Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Hati Yang Hampa


__ADS_3

...BAB 30...


...Hati Yang Hampa...


Raffa berjalan lunglai. Melempar kartu undangan itu ke meja. Lalu menghempas bokongnya di sofa, dan meraup wajahnya frustasi.


"Satu minggu lagi, cepat sekali mereka akan menikah..." gumamnya, perih. Hatinya benar-benar perih melihat semua kenyataan ini.


Bagaimana tak perih? Melihat wanita satu-satunya yang ia harapkan untuk menjadi Ibu pengganti putrinya, akan segera menikah dan menjadi milik pria lain.


Raffa membuka galery fotonya di ponsel miliknya. Banyak sekali foto Lyra yang dia ambil diam-diam tanpa sepengetahuan Lyra sendiri. Ketika Lyra mengajari Keyla belajar, bermain, memasak di dapur dan berlarian di halaman rumah, meloncat-loncat gembira sambil berebut memecahkan gelembung sabun.


Canda tawa mereka bersama, telah di lalui begitu sangat cepat. Kini sudah tak ada lagi keceriaan itu di rumahnya.


"Keyla pasti akan sangat kehilanganmu Lyra... Begitupun dengan diriku, sudah pasti akan sangat merindukanmu sepanjang hari. Kamu tahu? Saat itu aku bahagia sekali bisa bertemu denganmu lagi. Walau ku akui rasa bersalahku lebih mendominasi." lirihnya menahan sesak di dadanya.


"Aku mencintaimu Lyra. Sungguh kini aku telah mencintaimu..." isaknya.


*****


Pagi menjelang siang, Bu Marjuki dan Farah datang ke rumah Bu Rukanda untuk memberikan gaun pengantin yang sudah di persiapkan dari kemarin, untuk di pakai Lyra di hari pernikahannya nanti.


Bu Rukanda memanggil putrinya yang masih di dalam kamarnya.


"Nduk, ayo keluar dulu! Ibunya Nak Fadil sudah datang..." panggilnya, sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Lyra.


Lyra yang sedang memandangi dirinya di depan cermin, sontak saja terkejut dengan suara Ibunya. Sebab barusan ia tengah melamun.


Lyra tak menyangka. Ternyata Fadil tidak main-main dengan ucapannya, jika dia akan mempercepat pernikahan mereka.


"Iya Bu! Sebentar lagi Lyra keluar..." sahutnya.


Lyra cepat-cepat mengusap sisa-sisa air matanya. Lalu memberi sedikit bedak di wajahnya agar tak terlihat habis menangis. Khawatir calon mertuanya akan curiga jika ia tidak bahagia dengan pernikahannya nanti. Dan Lyra harus bersikap seperti biasanya.


Lyra keluar kamarnya setelah merapikan sedikit pakaian dan penampilannya. Lyra bergegas menghampiri Ibu dan calon Ibu mertuanya.


"Siang Bu, apa kabarnya?" Lyra menyapa Bu Marjuki dengan sopan dan tersenyum, meraih tangan wanita paruh baya itu untuk ia kecup.


"Alhamdulillah, Ibu sehat. Lalu kabarmu sendiri bagaimana Lyra? Wah, belum dandan aja wajahmu itu udah cantik dan bersih. Apalagi nanti kalau pas di rias pengantin." celoteh Bu Marjuki gembira. Karna sebentar lagi, putra keduanya akan mengakhiri masa lajangnya.


Lyra semakin tersenyum menanggapi pujian calon mertuanya yang memang sifatnya baik dan ramah.


Setelahnya Lyra beralih bersalaman dengan Farah, kakaknya Fadil.


"Mbak Farah..." sapa Lyra namun Farah hanya mengangguk tanpa membalas sapaannya.


Wajahnya terlihat datar dan biasa-biasa aja. Sebenarnya Farah masih kurang setuju jika adiknya itu akan menikahi Lyra. Sebab ada teman baiknya yang lebih dulu menyukai adiknya, Farah malah berharap temannya sendiri lah yang menjadi adik iparnya.


Mereka semua duduk berhadapan. Tak lama Bu Rukanda datang dengan membawa cemilan dan minuman di dapur untuk menjamu calon besannya.


"Silakan Bu, Nak Farah... Di cicipi dulu kue bolu buatan saya..." ujarnya, setelah menyimpannya di meja tamu.

__ADS_1


"Terimakasih Bu Rukanda, jadi repot-repot nih..."


"Sama-sama. Saya tidak merasa di repotkan kok, Bu..."


Mereka pun memakan jamuan yang Bu Rukanda suguhkan. Lalu berbincang-bincang sebentar. Setelahnya Lyra pun di suruh untuk mencoba gaun pengantin tadi oleh Ibunya Fadil.


"Wah pas dan cocok sekali di pakai sama kamu nduk..." girang Bu Rukanda. Bu Marjuki pun mengangguk-angguk setuju.


Selama ini keluarga Fadil lah yang menyiapkan segalanya. Dari menyewa gedung untuk acara resepsi pernikahan mereka, undangan, hingga gaun pernikahan.


Sedangkan Bu Rukanda dan Lyra tidak di perkenankan mengeluarkan biaya sepeserpun, sebab semua sudah di tanggung oleh Fadil sendiri.


Lyra hanya tersenyum sendu melihat pantulan dirinya di depan cermin. Gaun pengantin itu memang sangat cocok di pakai dirinya. Namun entah kenapa, perasaan bahagia itu sama sekali tidak ada di hatinya. Hatinya hampa, seolah ia kehilangan sesuatu dalam hidupnya. Tapi entah apa itu? Dia pun tak mengerti.


****


"Wisnu?" Ambar terkejut karna melihat kedatangan menantunya dengan membawa kopernya.


"Apakabar Bunda..." sapanya.


Wisnu bergegas menghampiri wanita paruh baya yang masih berstatus mertuanya tersebut dengan jantung berdebar.


Meraih tangan mertuanya yang sudah tampak keriput itu, untuk ia kecup. Namun Ambar lekas menariknya lagi.


"Kamu mau mencari Rubi?" tanya Ambar dengan sorot mata penuh kekecewaan melihat menantunya yang sudah melukai hati putri satu-satunya.


"Iya Bunda, maafkan Wisnu baru datang kemari. Karna Wisnu tak bisa meninggalkan pekerjaan disana." ujarnya lesu.


Wisnu kesulitan menelan ludahnya. Menggeleng kepalanya pelan, tergugup.


"E-eum. Bunda itu, itu hanya kesalahpahaman saja. Apa yang dilihat Rubi tentu tidak benar. Aku, aku bersumpah Bunda aku tidak main-main di belakang Rubi!" sangkalnya gelagapan, dengan raut wajah yang tegang dan pucat.


Wisnu pun merentangkan dua jari tangannya ke atas, tersenyum kaku. "Percayalah padaku Bunda, heheh..."


Ambar menghela nafas kasar, lalu bersedekap tangan.


"Bunda tidak tahu siapa yang harus Bunda percayai? Kamu atau putri Bunda sendiri. Yang pasti Bunda tidak akan pernah memaafkan orang yang telah menyakiti putri Bunda. Bunda hanya ingin anak-anak Bunda itu bahagia dengan pernikahan mereka. Bukan luka bathin yang di dapatkan, hanya karna sebuah penghianatan dari pasangannya." tegasnya


Wisnu menggeleng cepat. Hatinya kembali takut. "Tidak Bunda semua masih bisa di perbaiki. Wisnu yakin Rubi hanya salah paham saja soal ini." jelasnya


Wisnu memang sengaja menutupi kesalahannya pada mertuanya. Ia tahu cepat atau lambat Rubi pasti akan mengadukan kabar perselingkuhannya pada keluarganya. Wisnu takut kalau Rubi benar-benar akan meminta cerai padanya.


Sebab baginya, Rubi adalah aset berharga dalam hidup Wisnu. Warisan mertuanya begitu sangat banyak. Berkat Rubilah, dia bisa mengembangkan usahanya di Malaysia. Tetapi Rubi akan memintanya kembali. Karna sudah melihatnya yang berselingkuh dengan wanita lain.


Untuk itu Wisnu akan terus berusaha mempertahankan pernikahan mereka.


"Bunda boleh aku bertemu Rubi?" tanyanya.


"Kebetulan Rubi sedang tidak di rumah. Dia menunggu Keyla di sekolahnya. Jika ingin bicara dengannya, tunggu saja sampai dia pulang!" titah Ambar.


Wisnu mengangguk lagi. "Baiklah Bunda kalau begitu terimakasih banyak sudah mendengar penjelasan Wisnu barusan. Wisnu pamit dulu ke kamarnya Rubi, Bunda...." Wisnu pun menurut, menunggu sampai Rubi pulang dan istirahat sejenak di kamarnya.

__ADS_1


Di dalam kamar, Wisnu tak berhenti berjalan mondar-mandir gelisah. Menyugar rambutnya beberapa kali.


Hingga dua jam berlalu Wisnu masih tetap setia menunggu kepulangan Rubi. Tapi istrinya itu juga belum pulang. Wisnu tahu jika TK pulang sekitar pukul sepuluh atau paling lambat pukul sebelas siang. Tapi ini sudah pukul dua siang.


"Kenapa lama sekali?" desahnya dengan perasaan gelisah.


Wisnu meraih ponselnya, sebenarnya dia bisa saja menelepon Rubi, tapi sejak kemarin teleponnya tak mau di angkat. Beberapa kali Wisnu meminta maaf. Tapi Rubi tak membalas pesan dan mengangkat teleponnya.


Semua memang berawal dari kesalahannya yang coba-coba bermain hati dengan salah satu pegawainya sekaligus cinta pertama Wisnu dulu, hingga mereka terjalin sebuah cinta terlarang. Hingga suatu hari, Rubi memergokinya yang tengah mencium pipi kekasih gelapnya itu di sebuah cafe.


Selang berapa menit kemudian, suara klakson mobil Rubi terdengar dari luar. Ternyata Rubi baru pulang. Wisnu pun lega melihatnya dari jendela kamar. Lalu ia bergegas keluar kamar dan menyusul Rubi.


"Bagaimana tadi, seru nggak main gamenya?" tanya Rubi pada Keyla.


"Seru Tante!" angguk Keyla tersenyum lebar.


"Besok-besok kita kesana lagi yuk..." ajak Rubi lagi.


Keyla tersenyum kecil, lantas ia jadi teringat saat Lyra juga pernah mengajaknya main kesana.


"Iya Tante..."


"Rubi!"


Wisnu menghentikan langkah cepatnya di depan Rubi. Nafasnya naik turun. Dia tersenyum lebar memandangi istrinya lantas ingin memeluknya. Namun Rubi segera menghindarinya.


"Kau, mau apa kau kemari. Hah!" Rubi menatap nyalang suaminya.


"Aku ingin minta maaf padamu. Ayo kita bicara sebentar... Akan ku jelaskan semuanya padamu." pintanya pelan, seraya memohon.


"Tidak perlu! Tidak ada yang perlu kau jelaskan lagi padaku, Wisnu! Semua sudah berakhir. Kita akan bercerai! Lebih baik kau pergi dari sini!" teriak Rubi mengusirnya.


"Cepat pergii!"


Rubi menunjuk kasar lelaki yang masih suaminya itu. Baginya semua sudah jelas. Rubi tetap ingin bercerai. Rubi tak terlalu khawatir karna usianya masih muda perjalanan hidupnya juga masih panjang. Toh, buat apa capek-capek mempertahankan lelaki tukang selingkuh seperti Wisnu. Lebih baik dia menyandang status janda daripada harus terluka batin karna terus di bohongi suami.


"Tidak Rubi, aku mohon padamu. Kita tidak boleh bercerai... Ayo kita bicarakan ini baik-baik..." Wisnu tak menyerah dia tetap akan berusaha meluluhkan hati istrinya lagi.


"Kau yang pergi. Atau aku saja yang pergi!" ancam Rubi.


"Rubi, sayangku!"


"Sudah kukatakan berkali-kali kalau aku muak melihatmu lagi! Mengerti! Cepat pergi dari sini. Aku tidak ingin melihatmu! Pergi!!" teriak Rubi lagi, mengusir Wisnu


Wisnu menggeleng cepat. "Aku tidak akan pergi sebelum kamu memaafkan aku!"


Rubi menarik nafasnya kencang. Menghentak kasar kakinya lalu berbalik dan kembali menaiki mobilnya. Wisnu terkejut, ternyata Rubi yang memilih pergi.


"Rubiii... Rubiii..." teriaknya memanggil istrinya yang sudah pergi jauh dengan mobilnya.


Bersambung....

__ADS_1


...****...


__ADS_2