
“Em... jangan bilang lo lupa syarat ke dua dari ortu lo,” kata Rian yang mengetahui sifat pelupa dari temannya itu.
Alam pun mencoba mengingat syarat apa yang dimaksud oleh kedua temannya itu, seketika dia pun mengusap kasar wajahnya karena mengingat syarat dari kedua orangtuanya.
“Gimana udah inget?” tanya Glen.
“Iya... iya gw inget. Tapi mana mungkin syarat kedua dari ortu gw bisa gw turutin?” kata Alam merasa agak kesal.
“Itu sih terserah lo,” kata Rian.
“Iya, kalo lo mau perusahaan papi lo jatuh ke tangan orang lain..., ya itu mah terserah lo!” sambung Glen memperingatkan temannya.
Alam yang mendengar perkataan dari kedua temannya dan mengingat kembali tentang persyaratan yang dibuat oleh kedua orang tuanya merasa geram sekali.
*******
Selesai pelajaran para murid berhamburan untuk keluar dari kelas, ada yang menuju kantin dan ada menuju tempat yang lainnya, sedangkan Suci memilih untuk pulang karena dia akan berangkat kerja. Karena Suci adalah anak yang yatim piatu dan tinggal di panti asuhan sejak kecil, jadi Suci berusaha untuk menghidupi dirinya sendiri.
Di tempat kerja, Suci langsung melakukan pekerjaannya, dia bekerja sebagai seorang pramusaji di suatu restoran Jepang, dia sudah bekerja selama satu tahun di tempat itu. Suci bekerja di restoran itu sejak dia kelas tiga SMA, waktu itu dia bekerja mengambil shift sore.
“Cici...!” panggil pak Anton seorang senior di tempat kerja Suci.
“Iya pak Anton,” sahut Suci sambil berjalan mendekati pak Anton.
“Ini tolong kamu anterin ke meja no 5,” kata pak Anton sambil menyerahkan pesanan.
“Siap pak!” Suci mengambil pesanan itu dengan sigap.
“Hati-hati ya!” seru pak Anton.
“Tenang pak Anton,” kata Suci sembari mengulas senyum ramah dan setelah itu dia langsung menuju meja no 5 untuk mengantarkan pesanan.
Sesampainya di meja yang dituju. “Permisi kak pesanannya sudah siap!” kata Suci dengan nada ramah sekaligus sopan.
Sebelum menaruh pesanan di meja, Suci agak terkejut karena yang duduk di meja itu adalah Alam dan kedua temannya.
“Dua jus jeruk dan satu jus anggur, untuk makanannya ditunggu sebentar lagi ya!” kata Suci sambil menaruh pesanan minuman di hadapan mereka. Setelah selesai menaruh tiga gelas minuman itu, Suci pun langsung pergi dari sana dengan wajah yang menunduk.
“Tuh cewek bukannya yang tadi di lirik sama lo pas di kelas ya, Al?” tanya Glen dengan nada heran sambil menatap Alam.
__ADS_1
“Mungkin,” jawab Alam singkat sambil memasang wajah dingin.
“Dingin amat sih lo, Al” tegur Rian merasa tidak senang dengan sikap Alam.
“Eh... tapi kalo diliat-liat dia cantik juga ya,” ucap Glen menilai Suci saat melihat dari dekat tadi.
“Cantik dari mananya, orang penampilannya aja kayak orang desa begitu,” ketus Alam karena menurutnya penampilannya Suci lebih seperti wanita desa.
“Eh... tapi gw pernah denger rumor kalo dia waktu itu pemenang kontes kecantikan di kampus!” ucap Glen.
“Ah masa sih...” Rian tidak percaya dengan ucapan Glen.
“Lo salah denger kali, mana mungkin cewek yang penampilannya kayak dia bisa menang di kontes kecantikan,” sambung Alam yang memang tidak percaya dengan ucapan Glen.
“Ya kali ya, lagian waktu itu juga gw dengernya cuman nama Suci doang sih, gak tau orangnya seperti apa, hehehe....” ucap Glen sembari cengengesan.
“Ye... makanya kalo denger berita jangan setengah-setengah,” ucap Rian sambil menjitak pelan kepala Glen, karena memang kebiasaan Glen mendengar berita setengah-setengah.
“Tapi ngomong-ngomong lo tau darimana kalo namanya Suci?” tanya Alam kepada Glen penasaran.
“Dari daftar absen di kelas tadi,” jawab Glen.
Ditengah-tengah perbincangan mereka akhirnya makanan yang mereka bertiga pesan pun telah sampai tapi kali ini yang mengantar bukan Suci melainkan pak Anton. Mereka bertiga pun langsung menyantap hidangan mereka tanpa banyak berbincang-bincang lagi.
*********
Malam harinya tepat pukul jam sembilan malam, Suci bersama para pekerja lainnya bersiap-siap untuk menutup restoran. Setelah selesai mengerjakan semuanya, Suci langsung pulang ke kontrakan yang baru-baru ini dia sewa.
“Huft... akhirnya seger juga ya,” ucap Suci setelah selesai mandi.
Dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur yang tidak begitu empuk dan tidak lama kemudian dia langsung memejamkan matanya karena kelelahan.
Sedangkan di tempat lain, di rumah Alam.
Alam beserta kedua orangtuanya sedang ada di ruang keluarga untuk menonton televisi sembari menghilangkan rasa lelah karena aktivitas mereka seharian.
“Al, kamu kapan mau ikutin syarat kedua dari mami dan papi?” tanya Wulan, yaitu mami Alam yang sudah ingin sekali memiliki menantu dari anak semata wayangnya.
“Ya ampun mami, ikutin syarat kedua dari mami sama papi itu gak gampang,” keluh Alam merasa tidak senang, “lagian darimana aku dapetin pasangan seperti yang mami sebutin di syarat kedua itu?”
__ADS_1
“Ya itu sih terserah kamu. Kalau kamu gak bisa, ya siap-siap aja kamu gak akan bakal dapat perusahaan papi!” tutur Ilham yaitu papi Alam.
“Ya ampun papi sama mami nyebelin banget sih!” ucap Alam dengan nada sedikit kesal karena ucapan kedua orang tuanya, “udah ah Alam mau istirahat.” Kata Alam sembari beranjak dari duduknya.
Wulan dan Ilham hanya menggelengkan kepala mereka akibat tingkah laku anak semata wayangnya itu.
********
Keesokan harinya di kampus
“Suci... Suci....!!” teriak Vivi memanggil Suci sambil berlari-lari.
“Astaga Vivi, kamu kenapa gak sekalian aja pake speaker masjid buat manggil aku!?” kata Suci dengan agak kesal.
“Gawat... gawat...” kata Vivi seperti orang kebakaran jenggot.
“Gawat...? Gawat kenapa?” tanya Suci heran, “kalo mau ngomong yang jelas dong.”
“Gawat Suc,” kata Vivi lagi dengan masih berusaha mengatur nafas, “lo tahu gak sekarang lo jadi trending topik pembicaraan kampus!” ujar Vivi memberitahu Suci.
“Hah...” Suci terkejut dengan ucapan Vivi, “kok bisa... emang apa penyebabnya sampe aku jadi topik pembicaraan?” Suci jadi penasaran dengan perkataan Vivi.
“Udah daripada banyak bacot mending lo ikut gw sekarang.” Kata Vivi sambil menarik tangan Suci.
“Eh... tunggu dong jangan tarik-tarik!” ujar Suci karena tidak terima dia ditarik-tarik seperti kambing.
Suci dan Vivi sampai di mading kampus, Vivi langsung menunjukkan Suci apa penyebab dirinya menjadi trending topik pembicaraan warga kampus.
“Vi, ini kan foto aku waktu ikut kontes kecantikan!” kata Suci terkejut ketika melihat foto dirinya di mading, “siapa yang pasang foto aku disini? Bukannya waktu itu aku udah minta pihak kampus untuk hapus foto aku ya?” tanya Suci dengan sangat penasaran sekali.
“Gw yang masang foto lo disitu!” jawab seorang wanita dengan suara lantangnya sehingga semua orang yang masih berkerumunan di tempat itu menengok ke arah dirinya.
.
.
.
.
__ADS_1
.