
...BAB 46...
...Terangan-Angan Kisah Cinta Mereka...
Rubi keluar dari club, karna sudah merasa tak nyaman. Dia berjalan sempoyongan menuju mobil di parkiran.
Namun lelaki tadi ternyata mengikutinya dan membekap Rubi, dan ingin membawa Rubi masuk ke dalam mobilnya.
"Emmm, lepaskaan aku..."
Tubuh Rubi begitu lemas sehingga tak bisa melawannya. Antara sadar dan tidak, dalam pandangan Rubi lelaki itu seperti ingin berniat melecehkannya.
"Lepass... Kau mau apa?" desah Rubi mendorong tubuh lelaki bejad itu tapi lagi-lagi Rubi tak berdaya karna pengaruh alkohol di tubuhnya.
Namun tiba-tiba seseorang muncul dari belakang lelaki itu, menarik kasar bajunya lalu meninjunya.
Bugh
Bugh
Bugh
Tinjuan kasar tepat mengenai wajah dan perutnya bertubi-tubi, sehingga muka lelaki itu babak belur dan tak berdaya.
"A-ampun Pak, ampun..." gelagapnya menyerah.
"Pergi kau, berani kau sentuh kulit adikku sedikit saja, ku patahkan kakimu!" ancamnya kasar.
"Ba-baik Pak..."
Lelaki itu pergi dengan tertatih-tatih lalu masuk ke dalam mobilnya pergi meninggalkan Raffa dan Rubi.
Raffa mendengus kasar, menatap kesal pada adiknya yang sudah tergeletak tertidur di tanah. Raffa lekas membopong tubuh Rubi dan membawanya pulang.
Semenjak Rubi sering keluar rumah di malam hari. Ambar semakin khawatir dan Raffa pun diam-diam selalu membuntutinya.
Byuuurrr
"Ampun Kak Raffaaa!!" Rubi menjerit-jerit di kamar mandi dengan badan yang sudah menggigil kedinginan.
Setelah sampai rumah, Raffa menyeret adiknya ke dalam kamar mandi dan menyiram kepalanya dengan air dingin. Untungnya saja Bundanya sedang tidur, dan malam itu memang sudah sangat larut. Jika saja Bunda mereka tahu kalau Rubi sudah berani minum, pasti akan shock melihatnya.
"Mau jadi apa kamu Rubi?! Bunda dan Kakak tidak pernah mengajarimu mabuk-mabukan seperti ini!" bentaknya. "Kalau saja tadi Kakak tidak mengikutimu! Habislah kau di santap lelaki hidung belang!"
Tubuh Rubi gemetaran. Dia baru saja tersadar dari mabuknya.
"Sudah Mas sudah, kasihan Rubi. Nanti dia bisa masuk angin!" Lyra mencegah suaminya yang terus mengguyur kepala Rubi.
"Biarkan saja dia, aku kesal dengan kelakuannya yang banyak tingkah. Udah dewasa harusnya berpikir dewasa. Ini malah kelayapan tak jelas. Mabuk kayak wanita nggak bener!" sungutnya lagi.
__ADS_1
Rubi tergugu memeluk lututnya terduduk di lantai kamar mandi. Lyra yang melihatnya pun jadi kasihan.
Melihat istrinya yang tak tegaan, Raffa menghentikan amarahnya, lantas Raffa keluar dari kamar adiknya khawatir jika suara kerasnya juga akan terdengar oleh Bunda Ambar.
Lyra yang melihat Rubi kedinginan, bergegas mengambil handuk dan menyelimuti adik iparnya dengan handuk. "Ayo ganti pakaianmu. Nanti kamu bisa masuk angin..." titah Lyra lembut.
Rubi mengangguk menuruti perkataan Lyra. Setelah Rubi mengganti pakaiannya yang baru, Lyra membantu Rubi membaringkannya di tempat tidur.
"Istirahatlah... Supaya besok badanmu agak enakan.." Lyra beranjak setelah menyelimuti Rubi hendak keluar dari kamarnya.
Namun Rubi menahan tangan Lyra agar jangan dulu pergi. "Mbak..."
Lyra menoleh terkejut. Mengerutkan dahinya. Rubi menatap sendu pada Lyra.
"Bolehkah Rubi, sedikit cerita padamu?"
Lyra tersenyum lantas kembali duduk untuk menemani Rubi sebentar. "Tentu saja boleh, kamu mau bercerita apa Rubi?" tanya Lyra mengusap bahu adik iparnya.
"Mbak, apakah Mbak Lyra... Pernah mencintai seseorang yang tidak mencintaimu?" tanya Rubi. "Jika pernah bagaimana agar kita bisa cepat melupakan orang itu?"
Lyra mengerjap matanya, lantas mengukir senyum tipisnya. "Tentu saja Mbak pernah mengalami hal itu. Apakah saat ini kamu tengah mencintai seseorang?" tanya Lyra hati-hati menatap adik iparnya penasaran.
Rubi menganggukkan kepalanya jujur. Lyra kembali tersenyum mengerti.
"Melupakan seseorang yang kita cintai memang sangat sulit Rubi, apalagi mendengar pahitnya kenyataan jika orang yang kita cintai ternyata tidak pernah mencintai kita. Tapi mau bagaimana lagi kita juga tidak bisa memaksakan semua harus seperti keinginan kita? Buang rasa sedihmu dan jangan terus berlarut meratapinya. Kamu berhak hidup bahagia. Sibukkanlah diri dengan suatu hal yang positif. Bukan malah semakin memperburuk keadaan kamu..." terangnya dengan raut prihatin.
Lyra mengambil tangan Rubi, menggenggamnya erat untuk menguatkan.
Rubi tersenyum lirih, hatinya sedikit lega setelah mengungkapkan perasaan yang mengganjal di hatinya dan mendapatkan suntikan semangat dari Lyra. Rubi memang butuh teman bicara saat ini agar tak kehilangan arah.
"Apakah dulu, mbak Lyra selalu mendoakan Kak Raffa setelah kalian berdua lama berpisah?" celetuknya tiba-tiba.
Rubi tahu dan mendengar kisah cinta Kakaknya dan Lyra dari Bunda Ambar. Entah mengapa Rubi jadi ter-angan-angan dengan kisah cinta mereka.
Lyra tersentak pipinya memerah malu. "Emm... Itu..." gelagapnya. "Yahh, seperti itulah Rubi..." Lyra malu harus mengakuinya.
"Kalau begitu Rubi juga akan berdoa terus dan menunggunya. Agar suatu saat, orang itu juga dapat mencintai Rubi..." ujarnya penuh semangat.
Lyra tertawa kecil seraya geleng-geleng kepala. "Ada-ada saja kamu Rubi..."
"Tapi benarkan buktinya kalian berdua bisa kembali bertemu lagi dan berjodoh..." timpalnya.
Lyra tertawa lagi. "Lebih baik kita fokus saja memperbaiki diri daripada menunggu yang belum pasti. Sebab itu hal gaib kita tidak bisa memprediksinya sendiri. Namun jodoh sudah pasti di persiapkan Tuhan, sejak kita masih dalam kandungan. Cukuplah kita meminta yang terbaik untuk hidup masa depan kita..." ucap Lyra.
Rubi tersenyum tipis. "Terimakasih banyak ya Mbak Lyra, hati Rubi jadi adem setelah denger nasihat dari Mbak..." ucapnya. Lyra mengangguk tersenyum.
"Iya sama-sama. Syukurlah kalau hatimu kembali membaik... Lain kali ceritakan saja masalahmu pada orang yang menurut kamu nyaman untuk di ajak bicara, jangan di pendam terus. Bahaya itu bisa jadi penyakit..." terang Lyra perhatian, Rubi mengangguk mengerti.
*****
__ADS_1
Waktu pun cepat berlalu. Semenjak Rubi sering curhat pada Lyra. Rubi akhirnya jadi banyak tinggal di rumah dan mengerjakan sesuatu hal yang menjadi hobinya sejak dulu.
Raffa terkejut dengan perubahan drastis dari adiknya. Begitu juga Ambar ikut senang melihat putrinya yang mulai betah diam di rumah.
Diam-diam Rubi mencari kesibukan dengan berjualan online, menjual koleksi sepatu dan tas yang dimilikinya dengan harga murah-murahan. Bukan Rubi kekurangan uang, tabungannya masih banyak. Hanya saja dia tak ingin terlalu banyak menyimpan barang di kamarnya. Hasil uangnya Rubi akan manfaatkan dengan menyedekahkannya pada orang tak punya.
Mungkin dengan kesibukan itulah, Rubi bisa sedikit melupakan kesedihannya, melupakan Fadil walau rasanya itu tidak mungkin.
Berbeda dengan Fadil sendiri, lelaki itu seolah merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Tapi dia belum tahu, apa yang membuatnya merasa akhir-akhir ini jadi jenuh. Biasanya dia akan mendengar ocehan tak jelas sepanjang hari dari mulut seseorang. Tapi sekarang rasanya ada yang berbeda.
Padahal Sinta sering mengajaknya pergi keluar. Makan di Cafe, atau refreshing ke taman hiburan. Katanya agar pikiran Fadil bisa kembali segar. Itu juga akan membantu otaknya biar tak terlalu banyak tertekan. Tapi tetap saja Fadil merasa seperti ada yang kurang.
Fadil terkesiap kaget saat Ibunya membuka pintu kamarnya.
"Dil, ayo sarapan dulu. Ibu sudah buat soto padang kesukaanmu..." sahut Ibunya.
"Wah benaran Bu?! Asyiik..." Fadil beranjak dari tempat tidurnya lalu merangkul bahu Ibunya. Ibu dan anak itu pun berjalan beriringan ke ruang makan.
"Hari ini gak jalan lagi sama Sinta, Dil?" tanya Farah di sela-sela makan mereka.
"Enggak mbak, pengen di rumah aja. Lagian besok senin Fadil juga sudah mulai masuk kerja lagi." sahutnya.
Bu Marjuki dan Farah terkejut senang. "Wah beneran Dil?! Syukurlah mbak seneng dengernya kalau gitu, mbak pikir kamu bakalan di berhentikan kerja karna kondisi kamu!" ucapnya terharu.
Fadil menggeleng kepala. "Jangan khawatir Mbak. Nanti bakal ada asisten khusus kok, yang akan ku pekerjakan untuk membantuku saat praktek." terangnya. Bu Marjuki dan Farah pun bernafas lega.
"Oh ya, Dil. udah hampir satu bulan kok Nak Rubi gak pernah kelihatan main kesini lagi ya, gimana kabarnya sekarang?" tanya Bu Marjuki.
Fadil mendongak menatap Ibunya. Menghentikan makannya. Farah menoleh pada Ibunya langsung tak suka. Karna Ibunya malah mengingatkan lagi Fadil pada Rubi.
Fadil melirik ke arah ponselnya di sisi meja. Sepi. Pantas saja Fadil akhir-akhir ini merasa sepi. Fadil baru menyadari jika pusat kesepian itu karna dia tak lagi mendengar celotehan Rubi. Entah di telepon atau candaan di chat whatsapp.
Nyaris satu bulan. Terakhir kalinya Rubi berkunjung saat Fadil mengatakan jika dia pacaran sama Sinta. Dan dia sudah tak lagi main ke rumahnya.
Fadil iseng mengirim pesan Rubi, menanyakan kabarnya. Namun hanya balasan singkat darinya.
Bagaimana kabarmu? Sibuk apa nih sekarang? Tumbenan jarang ganggu Kakak lagi akhir-akhir ini... 🤔😏
Baik. Aku di rumah saja.
Biasanya Rubi akan membalas chatnya dengan panjang lebar dan di akhiri canda tawa.
"Ada apa dengan dia? Kenapa jadi cuek sekali?"
Bersambung...
...****...
Mampir di kisah yang baru netas yuk readers... mohon dukungannya selalu 😍😍😍
__ADS_1