Pengantin Bayaran

Pengantin Bayaran
Bab 33


__ADS_3

“Siapa...?” Alam bertanya dengan nada tidak sabaran.


“Vivi...” jawab Glen singkat.


“Vivi...? Dia bukannya temen Suci, yang selalu nempel kemana pun istri gw pergi?” tanya Alam lagi.


“Ehem... ehem.... istri sekarang manggilnya!” deham Rian sembari meledek Alam lagi.


“Mulai lagi deh....” ucap Alam sambil menatap tajam kepada Rian.


“Emang kenapa lo tiba-tiba pingin tau orang yang dekat sama Suci, Al?” tanya Glen penuh heran.


“Ada deh... kepo aja lo!” gurau Alam.


“Huftt... dasar lo nyebelin!” ucap Glen dengan wajah cemberut.


Di sudut lain cafe, Vivi sedang asyik menikmati kopi moccacino kesukaannya. Sambil menikmati kopi kesukaannya itu, Vivi sibuk berkomunikasi dengan kedua orang tuanya yang tinggal di pulau Kalimantan melalui laptop. Saat sedang sibuk chatting sembari menikmati kopinya, Vivi tidak sengaja mendengar namanya disebut oleh seseorang dari sudut lain.


“Glen...?”


“Sedang apa Glen dan kedua temannya disini?”


Vivi merasa sangat heran ketika melihat tiga pria berwajah serius di sudut lain, mereka seperti sedang membicarakan sesuatu yang sangat menegangkan.


Vivi meraih ponsel di sebelah laptop-nya dan mengirimkan pesan kepada seseorang.


Di sudut lain, ketiga pria yang sedang berwajah serius itu pun menjadi buyar ketika mendengar notifikasi pesan dari ponsel Glen yang sangat unik.


‘Kau ada dimana?’


Glen pun yang tadi memasang wajah serius karena tertular keseriusan Alam, kini dia langsung tersenyum lebar ketika mendapat pesan itu dari seseorang.


Alam dan Rian yang dari tadi masih memasang wajah serius, kali ini mereka berdua menautkan kedua alisnya sambil menatap Glen. Pasalnya mereka bingung, apa yang menyebabkan Glen tersenyum lebar seperti itu?


“Woy... Glen, lo kenapa senyum kayak gitu?” tanya Alam sambil melipat kedua tangannya di atas meja.

__ADS_1


“E-e-enggak... enggak kenapa-kenapa kok!” elak Glen dengan nada terbata-bata.


“Kalo lo gak kenapa-kenapa, lo ngapain senyum lebar kayak gitu kayak orang kesambet? Padahal jelas-jelas suasana lagi serius gara-gara si Al!” sambung Rian kepada Glen.


“Lah... kok gara-gara gw?” kata Alam dengan nada tidak terima dirinya disalahkan.


“Lah... emang iya, kalo bukan lo siapa?” kata Rian dengan nada yang mengajak berdebat namun hanya sekedar gurauan.


“Udah... udah, Al lo pingin ketemu sama Vivi kan? Biar dia, gw suruh kesini.” Kata Glen ditengah-tengah pembicaraan Rian dan Alam.


“Bagus itu... ya udah cepet suruh dia kesini!” kata Alam dengan nada memerintah.


Glen pun langsung mengirimkan pesan kepada Vivi untuk segera datang menemuinya di tempat yang sedang mereka datangi itu, beberapa menit kemudian Glen mendapat balasan dari Vivi jika dia akan segera datang.


Di sudut lain, Vivi yang masih menikmati kopinya dan mendapatkan pesan dari Glen, dia langsung memasukkan laptopnya ke dalam tas lalu dia langsung menghampiri meja Glen dan kedua temannya yang letaknya berada dari tiga meja tempat duduknya tadi.


Tiga langkah sebelum sampai di meja Glen dan temannya, Vivi tiba-tiba menghentikan langkahnya dan bertanya dalam benaknya. Apa yang menyebabkan Glen berkumpul dengan kedua temannya itu? dan apa penyebabnya pula Glen menyuruh dirinya untuk datang menemui mereka?


“Glen...!” panggil Vivi kepada Glen.


“Glen, ada apa lo suruh gw datang kemari?” tanya Vivi kepada Glen dengan nada santai.


“Begini loh, Say... si Al dia pingin ketemu sama lo karena ada beberapa hal yang ingin dia tahu dari lo tentang Suci.” Kata Alam kepada Vivi dengan nada rendah sehingga membuat Alam dan Rian bingung akan cara bicara Glen kepada Vivi.


“Tentang Suci....?” Vivi pura-pura terkejut, “kenapa Alam ingin tahu hal tentang Suci? Memangnya dia siapa?” sambung Vivi lagi dengan masih berpura-pura tidak tahu apapun.


“Enggak penting lo tahu hal itu. Yang paling penting gw pingin tanya sama lo, selain lo siapa lagi yang dekat dengan Suci?” tanya Alam dengan nada keseriusannya.


Vivi menarik salah satu sudut bibirnya sambil melipat kedua tangannya diatas meja lalu mencondongkan tubuhnya kepada Alam.


“Bilang dulu sama gw. Lo ini siapanya Suci, sehingga lo pingin tahu banget siapa aja yang dekat dengan sahabat gw?” ucap Vivi dengan nada menyudutkan Alam.


‘Suc, selama ini lo gak pernah bilang kalo Alam adalah suami lo. Sekarang gw mau Alam sendiri yang bilang kalo dia itu suami lo!’ batin Vivi sambil tersenyum kepada Alam.


“Emangnya itu penting banget apa?” kata Alam dengan nada tinggi.

__ADS_1


“Penting banget lah, gw itu gak bisa sembarang kasih info tentang sahabat gw ke orang yang gak ada hubungan apapun sama sahabat gw!” kata Vivi yang tidak kalah ketus dari Alam.


“Hahh... ternyata temannya juga gak kalah menyebalkan dari Suci!” gerutu Alam dengan nada kesal.


“Lo bilang sesuatu?” tanya Vivi dengan nada menyelidik.


“Tidak ada!” jawab Alam singkat.


‘Apa aku harus bilang kalau Suci adalah istri ku?’ batin Alam dengan rasa bimbang.


‘Hahaha... keliatan banget muka lo lagi bingung, Al!’ tawa Vivi dalam hati.


“Heehh... kalo lo gak mau ngomong juga gak apa-apa. Gw gak maksa, tapi.... karena gw baik hati dan tidak sombong, gw mau jawab pertanyaan lo, setau gw Suci itu deket sama gw doang gak ada yang lain. Jadi kalo lo mau tau siapa lagi yang deket ama dia selain gw, gw gak tau!” kata Vivi memberitahu Alam dengan nada serius.


“Lo serius...?” Alam tidak yakin dengan jawaban Vivi.


“Terserah lo mau percaya apa kagak!” ketus Vivi kepada Alam, “lagian ya... emang gw nyokap dia apa yang harus tau siapa aja yang deket ama dia?” sambung Vivi lagi dengan nada ketus.


“Sabar... sabar, Say. Jangan marah-marah gitu dong!” kata Glen menenangkan Vivi.


“Ah... udahlah, gw gak punya banyak waktu, gw masih ada urusan!” kata Vivi kepada mereka bertiga.


“Lo ada urusan apa?” tanya Glen ingin tahu.


“Kepo banget sih lo jadi cowok!” kata Vivi dengan nada ketus, “dah ya gw cabut dulu!” ujar Vivi lagi dan setelah itu dia langsung meninggalkan Glen dan teman-temannya.


Setelah kepergian Vivi, suasana di meja itu pun kembali serius dan tercipta keheningan sesaat diantara mereka bertiga, lalu setelahnya Rian dan Alam memutuskan untuk pergi dari tempat itu karena mereka masih ada urusan yang harus diselesaikan. Dan kini tinggal Alam seorang diri yang masih berada disana sambil terus memikirkan Suci dan juga Mirai.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2