
...BAB 34...
...Permintaan Fadil Untuk Mereka...
Raffa dan Lyra melangkah masuk ke kamar rawat Fadil setelah Bu Marjuki menyuruh mereka untuk masuk.
Lyra terus bertanya-tanya di hatinya, perasaannya jadi cemas.
Ada hal apa, Mas Fadil sampai menyuruh kami berdua datang menemuinya. Semoga saja bukan hal yang buruk... batinnya.
Raffa yang ada di belakang tubuh Lyra pun, kembali menutup pintunya dengan rapat. Keduanya saling menatap lagi heran, lalu berjalan menghampiri Fadil yang sudah membuka matanya di atas ranjang pasien.
Fadil menyungging senyumnya senang, karena mereka berdua akhirnya datang. Terutama ia senang sekali bisa melihat lagi wanita yang sangat ia cintai. Dahinya mengkerut, tatkala melihat jelas garis mata Lyra yang terlihat sembab, apakah sepanjang hari Lyra menangisiku? tanya Fadil di hatinya.
Lyra menarik kursi dan duduk di sebelah kanannya Fadil dengan tatapan sendu ke arahnya, sedangkan Raffa duduk di sebelah kirinya Fadil.
Keduanya kembali saling bersitatap, sebelum mendengar Fadil berbicara, entah apa yang ingin dokter muda itu sampaikan pada mereka?
"Bagaimana sekarang keadaanmu?" tanya Raffa.
Fadil mengulas senyumnya lagi menatap ke arah Raffa dan Lyra bergantian dengan gerakan matanya. "Kepalaku belum bisa di gerakkan. Rasanya berat sekali. Sedikit saja aku menoleh, maka rasa sakit dan pusing itu semakin menjadi-jadi..." ujar Fadil yang langsung terkekeh kecil.
Walau tubuhnya merasakan sakit. Fadil tetap berusaha untuk tersenyum di depan orang-orang yang di sayanginya, agar mereka tak terlalu mencemaskan dirinya. Terutama di depan Ibunya tadi. Setelah ia tersadar, Bu Marjuki tak berhenti menangisinya.
"Jangan di paksakan dulu Mas, jika masih sakit, istirahatlah yang banyak..." saran Lyra tersenyum lembut.
"Aku tidak bisa istirahat sebelum aku sampaikan sesuatu pada kalian berdua..." tukasnya cepat.
Lyra dan Raffa terkejut lantas kembali saling menatap bingung.
"Apakah itu sangat penting?" tanya Raffa mengerutkan keningnya.
Fadil memenjam sejenak matanya. Lalu membuka matanya lagi menatap serius Raffa dan Lyra. "Ya ini hal yang serius. Aku ada permintaan untuk kalian berdua, aku harap kalian mau mengabulkan permintaanku..." gumamnya pelan dengan suara yang lirih menahan luka di hatinya. Luka karna sesuatu yang tak bisa ia capai.
__ADS_1
Raffa dan Lyra mendengarkan dengan antusias. "Permintaan apa?" tanya Raffa "Katakanlah pada kami? InsyaAllah kami akan berusaha mengabulkan keinginanmu."
"Aku ingin kalian berdua menikah..." pintanya dengan nada sedikit tegas dan yakin. Raffa dan Lyra tercengang mendengar keinginan Fadil yang mendadak itu.
"Yah, aku ingin kau menikahi Lyra..." pintanya lagi pada Raffa, yang matanya sudah berkaca-kaca. "Aku memintamu untuk menggantikan aku sebagai calon suaminya..." sambungnya lagi dengan suara yang lirih, Fadil berusaha menahan sesak di dadanya.
"Mas Fadil?!" Lyra tercekat.
Memang benar, di hati Lyra memang belum ada rasa cinta untuk Fadil. Tapi entah mengapa Lyra jadi kecewa dengan keputusannya yang tak bisa melanjutkan pernikahan mereka lagi. Fadil malah meminta Raffa untuk menggantikannya.
Jika memang alasan Fadil, karna sakit berat. Lyra masih bisa terima. Hanya saja untuk menikah dengan Raffa, rasanya mustahil jika Ibunya akan menerimanya. Sementara Fadil-lah satu-satunya lelaki yang Bu Rukanda percaya untuk menjadi calon menantunya.
Akhirnya Fadil dapat sampaikan keinginannya pada mereka. Hal yang sudah ia pertimbangan sejak tadi setelah ia sadar dari koma panjangnya. Walau memang sangat menyakitkan hati, tapi Fadil tegar dan ikhlas menerimanya, bahwa ini adalah jalan yang terbaik untuknya dan bagi mereka juga.
Sakit gegar otak berat yang Fadil alami, membutuhkan waktu yang lama untuk bisa sembuh seperti sedia kala, atau bahkan sulit sembuh. Dokter yang menangani Fadil mengatakan, kemungkinan trauma gegar otak itu akan kembali kambuh.
Semakin sering kamu mengalami trauma otak, semakin besar kamu memiliki gejala yang bertahan lama karena kegagalan otak untuk kembali normal. Efek jangka panjang dari gegar otak berulang dapat menyebabkan mulai dari sakit kepala hingga perubahan kepribadian hingga pelupa. Kondisi ini sering disebut sebagai sindrom pasca gegar otak.
Makanya itu, Fadil khawatir jika ia tetap memaksakan untuk menikahi Lyra. Malah dirinya akan mempersulit hidup wanita yang ia cintai.karna penyakitnya. Dan Fadil tak ingin itu terjadi.
"Mas Fadil, tapi Ibu..."
"Aku akan memberi pengertian pada Ibumu nanti." ucap Fadil yang lekas menyela perkataan Lyra.
Fadil pun menatap Raffa yang masih terpaku dengan kebingungannya. "Sekarang, pergilah kau untuk temui Ibunya Lyra dan katakan pada beliau, bahwa kamu akan bertanggung jawab untuk menikahi Lyra, katakan bahwa ini atas permintaanku padamu..." ucapnya lagi, pada Raffa.
Raffa menghela nafasnya dalam. Lalu ia menganggukkan sedikit kepalanya. Dia akan mencoba memenuhi keinginan Fadil. Sebab hatinya yang belum yakin, Ibunya Lyra akan menerimanya kembali.
"Baiklah, jika ini memang maumu... Semoga aku dapat mengabulkan permintaanmu." ucap Raffa.
Fadil tersenyum, lalu kembali menatap Lyra yang terdengar menahan tangisnya. Menutupi kesedihannya. Fadil mengangkat tangannya dan meraih tangan kanan Lyra. Mengusapnya dengan ibu jari.
"Walau pada akhirnya aku tidak jadi menikah denganmu, dan kamu akan menjadi milik pria lain. Di hatiku, aku masih tulus mencintaimu Lyra. Aku cinta dan sayang kamu... Maafkan Mas yang pernah berbuat salah padamu. Berbahagialah kamu bersama Raffa dan menjadi Ibu sambungnya Keyla. Gadis kecil itu lebih membutuhkanmu daripada aku." ucapnya sendu.
__ADS_1
Lyra kembali terisak dalam, menggenggam erat tangannya Fadil untuk memberinya kekuatan.
Air matanya terus mengalir deras, mendengar perkataan Fadil barusan. Sungguh, begitu banyak kebaikan dan pengorbanan Fadil kepadanya dan Ibunya. Dan Lyra sangat menghargai itu. Lyra berharap suatu saat Fadil akan sembuh dan menemukan wanita yang lebih baik dari dirinya.
Fadil mengulurkan punggung jarinya untuk menghapus air mata Lyra di pipinya.
"Jangan menangis lagi, hapuslah air matamu Lyra. Kamu berhak hidup bahagia..." ucapnya lagi, tersenyum tulus pada Lyra.
Lyra menganggukkan kepalanya pelan dan membalas senyuman tulus Fadil.
"Terimakasih banyak Mas, atas kebaikan yang selama ini Mas berikan untukku dan juga Ibu... Semoga Mas juga bahagia kelak, dan menemukan wanita yang sangat mencintai Mas. Seperti Mas mencintai aku..."
"Aamiin..." ucapnya mengamini doa Lyra.
Di sana Raffa pun ikut terenyuh dengan ucapan Fadil. Dan hatinya mendoakan yang terbaik untuk temannya.
*****
Tiga hari berlalu. Rubi dan Wisnu telah diresmikan bercerai. Rubi bahagia sekali sebab proses perceraiannya ternyata tidak memakan waktu yang lama. Kini di tangannya sudah punya akta cerai.
Rubi menaiki mobilnya untuk pergi ke toko bunga dan toko buah. Ia ingin membeli buket bunga juga buah-buahan segar untuk Fadil. Setelah mendengar Fadil tak bisa melanjutkan pernikahannya dengan Lyra dari Raffa kakaknya.
Entah mengapa hati Rubi tiba-tiba sangat senang sekali. Jantungnya berdebar kencang tak biasanya. Apakah mungkin rasa kagum itu berubah menjadi perasaan cinta?
Inilah yang dirasakan Rubi saat-saat ini, dia semangat sekali ingin menemui lelaki itu.
Rubi tersenyum mengembang setelah ia dapatkan apa yang ia beli. Lalu kembali masuk ke mobil dan pergi ke Rumah Sakit. Karna Fadil masih belum dibolehkan pulang. Dokter bilang Fadil masih perlu pengawasan mereka.
Namun tanpa Rubi sadari, di belakang mobilnya ternyata Wisnu sedang mengikutinya. Lelaki itu ternyata belum pulang ke Malasyia.
Wisnu masih belum terima dengan perceraiannya dengan Rubi. Berpisah dengan Rubi seolah kehilangan masa depannya. Sebisa mungkin Wisnu harus mendapatkan Rubi kembali bagaimanapun itu caranya.
Bersambung...
__ADS_1
...*****...
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejaknya readers.. Maaf telat update karna author sibuk di dunia nyata 🙏☺️☺️☺️