di buka dari dalam, dan tampaklah Halimah yang keluar dari ruangan itu.


“Dora, Lisa. Ayo kita pulang, ini udah hampir larut malam!” kata Halimah kepada Dora dan Lisa yang sedang duduk disebelah Alam.


“Ok bunda!” jawab Dora dan Lisa bersamaan.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2