
Waktu hari ini begitu cepat sehingga matahari pun sudah berlalu untuk meninggalkan siang, ramainya perjalanan ibukota dipadati oleh kendaraan yang berlalu-lalang, burung-burung pun berterbangan untuk kembali ke sarangnya.
Dirumah Suci dan Alam.
“Bi ayu... bi....!!” Suci meneriaki nama bi Ayu dengan lantangnya.
“Iya non,” sahut bi Ayu dari kejauhan sembari mendatangi Suci.
“Bi boleh minta tolong gak?” kata Suci dengan wajah yang agak panik.
“Minta tolong apa non? Muka non kenapa panik gitu?” tanya bi Ayu dengan penasaran sekaligus ikut panik.
“Bi aku mau pergi ke rumah sakit, tapi aku gak bisa pesen taksi online, aku boleh pinjem ponsel bibi gak buat pesen taksi?” kata Suci dengan kalang kabut.
“Iya iya non, ini pake aja!” kata bi Ayu sambil memberikan ponsel miliknya kepada Suci.
Suci pun langsung mengambil ponsel bi Ayu dan segera memesan taksi online, dia dalam hatinya dia terus berdoa dan menggerutu, entah apa yang dikatakan dalam hatinya, tapi itu bisa dilihat dari ekspresi wajahnya.
“Nih bi, makasih ya aku pergi dulu bi!” kata Suci dengan terburu-buru.
“Eh... non Suci tunggu, non ke rumah sakit ada perlu apa? Nanti kalo tuan tanya sama saya, saya harus jawab apa?” kata bi Ayu dengan nada berteriak, tapi teriakannya sia-sia saja karena Suci sudah keluar dari rumah.
“Duh... non Suci ke rumah sakit mau ngapain ya? Apa dia sakit... nanti kalo tuan Alam nanya gimana?” gumam bi Ayu dalam keadaan bingung.
“Saya kasih tau tuan aja deh kalo non Suci ke rumah sakit,” gumam bi Ayu lagi dan dia langsung menelpon Alam.
Di kantor Alam.
“Duh... kapan selesainya semua kerjaan ini?” gerutu Alam sambil merenggangkan otot tubuhnya yang terasa pegal, seketika dering telepon di ponsel milik Alam pun berbunyi.
“Bi Ayu...?” gumam Alam ketika melihat nama pemanggil di layar ponselnya, “Ada apa ya bi Ayu telpon?” Alam merasa penasaran dan dia pun langsung mengangkat panggilan dari bi Ayu.
“Iya halo bi ada apa?”
“.....”
“Suci...? Suci kenapa bi? Bibi jangan panik gitu dong?” Alam merasa khawatir ketika bi Ayu menyebut nama Suci dengan nada yang sangat panik.
“....”
“Dia pergi ke rumah sakit dengan wajah yang panik? Memangnya dia kenapa bi?”
“....”
__ADS_1
“Ya udah ok bi, bibi tenang aja!” Alam mencoba menenangkan bi Ayu, “bi Ayu tau gak Suci pergi ke rumah sakit mana? Kalo bi Ayu tau, bibi kirim nama rumah sakit itu ke saya ya!” pinta Alam kepada bi Ayu dengan nada tenang untuk dirinya sendiri.
“....”
“Ok bi Ayu, makasih ya!” ucap Alam dan setelah itu dia mengakhiri panggilan.
“Huft... dia ngerepotin banget sih?” gerutu Alam sambil meletakkan ponselnya, “kira-kira dia ngapain pergi ke rumah sakit ya? Apa dia sakit? Kalo dia sakit gak mungkin, soalnya bi Ayu bilang dia pergi dengan wajah yang panik banget!” gerutu Alam memikirkan Suci.
Tidak lama kemudian ponsel milik Alam berbunyi lagi, dan ternyata itu notifikasi pesan dari bi Ayu yang memberikan nama rumah sakit yang dituju oleh Suci.
“Ini kan...?” Alam sangat terkejut bukan main ketika mengetahui rumah sakit yang sedang dituju oleh Suci.
Di perjalanan menuju rumah sakit.
Suci terlihat sangat khawatir dan gelisah sekali, dia mengingat kembali saat bunda panti asuhan menelpon dirinya dan mengatakan bahwa salah satu adiknya di panti asuhan yang waktu itu menjalani operasi kali ini penyakitnya kambuh lagi dan kondisinya semakin memburuk.
“Pak berapa lama lagi ya sampai ke rumah sakit?” tanya Suci dengan gelisah.
“Bentar lagi juga nyampe kok mba, kira-kira lima menit lagi!” jawab driver.
“Kalo bisa agak cepat ya pak!” pinta Suci.
“Iya mba!” jawab driver lagi.
Tak lama kemudian taksi yang ditumpangi oleh Suci pun berhenti di depan gerbang rumah sakit, Suci pun langsung memberikan ongkos tarif dan segera memasuki rumah sakit. Suci segera mencari ruang tempat adik pantinya itu dirawat.
“Kak Cici...!!” panggil dua orang anak yang suaranya tidak asing di telinga Suci.
“Lisa, Dora...!!” Suci pun langsung menghampiri dua anak yang memanggil dirinya tadi dengan tergesa-gesa.
“Cici, akhirnya kamu datang juga!” kata wanita paruh baya yang berdiri di samping kedua anak yang tadi memanggil Suci.
“Bunda gimana keadaan Suci, bun?” tanya Suci dengan nada sangat khawatir, ya nama adik yang sedang dirawat di rumah sakit itu memiliki nama yang sama persis dengan Suci.
“Dokter masih periksa keadaan dia!” jawab wanita paruh baya yang tidak lain adalah bunda pengurus panti.
“Kak Cici, keadaan Suci gimana kak? Kalo dia ninggalin kita gimana?” kata Lisa dengan raut wajah sedih.
“Maksud kamu apa sayang ngomong kayak gitu?” Suci merasa heran.
“Pertanyaan itu cuman bunda aja yang bisa jawab, kak!” kata Dora sambil menunjuk bunda pengurus panti.
Suci pun langsung menatap bunda pengurus panti dengan tatapan heran. “Bunda maksud Dora ama Lisa apa?” tanya Suci penuh ingin tahu.
__ADS_1
Bunda pengurus panti tidak langsung menjawab pertanyaan dari Suci melainkan dia memalingkan wajahnya dan mulai menitikkan air mata.
“Bunda...? Bunda kenapa gak jawab pertanyaan aku?” Suci sangat penasaran sekali dan karena sangking penasarannya, Suci sampai menatap tajam kepada orang yang sudah merawatnya dari kecil.
“Bunda gak tau harus jawab apa Ci!” kata bunda pengurus panti dengan sangat sedih.
“Maksud bunda apa sih?” Suci mulai agak kesal karena tidak mengerti apapun.
Belum sempat bunda pengurus panti menjawab pertanyaan dari Suci, dokter yang menangani Suci kecil pun keluar dari ruangannya, Suci dan yang lainnya langsung menghampiri dokter tersebut.
“Dokter, gimana keadaan Suci sekarang?” tanya Suci sangat khawatir.
“Maaf Suc, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi--” dokter itu menghentikan perkataannya sambil menunjukkan wajah sedih.
“Tapi kenapa dok? Kalo bicara jangan setengah-setengah!” kata Suci sangat tidak sabaran.
“Tapi dia sudah tidak bisa kami selamatkan!” kata dokter itu menjelaskan.
Suci dan yang lainnya langsung terkejut bukan main ketika mendengar pernyataan dokter itu.
“Bohong... dokter pasti bohong kan? Waktu itu anda bilang dia akan baik-baik saja setelah operasi, tapi sekarang kenapa anda bilang dia tidak bisa diselamatkan?!!” bentak Suci sangat marah, dia tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh dokter tersebut.
“Suci, saya memang bilang begitu tapi saya waktu itu menambahkan ucapan lainnya!” kata dokter itu lagi.
“Bohong...” bentak Suci, suaranya sangat menggelegar sehingga banyak mata yang tertuju kepada dirinya.
“Suci... tenang nak, tenang!” bunda pengurus panti berusaha menenangkan Suci.
“Bunda, dia bohong kan bun?” Suci berkata dengan nada yang masih tidak percaya.
“Dokter saya, akan menjelaskan kepada Suci!” ucap bunda pengurus panti kepada dokter tersebut.
“Baiklah kalau begitu saya permisi nona Halimah!” kata dokter itu dengan nada sopan kepada pengurus panti.
.
.
.
.
.
__ADS_1