
“Ya sama-sama Suc, udah gw cuman mau kasih tau itu aja ke lo. Udah ya bye bye...!” kata Vivi dan setelah itu mereka mengakhiri panggilannya.
Suci langsung menaruh ponselnya di atas nakas sebelah tempat tidurnya lalu setelah itu dia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Dia merasa sangat lelah sekali, bukan lelah karena pekerjaan yang dirasakan oleh Suci saat ini, melainkan lelah karena dia menangis seharian hingga matanya sembab, dia pun berusaha untuk memejamkan matanya dan mencoba melupakan apa yang terjadi hari ini dan dia berdoa semoga besok ada kebahagiaan.
**
Mimpi Suci 1.
“Mami sama papi pelginya jangan lama-lama ya!” kata gadis cilik yang kira-kira berumur empat tahun.
“Iya sayang, mami sama papi gak akan lama kok, besok juga udah pulang!” kata wanita paruh baya yang wajahnya kelihatan samar-samar tapi senyuman di wajahnya terlihat jelas sekali.
“Kamu jaga diri baik-baik ya anak papi!” sambung pria yang wajahnya juga kelihatan samar-samar dan kemudian pria dan wanita itu mencium gadis cilik yang dianggap putrinya lalu setelah itu mereka meninggalkan sang gadis cilik.
Setelah itu terlihat ada kobaran api yang membakar kamar gadis cilik yang sedang tertidur, gadis cilik itu tidak tersadar karena dirinya benar-benar tertidur lelap.
**
Suci segera bangun dari tidurnya dengan wajah cemas sekaligus ketakutan setelah mendapat mimpi itu. Dia pun langsung mengambil air putih yang tidak jauh dari jangkauan dan meminumnya agar dia merasa tenang.
“Huft...” Suci menghela nafas, “itu mimpi siapa ya? Kenapa aku bisa mimpi kayak gitu?” Suci penasaran dengan mimpi yang baru saja dia dapat.
Suci memikirkan mimpi yang dia dapat sejenak dan setelah itu dia melanjutkan tidurnya karena saat itu waktu masih menunjukkan jam satu dini hari.
*******
Keesokan paginya sekitar pukul jam enam Suci bangun dari tidurnya dan dia langsung menyegarkan dirinya dengan mandi dan setelah itu dia terjun ke dapur berniat untuk membuat sarapan pagi untuk dirinya dan juga Alam, walaupun sebenarnya dia tahu bahwa makanan yang dia masak tidak pernah di sentuh oleh Alam, tapi Suci tetap memasak untuk pria yang sekarang ini berstatus sebagai suaminya.
“Eh... non Suci udah bangun!” kata bi Ayu seorang ART yang dipekerjakan oleh Alam.
“Iya bi, aku baru bangun!” jawab Suci mengulas senyuman sembari mengaduk beras yang sedang dimasak.
“Non lagi bikin apa?” tanya bi Ayu penasaran karena dari tadi dia melihat Suci terus mengaduk-aduk panci.
“Ini aku mau bikin bubur ayam buat sarapan pagi bi.” Jawab Suci sambil terus mengaduk-aduk isi panci.
“Mau bikin buat tuan Alam juga ya, non?” tanya bi Ayu.
__ADS_1
“Iy bi,” jawab Suci secara singkat.
“Maaf ya non, tapi menurut bibi... lebih baik non Suci bikin buburnya buat sendiri aja deh!” ujar bi Ayu memberi saran dengan nada sopan kepada Suci.
“Kalo bisa pinginnya sih gitu bi, tapi kan walaupun suami aku gak mau sentuh masakan aku sedikit pun setidaknya aku udah siapin buat dia!” ujar Suci dengan nada tegar walaupun di dalam hatinya ada rasa sedih.
“Iya sih non, itu juga kalo tuan Alam ada di rumah.” Kata bi Ayu dengan nada ragu-ragu karena takut menyinggung perasaan Suci.
Suci yang mendengar perkataan dan nada bicara bi Ayu yang terdengar ragu-ragu langsung menghentikan aktivitasnya mengaduk isi panci, rasa sedih di dalam dirinya semakin bertambah.
“Oh... dia gak ada di rumah ya bi,” Suci berusaha tegar, “kira-kira dia pergi kemana bi? Dia ada kasih tau bibi gak?” tanya Suci menjadi penasaran.
“Tuan Alam udah pergi ke kantor, non!” jawab bi Ayu.
“Ke kantor...?” Suci agak terkejut dengan jawaban bi Ayu, “pagi buta begini tumben amat dia ke kantor?” suci seakan tidak percaya dengan jawaban bi Ayu.
“Saya juga gak tau non,” ucap bi Ayu yang juga ikut heran, “oh ya... tuan Alam tadi pesan ama saya, kalo non boleh pergi ke kampus dan ikut acara piknik.” Kata bi Ayu menyampaikan pesan dari suami bosnya.
“Hah....” Suci semakin terkejut mendengar pesan yang disampaikan oleh Alam melalui bi Ayu.
“Ya udah ya non, sebenarnya saya cuman mau bilang itu aja. Kalo gitu saya lanjutin kerjaan saya, non!” kata bi Ayu sembari tersenyum.
“Kak Alam, nyuruh aku buat ikut piknik?” gumam Suci merasa agak heran.
*******
Di kampus semua para siswa sedang bersiap-siap untuk perjalanan piknik sedangkan Suci masih dalam perjalanan menuju ke kampus.
“Ya ampun Suci kok belum nyampe sih!” gerutu Vivi sambil terus menunggu kedatangan Suci.
Akhirnya Vivi pun melihat kedatangan Suci menggunakan taksi online, Vivi dengan senang hati menghampiri sahabatnya yang baru sampai itu.
“Suci...!!” teriak Vivi mendekati Suci dengan kegirangan dan langsung memeluk sahabatnya itu erat-erat.
“Uhuk... uhuk... duh Vivi!” ucap Suci sambil berusaha melepaskan pelukan Vivi yang erat.
“Eh... sorry... sorry!” Vivi langsung melepaskan pelukannya, “ya udah ayo ke bus, bentar lagi udah mau jalan.” Ajak Vivi kepada Suci sambil membantu Suci membawakan tas ranselnya.
__ADS_1
“Ok deh... makasih ya udah di bawain tasnya!” kata Suci sambil tersenyum manis dan setelah itu mereka langsung menuju bus pariwisata.
Suci dan Vivi langsung duduk di kursi yang telah ditentukan oleh panitia perjalanan, tapi sebelum duduk di kursinya wajah Vivi tampak terlihat kesal karena yang duduk di samping kursi mereka adalah tri Vio yang selalu membuat onar dimana pun mereka berada. Suci mengerti apa yang dipikirkan oleh Vivi, dia pun langsung menarik tangan Vivi untuk segera duduk di kursinya.
Setelah semua para murid duduk di kursi mereka dan diyakini tidak ada yang tertinggal bus pun langsung melaju ke tempat tujuan. Selama di perjalanan para murid ada yang tertidur dan ada yang berbincang-bincang, sedangkan Suci sedang memikirkan Alam dan pernikahannya yang sangat menyedihkan.
“Suc, lo kenapa?” tanya Vivi membuyarkan pikiran Suci.
“Eh... lo lagi nangis?” tanya Vivi lagi ketika melihat buliran air dari matanya.
“Em... e-enggak kok,” elak Suci sambil mengusap air matanya yang jatuh.
“Lo bohong, itu buktinya ada air mata!” kata Vivi, “sejak kapan lo bohong sama gw?” sambung Vivi merasa tidak terima dia dibohongi oleh Suci.
“Iya... iya aku lagi nangis,” Suci mengakui dirinya sedang menangis karena dia memang tidak bisa menyembunyikan air mata yang sudah terlihat oleh sahabatnya.
“Nah... jujur juga kan lo, bilang ama gw kenapa lo nangis?” tanya Vivi dengan nada yang terdengar memaksa sehingga Suci tidak bisa menolak.
“Aku nangis karena aku kangen sama panti asuhan!” jawab Suci mengulas sedikit kebohongan karena dia tidak akan mungkin mengatakan penyebab terbesar dirinya menangis adalah Alam.
“Lo serius karena itu?” Vivi merasa tidak yakin dengan alasan Suci.
“Ya iya aku serius Vivi,” Suci meyakinkan Vivi dengan alasannya tadi.
“Ya udah deh gw percaya!” Vivi terpaksa percaya dengan alasan yang diberikan oleh Suci.
Ditengah-tengah perbincangan mereka notifikasi pesan di ponsel milik Suci berbunyi, Suci pun langsung mengambil ponselnya dan sedikit terkejut ketika melihat nama pengirim pesan itu.
‘Kak Alam...?’
.
.
.
.
__ADS_1
.