Pengantin Bayaran

Pengantin Bayaran
Bab 11


__ADS_3

Alam pun berdecak kesal dan dia mencoba melepaskan tangannya dari Suci, tapi Suci tidak melepaskan tangannya justru malah menggenggamnya semakin erat.


**


Mimpi Suci 2.


Terlihat ada kobaran api yang membakar kamar gadis cilik yang sedang tertidur, gadis cilik itu tidak tersadar karena dirinya benar-benar tertidur lelap.


“Nona kecil ayo bangun non,” seseorang datang menghampiri gadis kecil itu dan berusaha membangunkannya.


“Ya ampun nona kecil tidurnya pules banget. Aku gendong aja deh!” ucap orang itu, dan dari pakaiannya sepertinya dia adalah wanita paruh baya yang bekerja sebagai baby sister.


Wanita itu pun membawa gadis kecil itu keluar dari kamar, dan akhirnya mereka pun berhasil keluar dari kamar, tapi mereka terjebak di dapur. Api pun semakin membesar baby sister itu pun terus mencoba untuk keluar dari sana, tapi karena asap yang sangat tebal dan juga ada banyak benda yang mudah terbakar disana, mereka pun semakin terjebak di dalam api.


“Ya tuhan, apinya semakin besar. Saya harus membawa nona kecil keluar dari sini!” gumam baby sister itu dengan sangat panik.


“Ehm...” gadis kecil itu pun menggeliat karena merasa tidurnya terganggu.


“Nona kecil bangun non!” baby sister itu mencoba membangunkan gadis kecil itu sekali lagi.


“Bi Alum...” gadis kecil itu pun terpaksa membuka matanya sambil memanggil nama baby sister itu.


“Bi, ini napa kok, banyak api cama acep?” tanya gadis itu dengan bicaranya yang belum jelas.


“Nona kecil tenang ya, kita cari jalan keluar!” kata Arum sang baby sister itu sambil mencari jalan keluar. Seketika matanya pun menatap jendela yang masih lumayan jauh dari jangkauan api.


“Non, ayo ikut bibi!” ajak Arum sambil menghindari api, “nona kecil jalannya pelan-pelan ya!” titah Arum.


Mereka pun berjalan dengan hati-hati, tapi tanpa mereka sadari baju dari gadis kecil itu sudah terkena api sehingga merambat ke punggung gadis itu.


“Bi, Tali kepanasan!” ucap gadis kecil itu.


Arum pun melihat ke arah gadis itu, dia pun langsung terkejut bukan main sekaligus panik ketika melihat api yang ada di punggung gadis kecil itu.


“Ya tuhan non Tari...” teriak Arum dan dia pun berusaha mematikan api itu dari tubuh gadis kecil.


Tiga detik kemudian api itu pun padam dari tubuh gadis kecil itu, namun sayangnya sudah terdapat luka bakar di tubuhnya.

__ADS_1


“Huhuhu..... sakit bi!” tangis gadis kecil itu sesegukan.


**


“Huhuhu.... sakit bi!” Suci mengigau tidak jelas sambil mencengkram erat tangan Alam yang masih ada di dalam genggamannya, Alam pun merasa terganggu dengan genggaman Suci yang semakin erat, sehingga akhirnya dia pun terbangun.


“Sakit bi...” Suci masih mengigau, Alam melihat wajah Suci yang dipenuhi keringat dan ada rasa kesakitan yang ditunjukkan, dia pun menjadi penasaran.


“Dia kenapa?” gumam Alam, “dia lagi mimpi apa ya? Kelihatannya kayak tersiksa banget?” Alam pun melihat mulut Suci yang masih komat-kamit karena mengigau akhirnya dia pun mendekati dirinya untuk mendengar suara Suci.


“Sakit bi....” igau Suci lagi.


“Dia mimpi apa sih?” Alam benar-benar penasaran. Suci masih terbuai di Alam mimpinya dan dia semakin menunjukkan wajah yang sangat kesakitan, Alam merasa tidak tega dengan apa yang dia lihat saat ini, dia pun mencoba mengusap dan membelai kepala Suci supaya agak tenang. Rupanya benar saja lima menit kemudian Suci sudah merasa tenang dan dia pun tertidur dengan nyaman dengan tangan yang masih menggenggam erat tangan suaminya.


*********


Keesokan harinya Suci dan Alam sudah bersiap-siap untuk kembali ke rumah mereka.


“Ya ampun cantik kamu kok pulang sepagi ini sih? Mama masih kangen tau sama kamu!” kata Wulan kepada menantunya.


“Mam, Suci hari ini ada kuliah jam sembilan jadi dia harus pulang sekarang buat nyiapin semua kebutuhannya!” Alam menjawab pertanyaan Wulan yang diberikan kepada istrinya.


“Oh gitu... ya udah deh...” kata Wulan dengan wajah yang cemberut karena dia belum mau berpisah dari menantu kesayangannya itu.


“Mam, jangan tampang wajah kayak gitu dong... kan gak enak sama si cantik!” kata Ilham kepada istrinya


“Iya-iya, lagipula emang mami masang tampang apa coba?” elak Wulan.


Ilham dan Suci pun tersenyum bersama-sama dengan sikap Wulan, Wulan pun juga ikut tersenyum ketika suami dan menantunya itu menertawakan dirinya. Alam yang sedang memperhatikan mereka bertiga tersenyum pun hatinya terasa hangat, rasanya sudah lama sekali dia tidak melihat kehangatan di tengah-tengah keluarganya itu.


Suci pun meminta izin kepada kedua mertuanya untuk meninggalkan rumah begitu pula juga Alam, setelah kepergian anak dan menantunya raut wajah Wulan menjadi murung karena keramaian dirumahnya hilang kembali.


Di perjalanan menuju rumah Suci dan Alam.


“Kemarin kamu kenapa gak langsung pulang aja?” tanya Alam kepada Suci dengan nada datar.


“Kemarin sore aku juga mau pulang, tapi mama gak kasih izin aku. Mama bilang aku boleh pulang kalo kamu jemput aku!” jawab Suci apa adanya.

__ADS_1


“Oh gitu,” ucap Alam singkat dan setelah itu terjadi keheningan diantara mereka.


‘Semalam kayaknya aku mimpi aneh waktu itu lagi deh?’ batin Suci sambil menatap keluar jendela.


‘Sebenarnya itu mimpi apa sih?’ batin Suci lagi merasa penasaran.


‘Dia gak mau ngomong sama aku lagi apa?’ batin Alam sembari melirik kearah Suci sekilas.


‘Bete banget sih, emangnya dia gak mau ngomong apa gitu?’ batin Alam merasa agak kesal, ‘tapi kok aku penasaran sama kejadian semalam ya?’ batin Alam lagi ketika mengingat kembali Suci yang mengigau kesaktian semalam.


‘Apa aku tanya aja ya?’ batin Alam semakin penasaran dengan apa yang terjadi semalam, ‘ah... gak usah ah, lagian kayaknya gak penting juga!’ batin Alam, sekali lagi egonya mengalahkan rasa penasaran Alam.


Setelah menempuh setengah jam perjalanan akhirnya mereka pun sampai di rumah, Suci terlebih dahulu turun dari mobil dan dia langsung masuk ke dalam rumah.


“Emang dasar nyebelin banget, gak bisa apa dia ngobrol apa kek gitu!” gerutu Alam merasa agak kesal, “tunggu-tunggu... tapi kenapa juga aku pengen diajak ngobrol sama dia? Bukannya bagus dia gak ngobrol sama aku?” gumam Alam dengan nada heran kepada dirinya sendiri.


“Ah.... bodo amatlah, lagian gak penting juga dia mau ngobrol apa enggak sama aku!” gumam Alam lagi menepis rasa herannya itu dan setelah itu dia langsung masuk ke rumah.


**


Satu jam kemudian Alam keluar dari kamarnya, dia terlihat rapi dengan kemeja dan jas yang dia kenakan.


“Kak Alam mau ke kantor?” tanya Suci kepada suaminya.


“Iya,” jawab Alam sekilas dengan nada datar tanpa memandang Suci.


Suci hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Alam yang singkat itu, seketika pandangannya tertuju kepada dasi yang belum digunakan oleh suaminya.


“Dasinya gak di pakai kak Al?” tanya Suci.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2