
...BAB 39...
...Akhir Yang Bahagia...
Satu minggu berlalu.
Hari ini adalah hari yang sudah dinanti-nantikan oleh kedua insan yang saling mencintai.
Bagi Lyra mencintai Raffa adalah hal biasa. Hanya setelah putus hubungan itu, Lyra memendam perasaan cintanya sendirian. Walau sudah pernah di kecewakan dan di sakiti. Tapi nyatanya, cinta Lyra pada Raffa masih tetap ada sampai detik ini.
Lyra pun tak mengerti kenapa dia begitu sangat mencintai Raffa?
Namun berbeda dengan Raffa sendiri. Ini adalah cinta pertama kalinya Raffa pada Lyra. Sebab dulu, cintanya hanya untuk Dania seorang.
Walaupun dahulu mereka berdua pernah dekat dan menjalin hubungan asmara, namun itu hanya sebatas di bibir Raffa saja. Lelaki itu sama sekali tak pernah serius menganggap perasaan Lyra. Baginya dekat dengan Lyra sudah membuat hatinya senang dan nyaman dari rasa jenuh karna berjauhan dengan Dania.
Jika saja waktu bisa berputar kembali ke masa lalu, mungkin Raffa tak akan berani memainkan perasaan Lyra hingga sedalam itu. Betapa perihnya hati Raffa setelah mendengar cerita Bu Rukanda. Jika selama tujuh tahun itu Lyra selalu menolak setiap lelaki yang datang ingin menikahinya, dan memilih melajang daripada menikah.
Sebab rasa trauma di hatinya. Trauma akan di sakiti dan di khianati lagi oleh lelaki. Semua karna dirinya. Ya, Raffa sadar akan hal itu, semua berawal dari kesalahannya.
Jika mengingatnya lagi, Raffa tak bisa membendung air matanya. Kenapa dia begitu bodohnya sampai tak punya hati menyakiti perasaan wanita sebaik dan setulus Lyra. Raffa berjanji pada dirinya sendiri, setelah resmi menikah. Raffa benar-benar akan membahagiakannya.
Raffa mengusap wajahnya yang sudah basah dengan air mata, lantas memandang dirinya di cermin dengan wajah sendunya
Setelah ia rapi dengan stelan jas pernikahannya. Raffa mengambil kotak cincin berwarna merah di atas meja rias milik Dania, cincin pernikahan yang sudah dia persiapkan satu minggu lalu. Kotak cincin itu ia masukan ke dalam saku jas tuxedonya.
Sebelum Raffa keluar dari kamarnya, dia mengambil foto mendiang istrinya dulu dan memandanginya dengan senyuman sendu.
"Aku sudah mengabulkan keinginanmu Dania... Aku sudah meminta maaf pada sahabatmu atas kesalahan yang pernah aku lakukan. Dan sekarang, berikanlah aku restumu untuk menikahi Lyra. Aku berjanji padamu akan menjaga dan mencintainya sepenuh hatiku, seperti saat aku mencintaimu dulu..." gumam Raffa dengan suara lirihnya.
Lalu Raffa mendaratkan kecupan lembut di foto mendiang istrinya itu dan mengusapnya dengan ibu jarinya.
Raffa menyimpan lagi fotonya di tempat semula. Mengedarkan pandangannya pada kamar miliknya bersama Dania dulu. Walau nanti Lyra juga akan menjadi istrinya, tapi kamar ini tetap kamarnya bersama Dania. Dan akan selamanya tetap begitu. Kenangan bersama Dania tak akan pernah ia lupakan begitu saja.
Untuk itu dari jauh-jauh hari sebelumnya, Raffa sudah menyiapkan kamar khusus untuknya bersama Lyra. Baginya, Dania adalah pendamping hidupnya di masalalu, namun tetap akan abadi dan tersimpan di dalam memory-nya. Sebab di antara mereka telah ada Keyla. Buah hati cinta mereka yang Dania tinggalkan.
Sedangkan Lyra adalah hidup Raffa di masa sekarang dan masa depannya, yang harus ia pertahankan dan tak akan pernah sia-siakan lagi keberadaannya.
***
Bu Rukanda berkaca-kaca, hatinya terharu melihat lagi putrinya yang sudah memakai gaun pengantin untuk yang kedua kalinya. Setelah gagalnya pernikahannya dengan Fadil.
Wanita beranak satu itu tak berhenti berdoa pada Tuhan, agar pernikahan putrinya kali ini dapat berjalan lancar dan tidak ada lagi hambatan.
"Kamu sudah siap Nduk?" tanya Rukanda tersenyum sumringah melihat putrinya yang baru saja keluar dari kamarnya setelah wajahnya di rias secantik mungkin oleh MUA artis yang di sewa Raffa sebelumnya.
__ADS_1
"Sudah Bu, ayo kita berangkat..." Lyra mengangguk tersenyum, lalu menghampiri Ibunya dan menggandeng tangannya.
Ibu dan anak itu pun keluar rumah lalu masuk ke dalam mobil khusus untuk membawa mereka pergi ke tempat di langsungkan ijab qabulnya nanti.
Noni dan Dini pun telah bersiap menunggu mereka di dalam mobil sejak pagi.
Kedua perempuan muda dan masih lajang itu pun tak berhenti berdecak kagum melihat betapa cantiknya bos mereka dengan memakai gaun pengantinnya.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan, ke tempat tujuan.
Jantung Lyra tak berhenti berdegup kencang. Perasaan gugup memenuhi hatinya. Dua minggu setelah Raffa dan keluarga besarnya datang melamarnya, mereka tak bertemu lagi. Dan hari itu mereka akan di pertemukan lagi dengan status mereka nanti yang berbeda.
Kedua pipi Lyra bersemu merah. Ini seperti mimpi baginya. Dia akan menikah dengan Raffa, lelaki yang selalu ia cintai selama ini.
Sakit di hatinya pada Raffa memang masih ada, tetapi perlahan semua itu memudar, sebab ada Keyla yang selalu menghiburnya.
"Kalau nanti Tante menikah sama Papa. Berarti Tante akan jadi Mamanya Keyla kan?!" tanya Keyla saat itu. Menatap lekat wajah Lyra.
Lyra pun mengangguk tersenyum. Keyla semakin berkaca-kaca.
"Berarti boleh dong sekarang Keyla panggil Tante Rara dengan sebutan Mama?!"
Lyra tertegun. Menatap dalam wajah polos itu.
"Iya tentu saja boleh sayang, Keyla boleh panggil Mama sama Tante sekarang..." angguknya.
"Terimakasih Mamaa... Akhirnya Keyla akan punya Mama..." ucap Keyla dengan suara lirihnya.
Gadis kecil itu pun menghambur menangis memeluk Lyra. Betapa bahagianya dia. Telah lama sekali ia menantikan sosok seorang Mama dalam hidupnya.
*****
Fadil membuka ponselnya. Sontak ia menepuk pelan jidatnya sendiri. Setelah membaca pesan dari Rubi lima belas menit yang lalu.
Kak Fadil jadi kan datang ke pernikahan Kak Raffa dan Mbak Lyra hari ini?
"Ya ampun kenapa aku bisa melupakan hari penting ini?!" pekiknya.
Fadil mengambil kartu undangan berwarna gold di laci nakas kamarnya. Padahal tiga hari lalu Raffa sudah memberinya kartu undangan. Bertepatan saat dirinya pulang dari Rumah Sakit. Tapi Fadil benar-benar lupa. Mungkin itu efek dari gegar otak nya?
Fadil pun bergegas mengganti pakaiannya karna tadi dia sudah mandi. Lalu meminta Farah, kakaknya untuk mengantarkannya ke tempat pernikahan mereka.
****
"Saya terima nikahnya Lyra Az-Zahra binti Agus setiawan dengan peralatan sholat dan mas kawin seberat 50 gram di bayar tunai."
__ADS_1
Dengan lancar dan suara lantang, Raffa telah ucapkan ikrar sucinya di depan penghulu dan para saksi di ruangan itu.
Saaahhh....
Mereka yang menyaksikannya pun mengucap kata sah bersamaan. Lalu mendoakan untuk kebahagiaan pengantin baru itu.
Ambar dan Rukanda menangis terharu, keduanya saling berpelukan. Kedua wanita paruh baya itu tak menyangka akan menjadi besan.
Disana Rubi juga ikut meneteskan air mata bahagianya. Sontak ia terkejut karna tiba-tiba saja ada yang menepuk pundaknya dari belakang.
"Kak Fadil!" Rubi melonjak kaget.
Fadil cemberut kesal, lantas ikut duduk bersila di samping Rubi.
"Kenapa kau telat memberi tahuku!"
"Humm, gimana sih. Padahal tadi pagi aku udah kirim pesan."
"Seharusnya lebih awal lagi kau mengingatkan ku!" timpalnya.
"Uuh alesan saja. Bilang aja kalau Kakak gak berani dateng kemari, masih nggak rela yaaa kalau Kak Raffa yang nikahi mbak Lyra?!" sindirnya meledek Fadil.
"Sudah ku katakan kalau aku ini lupa, Rubi!!" gemasnya, wajahnya berubah merah.
"Masa iya siihh?! Rubi nggak percaya tuh..." cibirnya. Fadil memutar bola matanya.
"Terserah kamu, yang pasti aku memang lupa!" cemberutnya.
Rubi menutup mulutnya menahan tawa. Rasanya Rubi senang sekali jika menggoda Fadil. Setelah pertemuan di pantai itu, hubungan mereka semakin dekat.
*****
Di depan para saksi, Raffa menyematkan cincin mas kawinnya ke jari manis Lyra. Begitupun sebaliknya Lyra lakukan pada Raffa, mengecup punggung tangan pria yang sekarang sudah sah menjadi suaminya. Imam dalam hidupnya.
Raffa tersenyum teduh memandangi wajah cantik istrinya, pelan bibirnya mendarat lembut di kening Lyra. Lalu turun dan berbisik pelan di telinganya.
"Kamu cantik sekali... Aku semakin jatuh cinta padamu..." puji Raffa dan berhasil membuat hati Lyra berbunga-bunga.
"Mamaa... Papa... Kata Tante Rubi ayok kita foto-foto dulu!" ajak Keyla, tiba-tiba gadis kecil itu sudah berada di samping mereka. Tangan kecilnya merangkul leher orangtuanya.
Rubi tersenyum lebar, melambai tangannya pada mereka, mengangkat kameranya dan...
Cekrekkk
Bersambung...
__ADS_1
...****...