Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Akan Kutebus Sakit Hatimu


__ADS_3

...BAB 35...


...Akan Kutebus Rasa Sakit Hatimu...


Setengah jam kemudian, Rubi sampai di Rumah Sakit. Dia bergegas turun dari mobil, dengan membawa parcel buah dan buket bunga mawar putih di tangannya. Senyum merekah di bibirnya setia menghiasi sejak tadi. Rubi sudah tak sabar ingin sekali berjumpa dengan pahlawannya. Baginya Fadil adalah super hero-nya yang telah menyelamatkan hidupnya, karna berkat Fadil, Rubi bisa berpisah dari Wisnu.


Wisnu yang masih betah membuntuti Rubi pun ikut masuk ke dalam Rumah Sakit. Dia memang sudah tahu, jika akhir-akhir itu mantan istrinya sering keluar masuk Rumah Sakit hanya ingin menjenguk Fadil yang masih terbaring koma.


Namun alangkah terkejutnya Wisnu, ketika tahu Fadil sudah tersadar dari koma, kini lelaki perusak rumah tangganya itu sudah duduk di kursi roda di taman yang ada di belakang Rumah Sakit.


Rubi disana melangkah cepat menghampiri Fadil dan menyapanya dengan ceria. Lalu wanita itu memberikan sebuket bunga mawar putih untuk Fadil.


Fadil pun terkejut senang melihat kedatangan Rubi dan membalas tersenyum menerima bunga yang Rubi berikan.


"Apa kita ini tidak tertukar? Seharusnya pria lah yang memberikan bunga untuk wanita." celetuk Fadil tertawa. Fadil akui semenjak ada Rubi dia sedikit terhibur.


Rubi tersipu malu. "Nggak apa kan Kak. Sekali-kali cowok juga ngerasain jadi cewek. Ntar kalau Kakak udah sembuh. Gantian Kak Fadil lah yang kasih bunga untuk Rubi..." cengirnya.


"Sudah pastinya... Kamu mau bunga apa dariku?"


"Bunga apa juga boleh..." Rubi menutup wajahnya malu-malu.


"Bunga bangkai juga?!" tanya Fadil pura-pura bodoh.


"Ih kak Fadil nggak romantis sih, masa Rubi di kasih bunga bangkai!" cemberutnya, memanyunkan bibirnya ke depan.


"Ya, tadi katanya bunga apa aja boleh!"


"Iya boleh tapi jangan bunga bangkai lah... Mendengar namanya aja udah bikin ngeri..."


"Iya iya, bunga teratai ajalah..."


"Iih, gimana mau nyimpennya di vas, bunga teratai kan pantesnya di kolam kak?!" sungut Rubi lagi dengan nada gemas.

__ADS_1


"Iya nanti kan bisa buat hiasan di kolam ikanmu..."


"Ahh kak Fadil lagi-lagi nggak romantis! Bunganya yang bisa Rubi simpan di kamar dong..."


"Hahahaha... Baiklah bunga kamboja!"


"Kak Fadill, yang serius dong!"


Fadil tertawa lucu melihat Rubi yang kesal. Melihat Fadil tertawa Rubi juga ikut tertawa. Suasana pun jadi hangat dengan keakraban mereka.


Melihat kebersamaan mereka, kedua tangan Wisnu pun mengepal kencang di sisi-sisi tubuhnya, rahangnya mengeras tegas. Rasa marah dan cemburu bercampur jadi satu. Tak hanya itu, dia kesal sekali ternyata Fadil tak jadi mati.


"Kupikir dia akan mati setelah lama terbaring koma. Ternyata hidupnya begitu mujur!" dengusnya, menahan geram.


*****


Satu hari setelah Fadil meminta Raffa untuk menggantikannya menikahi Lyra. Raffa masih belum ada keberanian untuk menyampaikan niatnya pada Bu Rukanda. Raffa takut, jika Bu Rukanda masih enggan untuk bertemu dengannya lagi.


Malamnya sepulang bekerja dia sengaja mampir ke tokonya Lyra untuk menemuinya. Raffa hanya ingin mengobrol tentang hubungan mereka berdua yang masih menggantung.


Lyra mendongak ke arah Noni. "Ada apa Ni?"


"Itu di depan, ada Papanya Keyla!" sahutnya lagi, sambil menyengirkan giginya.


Lyra menukik alisnya. Lalu lekas beranjak dari kursi. "Oh.. Baiklah aku ke depan sekarang..." angguknya seraya merapikan lagi alat tulisnya.


Lyra bergegas berjalan keluar ruangan kecilnya setelah membawa tas selempangnya, namun saat melewati Noni di lawang pintu, matanya memincing ke arah Noni yang terus senyum-senyum tak jelas memandanginya.


"Kamu kenapa sih? Lagi sakit gigi ya?!" celetuk Lyra mendelik heran pada anak buahnya itu.


"Yee, siapa juga yang sakit gigi sih mbak?!" sewotnya cemberut. "Masa senyum gini di bilang sakit gigi!" sungutnya lagi. Lyra tertawa kecil.


"Terusan kenapa coba, dari tadi kamu senyum-senyum gitu ngelihatin aku?!" tanya Lyra seraya bersedekap tangan sambil menahan tawanya lagi.

__ADS_1


"Ehm, anu Noni cuma iri aja lihat hidupnya Mbak Rara... Walau nggak jadi di nikahi sama Mas Dokter tampan itu, tapi masih ada Om duda ganteng yang bersedia mau menggantikan Mas Dokter jadi calon suaminya Mbak Rara. Waah so sweet banget sih Mbak.... Rasanya gimana gitu? Di cintai sama dua pria tampan sekaligus. Aaah... Noni jadi gak bisa ngebayanginnya, kalau misalkan Noni yang jadi Mbak Rara. Kalau Mas Dokternya nggak kecelakaan dan sakit. Noni pasti sudah bingung mesti pilih yang mana? Karna dua-duanya sama-sama ganteng, pengennya Noni sih, keduanya jadi suami Noni!" cerocosnya seraya menangkup kedua tangan di sisi pipinya.


Matanya terpejam sambil tersenyum dengan khayalannya yang tak masuk akal itu.


"Wuuss ngawur kamu! Masa nikah sama dua pria, mana bisa?! Ada-ada aja kamu ini Noni, Nonii!" timpal Lyra menggeleng kepalanya melihat tingkah Noni yang emang rada aneh.


"Kan namanya juga ngehalu mbak, bukan beneran kok!" cerocosnya lagi. Bibirnya manyun kedepan.


"Tetap aja nggak boleh!" gemas Lyra. Noni mamanyunkan bibirnya. "Udah cepet beres beres bantuin Dini. Setelah itu tutup tokonya. Aku juga mau pergi..." titah Lyra.


Lyra menggeleng lagi sambil tersenyum, lantas kembali melangkah cepat keluar toko, karna kasihan pada Raffa yang sedang menunggunya dari tadi.


"Maaf sudah menunggu lama..." ucap Lyra.


Di samping mobilnya, Raffa berdiri seraya mengulas senyumnya memandangi sosok wanita yang ia cintai tengah berjalan pelan menghampirinya.


"Tidak lama kok, aku masih sanggup, menunggumu hingga beberapa tahun lamanya..." celetuknya menggombali.


Lyra memincingkan matanya. "Masa iya sih? Kayaknya lihat kamu orangnya nggak sabaran deh, buktinya dulu kamu pengen cepat-cepat nikahin Dania kan?!" sindirnya, bersedekap tangan.


"Hahaha..." Raffa pun tertawa malu. Bila mengingat hal itu lagi.


Refleks ia ingin mengacak rambut kepala Lyra. Namun tangannya malah menggantung di atas.


Raffa terpaku menatap lekat wajah Lyra yang berubah jadi canggung. Ternyata kebiasaan itu masih melekat di jiwanya. Kebiasaan yang sering Raffa lakukan dulu terhadap Lyra, tanpa ia sadari ia lakukan setiap waktu pada putrinya juga selama ini. Apa itu artinya Raffa memang tak bisa melupakan Lyra.


Raffa mengulas senyumnya lagi, lantas mengusap lembut kepala Lyra. Tangan kekarnya turun kebawah dan meraih tangan kanannya Lyra, lalu membawa tubuh wanita itu masuk ke dalam pelukannya.


"Maaf ya, yang pernah menyakitimu... Akan ku tebus semua rasa sakit di hatimu dengan mencintaimu setiap waktu dan sepanjang hidupku, Lyra..." bisiknya pelan dan lirih.


Lyra mendongak terkejut, kedua matanya berkaca-kaca. Sebagian wajahnya tertutup oleh bahu kokoh itu. Hidungnya mencium wangi maskulin di kemeja kerja Raffa seketika saja membius pikirannya. Hangat, nyaman, dan rasa rindu. Perasaan bahagia campur haru menjadi satu. Semoga apa yang Raffa ucapkan padanya kali ini, adalah kesungguhan dari lubuk hatinya yang terdalam.


Bersambung....

__ADS_1


...****...


__ADS_2