Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Sinta Yang Tak Menyerah


__ADS_3

...BAB 65...


...Sinta Yang Tak Menyerah...


"Jadi tadi pagi Sinta mengirimimu foto dengan nomor ponselku?" Fadil tersentak tak percaya dengan cerita Rubi.


"Iya Kak..." Rubi mengangguk lalu memperlihatkan pesan foto yang dikirimkan Sinta tadi pagi.


Fadil mengepal tangannya dengan wajah memerah padam. Melihat foto Sinta di layar ponsel Rubi.


Aku tak menyangka jika Sinta akan berbuat selicik itu, dia ingin agar hubunganku dan Rubi hancur dengan sengaja membuat kesalahpahaman di antara kami berdua... ucapnya geram dalam hati.


Seperti janjinya, malam esoknya Fadil mengajak Rubi ke rumahnya untuk ia sampaikan niatnya melamar Rubi di depan kedua orangtuanya sendiri. Kebetulan malam itu adalah malam minggu.


"Tante senang kamu datang berkunjung lagi ke rumah Tante, Rubi. Tante pikir kamu sudah lupa sama Tante..." ujar Bu Marjuki tersenyum senang, setelah mengecup pipi kanan kiri Rubi dan memeluknya hangat.


"Maaf Tante, Rubi baru sempat kemari lagi Waktu itu Rubi gantian sama Mbak Lyra buat anter jemput Keyla ke sekolah. Soalnya saat itu Mbak Lyra sedang sakit karna kehamilan pertamanya..." jawab Rubi tersenyum pada wanita yang kelak akan menjadi Ibu mertuanya.


"Apa, jadi saat ini Lyra sedang hamil?" sahutnya kaget sambil menutup mulutnya karna Fadil pun tak pernah menceritakannya.


"Ya Tante..." angguk Rubi.


"Syukurlah, Tante ikut senang mendengarnya... Ya sudah ayo kita duduk dan berbincang dulu sambil nunggu Bapaknya Fadil pulang..." Bu Marjuki merangkul bahu Rubi dan mengajaknya masuk dan duduk di sofa tamu.


Fadil menyungging senyum bahagia, melihat keakraban yang terjalin antara Ibu dan kekasihnya. Fadil pikir setelah ia ceritakan terus terang pada orangtuanya, bahwa dia akan melamar Rubi, orangtuanya akan menolak Rubi jadi menantu mereka. Tapi syukurlah ternyata mereka tak seperti yang Fadil bayangkan selama ini.


Sementara di luar rumah mereka, tampak Sinta masih mengawasi mereka dari jendela mobil taksi yang ia tumpangi, setelah melihat Fadil dan Rubi masuk ke dalam rumah bersama Bu Marjuki.


"Ayo jalan Pak!" perintahnya pada supir.


Sinta mendengus kasar. Mere-mas kencang tasnya dalam pangkuannya.


Kenapa mereka masih bisa baikkan? Tidak, aku tidak akan biarkan janda itu bahagia bersama Mas Fadil. Jika Mas Fadil tak jadi denganku, maka wanita itu juga tidak boleh bersama Mas Fadilku... geramnya, dalam hati Sinta tak menyerah untuk memisahkan atau membuat hubungan mereka jadi pecah.


****

__ADS_1


Hari pun berganti dengan cepat. Dan di hari itu tepatnya hari pernikahan Doni dan Susi.


Farah yang memotong sayuran pun jadi tak fokus yang akhirnya jarinya ikut teriris pisau. Darah segar pun menetes keluar, perih. Namun hatinya terasa lebih perih dari luka berdarah di jarinya.


Siang dan malam, tak pernah ia rasakan lagi kehangatan dalam rumahtangganya bersama Doni. Doni sudah berubah. Bukan hanya menghianati pernikahannya saja, sikap Doni pun berubah kasar dan tak berperasaan lagi.


Farah menyesal, tak seharusnya dulu meninggalkan suaminya demi ambisinya yang bisa memiliki butik Sinta.


Farah pikir Doni adalah pria setia dan tak akan pernah menduakannya, tidak seperti pada lelaki lainnya. Tapi ternyata Doni sama saja, lelaki mata keranjang yang tak bisa menahan dirinya dari godaan wanita di luar.


Malam itu, Farah benar-benar tak bisa tidur. Lantas ia keluar dari kamarnya dan memilih menonton televisi. Hatinya masih resah dan tak tenang. Saat ini pikirannya selalu terganggu oleh bayangan suaminya yang sedang memadu kasih bersama wanita lain. Mampukah Farah bertahan dalam pernikahannya yang sudah retak dan hampir pecah berkeping?


Cekleek


Pintu terbuka, Farah pun mendongak ke arah pintu saat ini Farah memang tiduran di kursi panjang di depan televisi.


Suaminya tampak gagah dengan pakaian pengantin lantas masuk ke dalam rumah dengan membawa koper besar yang pastinya itu bukan milik suaminya.


"Mas..." Farah bangkit dari duduknya menatap terkejut suaminya.


"Masuklah sayang, malam ini kita tidur dulu di sini. Besok kita baru tinggal di apartemen baru kita..." ujarnya tersenyum pada Susi.


"Iya Mas, lagipula aku juga masih capek... Pengen tiduran dulu disini..." jawabnya manja.


Farah melotot mendengarnya. Kala mereka akan tinggal di kontrakan kecil mereka malam ini. Namun Farah lebih terkejut karna besok suaminya akan tinggal di apartemen baru, yang sejak kapan suaminya mampu tinggal di apartemen? Padahal gaji Doni tak lebih dari dua juta rupiah dalam sebulan.


"Farah, apa kau sudah membereskan kamar satunya lagi seperti yang aku perintahkan tadi siang?!" tanyanya.


Farah masih terpaku di tempat, melihat tajam tangan Susi yang masih menggelayut manja di lengan suaminya.


"FARAH! Apa kau tidak mendengar perkataanku?!" bentaknya dan berhasil membuat Farah tersentak kaget.


"Apa Mas? Maaf!"


"Kau ini benar-benar istri tak berguna! Di tanya malah diam saja!" makinya kesal.

__ADS_1


Doni melangkah cepat dan melihat kamar satunya yang memang tak pernah di tempati mereka, memastikan apa kamar itu sudah di bersihkan Farah atau belum? Doni pun melotot karna kamar itu masih terlihat kotor dan berdebu.


"Kenapa belum juga kamu bersihkan?" tanyanya lagi dengan menatap nyalang istrinya.


"Kapan kau menyuruhku untuk membersihkan kamar Mas?!" Farah mengerutkan keningnya bingung.


"Tadi siang aku sudah mengirimimu pesan. Apa kau tidak membacanya?!" sentaknya lagi.


Farah baru saja ingat, dia memang jarang sekali membuka ponsel akhir-akhir ini. Hanya untuk menghindar dari pertanyaan Ibunya. Hampir setiap hari ibunya menghubungi Farah, dan Farah selalu memberi alasan jika dirinya sedang sibuk.


"Maaf Mas, aku nggak tahu kalau kamu WA aku tadi!"


"Alaaah, kau memang selalu saja beralasan! Bukankah tadi pagi sebelum berangkat aku bilang padamu mau pulang ke kontrakan setelah acara pernikahanku dengan Susi selesai!" cecarnya lagi.


"Sekarang cepat kau bereskan kamarku dan Susi!" perintahnya lagi.


"Kenapa harus aku sih yang bereskan? Minta bereskan saja sama Susi, sekarang kan dia juga istrimu?!" timpalnya menggebu-gebu.


Farah sudah lelah atas sikap kasar suaminya. Memerintahnya dengan seenaknya, dan ucapannya selalu tak pernah menjaga hatinya.


"Apa pikiranmu ini sedang tidak waras, Farah?! Susi itu kelelahan, sedari pagi sampai sore kami kecapean melayani para tamu undangan kami!" berangnya.


Farah menahan amarahnya lantas ia mengalah, dan melengos masuk kamar, terpaksa ia membersihkan tempat tidur untuk mereka berdua.


Selama Farah membersihkan kamar mereka, sayup-sayup terdengar suara manja Susi di luar kamar dan Doni begitu lembut memperlakukannya.


"Mas, kakiku pegal sekali. Dari tadi berdiri terus..." keluh Susi.


"Pegal ya sayang, sini biar Mas pijati ya..." Doni meraih kaki Susi ke atas pangkuannya dan memijatinya dengan lembut dan penuh perhatian.


Mendengarnya Farah semakin geram lantas mengobrak-abrik sprei kasurnya. Kenapa kau tega padaku Mas? Kau tahu selama ini di Surabaya aku sedang berjuang demi hidup kita. Agar kita bisa merasakan hidup enak... pekiknya dalam hati.


Bersambung...


...*****...

__ADS_1


__ADS_2