Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Fadil Yang Gengsi


__ADS_3

...BAB 40...


...Fadil Yang Gengsi...


Setelah selesai menghadiri acara resepsi pernikahan mereka. Fadil pamit pulang, sebelumnya ia mengucapkan selamat pada pengantin baru itu.


"Sekali lagi selamat menempuh hidup baru, semoga kalian berdua langgeng hingga maut memisahkan. Dan, berbahagialah selalu..." ucapnya seraya memberikan senyuman tulus untuk mereka berdua.


"Aamiinn..." Raffa dan Lyra mengamininya bersamaan. "Terimakasih untuk semuanya, dan semoga apa pun yang kamu impikan juga segera tercapai..." balas Raffa.


Lantas kedua lelaki itu saling berpelukan, dan menepuk punggung temannya. Saling memberi doa dan dukungan satu sama lainnya.


Lalu Fadil beralih menatap Keyla yang sedari tadi duduk bersampingan di kursi pelaminan bersama Lyra. Seakan tak ingin menjauh dari wanita yang pernah ia cintai untuk pertama kalinya. Fadil pun berjongkok di depan gadis kecil itu. Mengusap rambut kepalanya.


"Gadis kecil, Om pulang dulu ya! Inget jangan pernah bolos sekolah lagi. Nanti kamu bisa ketinggalan pelajaran. Bagaimana mau jadi Dokter seperti Om, kalau kamunya aja malas pergi ke sekolah?! " pesan Fadil seraya mencolek hidung bangir itu.


Keyla tersipu malu. Lalu menggeleng kepalanya.


"Nggak Om... Sekarang Keyla janji bakalan semanget ke sekolah lagi. Soalnya kan nanti udah ada Mama Rara yang bakal anterin Key pergi ke sekolah!" celotehnya tersenyum ceria sambil menoleh ke arah Lyra.


"Waah senengnya yang udah punya Mama baru!" sindir Fadil seraya melirik tersenyum ke arah Lyra. "Tapi, kamu juga harus sering-sering bantuin Mama Rara di rumah ya... Kalau bisa, apa-apa belajar sendiri dulu, oke!" pesan Fadil lagi.


"Oke Om, siap Keyla pasti bakalan bantuin Mama..." Keyla menatap Lyra dengan mata yang berbinar.


Lantas memeluk pinggang Lyra dengan sayang, Lyra membalas pelukan kecilnya seraya mengusap kepala putri tirinya.


Fadil tersenyum ikut bahagia melihat kebersamaan mereka. Mungkin inilah arti kebahagiaan yang sebenarnya. Berkorban dan mengikhlaskan diri untuk kebahagiaan oranglain. Walau memang awalnya sangat berat melepas orang yang kita cintai, tetapi setelah di jalani. Rasanya lumayan lega, dan justru ada kepuasan tersendiri di hati Fadil karena melihat orang yang di sayangi bisa tersenyum bahagia.


Fadil beranjak berdiri lalu menghampiri mantan calon mertuanya.


Bu Rukanda memeluk dan mengusap-ngusap pelan pundak Fadil, memberi semangat untuknya. "Cepat sehat lagi ya Nak, jangan lupain Ibu. Sering-sering kamu kunjungi rumah Ibu. Pintu rumah Ibu selalu terbuka lebar untuk kamu..." pesannya dengan suara yang lirih. Prihatin melihat bahu kanan Fadil yang masih terbalut perban bekas luka tusukan.


Fadil tersenyum haru. "Tentu saja Bu, Fadil nggak akan mungkin lupa sama Ibu. Apalagi cemilan enak yang selalu Ibu suguhkan untuk Fadil. Fadil pasti bakal kangen kalau nggak nyicipin satu hari saja..."


"Bisa saja kamu Nak..." Bu Rukanda mengusap sisi kepala lelaki itu. Walaupun Fadil tidak jadi menikahi putrinya. Beliau akan tetap menganggap Fadil sebagai putranya sendiri.


Disana Fadil juga berpamitan pada Bu Ambar dan Rubi.


"Mau ku antar pulang kak?" tawar Rubi.


Fadil menggeleng kepala, dan tersenyum.


"Tidak perlu. Nanti Mbak Farah yang akan jemput..."


Rubi sedikit menekukkan wajahnya, sebenarnya dia ingin sekali mengantarkan Fadil pulang. Hanya untuk membalas budi padanya, karna selama ini Fadil telah banyak berjasa kepadanya. Selain itu Rubi juga ingin sekali tahu rumah Fadil dimana.


Sebelum melangkah pergi, Fadil kembali menyungging senyumnya melihat ke arah Lyra dan Raffa dari kejauhan, mereka terlihat serasi sekali.


Lalu Fadil berjalan keluar gedung dan bergegas mengambil ponselnya di saku celana, dengan tangan kiri. Berniat untuk memesan ojek online saja. Karna Farah hari itu bekerja. Sedang Bapak Ibunya memang tak bisa menyetir mobil. Fadil terpaksa berbohong pada Rubi karna tak ingin merepotkan perempuan itu. Selain itu dia juga hanya ingin pulang sendirian saja, untuk melupakan sisa-sisa cintanya pada Lyra.


"Lho-lho ponselku, ponselku dimana?" Fadil terkejut dia sama sekali tak menemukan ponsel di saku-saku celananya.


"Waah gawatt!" Fadil menggaruk kepalanya kebingungan. Lantas menengok ke samping kanan kirinya. Mengingat lagi kapan terakhir kalinya dia memegang handphone.


"Kak Fadil lagi cari apa? Katanya tadi mau pulang?" tanya Rubi setengah berteriak.


Rubi yang melihat Fadil seperti kebingungan di depan pintu utama gedung tempat resepsi pernikahan kakaknya. Lekas berlari kecil menghampirinya.


"Rubi aku kehilangan ponselku. Bisa tolong kau sebentar miscall nomerku?!"


"Kok ponsel Kakak bisa hilang sih?"


"Iya, makanya itu aku juga heran. Kok bisa aku lupa taruh dimana?" ujarnya balik bertanya.

__ADS_1


Rubi menggeleng kepala, lantas mengeluarkan ponselnya di tas brandednya. Menghubungi nomer Fadil.


Tak lama ponsel Fadil terhubung. Ternyata ponsel Fadil ada di kursi tempat tadi dia makan, seorang pelayan cathering menemukannya berdering.


["Oh iya Mbak, saya ke depan sekarang..."]


Rubi pun menutup kembali sambungan teleponnya. Tak berapa lama seorang wanita memakai pakaian pelayan datang menghampiri Rubi dan Fadil.


"Terimakasih mbak..." ucap Fadil.


"Sama-sama Pak.." balas wanita muda itu tersenyum ramah, lalu dia kembali masuk ke dalam gedung dan melanjutkan melayani tamu undangan.


"Untung saja masih bisa ketemu..." ucap Rubi.


"Iya untung saja..." Fadil menghela nafas lega.


"Lain kali ponselnya langsung simpan di saku saja kak... Oh ya mana, katanya mbak Farah mau jemput kakak?"


"Ah iya, sebentar lagi dia akan datang..." gelagapnya kikuk.


Rubi mengerutkan kening, seketika melihat wajah Fadil yang terlihat gelisah.


"Beneran nih bakal di jemput?" tanya Rubi kurang yakin. Fadil menggaruk keningnya.


"Kalau Kakak perlu tumpangan, yuk mending naik mobil Rubi saja... Dari pada lama menunggu mbak Farah kan?!"


"Em tidak perlu, Kakak mau naik ojeg saja..."


Fadil sebenarnya tak enak jika di antar jemput seorang wanita. Gengsinya terlalu tinggi. Biasanya dialah yang suka mengantar jemput wanita. Seperti Ibunya dan Lyra. Tapi sekarang dia seakan yang nembutuhkan bantuan oranglain. Bahunya masih sangat sakit untuk di gerakkan dan tak bisa menyetir sendiri.


"Udah.. Ayuk naik mobil aja sama Rubi!" Rubi bersikeras mengantar Fadil. Lalu dia menggandeng lengan kiri Fadil dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.


Terpaksa Fadil akhirnya menuruti kemauan Rubi. Fadil pasrah di antar Rubi sampai rumahnya.


Setelah lumayan lama berbincang Rubi pamit pulang. Karna tak enak kalau Ibunya nanti mencarinya. Sementara pesta pernikahan Kakaknya juga belum selesai.


"Nanti boleh kan, kalau aku sering-sering main kemari?!" tanyanya pada Fadil.


"Sebaiknya wanita jangan terlalu sering main keluar rumah apalagi sengaja main ke rumah lelaki..." sela Fadil.


"Kenapa?" Rubi menautkan alisnya, tak mengerti.


"Ya, karna itu tidak baik Rubi! Wanita lebih pantasnya berdiam diri di rumah..." terang Fadil. Rubi cukup tertegun lalu mengangguk mengerti.


"Ya sudah, sebaiknya cepat kamu kembali ke acara Kakakmu. Nanti mereka bisa khawatir nyariin kamu..."


Rubi mengangguk kikuk. "Em.. Baik Kak! Kalau begitu, Rubi pergi ya... Assalamualaikum..."


"Wa'alaikum salam..." balas salam Fadil sembari tersenyum.


Rubi berjalan keluar pagar rumah Fadil. Saat hendak membuka pintu mobilnya, Rubi melihat mobil Farah berhenti di depan mobilnya. Farah dan temannya pun keluar dari mobil itu.


Rubi mengangguk tersenyum menyapa pada Farah dan juga temannya. Namun ekspresi Farah terlihat datar saja.


Lalu Farah menyuruh temannya untuk masuk tanpa membalas sapaan Rubi.


"Ish sombong sekali sih dia. Untung saja masih saudarinya Kak Fadil. Coba saja kalau bukan udah aku omongin tuh!" gerutunya pelan.


Rubi pun bergegas masuk ke dalam mobilnya dengan raut kesal. Namun sebelum melajukan kendaraannya Rubi kembali ingin memandang ke arah rumah Fadil.


Sontak Rubi terhenyak ketika ia melihat Fadil tertawa akrab dengan temannya Farah. Wanita cantik yang usianya tak jauh beda dengan Fadil.


"Apa hubungan mereka begitu dekat ya?!" gumamnya lirih. Rubi menyentuh dadanya yang tiba-tiba saja merasa sakit di ulu hatinya.

__ADS_1


*****


Malam pun tiba...


"Apa dia sudah tidur?" bisik Raffa pada Lyra yang berbaring miring di tempat tidur mereka bersama Keyla.


Lyra mengangguk kecil. "Sepertinya sih..." sahutnya.


Lyra berusaha menahan tawanya melihat suaminya yang mulai bosan karna menunggu Keyla tidur sejak dari pukul delapan tadi. Sementara malam ini sudah pukul sebelas lewat. Apalagi tadi Keyla meminta Lyra untuk di ceritakan dongeng dulu sebelum tidur.


Seharusnya malam ini adalah malam pertama bagi mereka. Ketika sepasang pengantin baru itu ingin bersantai ria di dalam kamar mereka, yang kamarnya sudah di hias secantik mungkin agar suasananya semakin romantis.


Tapi tiba-tiba saja Keyla mengetuk pintu dan ingin ikut tidur bersama mereka.


Raffa pun semangat, setelah melihat Keyla akhirnya memenjamkan matanya. Lalu beranjak pelan dari tempat tidur dan memangku tubuh mungil putrinya itu untuk ia pindahkan ke dalam kamarnya. Lyra pun mengekori suaminya dari belakang.


Di dalam kamar, dengan perlahan Raffa menurunkan Keyla ke kasur empuknya.


"Mas..." Lyra mengusap punggung suaminya.


Raffa menoleh pada Lyra, setelah ia menutupi tubuh Keyla dengan selimut.


"Nanti kalau Keyla tiba-tiba terbangun lagi gimana?" tanyanya khawatir, dengan suara pelan.


"Tidak, aku yakin sekali, kali ini dia akan pulas tidur... Acara tadi pasti membuatnya lelah. Ayo sebaiknya kita juga pergi ke kamar..."


Raffa menggandeng tangan Lyra bergegas keluar kamar putri mereka dengan jalan mengendap-endap. Menutup rapat pintu kamarnya.


Raffa bernafas lega karna akhirnya bisa terbebas dari bocah kecilnya. Sementara Lyra terkekeh kecil melihat Raffa yang di buat kesal oleh putrinya sendiri.


"Kamu sepertinya senang sekali kalau malam pengantin kita ini terganggu?!" sewot Raffa memincingkan matanya.


"Tentu saja aku senang... Malah puas rasanya melihat kamu kesal setengah mati!" ledek Lyra tertawa puas.


"Oh jadi begitu rupanya, apa jangan-jangan kamu memang sengaja memanggil Keyla agar kesini mengganggu kita?" Raffa tersenyum jahil seraya berjalan mendekati istrinya dengan wajah merah.


Lyra tergugup dan memundurkan langkahnya hingga punggungnya mentok ke dinding kamar. "Enggak enak aja, mana mungkin aku menyuruhnya seperti itu... Dasar tukang fitnah!" cebiknya.


Raffa semakin tersenyum, menggoda istrinya sepertinya akan menyenangkan sekali.


Raffa mengulur tangannya untuk mengusap dagu Lyra. Menatap dalam dan lembut mata beningnya.


"Sudah lama sekali aku menantikan malam ini bersamamu sayang. Terimakasih banyak sudah mencintaiku dan putriku..."


Lyra membalas tersenyum dengan wajah sudah memerah malu. "Sama-sama Mas... Terimakasih juga akhirnya kamu mencintai aku.." ucapnya pelan.


Raffa menatap sendu wajah cantik itu. Lantas mengecup lembut bibir Lyra lalu menempelkan keningnya ke kening istrinya.


"Maafkan Mas, yang terlambat mencintaimu..." bisiknya penuh penyesalan.


Lyra menggeleng kepala, seketika air matanya menetes keluar. Hatinya jadi terharu hanya mendengar ucapan maaf Raffa kepadanya.


Raffa pun menghapus air matanya lalu memangku tubuh ramping istrinya dan membawanya ke tempat peraduan. Membaringkan pelan tubuh istrinya di sana.


Sepasang mata mereka kini saling beradu, dalam dan lembut. Lalu keduanya kembali menautkan bibir dan melanjutkan malam indah yang sempat tertunda tadi.


Bersambung...


...****...


Maaf sudah menunggu lama readers, ini baru sempat update lagi. Author memang sibuk dagang dan malamnya author dah ngantuk berat hehehe... 🙏🙏🙏 🥰🥰🥰 sekali lagi maaf ya...


Tapi terimakasih banyak yang masih setia terus ikutin cerita ini... Love you semuanya...💝💝💝

__ADS_1


__ADS_2