
‘Tapi, orang kayak begitu bukannya gak bakal peduli targetnya punya pasangan apa enggak?’ batin Suci lagi dengan pikiran yang bercampur aduk.
Suci memikirkan apa yang dikatakan oleh Vivi sembari memainkan tanah dengan alas sepatunya, wajahnya benar-benar terlihat memiliki banyak pikiran. Sungguh kehidupannya sebelum menikah kontrak lebih menyenangkan daripada sesudah menikah, apalagi sekarang ditambah kedatangan dua orang yang dianggap oleh Suci sebagai ancaman hubungan pernikahan palsunya itu. Yang pertama adalah kedatangan Tiara, sekertaris Alam sekaligus teman masa kecil Alam yang Suci yakini mempunyai perasaan lebih kepada suaminya. Dan kedua adalah kedatangan Mirai, orang yang dianggap oleh Suci yang hampir merusak kehidupannya.
Ponsel Suci berdering sehingga membuyarkan pikirannya, Suci pun langsung mengambil dan mengangkat telpon itu setelah melihat siapa penelponnya.
Setelah selesai menelpon, Suci langsung berpamitan kepada Vivi untuk pergi. Vivi pun mengiyakan Suci, namun dia merasa heran kenapa Suci terlihat patuh sekali saat menerima telpon barusan. Jiwa kepo Vivi mulai meronta-ronta, dia pun mengikuti Suci tanpa sepengetahuan Suci.
******
Suci pun telah sampai dirumahnya, dan ternyata Wulan sudah menantikan dirinya di depan rumah, Suci pun berlari kecil menghampiri Wulan karena dia merasa senang sekali dengan kedatangan ibu mertuanya itu.
“Mama, apa kabar?” tanya Suci dengan senyum sumringah, seakan-akan dia tidak memiliki beban sama sekali.
“Mama baik kok sayang,” jawab Wulan sambil memeluk menantunya itu, “kamu sendiri gimana? Kabar kamu baik gak?” Wulan menanyakan balik.
“Suci baik-baik aja kok mam!” jawab Suci.
“Papa Ilham, gak ikut mam?” Suci menanyakan ayah mertuanya, karena dia tidak melihat keberadaannya.
“Papa ada di dalam sama suami kamu.” Jawab Wulan, Suci pun hanya menganggukkan kepalanya pelan setelah mendengar jawaban dari ibu mertuanya dan setelah itu mereka masuk ke dalam.
Vivi yang dari tadi membuntuti Suci jadi merasa heran sekaligus penasaran, siapa orang yang sangat akrab dengan Suci barusan? Dan kenapa Suci bisa tinggal di komplek perumahan elit seperti ini?
Suci mempersilahkan Wulan untuk duduk bersama suaminya dan Ilham terlebih dahulu, sedangkan Suci pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman. Walaupun ada bi Ayu yang bisa menyiapkan suguhan untuk mereka, Suci memilih untuk menyuguhkan kedua mertuanya sendiri.
“Mama, ini jus jeruk nipis untuk mama. Dan ini, kopi susu untuk papa.” Kata Suci sambil meletakkan kedua gelas minuman dengan ukuran berbeda di hadapan kedua mertuanya.
“Makasih cantik!” ucap Ilham dan Wulan bersamaan sambil tersenyum.
Suci pun membalas senyuman kedua mertuanya dengan senang hati, setelah itu dia menaruh minuman america latte di hadapan suaminya dengan wajah canggung dan setelah itu dia kembali ke dapur untuk menaruh nampan yang dia gunakan.
__ADS_1
Setelah kembali dari dapur Suci langsung duduk disebelah Alam, ya walaupun hubungan mereka masih agak jauh, tapi di depan kedua orang tua Alam, mereka berdua selalu menunjukkan bahwa tidak ada masalah di dalam pernikahan mereka.
“Mami sama papi ada hal penting apa? Sampai harus repot-repot kemari.” Tanya Alam kepada kedua orangtuanya.
“Heem... kamu itu kebiasaan ya, emangnya mami sama papi gak boleh kesini kalo gak ada hal penting, hah?” omel Wulan kepada putranya.
“Iya bukan gitu mami!” ucap Alam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Kalo bukan gitu, terus apa?” sewot Wulan.
“Iss... mami kebiasaan, kalo ketemu sama Alam ngajak berantem mulu!” kata Alam dengan nada cemberut persis seperti anak kecil.
Ilham dan Suci yang melihat mereka berdua hanya bisa senyum-senyum saja, karena memang pasalnya seperti itu, setiap ibu dan anak itu bertemu pasti ada sedikit perdebatan lucu.
“Sudah-sudah, kalian jangan berdebat. Marahan aja gak apa-apa!” gurau Ilham kepada istri dan putranya itu.
“Papa...” tegur Suci dengan nada sopan seraya dengan wajah yang masih senyum-senyum.
“Enggak kok mam,” jawab Suci dengan ramah, “mama udah dong jangan buat kak Al kesel!” pinta Suci dengan nada mengusili suaminya yang kelihatan kesal itu.
Alam langsung melirik kearah Suci dengan tatapan kesal, Suci tidak merasa takut dengan tatapan suaminya itu melainkan dia tersenyum puas karena melihat wajah kesal suaminya akibat candaan dari ibu mertuanya.
“Sudahlah sayang, kita datang kemari bukan untuk berdebat dengan putra kita bukan?” kata Ilham meminta istrinya berhenti untuk membuat Alam kesal.
“Ya ya kau benar. Kita datang kesini bukan untuk berdebat dengan putra kita yang manja ini!” Wulan membenarkan kata suaminya.
“Mami...” Alam tidak terima jika terus dikatakan manja oleh Wulan.
Wulan tidak menghiraukan sifat protes dari putranya, melainkan dia merogoh tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
“Ini untuk kalian!” kata Wulan sambil mengerahkan amplop coklat di hadapan Suci dan Alam.
__ADS_1
“Apa itu mam?” tanya Suci penasaran.
“Coba aja kalian buka sendiri!” Ilham menjawab pertanyaan dari menantunya.
Alam dan Suci pun saling bertukar pandang sekaligus sangat penasaran dengan isi amplop itu, lalu setelah itu Suci menatap Wulan. Wulan pun mengisyaratkan kepada menantunya untuk segera membuka amplop yang dia berikan.
Suci pun langsung meraih amplop itu dan langsung membukanya, Alam pun juga terlihat tidak sabar untuk mengetahui isi amplop itu.
“HONEYMOON....??” Suci agak terkejut ketika melihat kartu honeymoon, tidak berbeda dengan Suci, Alam pun juga terkejut ketika mendengar kalimat itu dari mulut istrinya.
Suci pun menatap kearah Alam dengan wajah bodohnya, sedangkan Alam menatap Suci dengan tatapan penuh tanda tanya, seakan-akan menanyakan apa yang baru saja dia ucapkan. Mendapat tatapan itu dari Alam, Suci langsung menyodorkan amplop itu kepada Alam, Alam pun langsung mengambilnya dengan rasa penuh penasaran.
“Mami, papi. Apa ini?” tanya Alam dengan nada kesal ketika mengetahui apa yang diucapkan oleh istrinya adalah benar.
“Itu untuk honeymoon kalian. Kalian ini kan udah menikah selama enam bulan, masa kalian gak ada pikiran buat bulan madu?” jawab Wulan dengan nada senang.
“Tapi mami, aku gak punya waktu!” kata Alam dengan nada kesal.
“Iya karena kamu gak punya waktu, mami sama papi melakukan ini untuk kamu. Jadi kamu mau gak mau harus pergi!” kata Wulan lagi.
“Mami, aku gak perlu bulan madu. Selama ini tanpa bulan madu hubungan ku juga baik-baik aja, emangnya aku harus banget apa bulan madu?” kata Alam kesal dan penuh penolakan.
Mendengar perkataan Alam hati Suci terasa sangat sedih, memang selama ini hubungan mereka baik-baik saja, tapi bukan hubungan sebagai suami istri melainkan sebagai anak buah yang memiliki perjanjian kontrak dengan atasannya. Walaupun Suci sudah menganggap Alam sebagai suaminya, tapi entah kenapa Suci merasa bahwa sikap Alam kepada dirinya masih sebatas perjanjian kontrak.
.
.
.
.
__ADS_1
.