
“Widih... beneran nih La, sama apa yang lo bilang?” kata seorang mahasiswa.
“Ya dong beneran, masa gw bohong sih!” Viola menyakinkan mereka.
“Masalah apa lagi yang dia buat!” gerutu Vivi merasa agak kesal dengan Viola.
“Kalo gitu siapa yang akan traktir kita hari ini La?” tanya seorang mahasiswi kepada Viola.
“Ehm.... yang akan traktir kalian hari ini adalah Suci!” jawab Viola sambil tersenyum kecut kepada Suci.
“APA....?” Suci dan Vivi sama-sama terkejut dengan perkataan Viola, sedangkan Viona dan Viora hanya tersenyum masam.
“Kenapa kok lo kaget gitu sih Suc?” kata Viola dengan wajah angkuhnya.
“La, lo bener-bener gila ya!” Vivi sangat kesal.
“Udah... udah, kalian semua bisa makan sepuasnya di kantin ini. Tenang aja Suci beneran bakal traktir kalian kok,” Viola menyakinkan para pengunjung kantin, “dah... kalian bisa bubar sekarang, selamat menikmati makanannya.” Viola membubarkan mereka semua dan menyuruh mereka untuk menikmati makanan yang ada di kantin.
“Kalo gitu makasih ya Suc.”
“Iya makasih ya Suci.”
“Makasih ya Suci.”
“Makasih Suci.”
Kata mereka semua kepada Suci sedangkan trio Vio menatap Suci dengan senyum penuh kemenangan. Suci pun sangat kesal dengan sikap Viola yang agak kelewatan hari ini, begitu pula dengan Vivi, dia tidak terima sahabatnya selalu ditindas oleh trio Vio, Vivi yakin sekali Suci tidak akan melawan mereka di kampus.
‘Ya ampun Viola ini bener-bener keterlaluan banget sih?’ batin Suci seraya menahan amarahnya.
Suci pun berpikir bagaimana dia akan membayar biaya kantin? Walaupun sebenarnya dia masih menyimpan uang dari Alam dia tidak akan mungkin menggunakan uang yang didapatkan dengan cara yang salah, karena bisa-bisa mereka semua yang makan di kantin bakal sakit perut akibat membayarnya menggunakan uang yang salah, seketika ide untuk menyerang balik dengan cara halus pun terlintas di otaknya.
Suci berjalan mendekati trio Vio yang sedang tersenyum penuh kemenangan.
“Viola...!” panggil Suci kepada Viola dengan nada sedikit angkuh.
“Kenapa? Lo mau marah ya sama kita bertiga?” ucap Viola dengan tersenyum kecut.
Suci tidak kalah tersenyum kecut kepada mereka bertiga sehingga trio Vio itu pun terlihat heran.
“Viola gw boleh pinjem dompet lo gak?” kata Suci dengan panggilan yang tidak seperti biasanya.
“Dompet gw...? Buat apaan lo pinjem dompet gw?” Viola terlihat keheranan dengan wajah yang terlihat sedikit takut.
“Gw mau pinjem dompet lo doang kok sebentar!” kata Suci dengan nada penuh tipu daya.
“Enggak-enggak lo bilang dulu mau buat apaan?” tolak Viola dengan nada kesal.
__ADS_1
“Hem... susah banget sih pinjem dompet doang,” Suci berpura-pura kesal, “oh... atau jangan-jangan dompet kamu itu jelek ya jadi gak mau kasih pinjem ke aku?” Suci sengaja memancing emosi Viola.
“Whattt....?? Lo bilang dompet gw itu jelek?” Viola tidak terima dengan ejekan Suci.
“Iya.... kalo dompet lo gak jelek, gak mungkin dong lo gak berani keluarin dompet!” ejek Suci lagi.
Kali ini Viola benar-benar terpancing oleh ejekan Suci, dia pun langsung mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan begitu saja dompetnya ke Suci.
“Nih... ini dompet gw, coba lo liat dompet gw jelek apa gak?” kata Viola dengan kesalnya, dia belum menyadari niat Suci.
“Diluarnya sih bagus... tapi gw liat dalamnya dulu deh!!” kata Suci sambil membuka dompet milik Viola.
“Liat aja!” kata Viola dengan nada kesal.
Suci pun mengulas senyuman kecut kepada trio Vio dan dia langsung mengambil salah satu kartu debit milik Viola di hadapan pemiliknya. Viola pun membulatkan matanya ketika melihat Suci mengambil kartu debit miliknya.
“Eh... lo mau ngapain ngambil debit card gw?” kata Viola dengan meninggikan suaranya.
Suci tidak menjawab pertanyaan dari Viola melainkan dia tersenyum simpul kepada Viola dan berjalan menuju petugas kasir di kantin itu.
“Eh... cupu, lo mau bawa debit card Viola kemana?” teriak Viona dengan heran sekaligus kesal, namun teriakkannya sia-sia saja karena Suci tidak menghiraukan mereka.
Di kasir kantin.
“Selamat pagi menjelang siang kak Seto!” sapa Suci kepada petugas kasir kantin dengan ramah.
“Eh... pagi Suci!” balas Seto, “kamu mau bayar tagihan mereka ya!” kata Seto tersenyum sumringah.
“Oh iya,” kata Seto dengan senang hati menerima debit card dari tangan Suci.
“Suci... Suci...!” panggil Vivi dari kejauhan yang akan mendekati Suci.
“Suc, lo lagi ngapain sih?” Vivi penasaran.
“Kamu akan tau nanti!” jawab Suci sambil tersenyum penuh arti kepada Vivi.
“Ih... lo lagi ngapain sih, senyum lo mengerikan tau gak!” kata Vivi.
“Bagus lah, biar kamu takut!” kata Suci dengan nada datar.
‘Ini anak, kerasukan setan apa sih hari ini?’ batin Vivi.
“Cewek cupu!!” teriak Viola dengan nada kesal sembari berjalan menghampiri Suci.
“Eh... cupu mana debit card Viola?” tanya Viora dengan nada ketus.
“Tenang debit card milik Viola gak ilang kok!” kata Suci dengan nada angkuh.
__ADS_1
“Suci, ini debit card kamu!” kata Seto sambil menyerahkan debit card kepada Suci.
“Oh... kak Seto kayaknya salah deh, itu bukan debit card aku.” Kata Suci kepada Seto, Seto pun merasa bingung dengan perkataan Suci.
“Loh... tadi bukannya ini kamu yang kasih?” kata Seto.
“Iya kartu itu memang aku yang kasih, tapi kartu itu bukan milik saya, melainkan itu milik Viola!” kata Suci menjelaskan kepada Seto sembari tersenyum penuh kemenangan kepada Viola.
“Suci....!! Lo itu ngeselin banget ya?” teriak Viola dengan kesalnya.
“Suc, hebat banget serangan lo!” Vivi mengacungkan jempol kepada Suci.
“Suci, kok lo tega sih nipu Viola sampe segitunya?” bentak Viona.
“Nipu...?” Suci merasa heran, “perasaan aku gak nipu siapapun deh?” Suci membela diri.
“Kalo lo gak nipu, itu buktinya apa lo ngambil debit card Viola!” ketus Viora merasa tidak terima Viola diperlukan seperti itu oleh Suci.
“Aku gak nipu Viola kok, aku kan ngambil debit card dia di depan kalian bertiga,” jawab Suci sesuai kenyataan, “lagian tadi siapa duluan ya, yang bilang kalo aku mau traktir semua pengunjung kantin?” kata Suci menyindir Viola sambil memandang Vivi.
“Viola!” jawab Vivi sambil tersenyum sinis kepada trio Vio.
“Kok lo gitu banget sih cupu, dasar tukang tipu!” ketus Viona masih merasa kesal.
“Apa... tukang tipu? Maaf ya, aku gak pernah nipu orang, kalo aku bilang sendiri mau traktir mereka, aku bakal traktir kok. Tapi... yang bilang tadi itu kan kamu La, jadi udah semestinya kamu yang bayar!” kata Suci dengan angkuhnya kepada trio Vio.
“Bagus banget tuh Suc!” Vivi memuji Suci yang sudah berani mempermainkan trio Vio.
“Udah yuk Vi, aku males berurusan dengan mereka lama-lama!” kata Suci mengajak Vivi untuk segera pergi dari tempat itu.
“Ayo, gw juga bosen liat muka mereka!” Vivi mengikuti ajakan Vivi.
“Ahhh.... dasar cewek cupu...!! Berani banget lo kerjain gw!!” teriak Viola merasa sangat marah, tapi kemarahan Viola sudah tidak dihiraukan lagi oleh Suci.
“Awas aja, bakal gw bales lo cewek cupu!!” Viola bersumpah dengan hati yang benar-benar terbakar.
Di luar kantin.
“Lo hebat banget Suc, udah berani ngelawan mereka!” lagi-lagi Vivi memuji Suci, “lo tau gak sih, tadi aja gw sempet gak percaya lo ngelawan mereka, apalagi tadi sikap lo gak kayak biasanya dan panggilannya juga gw and lo lagi!” kata Vivi yang tidak percaya bahwa Suci bertingkah seperti itu.
“Abis aku udah kelewat batas banget sama mereka, jadi aku pingin sekali-kali kasih permainan ke mereka!” jawab Suci dengan singkat dan padat.
.
.
.
__ADS_1
.
.