
‘Kenapa Alam terus memandang direktur Ardani?’ batin Tiara merasa sangat kesal sekali.
Suci yang sedang makan sangat merasa bahwa dirinya sedang ditatap oleh seseorang, Suci pun melirik ke arah Alam yang sedang menatap dirinya.
“Wakil direktur Alam ...!!” panggil Suci kepada Alam, sehingga Alam pun tersadar.
“Iya direktur Ardani ....!!” sahut Alam dengan wajah yang terlihat gugup.
“Kenapa kau tidak makan sarapan mu dengan baik? Apa makanannya tidak sesuai dengan selera mu?” tanya Suci dengan nada ramah kepada Alam.
“Oh ... tidak-tidak, makanannya sangat sesuai dengan selera ku!” jawab Alam sambil mengulas senyuman.
“Baguslah kalau begitu. Silahkan dihabiskan makanannya!” kata Suci lagi seraya mengulas senyuman manis di wajah cantiknya.
Melihat senyuman di wajah Suci, Alam pun langsung terpukau, senyum itu ... senyum itulah yang Alam rindukan selama tiga tahun terakhir ini. Sehingga tanpa disadari Alam pun tersenyum senang setelah melihat senyuman di wajah Suci. Tiara yang dari tadi memperhatikan Alam dan Suci semakin amat geram, tanpa ada yang menyadarinya Tiara sedang meremas blazer yang dia pakai dengan sangat panas hati.
Suci pun telah menghabiskan makanannya, dia berpamitan kepada sekertarisnya bahwa dia akan pergi ke toilet sebentar. Setelah Suci pergi dari meja makan itu, Alam pun telah menghabiskan makanannya dan dia juga ingin pergi ke toilet.
Di toilet wanita.
‘Hei ... kenapa saat aku makan tadi, aku seperti merasakan sesuatu yang aneh ya?’ batin Suci merasa heran.
‘Tapi aku merasakan sesuatu yang aneh apa ya tadi?’ batin Suci lagi sambil mencoba mengingat suatu hal.
Suci pun berhenti untuk mengingat hal aneh yang barusan terjadi pada dirinya, karena nada panggilan di ponselnya berbunyi. Suci pun langsung mengangkat panggilan tersebut.
“Ya halo dokter Sharma!” ucap Suci ketika mengangkat panggilan tersebut.
“.......”
__ADS_1
“Apa ...??” Suci sangat terkejut mendengar perkataan dari orang yang ada di telpon itu.
“.......”
“Baiklah, besok aku datang!” ucap Suci kepada orang yang ada di sebrang telpon sana dan setelah itu dia langsung mengakhiri panggilannya.
“Apa-apa yang dikatakan oleh dokter Sharma tadi ....? dokter Sharma bilang aku ini hilang ingatan ....” gumam Suci merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter Sharma di telpon barusan.
“Jika aku hilang ingatan, lalu selama tiga tahun ini ....” Suci menjadi sangat heran dan semakin penasaran.
Di toilet pria.
“Hati ku mengatakan bahwa direktur Ardani adalah Suci. Suci ku yang telah diketahui oleh semua orang bahwa dia sudah meninggal.” Kata Alam seorang diri dengan penuh keharuan.
“Dia adalah Suci ku .... istri ku ..... aku yakin hati ku dan keyakinan ku tidak mungkin salah, direktur Ardani adalah Suci yang selama ini aku rindukan.” Kata Alam lagi secara emosional.
“Jika benar seperti itu, aku harus meminta maaf kepadanya dan setelah itu aku akan berjanji bahwa aku tidak akan menyakiti perasaannya lagi!” ucap Alam dengan penuh tekad.
“Ya ya .... harus seperti itu, aku tidak ingin kehilangan Suci lagi!!” kata Alam lagi dan setelah itu dia keluar dari toilet dan kembali ke meja ditempat mereka berkumpul.
Sesampainya Alam di tempat mereka berkumpul, Alam merasa sangat terkejut karena dia sudah tidak melihat Suci dan Yani ada disana.
“Tiara, dimana mereka?” tanya Alam dengan penuh heran kepada Tiara.
“Direktur Ardani dan sekertarisnya Yani mereka sudah pulang!” jawab Tiara.
“Sudah pulang ....? Lalu bagaimana dengan pembicaraan kerja sama kita?” tanya Alam lagi.
“Sudah selesai” jawab Tiara secara singkat.
__ADS_1
“Apa maksud mu sudah selesai? Bukankah tadi kita belum mencapai kesepakatan?” kata Alam merasa agak bingung sekali.
“Direktur Ardani, tidak ingin bekerja sama dengan perusahaan kita!” kata Tiara dengan nada santai sambil membuang pandangannya ke arah lain.
“Apa maksud mu Suci tidak ingin bekerja sama dengan kita?” tanya Alam agak kesal.
Tiara agak terkejut dengan perkataan Alam yang menyebut direktur Ardani dengan sebutan Suci.
“Al, lo sadar dong .... dia itu bukan Suci, tapi dia itu direktur Ardani. Seorang direktur dari perusahaan besar ....!!! Sampai kapan sih lo bisa terima kenyataan kalo Suci itu udah gak ada ....!! dia itu cuman punya tampang yang mirip doang sama Suci ....!!!” kata Tiara yang mulai terbawa emosi karena sikap Alam.
“Ra .... lo gak punya hak apapun buat nasehatin gw, ataupun marah sama gw, karena lo itu cuman sekertaris gw. Dan .... jika lo gak percaya kalo Suci masih hidup, ya udah .... itu terserah lo. Tapi hati gw .... hati gw gak bisa bohong, direktur Ardani adalah Suci, Suci ISTRI GW MASIH HIDUP ....!!” kata Alam kepada Tiara dengan penuh penegasan sekaligus menekan kata istri terhadap nama Suci dan setelah mengatakan hal itu Alam pun langsung pergi meninggalkan Tiara.
Tiara pun merasa hatinya sangat tercabik-cabik setelah mendengar perkataan Alam, dan hatinya semakin sakit lagi saat Alam menekan kata istri terhadap nama Suci, Tiara pikir hubungannya yang semakin dekat selama tiga tahun ini bisa membuat Alam membuka sedikit pintu hatinya untuk dirinya.
“Sebegitu pentingkah Suci di dalam hati lo Al? Sehingga lo gak sadar kedekatan kita selama ini?” gumam Tiara merasa emosional.
“Direktur Ardani .... siapa sebenarnya dia? Kenapa wajahnya mirip sekali dengan Suci? Apa benar yang dikatakan oleh Alam, jika dia adalah Suci?” gumam Tiara lagi merasa sangat heran.
“Jika direktur Ardani itu benar-benar Suci. Aku pasti akan membuatnya hilang dari hidup Alam, tidak akan aku biarkan Alam menjadi milik orang lain lagi ....!!” geram Tiara dengan penuh tekad.
•
•
•
•
•
__ADS_1