Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Berjanji Akan Membahagiakanmu


__ADS_3

...BAB 58...


...Berjanji Akan Membahagiakanmu...


"Kau sedang tidak bermain-main dengan perasaanku kan Rubi? Katakan padaku, siapa sebenarnya yang kamu cintai selama ini, lelaki ini atau aku?!" lontarnya tegas.


Fadil menatap dalam dan tajam bola mata cantik Rubi yang berkilau bagaikan batu ruby, indah. Rubi memang memiliki bola mata yang sangat indah. Cocok seperti namanya.


Rubi memalingkan wajah, seraya menahan tawanya, begitu pun dengan Randi yang lekas berdiri dan menepuk-nepuk celananya. Lalu melipat kedua tangan di dadanya. Menghadap Fadil.


"Ehem-hem, apa itu tidak terbalik?! Sepertinya sakit gegar otak yang anda alami memang sangat parah Dokter. Aku sarankan anda perlu banyak minum vitamin otak. Agar otakmu kembali berjalan dengan baik..." ledeknya diiringi tawa kecil.


Fadil tampak mengerutkan keningnya, menatap bingung dengan omongan nyeleneh Randi. "Apa maksudmu?"


Lelaki seusia Rubi itu tertawa lagi, lalu menghampiri Fadil dan mengibasi kemeja depannya.


"Maksudku, harusnya pertanyaan itu kau tujukan untuk dirimu sendiri. Sebenarnya siapakah wanita yang kau cintai itu? Pacarmu atau, temanku ini?" tanya Randi sambil menunjuki Rubi yang mengangguk kepalanya membenarkan perkataan teman baiknya.


Fadil tercekat, dia baru saja tersadar apa yang telah di katakannya barusan. Fadil pun mengusap cepat mulutnya, keringat dingin seketika membasahi sekujur tubuhnya. "Ah... A-aku maksudku..." ucapnya kikuk.


Randi merangkul Fadil yang langsung terkejut dan menoleh padanya.


"Santai aja bro, tak perlu buru-buru memberi jawaban. Apa perlu aku pergi keluar, supaya kalian lebih leluasa untuk bicara berdua?" sindirnya dan kembali tertawa terbahak. "Anggap saja ini adalah rumah kalian sendiri..." ucapnya seraya menepuk-nepuk pundak Fadil.


"Jadi, kalian berdua_?!"


Randi dan Rubi saling melempar senyum. lantas Randi memberi anggukan pada Rubi. Lalu pergi keluar meninggalkan mereka berdua, memberi kesempatan pada mereka untuk bicara dari hati ke hati.


Rubi menatap Fadil sekilas. "Ada apa kemari? Kamu tidak capek ya, terus menerus mengikutiku kemana pun aku pergi?" sindirnya halus, sambil melangkah keluar balkon kamar.


Fadil menelan salivanya yang sulit masuk, menatap gugup Rubi yang terlihat berbeda sekali.


"Jadi kau sudah tahu kalau selama ini aku_"


"Seperti seorang penguntit?!" sambung Rubi, lantas tertawa kecil meledek Fadil, ternyata pria dewasa yang selalu ia kagumi selama ini, pikirannya baknseorang anak kecil. Gampang sekali ketebak.


"Ma-maafkan aku Rubi, aku hanya..."

__ADS_1


"Langsung saja Kak, aku ingin mendengar jawabanmu dari pertanyaan Randi barusan..." sela Rubi yang tak ingin mendengar basa-basi lagi.


Rubi memandang datar gedung-gedung tinggi di depannya, hatinya telah siap untuk mendengar jawaban Fadil. Bohong kalau saat ini jantung Rubi tak berdebar-debar kencang. Sebenarnya perasaannya sudah mulai tak karuan. Pertanyaan Fadil tadi sedikit membuktikan kalau pria yang di kaguminya saat ini tengah cemburu pada Randi.


Fadil berjalan pelan mendekati Rubi. Tangannya terulur meraih tangan lentik dan putih Rubi yang memegang penyangga pagar balkon. Lalu menggenggamnya erat dan lembut. Rubi terkejut, dia pun menoleh ke arah Fadil. Sontak pipinya bersemu merah.


"Apa kamu ingin jawaban jujur atau bohong dariku?" tanyanya tiba-tiba.


"Tentu saja perkataan yang jujur." jawabnya sedikit ketus untuk menutupi rasa gugupnya. Fadil mengulas senyuman tipis.


"Aku memang sayang sama kamu Rubi. Tapi entah kenapa sayang itu berubah besar menjadi cinta. Cinta yang tak aku mengerti kapan datangnya? Yang pasti, Kamu telah berhasil memporak-porandakan hatiku, perasaanku, pikiranku semuanya tentang dirimu..." ungkap Fadil seraya menatap dalam dan lembut pada wanita yang berhasil membuatnya lupa pada dunianya.


Rubi mendongak, membalas tatapan Fadil dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kau tidak bersungguh-sungguhkan? Apa kau sadar dengan yang kamu ucapkan Kak Fadil? Lalu bagaimana dengan Sinta? Bukankah, kau begitu menyukai wanita tipe seperti dia? Dewasa dan juga mandiri?" tukasnya.


Rubi lekas memalingkan wajahnya, jujur saja hatinya masih terluka. Rubi masih ingat akan ucapan Fadil dulu di Rumah Sakit yang begitu memuji Sinta dan menganggapnya hanya sebagai anak kecil.


Fadil menggeleng kepala, lalu tersenyum lagi. "Jika aku boleh jujur, aku sama sekali tidak pernah mencintainya..."


Fadil menarik nafasnya. "Aku menerima cinta Sinta karna terpaksa! Aku hanya sekedar menghargai dia karna telah lama mencintaiku! Tapi sungguh, aku sama sekali tak punya perasaan apa-pun padanya, Rubi. Percayalah padaku..."


"Tapi ini tidak benar Kak..." Rubi menggeleng kepala, membalikkan badannya membelakangi Fadil. Mengusap air matanya yang lebih dulu menetes.


"Terserah apa katamu. Tapi ini memang kenyataannya. Aku cinta sama kamu, Rubi! Aku sadar ketika kamu mulai menjauh dariku dan terlihat lebih nyaman bersama lelaki lain! Kau tahu aku cemburu melihatnya, puas kamu siksa aku Rubi?


Fadil memegang kedua bahu Rubi dan memutarnya hingga Rubi kembali menghadap kepadanya.


"Aku mencintaimu Rubi, katakan perlu berapa kali aku harus mengulang perkataanku ini? Jika kau mau, akan kuputuskan segera Sinta di hadapanmu!" tegasnya dengan nafas yang memburu. Terlihat jelas keseriusan di mata Fadil. Bahwa dirinya bersungguh-sungguh.


"Tapi Kak..." Rubi menggeleng ragu. Air matanya kembali berlinangan semakin deras.


Fadil menarik tubuh Rubi masuk ke dalam dekapannya. Tangan kekarnya terangkat membelai lembut rambut Rubi.


"Menikahlah denganku Rubi, aku berjanji akan membahagiakanmu..." lirihnya.


Rubi melebarkan matanya, ini seperti mimpi baginya. Rubi tak menyangka bila Fadil akan membalas cintanya dan memintanya untuk menikah dengannya.

__ADS_1


Tangan Rubi terulur lalu membalas memeluk Fadil.


"Aku juga mencintaimu Kak... Iya aku ingin sekali menikah denganmu..." angguknya.


Di satu tempat, Sinta melajukan mobilnya dengan kencang. Hatinya masih tak tenang, dia terus mencari Fadil, tapi tak ia temukan kekasihnya itu dimana pun. Tempat yang sering mereka kunjungi bersama.


Sialnya, tiba-tiba mobil Sinta mogok di tengah jalan. "Aaakh! Kenapa juga nih mobil!"


Sinta memukul kasar setir mobil. Lantas keluar dari mobil melihat mesin mobilnya yang sama sekali tak ia mengerti kerusakannya dimana.


Sinta pun merogoh ponselnya dan menghubungi lagi Fadil. Namun lagi-lagi Sinta harus kecewa karna Fadil sama sekali tak mengangkatnya. Sinta mengepal kencang ponselnya, geram.


Sinta mendongakkan wajahnya ke atas mulai frustasi. Sontak ia membeliak kaget, ketika melihat dua sosok manusia yang saling berpelukan di atas balkon apartemen di depannya.


"Itu kan Mas Fadil, dan wanita itu?!"


Sinta tercekat, menatap tajam pada dua manusia disana. Penglihatan Sinta masih jelas, dia sangat yakin sekali bahwa kedua orang itu Fadil dan Rubi. Dada Sinta seakan sesak, kala Fadil mengecup kening Rubi dengan mesra.


"Tidak, ini tidak mungkin. Mas Fadil kamu tega padaku..."


Sinta berlari kencang menyebrangi jalan lantas berteriak memanggil Fadil dari bawah pelataran apartemen. "Mas Fadiilll..."


Fadil dan Rubi tersentak kaget lalu melihat ke bawah. Sinta menatap nyalang pada keduanya.


"Sinta..." pekiknya pelan.


"Kak..." Rubi tiba-tiba tegang lantas menarik diri dari Fadil, namun Fadil lekas menggenggam tangan Rubi dan menganggukkan kepalanya.


"Ayo kita turun dan temui dia..."


"Tapi aku takut Kak..."


"Aku terima semua resikonya, hubungan ini harus di perjelas. Agar Sinta tahu dan tak lagi mengharapkanku..."


Bersambung....


...****...

__ADS_1


__ADS_2