Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Kehamilan Lyra


__ADS_3

...BAB 49...


...Kehamilan Lyra...


Pukul sebelas siang. Rubi telah pulang ke rumah bersama Keyla. Keyla bergegas masuk ke kamar orangtuanya dengan tas sekolah yang masih dia gendong.


"Assalamu'alaikum Mamaa... Keyla pulang..." ucapnya setelah membuka pintu kamar.


"Wa'alaikumsalam..." jawab Lyra tersenyum manis memandang putrinya yang sudah pulang. "Anak Mama... Sini sayang..." Lyra merentangkan tangannya di tempat tidur.


Keyla menghampiri Lyra yang masih duduk menyender di atas ranjang, lalu menciumi kedua pipinya, dan memeluknya dengan erat.


"Gimana sekarang keadaan Mama?" tanyanya cemas.


"Alhamdulillah, Mama agak mendingan sayang..." ucap Lyra seraya mengusapi kepala putrinya.


"Bagaimana kalau kita ke Dokter saja Mbak. Tadi Kak Raffa telpon nyuruh Rubi buat anterin Mbak ke Rumah Sakit." sahut Rubi yang juga baru masuk ke kamar kakak dan kakak iparnya.


Lyra mengangguk. "Boleh, kalau itu tidak merepotkanmu."


"Tidak kok Mbak, tidak merepotkan. Rubi justru senang karena sudah berguna di keluarga ini..." ucapnya yang mendadak sendu.


Lyra menggeleng tersenyum setelah menyadari ucapan sedih Rubi.


"Rubi, tak ada manusia yang tak berguna di dunia ini. Setiap manusia pasti memiliki kelebihannya masing-masing, dan kamu jangan mengatakan kalau kamu itu tidak berguna..." sela Lyra, mengerutkan keningnya simpatik.


"Terimakasih Mbak. Mbak adalah orang baik yang paling mengerti Rubi. Tapi Rubi sadar diri kok, Rubi memang selalu salah dan menyusahkan kedua Kakak Rubi, Bunda... Bahkan Ayah Rubi pun dulu pernah Rubi membantah perintahnya. Rubi ingin sekali memperbaiki diri Mbak, setidaknya menjadi anak yang berguna untuk Bunda dan Kedua kakak Rubi..." ucapnya yang semakin sendu.


Entah kenapa ucapan nyelekit Farah tadi di Taman membuatnya jadi sensitif. Rubi merasa rendah diri dan terus menyalahkan dirinya. Seandainya saja dulu dirinya tak nekad menikah dengan Wisnu, mungkin tak akan terjadi seperti ini. Pernikahannya di khianati dan akhirnya bercerai. Mungkin ini memang karma untuknya karna tak pernah mendengar ucapan baik dari keluarganya dulu.


"Kamu adalah anak baik Rubi, kamu pintar dan juga berbakat... Jadi jangan pernah berpikir kalau kamu itu tak berguna lagi ya..." ucap Lyra menyemangati.


Rubi tersenyum tipis, hatinya sedikit terobati karna mendapat perhatian dari Kakak iparnya.


****


Lyra pun masuk setelah mendapat panggilan dari Dokter. Di temani oleh Rubi dan Keyla yang juga memaksa ingin ikut tadi.


"Selamat ya Bu, saat ini anda sedang mengandung. Dan usia kandungan Ibu sudah memasuki tiga minggu." ucap Dokter itu setelah dia selesai memeriksa Lyra dengan melihat hasil tes urine tadi.


Lyra terkejut tak percaya, mulutnya menganga lebar sontak menutupnya dengan kedua tangannya. Begitu pun Rubi dan Keyla di sana tak kalah terkejut mendengarnya.


"Sa-saya hamil Dok?!" tanya Lyra tergugup, Dokter wanita itu mengangguk lagi.


"Alhamdulillah Mbak... Rubi ikut seneng dengernya jadi selama ini Mbak Lyra ternyata sedang hamil." Rubi memeluk erat kakak iparnya dari samping.


"Hamil itu apa sih Tante?" celetuk Keyla yang belum mengerti dari tadi. Dia bertanya pada Rubi dengan wajah polosnya. Semua menoleh pada Keyla.


"Hamil itu adalah... Emm, kalau di dalam perut Ibu itu ada bayinya, Key... Kamu ngerti kan?!" jelas Rubi dengan wajah bingungnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Jadi itu artinya di dalam perut Mamamu sekarang ada bayinya, adiknya Keyla..." ujar Rubi sembari menyengirkan giginya. Dia mencoba menjelaskan pelan-pelan pada keponakannya.


Keyla membulatkan matanya. "Bayi?! Jadi sekarang di perut Mama ada bayi?! Dan Keyla akan punya adik?" serunya tak percaya dengan sorot mata berbinar.


"Iya sayang, sekarang di perut Mama ada adiknya Keyla..." jawab Lyra.


"Horeee Keyla bakal punya adik! Horeee!" teriaknya meloncat-loncat girang. Mereka pun tertawa melihat kehebohan Keyla.


Lyra pun terharu bahagia, lantas mengusap air matanya yang menetes keluar. Karna ini akan menjadi berita yang membahagiakan untuk Ibunya nanti.


"Kita harus segera kabari Kak Raffa dong Mbak, pasti dia bakal seneng banget dengernya kalau Mbak Lyra sedang hamil..."

__ADS_1


Lyra menggeleng cepat. "Jangan dulu Rubi..." larangnya.


Rubi dan Keyla saling pandang terheran. Lyra tersenyum mengembang menatap mereka dengan kode alis yang naik turun.


"Ini akan menjadi kejutan untuk Mas Raffa. Nanti kalau Mas Raffa pulang baru kita semua beritahu dia soal kabar ini..."


Rubi langsung bertepuk tangan sekali. "Oh oke Mbak. Rubi setuju! Ahhaha Mbak bisa saja..."


Setelah Lyra selesai di periksa dan di beri resep obat dan vitamin oleh Dokter. Mereka bertiga pun menuju apotek. Lyra dan Keyla menunggu di kursi panjang. Sementara Rubi ijin pergi ke toilet sebentar.


Rubi berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam kamar kecil di Rumah Sakit itu, karna sudah tak kuat lagi menahan buang air kecilnya.


Selang kemudian Rubi pun keluar dari toilet setelah selesai menuntaskan hajatnya dengan hati lega, lantas ia pergi kembali ke tempat Lyra dan Keyla.


Namun saat melewati taman belakang Rumah Sakit. Rubi menghentikan langkahnya, karna melihat seseorang yang ia kenal. Siapa lagi kalau itu bukan Fadil.


Rubi menatap nanar Fadil yang kini tengah duduk dan asyik mengobrol di temani Sinta di sana.


"Aku tahu, aku tidak mungkin pantas untukmu Kak.. Aku tahu diri, aku ini siapa?! Aku hanya seorang janda..." lirihnya tersedu.


Rubi mengusap air matanya yang tiba-tiba saja menetes keluar tanpa ia minta.


Fadil yang asyik bercengkrama dengan Sinta pun sontak tak sengaja melihat keberadaan Rubi disana.


Rubi kembali melihat ke arah Fadil. Namun ia terkejut, ternyata Fadil juga sudah melihat ke arahnya yang akhirnya keduanya saling menatap dari jauh. Rubi lantas berbalik dan buru-buru pergi dari sana.


Fadil beranjak dari kursi taman. "Rubi?" gumamnya pelan.


"Siapa Mas?" tanya Sinta.


"Itu Rubi, Mas ke sana sebentar ya Sin..." tanpa persetujuan Sinta, Fadil lekas berlari ke arah Rubi yang sudah pergi.


Sinta memincingkan matanya tak suka melihat Fadil mengejar seorang wanita.


Rubi pura-pura tak mendengar dia terus saja melangkah dengan cepat.


"Rubii tunggu heii!" Akhirnya Fadil dapat meraih tangan Rubi.


Langkah Rubi pun jadi tertahan, lantas berbalik menundukkan kepalanya. "Eh Kak, Maaf aku sedang terburu-buru..." gugupnya.


Fadil mengerutkan keningnya. "Siapa yang sakit?" tanyanya tiba-tiba cemas. "Apakah Keyla?" Rubi menggeleng kepala.


"Bukan Kak, itu Mbak Lyra.. Rubi cuma antar dia periksa saja, karna Kak Raffa pergi dinas..."


"Lyra?"


"Iya, Mbak Lyra hamil dan baru di ketahui hari ini."


"Oh syukurlah aku ikut senang mendengarnya." ucap Fadil tersenyum.


"Ya sudah Kak, kalau gitu Rubi balik dulu ya nggak enak ninggalin Mbak Lyra dan Keyla di apotek..." alihnya cepat-cepat, melepas tangan Fadil yang memegang lengannya.


Rubi merasa tak nyaman apalagi saat ini Sinta tengah berdiri melihatnya sinis dari belakang Fadil.


"Ya... Silakan..." Fadil mengangguk sedikit kecewa. Karna Rubi buru-buru ingin pergi.


"Kalau begitu Rubi pamit pulang Kak..." Rubi pun kembali berbalik melangkah pergi.


Fadil memandang punggung Rubi yang telah menjauh. Lagi, Fadil merasa jika Rubi sangat berbeda akhir-akhir ini. Dia seolah terus menghindarinya.


Ada apa denganmu Rubi? Kenapa sekarang kamu tak seperti dulu? Setiap kita bertemu kamu pasti akan menghiburku dengan wajah ceriamu... Tapi sekarang, kamu terlihat pendiam dan seolah menutup dirimu dariku... batin Fadil.

__ADS_1


"Mas Fadil!" Sinta berjalan menghampiri Fadil di belakangnya. Lalu memegang lengannya.


Fadil menoleh ke belakang. "Ya, Sin..."


"Mas, Rubi itu emang siapa sih Mas? Kok kayaknya Mas deket banget sama dia?!" tanya Sinta tersenyum kecut, jujur Sinta tak suka melihat Fadil akrab selain dengan dirinya.


"Oh dia, adiknya temen Mas..."


"Hem... Kayaknya aku juga pernah lihat dia sering main ke rumahmu dulu ya kan?! Apa dia suka sama kamu Mas?!" celetuk Sinta dengan tatapan mencurigai.


Fadil membulatkan matanya, menatap Sinta dengan pipi yang mendadak panas. "Suka, hahaha... Itu tidak mungkin Sinta. Rubi sudah aku anggap sebagai adikku. Dan Rubi juga tidak mungkin menyukaiku..." Fadil terkekeh geli.


"Ya siapa tahu kan, dia suka sama kamu Mas... Tapi kalau sampai Mas juga suka. Aku bakalan marah nih sama kamu!" Sinta memajukan bibirnya, cemberut. Fadil terkekeh lagi.


"Tidaklah Sin, mana mungkin aku bisa suka sama dia. Usianya jauh di bawahku... Dan dia hanya pantas ku jadikan adik. Kamu tahu sendiri kan, kalau Mas itu sukanya tipe wanita yang lebih dewasa, lembut dan mandiri seperti kamu..." ujar Fadil tersenyum manis lantas mencubit pelan pipinya Sinta.


"Beneran, nggak bohong kan Mas?!"


Fadil menggeleng kepala. "Tidak, buat apa Mas bohong. Buktinya Mas sekarang nerima kamu jadi pendamping Mas kan..." ucapnya lagi tersenyum.


Sinta tersipu malu lantas memegang tangan Fadil dengan erat. "Ah, Mas Fadil ini, Sinta semakin tersanjung saja di buatnya..."


Tak jauh dari sana, ada seseorang yang sengaja mendengarkan di balik dinding Rumah Sakit. Hatinya kembali terluka, mendengar sebuah pernyataan yang menyakitkan itu.


****


Rubi cepat-cepat masuk ke kamarnya setelah pulang dari Rumah Sakit. Sedangkan Lyra dan Keyla bercerita pada Ambar di ruang keluarga. Betapa Ambar sangat bahagia mendengar kabar itu.


"Akhirnya aku akan punya cucu lagi..." ucapnya terharu.


Lyra pun merogoh ponsel, dia juga teringat akan Ibunya yang di rumah. Lekas Lyra menelepon wanita yang dia rindukan selama ini.


Setelah menikah, Raffa menyewa suster dan pembantu rumah tangga untuk menjaga dan menemani Bu Rukanda. Untuk itu, Lyra jadi tak terlalu khawatir bila meninggalkan Ibunya di rumah.


"Ibu juga pasti bakalan senang mendengar kabar ini..." gumam Lyra.


["Ya Hallo nduk. Apa kabarmu di sana?"]


"Baik Bu... Ibu sendiri bagaimana kabarnya?" tanya Lyra seraya mengusap air mata yang menetes di kelopak matanya.


["Alhamdulillah Ibu baik Nduk..."]


"Ibu ada kabar baik untuk Ibu... Lyra, Lyra sekarang sedang hamil Bu..."


Bu Rukanda sontak terkejut, matanya membulat lebar. ["Apaa kamu hamil nduk?!"] teriaknya.


"Iya Bu..."


"Alhamdulillaaah Nduk, ya Allah... Akhirnya Ibu bisa punya cucu juga..." teriak girang Bu Rukanda sampai terdengar oleh Ambar dan Keyla disana, mereka semua pun jadi ikut tertawa mendengarnya.


****


Rubi menghempas tubuhnya di atas kasurnya yang empuk. Melihat keluarganya yang saat ini tengah berbahagia karna kehamilan Kakak iparnya. Justru Rubi tengah dalam kepahitan.


Hatinya begitu sakit bagai tercabik-cabik mengingat lagi ucapan Fadil tadi.


"Tidaklah Sin, mana mungkin aku bisa suka sama dia. Usianya jauh di bawahku... Dan dia hanya pantas ku jadikan adik. Kamu tahu sendiri kan, kalau Mas itu sukanya tipe wanita yang lebih dewasa, lembut dan mandiri seperti kamu..."


Rubi terisak dalam, air matanya luruh tak tertahankan. "Aku tahu Kak, aku memang belum dewasa di matamu. Tapi aku benar-benar tulus mencintaimu. Aku sayang padamu Kak Fadil..."


Bersambung...

__ADS_1


...****...


__ADS_2