Pengantin Bayaran

Pengantin Bayaran
Bab 21


__ADS_3

“Kak Alam...!!” panggil Suci ketika masuk ke dalam mobil suaminya.


“Kau sudah ingin pulang?” tanya Alam dengan nada rendah.


“Kak Alam, kenapa gak kasih tau aku kalo kak Alam datang dari tadi?” Suci balik bertanya kepada Alam.


“Kebiasaan banget kalo ditanya malah balik tanya.” Gerutu Alam yang sudah agak tau kebiasaan Suci.


“Kak Al, bilang sesuatu?”


“Istri ku, aku tadi bertanya pada mu. Apa kau sudah ingin pulang?” tanya Alam dengan lembut.


Wajah Suci langsung bersemu merah ketika mendengar panggilan Alam untuk pertama kalinya.


“Kamu kenapa? Kok wajahnya merah gitu, kamu demam?” tanya Alam.


“E-e-enggak, aku gak demam. Ya udah ayo pulang!” kata Suci dengan terbata-bata.


Alam pun memakai sabuk pengamannya dan langsung melajukan mobilnya. Sedangkan Suci masih memalingkan wajahnya ke arah lain karena takut Alam melihat wajahnya yang sedang bersemu merah, tapi tanpa Suci sadari Alam sedang menarik salah satu sudut bibirnya karena dia sudah melihat wajah Suci yang bersemu merah.


********


Hari pun telah berlalu, minggu pun berganti bulan. Tak terasa pernikahan palsu Alam dan Suci sudah memasuki bulan ke enam yang menandakan bahwa kontrak pernikahan dan julukan pengantin bayaran untuk Suci tinggal setengah tahun lagi.


“Kak Al, mau kemana?” tanya Suci yang sudah mulai berani bicara banyak kepada Alam.


“Mau berangkat ke kantor lah, memangnya kau tidak lihat aku sudah rapi begini?” kata Alam dengan nada datar kepada Suci.


“Ya aku tau kak Al mau ke kantor. Tapi... maksud pertanyaan ku bukan itu?” kata Suci dengan nada tidak kalah datar.


“Terus... maksudnya apa?” Alam menautkan kedua alisnya karena heran.

__ADS_1


“Emangnya kak Al tidak melihat aku sedang memegang apa di tangan ku?” kata Suci dengan nada ketus.


Alam pun semakin heran dengan perkataan Suci, lalu dia langsung menatap tangan Suci yang sedang memegang dasi miliknya.


“Udah ngerti kan...?” kata Suci lagi sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.


Alam pun hanya mendengus kecil sambil menggelengkan kepalanya dan dia langsung mendekati Suci. Ya selama ini jika Alam ingin pergi ke kantor, Suci selalu memasangkan dasinya. Hal itu sudah menjadi terbiasa bagi Alam dan Suci, bagi Suci memasang dasi Alam adalah tugasnya sebagai seorang istri, sedangkan bagi Alam jika Suci memasangkan dasi untuknya adalah kebahagiaan tersendiri bagi dirinya.


“Oh ya... kamu tau jadwal pekerjaan ku hari ini gak?” tanya Alam memecah kecanggungan yang ada di dalam dirinya, ya selama ini jika Suci ada di dekatnya Alam merasa salah tingkah dan canggung.


“Loh... kenapa tanya sama aku? Bukannya enam bulan lalu kak Al udah memperkerjakan sekertaris? Seharusnya kak Al tanya sama sekertaris kak Al dong!” oceh Suci karena merasa heran.


“Ya ampun... kamu itu kebiasaan banget sih kalo ditanya malah balik nanya!” keluh Alam yang sudah terbiasa dengan Suci.


“Iya maaf... abis kak Al aneh!” kata Suci merasa bersalah sekaligus agak kesal.


Alam pun menyunggingkan senyuman tulus dari hatinya ketika melihat wajah bersalah dan kesal Suci, entah kenapa dia merasa akhir-akhir ini suka sekali tersenyum ketika melihat wajah Suci.


“Sekertaris aku itu orangnya pelupa, jadi kalo waktunya udah mepet dia baru kasih tau aku. Tapi... kamu itu gak, kamu selalu tau apa jadwal aku dan selalu ingat bahkan aku merasa kamu itu seperti pengingat ku!” Alam memuji istrinya sambil tersenyum.


“Kau mengatakan sesuatu?” tanya Alam sambil menatap istrinya.


“Tidak....” elak Suci sambil mengulas senyum paksa, “oh ya... jika kak Al mau tau jadwal kak Al hari ini, aku sudah menulisnya di buku agenda ku. Sebentar aku ambil dulu ya buku agenda ku, biar kak Al bawa jadi kak Al sama sekertaris kak Al bisa inget terus!” kata Suci sambil menjauhkan dirinya dari Alam.


Namun saat Suci menjauhkan dirinya, Alam menahan dirinya dengan memeluk pinggang Suci dan mendekatkan tubuhnya, sehingga tidak ada jarak diantara mereka. Pandangan mereka bertemu dan Alam menatap Suci dalam-dalam sehingga jantung Suci berlari maraton dan wajahnya memanas.


“Kau ingin kemana?” tanya Alam dengan lembut.


“A-a-aku... aku ingin mengambil buku agenda ku.” Jawab Suci dengan terbata-bata sembari menelan ludah.


Alam tidak menggubris jawaban Suci, melainkan dia menyunggingkan senyuman penuh damba kepada wanita dihadapannya itu, lalu pandangan matanya jatuh ke bibir wanita itu yang berwarna merah jambu alami. Jantung Suci semakin berdetak kencang ketika Alam menatap dirinya seperti itu, karena selama ini dia baru pertama kali ditatap oleh Alam seperti itu.

__ADS_1


“Sungguh wajah yang sangat indah dan bibir mu sangat menggoda.” Kata Alam dengan nada penuh nafsu, rasanya dia ingin sekali menikmati bibir wanita yang ada di dalam pelukannya itu.


Suci yang mendengar godaan dari Alam merasa semakin salah tingkah dan mencoba mendorong Alam dari dirinya, tapi tidak semudah itu Suci mendorong Alam, karena Alam semakin mengencangkan pelukannya di pinggang Suci dan wajahnya semakin mendekat ke wajah Suci.


“Kak Al...” Suci menghentikan wajah Alam yang semakin mendekati dirinya, “jika kak Al tidak pergi sekarang, kak Al bisa telat. Bukankah hari ini kak Al ada meeting bulanan dengan karyawan?” kata Suci memperingati jadwal pekerjaan suaminya.


Lagi-lagi Alam tidak menggubris perkataan Suci melainkan dia menarik salah satu bibirnya sehingga membuat Suci bingung kenapa dia tersenyum seperti itu? Alam masih belum melepaskan tangannya dari pinggang Suci, melainkan salah satu tangan Alam meraih kepala Suci dan dia langsung mendaratkan ciuman di puncak kepala wanita itu, sehingga lagi-lagi jantung Suci berlari maraton.


Setelah itu Alam langsung melepaskan tangannya dari pinggang Suci sambil kembali mengulas senyuman dan setelah itu dia langsung mengambil tasnya lalu pergi dari hadapan Suci.


Suci langsung membalikkan badannya dan menghela nafas dalam-dalam untuk menetralkan jantungnya yang masih berdetak kencang akibat perbuatan Alam barusan kepada dirinya.


“Ya ampun... dia itu beneran kak Alam bukan ya?” gumam Suci yang masih berusaha menetralkan jantungnya.


********


Di kantor Alam.


Tiara sedang sibuk menghubungi Alam, dia sangat sibuk sekali karena berulang kali Tiara mencoba menghubungi Alam tapi ponselnya tidak aktif juga. Dia menelpon Alam karena dia ingin memberitahu bahwa pagi ini dia ada meeting bulanan bersama karyawan.


“Duh... Alam kemana belum nyampe juga sih? Gak biasanya dia telat kayak gini, dan kenapa telponnya harus gak aktif juga sih?” gerutu Tiara sambil terus mencoba menelpon Alam.


“Sekertaris Tiara, semua perwakilan dari departemen sudah menunggu di ruang rapat!” kata salah satu karyawan kepada Tiara.


“Emm... tunggu sepuluh menit!” kata Tiara kepada karyawan itu dengan nada datar.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2