Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Lyra Yang Dilema


__ADS_3

...BAB 20...


...Lyra Yang Dilema...


Hari sudah sore. Lyra pun terbangun, setelah tiga jam lebih dia tertidur pulas di sana. Kepalanya memang masih pusing, tapi tidak terlalu pusing seperti tadi. Lyra tak enak jika dirinya merepotkan banyak orang disini.


"Apa sebaiknya aku ijin pulang saja ya..." gumamnya lirih.


Lyra pun mengambil tasnya lalu membuka ponselnya dan lekas memesan taksi online.


Lalu dia beranjak dari tempat tidur, keluar dari kamar dan lekas berpamitan pada keluarga Raffa.


Ambar yang sedang sibuk menyiapkan makan malam di ruang makan bersama Bi Sumi, terkejut melihat Lyra yang sudah keluar kamarnya dengan langkah lesu.


"Lho Nak Lyra, sudah bangun? Mau kemana membawa tasmu?" tanyanya cemas lantas cepat-cepat menghampirinya.


"Bu Ambar, saya mau pamit pulang dulu. Saya mau istirahat di rumah saja, tak enak saya jadi merepotkan anda disini..."


"Siapa yang merasa di repotkan olehmu Nak Lyra. Sebaiknya kamu istirahat saja disini dulu sampai badanmu agak baikan. Atau kita makan dulu saja setelahnya kamu kembali istirahat di dalam kamar.." titahnya. Lyra menggeleng tersenyum.


"Tidak Bu, terimakasih banyak. Kalau saya menginap disini lagi. Justru sayalah yang khawatir bila Ibu saya yang di tinggalkan di rumah sendirian..." ujarnya.


"Baiklah kalau begitu, tapi biar Papa Keyla saja yang antar kamu pulang ya..."


Ambarwati lantas menyuruh Bi Sumi memanggil putranya di kamar. Bi Sumi pun bergegas menuruti perintah majikannya.


Lyra kembali menggeleng kepala. "Tidak perlu Bu saya bisa pulang sendiri. Barusan saya sudah pesan taksi online kok..." cegah Lyra.


"Tidak apa-apa Nak Lyra, lebih baik Raffa yang antar kamu pulang sampai rumah. Biar kami tak khawatir kalau kamu pulang sendirian..." ujar Ambar lagi memaksa.


"Lyra kamu mau kemana?" tanya Raffa yang sudah ada di belakangnya.


Sontak Raffa tertegun melihat pakaian Dania yang di pakai Lyra, sangat pas dan cocok sekali. Raffa menyungging senyumnya tipis. Hatinya seolah menghangat hanya karna memandang wanita di depannya. Raffa tak menyangka jika dia akan mencintai wanita, sahabat dari mendiang istrinya sendiri.


Apakah karna Raffa pernah dekat dengan Lyra sebelumnya, tapi perasaannya sekarang jauh lebih besar dari dulu saat mereka masih remaja.


"Raffa, Nak Lyra katanya mau pulang dan ingin istirahat di rumah saja. Cepat kamu antarkan dia sampai rumahnya.." titah Ambar, membuyarkan lamunannya.


"Apa, mau pulang? Kamu tidak ingin menginap disini dulu? Wajahmu masih terlihat pucat." ujar Raffa yang masih mencemaskan Lyra.


"Tidak apa Pak, terimakasih banyak. Aku harus pulang karna Ibu saya sendirian di rumah. Mana Keyla aku mau pamitan padanya?"


"Keyla masih tidur di kamarnya. Nanti saja dia di beritahu. Ya sudah ayo, aku antarkan kamu pulang, aku ambil kunci mobil dulu." ujarnya.


Raffa pun bergegas mengambil kunci mobilnya di lemari ruang tengah. Jantungnya berdetak sangat kencang. Rasanya ia sudah tak sabar ingin sekali bertemu dengan Ibunya Lyra, sebab ini adalah kesempatan baginya untuk mengutarakan niatnya yang ingin menikahi Lyra.


Karna desakan Ambar, akhirnya Lyra pun terpaksa pulang diantarkan Raffa.

__ADS_1


"Sekali lagi aku minta maaf padamu, karna Viona, kamu jadi sakit." ucap Raffa kembali merasa bersalah. Setelah mereka berdua di perjalanan menuju rumah Lyra.


Lyra menghela nafasnya panjang lantas memalingkan wajahnya ke samping jendela mobil. "Sudahlah lupakan masalah itu. Ini semua sudah terjadi. Yang penting kamu sudah katakan padanya, agar dia jangan menggangguku lagi."


"Kamu jangan khawatir, dia sudah ku peringatkan tadi.." angguk Raffa.


Tak ada lagi pembicaraan di antara mereka berdua. Keduanya sama-sama terdiam. Terutama Raffa yang masih merasa canggung, sebab di kolam renang tadi, dia mendadak menyatakan perasaannya tanpa persiapan lebih dulu.


Raffa melirik Lyra yang masih tertegun menatap kosong jalanan.


"Apa kamu masih marah, tentang permintaanku yang tadi?" tanyanya hati-hati.


Lyra menggeleng pelan. Lantas mengusap air matanya yang tiba-tiba saja menetes.


"Kenapa, kenapa kita harus bertemu lagi dalam situasi seperti ini?" lirihnya terisak kecil. Menutupi seluruh wajahnya dengan kedua tangan.


Raffa menepikan dulu mobilnya. Karna perasaannya jadi tak tenang melihat Lyra yang sudah menangis.


"Lyra..." Raffa meraih tangan Lyra dan membukanya, menatap wajah cantiknya yang sudah berderai air mata. "Aku benar-benar minta maaf padamu karna sudah pernah menyakiti hatimu... Kamu pantas membenciku... Tapi aku pun tak bisa membohongi hatiku, sekarang aku benar-benar cinta padamu..." ucapnya lagi dengan suara yang lirih.


Lyra memalingkan wajahnya, rasanya Lyra tak sanggup menatap Raffa lebih lama lagi. Sakit dihatinya masih ada, namun dia pun tak memungkirinya bahwa dia sangat merindukan Raffa selama ini. Apakah rasa cinta untuk Raffa masih ada. Tapi sekarang Lyra merasakan dilema yang teramat dalam, karna tidak mungkin ia menolak Fadil yang sudah lebih dulu mengutarakan keinginannya untuk menikahinya.


"Cepat antarkan aku pulang, aku ingin istirahat..." alihnya yang tak ingin lama-lama di mobil bersama Raffa.


Raffa pun mengangguk, ia mengerti perasaan Lyra bahwa dirinya butuh waktu lama untuk berpikir. Raffa kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Tak lama mobil Raffa pun sampai di desa Lyra. Namun Lyra buru-buru menyuruh Raffa untuk menghentikan mobilnya di depan sebuah masjid.


"Oh sudah sampai, yang mana rumahmu? tanya Raffa seraya menoleh kanan kirinya melihat beberapa rumah berjejer disana.


Raffa pun ikut keluar dan buru-buru menyusul Lyra. "Aku ingin bertemu dengan Ibumu, sudah lama sekali aku tak melihat beliau..." pinta Raffa.


"Sebaiknya jangan. Lebih baik kamu pulang saja. Aku takut Keyla mencarimu dan menanyakan aku..." larangnya.


Lyra cepat-cepat berjalan meninggalkan Raffa walau kepalanya masih terasa berat. Tapi Raffa pun tetap nekad ingin menemui Ibunya Lyra. Dan terus mengikuti Lyra dari belakangnya.


"Kenapa masih mengikutiku? Pulanglah..." usirnya yang semakin tak nyaman karna terus di ikuti oleh Raffa dari belakang.


"Aku tidak akan pergi sebelum bertemu Ibumu!" ujarnya lagi memaksa. Lyra menghela nafasnya kasar.


Lyra bingung bagaimana caranya agar melarang Raffa untuk tak menemui Ibunya. Dia tak ingin Ibunya sampai melihat Raffa lagi. Karna sekarang keadaannya sudah lain. Bu Rukanda sangat membenci Raffa setelah hubungan mereka putus dulu.


Bisa panjang urusannya jika Bu Rukanda sampai tahu kalau putrinya ada hubungan lagi dengan mantan kekasihnya. Walau status mereka sekarang hanyalah seorang pengasuh dan majikan.


Di depan pagar rumah, Lyra terkejut sebab ada mobil Fadil yang terparkir. Ternyata Fadil sedang duduk sambil menikmati kopi dan beberapa cemilan yang dibuat Ibunya Lyra. Setiap sore menjelang malam, Fadil memang sering mampir di rumah Lyra sambil menunggu Lyra untuk meminta di jemput pulang. Selain ingin menjalin keakraban bersama calon Ibu mertuanya. Fadil memang sengaja mencari tahu semua tentang Lyra pada Ibunya.


Fadil pun ikut kaget melihat Lyra yang sudah pulang di antar Raffa.

__ADS_1


"Lyra! Kamu sudah pulang? Kenapa tidak hubungi aku dulu?" Fadil beranjak dari kursi dan lekas menghampiri mereka berdua. Membukakan pintu pagar. Menatap mereka bergantian.


"Lyra sakit, makanya aku antarkan dia pulang..." jawab Raffa.


"Sakit, sakit apa?" Fadil panik lantas mendekati Lyra dan menyentuh dahi dengan punggung tangannya. "Kenapa tak katakan kalau kamu sakit?" ujarnya sangat cemas.


"Aku sudah agak mendingan, cukup hanya dengan istirahat saja. Terimakasih Mas, sudah mencemaskan aku..." ucapnya menunduk kepala.


"Lalu kenapa kamu ada disini juga?" tanya Raffa yang semakin tak nyaman melihat keberadaan Fadil di rumahnya Lyra.


"Aku memang sering disini kalau sore hari. Sambil makan cemilan buatannya Ibunya Lyra." ujar Fadil tersenyum dan berhasil membuat Raffa semakin tak tenang.


"Kauu?!" Bu Rukanda memekik kaget, saat keluar dari pintu rumahnya.


Praaanng...


Mereka bertiga tersentak kaget, karna suara piring terjatuh dan pecah di teras rumah.


"Ibuu!" Lyra kaget karna Ibunya menjatuhkan piring berisi bolu yang ia buat barusan.


Disana Bu Rukanda masih tercengang, menatap tak percaya sebab melihat Raffa lagi setelah lama mereka tak bertemu.


"Tante..." Raffa tersenyum sendu seraya menyapanya dari jauh. Saat ingin melangkah mendekat namun segera di cegah Rukanda.


"Kamu?! Mau apa kamu kemari hah?! Mau apa kamu dekat-dekati putriku lagi?!" Tunjuknya pada Raffa bersungut-sungut.


Fadil di buat bingung, tiba-tiba Bu Rukanda sangat marah melihat Raffa. Begitupun dengan Raffa yang tak mengerti dengan sikap Ibunya Lyra yang dulu selalu ramah kepadanya tapi sekarang seakan benci hanya melihat kehadirannya.


Bu Rukanda menghampiri Lyra lantas menarik tangan putrinya ke belakang dan menyuruhnya untuk masuk rumah.


"Masuk, cepat masuk ke dalam!" perintah Ibunya kasar.


"Ibuuu... Dia..."


"Ibu bilang masuk ndukk! Kamu mau bikin ibu jantungan hah? Ngapain lelaki ini ada disini? Apa dia yang sudah antar kamu pulang?" tanyanya.


"Bu... Raffa dia, dia adalah Papanya Keyla..." lirih Lyra lantas menundukkan kepalanya takut.


Bu Rukanda kembali terkejut. "Jadi?! Ooh pantas saja kamu begitu semangat bekerja jadi pengasuh, ternyata kau hanya ingin bertemu lelaki tak tahu diri ini lagi! Begitu?!" makinya.


Fadil terhenyak kaget, lantas ia menoleh pada Raffa yang juga masih terpaku. Karna kemarahan Bu Rukanda padanya. Ia pun mengerti maksud perkataannya.


"Kau, jadi kau adalah... " Fadil menggeleng kepala seraya tertawa sumbang. Lantas menatap Lyra disana.


"Apa kamu masih mengharapkan lelaki brengsek ini Lyra?" tanyanya pada Lyra seraya menunjuk Raffa di sampingnya.


Raffa tersentak dengan pandangan yang nanar. Lyra menggeleng kepalanya dengan mata sudah berkaca-kaca lantas, ia berlari masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


Bersambung....


...*****...


__ADS_2