Pengantin Bayaran

Pengantin Bayaran
Bab 48


__ADS_3

Suci yang sedang membuka berkas itu langsung terhenti ketika mendengar jawaban dari Yani. Dia merasa seperti pernah mengetahui nama perusahaan yang disebutkan oleh Yani itu.


‘Kenapa aku merasa .... aku seperti mengenal nama perusahaan itu?’ batin Suci merasa sangat heran.


“Kak Yani, berkas ini aku lihat dulu. Besok baru aku beri kesimpulan ....!!” kata Suci kepada Yani.


“Baiklah Suci, kalo begitu aku langsung pulang!!” kata Yani sambil tersenyum.


“Ok kak. Terima kasih sudah mau repot-repot mengantarkan berkas ini ke rumah ku!!” ucap Suci tidak lupa mengulas senyuman.


Yani pun mengangguk dan langsung pergi dari tempat itu. Sedangkan Suci menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Sedangkan di ruangan kerja Zirai.


“Tuan, informan kita mengatakan bahwa tuan Mirai sudah mendarat di Bali. Dan informan kita juga mengatakan bukan hanya tuan Mirai saja yang datang melainkan dia juga datang bersama wakil direktur dari perusahaan Adiwiyata!!” kata Nadya memberitahu Zirai tentang kedatangan Mirai.


“Terus awasi Mirai dan wakil direktur dari perusahaan Adiwiyata itu. Dan ingat .... tetap waspada!!” perintah Zirai dengan nada tegas kepada sekertarisnya itu.


“Baik tuan ....!!” jawab Nadya dengan tegas dan setelah itu dia meninggalkan ruangan kerja Zirai.


Sedangkan di kamar Suci.


Suci merasa heran dan ada yang janggal tentang kehidupannya selama tiga tahun ini.


“Apa yang terjadi padaku sebenarnya? Apa yang sudah aku alami selama tiga tahun ini? Kenapa saat aku mendengar nama perusahaan Adiwiyata, aku merasa sangat ——”


“Ibu ....” suara teriakkan Yucin membuyarkan pikiran Suci yang sedang kebingungan.


Suci pun langsung bergegas ketika mendengar teriakkan Yucin, dan dia bertanya kepada Yucin, kenapa dia memanggil dirinya.


“Ibu ... tadi ayah mencari ibu!” kata Yucin.


“Lalu ...?” tanya Suci.


“Aku bilang, aku tidak melihat ibu dimana pun, jadi aku berteriak memanggil ibu!!” ucap Yucin dengan tampang polosnya.


Suci menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari Yucin.


“Anak dan ayah sama saja. Entah kenapa kau tidak meniru sifat ibu mu saja nak?!” kata Suci sambil menggendong Yucin.


“Sekarang katakan, jika ayah mu mencari ibu. Lalu dimana dia sekarang?” tanya Suci lagi.


“Aduh ... kenapa ayah dan ibu sama-sama menyebalkan?” oceh Yucin sambil menepuk jidatnya itu.


“Suci ....” panggil Zirai kepada Suci.


“Lihat .... sekarang ayah memanggil nama ibu!” kata Yucin dengan wajah kesalnya yang terlihat menggemaskan.

__ADS_1


“Dan lihat .... sekarang ayah mu itu akan datang kepada ibu dengan wajah yang sangat menyebalkan, dan pasti dia akan bertanya. Suci kau ini darimana saja?!” ucap Suci dengan tampang kesal yang dibuat-buat.


“Ya tuhan, Suci .... kau ini darimana saja? Aku mencari mu dari tadi!” ucap Zirai.


Suci tidak menjadi pertanyaan dari Zirai, melainkan dia menatap Yucin yang masih dalam gendongannya, begitu pula juga Yucin. Sesaat kemudian mereka berdua pun saling tertawa satu sama lain sehingga membuat Zirai kebingungan.


“Kau lihat itu Yuyu. Ayah mu pasti mengatakan hal yang aku katakan barusan!” ucap Suci dengan masih tertawa.


“Hei .... kenapa kalian tertawa?” tanya Zirai penasaran.


“Tidak ada. Kami tidak tertawa karena apapun!” ucap Suci lagi.


Zirai pun mendengus kesal dengan sikap Suci dan juga Yucin yang membuat dirinya penasaran itu.


“Sudah .... jangan membahas tentang kenapa kami tertawa. Sekarang katakan, ada apa kau mencari diriku?” tanya Suci.


“Aku ingin memberikan mu ini!” kata Zirai sambil memberikan bungkusan paper bag kecil kepada Suci.


“Apa isinya itu?” tanya Suci heran.


“Coba saja kau lihat sendiri!” jawab Zirai.


Suci pun langsung menurunkan Yucin dari gendongannya dan dia langsung mengambil bungkusan itu, lalu membukanya.


“Ini .....?” Suci agak terkejut dengan isi dari bungkusan paper bag itu, “ini adalah kalung dan cincin yang sedang aku inginkan belakangan ini!” ucap Suci.


“Ya tuhan, Zirai. Hanya karena aku tidak pernah melepaskan kalung dan cincin ini, kau sampai membelikan perhiasan ini untuk ku?” kata Suci merasa tidak percaya.


“Oh ya ... ngomong-ngomong kenapa aku bisa lupa dengan tanggal pernikahan kita ya?” ucap Suci lagi merasa heran, Zirai pun menjadi bersitegang dengan perkataan Suci.


“Zirai, apa kau ingat tanggal pernikahan kita?” tanya Suci sambil menatap Zirai.


Zirai pun menjadi kebingungan dan berusaha mencari jawaban untuk menjawab pertanyaan dari Suci. Suci yang tidak langsung mendapat jawaban dari Zirai pun merasa heran, dan dia menatap Zirai yang sedang kebingungan itu.


‘Kenapa dia tiba-tiba menanyakan tentang tanggal pernikahan? Apa ingatannya sudah mulai perlahan kembali?’ batin Zirai sambil memutar otaknya untuk mencari jawaban.


‘Kenapa dia terlihat kebingungan begitu saat aku tanyakan tentang tanggal pernikahan kita?’ batin Suci sambil menautkan kedua alisnya.


‘Apa yang harus aku katakan untuk menjawab pertanyaan darinya?’ batin Zirai lagi.


“Zirai .....” panggil Suci dengan tatapan menyelidik.


“Oh iya .... kau mengatakan sesuatu?” kata Zirai dengan mengulas senyuman canggung.


“Ya ampun Zirai, kau belum menjawab pertanyaan ku tadi!” ucap Suci dengan nada memaksa.


“Oh itu .... itu .... itu ——”

__ADS_1


“Maaf mengganggu tuan Zirai, barusan ada telpon dari klien. Dia bilang ada hal sangat penting untuk dibicarakan!” Nadya tiba-tiba datang sehingga Zirai pun agak bernafas lega dengan kedatangan sekertarisnya itu.


“Oh ya tunggu sebentar ....” ucap Zirai sambil terus simpul.


“Suci, aku akan menerima telpon dari klien ku terlebih dahulu!!” kata Zirai dan setelah itu dia meninggalkan Suci dalam keadaan yang masih diliputi penasaran tentang tanggal pernikahan mereka.


“Aneh sekali .... kenapa dia sangat gugup saat aku bertanya tentang tanggal pernikahan? Dan .... dan jika memang aku sudah menikah dengannya, kenapa selama ini aku tidak pernah tidur satu kamar dengannya?” gumam Suci merasa sangat aneh sekali.


Suci pun kembali ke kamarnya dengan rasa yang masih penuh tanda tanya dan bingung akan sikap Zirai.


Di sudut lain, Zirai berterima kasih karena Nadya datang tepat waktu untuk menyelamatkan dirinya dari pertanyaan Suci yang tidak bisa dia jawab.


“Tuan .... apa nona Suci sudah pulih secara perlahan?” kata Nadya menerka-nerka.


“Aku juga tidak tahu,” jawab Zirai seadanya.


“Tapi sepertinya itu tidak mungkin. Dokter bilang setelah kejadian tiga tahun lalu Suci kehilangan seluruh ingatannya, dia tidak ingat apapun kecuali namanya sendiri!” sambung Zirai lagi.


“Tapi tuan .... tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini!!” ucap Nadya.


“Kau benar juga, tidak ada yang tidak mungkin ....!!” Zirai membenarkan apa yang dikatakan oleh Nadya.


“Ini akan menjadi masalah besar jika Suci mengingat kembali siapa dirinya. Dan putri ku .... Yucin sudah sangat dekat dengan Suci, ini benar-benar akan menjadi masalah besar juga jika Suci tahu Yucin bukanlah putrinya!!” kata Zirai lagi merasa gelisah.


Di kamar Suci sedang membuka laptopnya dan dia sedang mencari tahu tentang perusahaan Adiwiyata melalui media go***e, Suci merasa sangat mengenali dan pernah mendengar nama perusahaan itu.


Seketika saat membuka link tentang perusahaan Adiwiyata muncullah foto keluarga besar Adiwiyata, Suci mengamati foto keluarga besar itu dan tiba-tiba sekilas beberapa bayangan hitam melintas di benaknya, Suci berusaha mengenali bayangan hitam yang ada dipikirannya itu, tapi belum bisa mengenalinya kepala Suci terlalu sakit sehingga Suci tidak bisa mengingat bayangan hitam itu.


“Apa ini ....? Kenapa saat aku melihat foto ini, aku memiliki ingatan ini? Apa yang sebenarnya terjadi kepada ku?” kata Suci seorang diri sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.


Suci pun kembali melihat foto-foto tentang perusahaan Adiwiyata, dan saat melihat foto Alam seorang diri bayangan hitam kembali melintas di pikiran Suci. Dia melihat dua orang pria dan satu wanita yang sedang bertengkar di dalam bayangan hitam itu. Lagi-lagi rasa sakit di kepala Suci semakin menjadi-jadi, sehingga Suci merasa sangat kesakitan. Suci langsung mematikan laptopnya dan dia langsung meminum obatnya.


Setelah meminum obat, rasa sakit di kepala Suci sedikit menghilang dan dia pun duduk di tepi tempat tidur sambil merenung.


“Apa tadi yang melintas di pikiran ku? Kenapa saat melihat foto-foto dari pemilik perusahaan Adiwiyata, aku memiliki ingatan itu? Tapi kenapa aku tidak bisa melihat siapa yang ada dalam ingatan ku itu?” gumam Suci dengan rasa penasaran.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa sebenarnya aku ini?” gumam Suci lagi sambil terus memikirkan tentang ingatan yang tidak jelas dia lihat.


Di sudut lain, Zirai memikirkan bagaimana caranya agar ingatan Suci tidak kembali untuk selamanya.





__ADS_1



__ADS_2