Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Haruskah Pergi Jauh


__ADS_3

...BAB 50...


...Haruskah Pergi Jauh...


Keesokan harinya. Seperti biasanya Rubi yang akan mengantarkan dan menemani Keyla ke sekolah. Sebab kondisi Lyra yang belum sehat betul, karna ini adalah kehamilan pertama baginya.


"Ayo kita pulang Key..." sahut Rubi menggandeng tangan Keyla setelah melihatnya keluar dari kelas.


"Tante, Keyla mau makan es krim..."


"Kamu mau es krim?"


"Iya Tante..." angguknya tersenyum lebar.


"Ya udah gimana kalau kita mampir dulu ke Kafe temennya Tante?!" ajak Rubi.


"Oke Tante! Asyiiik makan es krim!" teriaknya meloncat girang. Rubi hanya menggeleng tertawa melihat tingkah Keyla.


Pulang sekolah itu, Rubi mengajak keponakan kesayangannya menuju kafe. Kebetulan, kafenya tak jauh dari sekolah Keyla. Setelah tiba dan memarkirkan mobilnya. Rubi dan Keyla pun masuk dan mencari tempat duduk.


Keyla membuka-buka buku menu. Rubi menunggu keponakannya untuk memilih menu es krim.


"Ayo Key... Kamu mau pesan es krim yang ma_" ucap Rubi terhenti, karna tak sengaja kedua netranya melihat Fadil dan Sinta masuk ke Kafe itu juga. Mereka memilih tempat duduk yang lumayan agak jauh dari Rubi.


Rubi lekas memalingkan wajahnya ke jendela, wajahnya memerah kesal karna lagi-lagi dia harus bertemu dengan mereka.


Ya Tuhan, kenapa dimana-mana selalu saja ada mereka! gerutunya dalam batin, menutup setengah wajahnya dengan tangannya.


"Tante, Keyla mau beli yang ini saja! Rasa coklat campur strawberry yaa!" Keyla berteriak mengejutkannya.


"Duh Key, jangan kenceng-kenceng ngomongnya..." bisiknya menggerutu.


Namun terlambat Fadil sudah mendengar suara teriakan Keyla. Fadil menoleh ke arah mereka. Ia terkejut.


"Keyla, Rubi!"


Fadil pun beranjak dari kursi. Sinta ikut menoleh saat sibuk memilih makanan untuk mereka berdua pesan.


Rubi semakin menutupi wajahnya dengan buku menu, Fadil tersenyum lebar dan menghampiri mereka berdua.


"Wah kalian berdua juga ada disini rupanya, Om Dokter boleh ikut gabung nggak nih?!"


"Eh Om, ayo sini Om..." Keyla menggeser tempat duduk dan Fadil ikut duduk di samping Keyla. Lantas Fadil memanggil Sinta agar dia juga ikut pindah duduk bersama mereka.

__ADS_1


Sinta yang sebenarnya tak mau, ia terpaksa menuruti kemauan Fadil. Lalu ikut duduk di sampingnya Rubi.


Kecanggungan terlihat di antara Rubi dan Sinta. Hanya Fadil dan Keylalah yang sering mengobrol disana.


Setelah selesai menghabiskan es krimnya. Rubi pun bergegas ke kasir untuk membayarnya. Dan di susul Fadil.


"Berapa semuanya?" tanya Rubi pada penjaga kasir.


Rubi cepat-cepat merogoh uang di dompetnya namun Fadil segera menahan tangannya Rubi, dan ia mengeluarkan kartu debit dan memberikannya pada pelayan kasir Kafe itu lebih dulu.


"Tolong hitung semuanya yang Mbak..."


"Baik Pak..."


"Tidak perlu aku bisa bayar punyaku dan Keyla..." tolak Rubi. Fadil hanya tersenyum acuh.


"Ini Pak. Terimakasih atas kunjungannya.


"Sama-sama..." ucap Fadil.


Rubi mendengus kesal. "Aku anggap ini semua hutang, aku tak mau kau terus membayar makananku..." gerutunya, lalu berjalan menjauhi Fadil.


"Kenapa kamu jadi begini, bukankah kamu dulu suka kalau Kakak yang sering traktir kamu?" Fadil berjalan menyusulnya.


"Kenapa apakah Kakak punya salah padamu?" tanyanya terheran. Rubi menggeleng kepala, dan terus menghindar dari tatapan Fadil.


"Akhir-akhir ini kamu sering menghindari Kakak. Jika memang Kakak pernah bersalah padamu, Kakak minta maaf. Tapi tolong beritahu letak kesalahan Kakak ada dimana?" tanyanya.


"Kesalahan Kakak cuma satu..." tukasnya.


Fadil mengerutkan keningnya. "Apa itu?"


"Ya, Kakak selalu mendekatiku. Padahal saat ini Kakak sudah punya kekasih..." ucapnya terus terang.


Fadil terkejut, lantas menoleh pada Sinta yang asyik mengobrol dengan Keyla di meja. "Lho, apa yang salah kalau Kakak dekat denganmu, bukankah kita!"


"Tentu saja salah Kak! Dengan Kak Fadil yang terus mendekatiku, Kakak tak menyadari kalau itu justru membuat hati Rubi semakin terluka Kak..."


Rubi cepat-cepat menyela perkataan Fadil. Menatapnya dengan tatapan yang nanar, kedua matanya semakin berkaca-kaca.


Fadil semakin di buat bingung dengan perkataan Rubi. Bibirnya gelagapan. "Ter-terluka?!"


Rubi mengangguk pelan, menundukkan kepalanya dan bersamaan itu, air matanya pun jatuh menetes membasahi pipinya. "Iya, aku tidak bisa melihat kedekatanmu bersama wanita itu Kak... Sebab aku.."

__ADS_1


Rubi terbata-bata, menelan ludahnya yang sulit masuk, bahunya bergetar kencang. "Sebab aku mencintaimu..." ungkapnya.


Sontak Fadil membulatkan matanya. Tak percaya yang ia dengar, jika Rubi memendam perasaan cinta kepadanya.


"Aku sudah suka padamu sejak pertemuan itu... Aku mencintaimu Kak Fadil. Tapi aku tahu, aku hanya anak kecil di matamu. Aku bukanlah tipe wanita yang kamu sukai... Aku tahu banyak sekali kekurangan yang kupunya. Maka wajar jika Wisnu menghianatiku... Aku tahu diri Kak..." lirihnya terisak-isak. Rubi mengusap kedua pipinya yang basah. "Aku tahu aku memang tak pantas untuk kamu..."


"Ru, Rubi... Kakak... Tidak tahu kalau..." gelagapnya. Dia masih kaget dengan pernyataan Rubi.


"Mas, sudah bayarnya..." tanya Sinta tiba-tiba datang menghampirinya.


Fadil menoleh pada Sinta dan tersenyum kikuk. "Ah ya..." angguknya.


Sinta melihat Rubi yang seperti menangis lantas menatap dengan raut bertanya pada Fadil.


Tak ingin jadi pertanyaan Sinta, Rubi bergegas meninggalkan mereka berdua dan mengajak Keyla pulang.


"Ayo Key, kita pulang... Nanti Mama dan Nenek khawatir di rumah..."


"Iya Tante..." Keyla turun dari kursi dan menggandeng tangan Rubi.


"Permisi Kak, Mbak... Kami pamit pulang duluan..." ucap Rubi tersenyum pada mereka, lantas pergi duluan.


Fadil bergeming melihat kepergian Rubi dan Keyla.


"Mas kenapa diam saja? Ada apa dengannya, kenapa dia menangis tadi?" tanya Sinta penasaran. Fadil menggeleng tersenyum pada Sinta.


"Bukan apa-apa, barusan Rubi hanya sedikit curhat pada Mas..."


Sinta menghela nafas kasar. "Hati-hati loh Mas, dari sering curhatan. Dia bisa suka loh sama Mas..." sindir Sinta dan berhasil membuat Fadil jadi salah tingkah.


"Apa hahhaa... Kamu ada-ada saja Sin..." elaknya.


****


"Mungkin aku harus pergi ke suatu tempat yang sangat jauh, dimana aku tidak akan lagi bertemu dengannya... Disini hanya membuat hatiku tersiksa, aku tak bisa terus melihatnya bersama wanita lain. Hatiku sakit, aku cemburu..."


Rubi mengusap kasar air matanya yang terus berderai tanpa henti. Dengan kaki telanjang Rubi berlari kencang bersamaan dengan deburan ombak besar di pantai, berteriak, dan meluapkan segala kesakitan di hatinya sebab cinta bertepuk sebelah tangan. Cinta yang tak mungkin ia gapai. Walau sudah sekuat tenaga berusaha ia raih. Tetap saja itu mustahil baginya.


Di langit senja itu. Rubi terisak menangis seorang diri di antara riuhnya ombak yang bertebaran, menyamarkan teriakan luka di hatinya.


Rubi menjatuhkan dirinya di atas pasir, tangannya menggenggam kencang pasir itu sehingga butiran pasir keluar dari celah-celah sela tangannya. Begitulah cinta yang tersemat di hati Rubi, walau besarnya pengakuan yang ia sampaikan. Tidak mungkin jika Fadil akan memilih dirinya.


Bersambung...

__ADS_1


...****...


__ADS_2