Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Farah Menemui Rubi


__ADS_3

...BAB 68...


...Farah Menemui Rubi...


"Kalau saja dari awal Mbak Farah menceritakan semuanya padaku. Aku sudah pasti akan menghajarnya!" geram Fadil dengan mengepal kedua tangannya kencang-kencang.


Bukan hanya kedua orangtuanya Farah, bahkan adik lelaki satu-satunya Farah pun ikut tak terima dengan perbuatan Doni, kakak iparnya yang tega mengkhianati Farah.


Wajah Fadil sudah memerah padam, menahan amarah yang sudah memuncak. Tangannya seakan gatal ingin sekali menghajar Doni.


"Ini semua salah Bapak, maafkan Bapakmu Nak... Tak seharusnya dulu Bapak memaksamu untuk menikah dengan Doni... Bila kamu tak cinta, harusnya kamu tolak keras perjodohan itu..." lirih pria paruh baya tersebut, seraya mengusapi pelan wajahnya yang sudah mulai keriput.


Farah lekas menggeleng kepalanya yang masih berada dalam rangkulan Ibunya.


"Ini bukan kesalahan Bapak, tapi Mas Donilah yang tak mau bersyukur. Sebelumnya dia tak pernah mempermasalahkan Farah untuk tinggal disini bersama kalian. Tapi kemarin, tiba-tiba dia kembali mengungkit hal itu. Padahal Farah di sini pun bekerja dan berusaha untuk membantu perekonomian rumah tangga kami berdua, agar bisa meringankan beban Mas Doni disana..." ujar Farah dalam pelukan Ibunya. "Tapi, tapi Mas Doni malah menyalahkanku Buu, dan katanya aku selalu abai dengan kewajibanku sebagai istrinya..." sambungnya lagi dengan isak tangis yang semakin menyayat hati.


Bu Marjuki mengangguk kepala, memahami atas tekanan bathin yang di alami putrinya. Tangannya mengusapi bahu Farah berusaha menenangkan hatinya yang masih digoncang segala prahara.


Fadil mendengus nafasnya semakin marah, lantas ia beranjak dari tempatnya duduk. Berjalan mondar-mandir di depan Farah dan juga Ibunya.


"Huh, dasar licik aku tahu kenapa dia bicara seperti itu?! Dia hanya ingin menutupi kesalahannya, dan tanpa merasa berdosa dia pun menyalahkanmu, Mbak! Lelaki seperti dia memang tidak pantas untuk kau pertahankan lagi. Tak ada pilihan lain, kau memang harus menggugatnya cerai. Soal Yoga, Mbak Farah tak perlu khawatir biar aku yang akan menafkahinya, jadi Mbak tak perlu takut tak bisa membiayai hidup Yoga sendirian..." tegas Fadil.


Farah mengangguk semakin tergugu, air matanya kembali mengalir dengan deras. Betapa ia tersentuh dengan kepedulian sang adik kepadanya.


"Makasih banyak ya Dil..." lirihnya. Fadil mengangguk tersenyum pada Farah.


"Besok Bapak akan pergi menemui Pak Karmin atas perilaku Doni kepadamu, dan juga soal dia yang menikah lagi tanpa sepengetahuan kita..." ucap Pak Marjuki tegas.


"Aku juga ikut Pak!" sahut Fadil semangat. Pak Marjuki mengangguk mengiyakannya, seraya menepuk bahu putranya.


Farah tersenyum haru, perasaannya perlahan mulai tenang karna ternyata dia tak pernah sendiri, ada keluarganya yang siap selalu membantu dan mendukungnya dalam hal apapun itu.

__ADS_1


****


Ada kegembiraan di hati Sinta karna Farah akhirnya kembali pulang. Awalnya dia memang ikut sedih mendengar kabar tentang Farah yang akan bercerai dari suaminya. Namun, ini adalah kesempatan emas bagi Sinta untuk menawari lagi Farah tentang perjanjian mereka yang dulu sempat mereka batalkan karna Farah ingin tinggal bersama suaminya di Madiun.


Esoknya pun Sinta bergegas pergi ke rumah Farah untuk menghiburnya


"Kamu yang sabar ya Fa, aku tahu kamu pasti tak ingin pernikahanmu dan Mas Doni hancur begitu saja. Memang dasar wanita pelakor itu saja yang tidak tahu malu, dia dan suamimu memang harus di beri pelajaran!" ucap Sinta yang ikut geram setelah mendengar semua cerita Farah.


"Ya, mungkin ini sudah garis takdirku Sin... Aku memang sudah tak berjodoh lagi dengan Mas Doni..." lirih Farah yang masih memasang wajah sendunya di atas tempat tidur.


Farah yang masih betah berbaring di ranjang sama sekali tak ingin beranjak dan melakukan aktivitas apapun, rasa-rasanya semangatnya menjadi luruh ketika dia harus mengingat lagi lelaki yang sebentar lagi akan menjadi mantannya itu.


"Apa kamu mau diem aja gitu di perlakukan buruk oleh mereka? Kamu itu harus bisa buktiin ke mereka Fa, bahwa kamu bisa sukses dan kaya meskipun tanpa suamimu, terutama kamu harus tunjukan pada si pelakor itu! Agar suamimu itu menyesal karna telah menghianati dan meremehkanmu! Ayolah Farah, kamu harus tetap semangat agar bisa membalas perbuatan mereka!" ajak Sinta dengan menggebu-gebu.


Farah tertegun mendengar semua ucapan berisi motivasi yang sahabatnya berikan. Farah pikir apa yang di katakan Sinta ada benarnya.


"Iya kau benar, aku memang harus bisa membalas perbuatan Mas Doni dan wanita pelakor itu padaku!" angguk Farah setuju. "Tapi... bagaimana caranya?!" tanyanya, dengan sedikit mengerutkan keningnya bingung. Lantas Farah beranjak duduk dan menatap Sinta dengan serius. Sinta menarik nafasnya kencang lalu menghembusnya kasar.


Farah semakin mengernyitkan dahinya.


"Perjanjian?"


"Iya, dulu kita sudah saling berjanji akan membagi usaha butikku, kau dan aku!"


Farah menelan ludahnya kasar. "Em, tapi Sin bukankah dulu aku pernah sempat membatalkannya!"


"Bagiku semua yang kau ucapkan dulu tak berlaku! Aku ingin kita melanjutkan semua yang jadi harapan kita masing-masing..."


"Tapi Sin?!" Farah tercekat, kali ini dia yang kembali di lema. Farah tahu keinginan besar Sinta yang ingin menikah dengan Fadil, adiknya. Haruskah dia meminta lagi pada Rubi untuk menjauhi Fadil?


"Aku berjanji padamu akan kuberikan aset bisnisku satu-satunya itu untukmu, Fa..." tawar Sinta dengan mengembangkan senyumannya lebar.

__ADS_1


Farah mendongak menatap Sinta tak percaya. Matanya membulat lebar, menelan ludahnya cepat. "Ma, maksudmu Sin?!"


"Ya, akan kuberikan usaha butikku itu untukmu. Asalkan kau mau bantu aku, memisahkan Mas Fadil dari wanita janda itu. Aku tak ingin, dan aku tak pernah rela Mas Fadilku bersama dia!" geramnya, tampak kini terlihat matanya mengkilat penuh amarah.


Farah benar-benar di buat bingung, satu sisi dia memang tergiur dengan tawaran besar Sinta kepadanya. Tapi di sisi lain Farah tak mau bila berhadapan lagi dengan Rubi. Seolah kotoran yang dulu pernah Farah lempar pada Rubi, kini berbalik mengenai mukanya sendiri.


"Tapi Sin, aku..." gelagap Farah, wajahnya seketika berubah pucat.


"Ayolah Fa, ini kesempatanmu untuk bisa membuktikan bahwa kamu mampu sukses tanpa ada suami di sampingmu! Perlihatkan pada dua orang jahat itu bahwa kamu mampu membiayai Yoga dengan hasil kerja kerasmu sendiri! Aku tak apa mengorbankan usahaku yang ku rintis lima tahun lamanya, asalkan aku bisa hidup bersama Mas Fadil.." ucap Sinta lagi dengan wajah memelasnya seraya memohon. "Aku benar-benar cinta mati sama Mas Fadil, Fa..." isaknya kecil.


Farah melihat kesungguhan Sinta, jelas terlihat mata sahabat baiknya kini tengah berkaca-kaca.


"Em, baiklah Sin akan aku usahakan itu, namun aku tidak bisa berjanji... Farah mengangguk pelan, masih hati yang bimbang dan ragu.


****


Esok harinya, Sinta pun mengantar Farah untuk menemui Rubi. Kebetulan Sinta memang tahu aktivitas Rubi akhir-akhir ini.


Sudah dua minggu itu, Rubi memang berada di toko mainan milik Lyra. Wanita yang masih terlihat muda namun sudah menyandang status janda itu memang ingin menghabiskan waktunya bekerja di sana, itu pun atas ijin Lyra sang pemilik toko dan sudah meminta Rubi untuk mengambil alih semua pekerjaannya. Mengawasi anak-anak buahnya bekerja.


Rubi tersenyum saat melihat kembali pengunjung yang datang masuk toko kakak iparnya.


"Selamat da..." Rubi terkejut saat tahu yang datang adalah Farah. Farah menatap datar ke arah Rubi yang juga melihatnya dengan raut bertanya dan jantung berdebar-debar kencang.


Mau apa Mbak Farah kemari, apa dia ingin menemuiku? Atau dia ingin menghinaku lagi seperti waktu itu dan memintaku untuk jauhi lagi Kak Fadil? bathin Rubi dengan perasaan yang tiba-tiba menjadi cemas.


Farah menghela nafasnya panjang lalu tersenyum kecil menatap Rubi. "Apakah kita bisa bicara berdua sebentar?"


Bersambung....


...****...

__ADS_1


Maaf readers setia baru bisa update lagi... Hp author error dan kemarin baru selesai service. 🤧🤧🤧🙏🙏🙏


__ADS_2