
...BAB 6...
...Permintaan Nyonya Ambar...
Sementara di sebuah rumah mewah, seorang gadis kecil telah siap dengan pakaian seragam TK-nya, ia berlari cepat turun ke bawah dengan di buntuti Bibi Sumi yang masih memegang sisir dan juga tas gendong sekolah di tangannya.
"Aduh Non, jangan turun dulu 'kan rambutnya belum selesai di sisirin Bibiii!" teriak Bi Sumi tergopoh-gopoh mengejar Keyla.
Keyla tak peduli dengan panggilan pembantu rumah tangga itu. Karna dari atas kamarnya tadi, Keyla seperti mendengar suara klakson mobil Papanya yang memasuki ke dalam pelataran rumahnya.
"Papa pulang!!" Benar saja, tak lama suara seorang pria dewasa terdengar nyaring dari depan pintu masuk sambil menyeret koper di tangannya.
"Papaaaa!!" teriak Keyla, dan berlari kencang ke arah Papanya lalu meloncat kegirangan. Memeluk sang Papa.
Pria itu tertawa terbahak-bahak hingga terdengar Ambar dari dapur yang sedang menyiapkan makanan untuk sarapan. Ambar tersenyum senang dengan kepulangan putra keduanya itu dari Bandung, setelah memantau perusahaan cabang milik keluarga mereka selama dua minggu lamanya.
Ya, Ambarwati mempunyai dua orang putra dan satu orang putri. Saat ini kedua putranya telah mengurusi dua perusahaan milik mendiang suaminya yang telah meninggal dunia dua tahun lalu. Perusahaan garmen di Jakarta yang sekarang di kelola oleh Rano putra pertamanya, sementara perusahaan satunya lagi di kelola oleh putra keduanya yaitu Raffa yang berada di kota Surabaya ini. Sedangkan putri bungsunya Rubi, sudah menikah dengan orang Malaysia setahun lalu dan memutuskan untuk menetap tinggal di negri Jiran sana.
"Pagi anaknya Papa. Sudah mau berangkat ke sekolah ya...?!" tanya Raffa pada putri semata wayangnya setelah menciumnya beberapa kali. Keyla mengangguk tersenyum.
Keyla adalah putri buah cinta dirinya bersama sang istri tercinta Dania Permata, yang kini mendiang istrinya sudah tenang berada di sisi Tuhan. Dania meninggal tepat setelah melahirkan Keyla. Sebelumnya, Dania pernah mengalami keguguran sebab memiliki rahim yang sangat lemah, namun dua tahun kemudian setelah keguguran Dania kembali hamil. Tetapi Tuhan berkata lain, Dania ternyata tak mampu melewati pasca melahirkan. Dia menutup usianya setelah bayi Dania lahir ke dunia.
"Gimana, kamu kangen sama Papa kan?" tanyanya yang kini menurunkan Keyla di gendongannya lalu berjongkok menatap lekat sang putri tersayang. Keyla mengangguk cepat.
"Kangen lah Paah... Papa jangan pergi-pergi lagi yaa..." rengeknya yang lekas memeluk leher Raffa dengan erat.
Raffa tersenyum sendu seraya mengusapi kepala Keyla dengan lembut. Raffa paham dengan perasaan putrinya, karna setiap bulan Raffa hanya bisa menemani sang putri tak lebih dari dua minggu saja. Sisanya ia gunakan untuk mengawasi kantor cabang yang berada di Bandung bergantian dengan Rano, kakaknya. Karna sang Ayah telah tiada. Maka Raffa dan Rano pun harus giat dan bekerja sama untuk meneruskan dan memajukan usaha milik keluarga besar mereka.
"Papa kan sibuk ngurusin pekerjaan Papa sayang, yah bagaimana lagi?! Mau tak mau Papa harus pergi ke luar kota..." keluhnya.
"Uuh Papa selalu aja gitu!" renggutnya lagi. Raffa mengacak rambut putrinya dan tersenyum.
"Raffa kamu sudah pulang Nak.." Ambarwati tiba-tiba muncul dari ruang makan menuju ruang tamu.
"Bunda..." Raffa lekas berdiri dan mendekati sang Ibu lalu mengecup punggung tangannya yang sudah mulai keriput itu. Lalu memeluk erat wanita yang sudah melahirkannya tersebut.
"Bagaimana kondisi perusahaan cabang garmen di sana?"
"Alhamdulillah baik-baik saja Bun, tak ada kendala apapun. Karyawan disana semuanya juga giat dan disiplin. Jujur Raffa menyukai cara etos kerja mereka."
"Oh syukurlah kalau begitu, Bunda ikut senang mendengarnya. Ya sudah sekarang kamu mandi dan ganti pakaian dulu. Nanti menyusul sarapan di meja makan mumpung semua masih anget..." titah Ambar lembut.
"Ya Bun..." jawab Raffa yang lalu ia mengusap kepala sang putri di sisinya. "Papa mandi dulu ya, Key sarapan dulu sama Nenek..." titahnya. Keyla kembali cemberut.
"Nggak mau! Key mau tunggu Papa aja. Nanti sarapan bareng sama Papa!" sahutnya lalu meloncat dan menaiki punggung Raffa meminta di gendong.
"Ya ampun Key... Papamu kan masih capek baru pulang di luar kota!" sahut Ambar pada cucunya.
"Biarin aja, siapa suruh Papa pergi ke luar kota terus!" timpalnya lagi.
Ambar kembali menghela kasar dan menggeleng kepala. Percuma saja menasehati cucunya yang memang wataknya susah sekali di beritahu itu.
"Sudah tak apa Bun..."
Raffa hanya pasrah dengan kemanjaan sang putri bila di dekatnya. Ia pun menaiki anak tangga dan masuk ke kamarnya sambil tetap menggendong Keyla di punggungnya dan tangan satunya lagi di gunakan untuk menarik kopernya.
"Oh ya Pa, kemarin Keyla pergi ke toko boneka bersama Nenek!" sahut Keyla di saat mereka berada di lorong menuju kamar.
"Oh ya? Ke toko boneka?!" ulang Raffa dan Keyla pun mengangguk cepat.
"Heem!"
"Lalu nenek beliin kamu boneka lagi?!" tanya Raffa.
__ADS_1
"Em emm..." Keyla menggeleng kepala. "Nggak, bukan Nenek yang beli, tapi kali ini Key di kasih sama Tante cantik yang punya toko itu. Katanya itu hadiah kenalan Tante Rara untuk Key..." jelasnya senang.
"Tante Rara, masa sih?!" Raffa mengangkat satu alisnya mendengar cerita putrinya.
"Iya Pa.. sini Paa sini Key lihatin bonekanya, ada di kamar Key..." Keyla menyuruh Raffa untuk masuk ke kamarnya dulu dan ingin memperlihatkan boneka pemberian Lyra kemarin.
"Mana coba Papa lihat?!" tanya Raffa setelah masuk ke dalam kamar putrinya.
"Itu Paah!" Keyla menunjuk pada boneka panda besar di tempat tidurnya.
Raffa pun menurunkan Keyla di atas kasur lalu tersenyum tipis menatap boneka panda yang selalu jadi kesukaan putrinya sejak dulu. "Wah panda lagi..." ledeknya terkekeh. "Nggak bosan sama panda terus?!" tanyanya.
"Nggak lah, kan panda hewan berbulu yang paling lucu dan gemoy sedunia..!" celotehnya menjawab.
Raffa pun menoleh ke atas lemari putrinya. "Loh, lalu mana dua boneka panda yang di kasih Tante Viona dulu?" tanyanya.
Keyla menyedekapkan tangan dan memajukan bibirnya. "Udah Key buang!" jawabnya ringan tanpa merasa bersalah.
"Ya ampun Key, kenapa bonekanya di buang?!" Raffa terkejut, menatap kesal pada putrinya.
"Key nggak suka boneka itu, nggak lucu!" timpalnya ketus.
Raffa mendengus kasar, ia paham bukan bonekanya yang putrinya tak sukai, namun pada Viona kekasihnya sekaligus calon istrinya tersebut.
"Sayang, Papa mohon padamu hargailah pemberian Tante Viona ya... Karna sebentar lagi Tante Viona juga bakal jadi Mamamu..."
"Nggak mau Pa! Pokoknya Key nggak suka sama Tante pirang itu. Jelek cerewet lagi!" sentaknya seraya bersedekap tangan, dengan memasang wajah cemberutnya.
Raffa menghela nafasnya kasar, percuma juga jika ia jelaskan panjang lebar. Keyla tetap tak akan mengerti dan suka pada Viona, walau Viona juga sudah berusaha untuk mendekati putrinya.
Raffa tak ingin membahasnya lagi, lantas ia mengambil boneka itu dan duduk di depan putrinya. Sambil mengamati boneka yang masih ada nama merk toko yang tergantung di bawah pita lehernya. Raffa mengerutkan keningnya membaca nama toko yang terlampir di kertas itu. 'Az-Zahra Toy's Store'
"Az-Zahra?!" gumamnya pelan. Raffa memenjam mata, mencoba mengingat nama yang sepertinya tak asing baginya.
"Ah hehe... Tidak sayang. Eh Papa mandi dulu. Kamu tunggu disini ya..." alihnya buru-buru berdiri.
"Iya Pa..."
Raffa beranjak dari kasur putrinya lalu pergi ke kamarnya yang di sebelah kamar Keyla. Ia bergegas mandi dan berganti pakaian. Kemarin Raffa sudah berjanji pada putrinya jika pulang dari Bandung nanti akan mengantar jemput sekolah Keyla dan sorenya mengajaknya pergi jalan-jalan. Makanya dua hari itu Raffa tidak masuk dulu ke perusahaan dulu.
Raffa pun telah selesai membersihkan dirinya, lalu kembali turun ke bawah bersama putrinya, dan sarapan di meja makan.
Selesai sarapan mereka bersiap pergi. Bi Sumi bergegas menghampiri Keyla di teras rumah dan melanjutkan menyisiri rambut cucu majikannya duku yang tadi belum sempat di rapikan.
"Cepetan dong Biii... Nanti Papa keburu bosan nungguin Key nih!" sungutnya sambil melihat Papanya yang sudah masuk ke dalam mobil duluan.
"Iya ini sebentar lagi toh Non... Sabar dulu yaak!" Bi Sumi pun cepat-cepat merapikan rambut anak majikannya dengan di ikat dua seperti biasanya.
Setelah selesai, Keyla cepat-cepat berlari menyusul Papanya ke mobil.
"Keyla nggak mau salim dulu sama Nenek?!" sahut Ambarwati yang baru saja muncul di balik pintu depan.
"Nggak mau nanti Keyla bisa telat sekolah!" teriak Keyla menimpali Neneknya di dalam jendela mobil.
"Ya Allah, anak itu. Entah menurun dari siapa sifatnya, masa salim sama orangtua saja nggak mau!" sungut Neneknya pelan.
Bi Sumi pun ikut menggeleng kepalanya, cukup lelah dengan tingkah Keyla yang memang sulit di didik itu.
"Key, ayo salim sebentar dulu sama Nenek, kalau nggak salim Papa nggak jadi anterin Key ke sekolah loh!" ancam Raffa, setelah melihat Neneknya menggeleng menahan kesal karena tingkah putrinya.
"Ah Papa! Kan Key harus turun lagi!" renggutnya terpaksa ia pun keluar dari mobil lalu melangkah malas mendekati Neneknya, diciumnya punggung tangan Ambar dengan kilat.
"Udah ya Nek!" ketusnya.
__ADS_1
Keyla pun kembali masuk ke mobilnya. Raffa berpamitan dari mobil ke Bundanya, lalu melajukan pelan mobilnya keluar halaman rumahnya yang luas itu.
"Damar!"
Setelah mobil putra dan cucunya pergi, Ambar pun bersiap pergi dengan tas dompet di tangannya.
"Iya Nyonya!" Damar menghampiri setelah tadi selesai ngopi di pos jaga.
"Ayo siapkan mobil, kita pergi ke toko kemarin sekarang juga." titahnya tegas.
"Okey siap, Nyonya Ambar!" Damar tersenyum lebar, yang sudah tahu dengan niatan majikannya untuk pergi ke sana.
****
Di kasir Lyra tampak sibuk mencatat semua hasil pendapatan selama berjualan sebulan ini. Hasilnya sungguh memuaskan, usahanya bertambah maju. Rencananya Lyra nanti juga akan memperluas tokonya dan menambah jualannya.
Saat Lyra memberi gaji bulanan untuk dua karyawannya. Seorang penjaga parkir datang menghampiri.
"Bu Lyra, anu itu ada yang ingin ketemu..." sahutnya.
"Siapa Pak Din?!" tanya Lyra menghentikan pekerjaannya.
"Nenek yang kemarin itu loh Bu, Nenek yang bawa cucunya yang ngacakin toko." ujarnya, Lyra pun cukup tertegun lantas mengangguk setelah mengingat lagi orangnya.
"Oh ya udah, suruh masuk saja Pak Din.." titahnya. Pak Didin pun mengangguk menuruti, lantas kembali keluar toko. Pak Didin adalah seorang penjaga parkir yang sudah tiga tahun di pekerjakan oleh Lyra.
Lyra lekas membereskan ruangannya, lalu menyuruh salah satu karyawannya untuk membawakan cemilan dan dua cangkir teh ke ruangannya. Tak lama seorang Ibu paruh baya datang di depan pintu.
"Selamat pagi Nona..." sapanya terkekeh-kekeh kecil.
"Eh, Ibu.. Selamat pagi juga. Maaf Bu ruangan saya masih berantakan..." ucap Lyra yang agak sungkan dengan kedatangan Nenek Keyla ke tokonya lagi.
"Silakan Bu duduk dulu di kursi..." Lyra menyilakan Nenek itu untuk duduk.
"Tidak apa-apa, tak usah repot-repot. Saya hanya sebentar saja disini." ujarnya setelah ia duduk di kursi yang sudah di kibasi Lyra dengan lap bersih barusan.
"Em begini Nona..."
"Ah panggil saya Lyra saja Bu..." ujar Lyra meralatnya.
"Oh iya Nak Lyra, kedatangan saya kemari selain ingin ngucapin terimakasih soal kemarin. Sebenarnya ada hal yang ingin saya bicarakan denganmu Nak..."
Lyra mengerutkan keningnya. "Soal apa ya Bu, kalau boleh saya tahu?!"
"Em, soal cucu saya. Keyla..."
"Keyla?!" Lyra mengangkat dua alisnya terkejut. Bu Ambar mengangguk tersenyum lirih.
"Memangnya ada apa ya Bu soal Keyla?!" tanya Lyra lagi hati-hati juga rasa penasaran.
"Saya membutuhkan seorang pengasuh untuk bisa mendidik Keyla selama di rumah kami..."
"Maksudnya Ibu hubungannya dengan saya?!"
Ambar menarik nafasnya dalam. Menatap penuh pada Lyra, berharap Lyra dapat membantunya mengabulkan keinginannya.
"Maukah Nak Lyra tinggal di rumah saya dan bekerja menjadi pengasuhnya Keyla?" pintanya, sontak Lyra pun terkejut dengan permintaan yang tak terduga dari sang Nenek.
"Pengasuh?!" sahutnya, yang lekas di angguki oleh Ambar dengan tatapan memohon.
Bersambung...
...****...
__ADS_1