
...BAB 70...
...Kedatangan Doni Meminta Yoga...
Keesokan harinya, di kota Madiun. Doni benar-benar marah besar. Setelah barusan Ayahnya meneleponnya dan memintanya untuk segera pulang ke Surabaya.
Tangan Doni mengepal kencang ponsel miliknya.
"Huh, rupanya dia sudah pulang dan mengadu pada orangtuaku. Dan dia ingin menggugatku cerai! Awas saja kau Farah! Baiklah jika itu maumu akan ku turuti, tapi aku pastikan Yoga harus berada dalam pengasuhanku!" geram Doni, tersenyum menyeringai.
"Ada apa Mas? Barusan telepon dari siapa?" tanya Susi heran.
Doni menoleh pada istrinya yang baru saja masuk kamar, istri mudanya itu baru saja menyelesaikan sarapannya setelah Doni. Tadinya Doni akan berangkat bekerja pagi ini, tetapi tiba-tiba saja Ayahnya menelepon lalu menyuruhnya pulang untuk membicarakan masalah rumah tangga Doni dan Farah.
"Oh itu Ayahku, mereka menyuruhku untuk segera pulang ke Surabaya. Sepertinya, Farah sudah memberitahukan mereka tentang pernikahan kita. Dan katanya lagi, dia ingin bercerai dariku..." jawab Doni santai, seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
Susi pun terkejut mendengar Farah yang ingin bercerai dari suaminya. Seketika matanya berbinar senang.
"Kamu serius Mas?! Jadi, wanita itu ingin bercerai darimu?!"
Doni mengangguk lagi yang sontak di peluk oleh Susi, lalu wanita bertubuh molek itu menciumi wajah suaminya bertubi. "Aku senang sekali Mas dengernya, akhirnya aku bisa miliki kamu seutuhnya!" sahutnya girang.
"Iya sayang, aku juga senang. Hanya saja, sekarang aku harus bersiap-siap menemui kedua orangtuaku... Mereka berdua pasti ingin memarahiku karna aku sudah menikah lagi. Kamu doakan saja ya, supaya aku sabar menghadapi mereka dan mereka bisa menerima kamu sebagai menantu barunya..." ujarnya dengan helaan nafas, ia mencoba untuk bersikap tenang di depan Susi.
"Iya dong Mas, aku pasti doakan kamu... Ya udah pergilah... Hati-hati di jalan..." ucap Susi lalu kembali mencium bibir Doni dengan liar.
Doni pun mengangguk tersenyum setelah membalas ciuman buas istrinya yang selalu membuatnya candu itu. Lalu bersiap pergi ke Surabaya dengan menaiki mobil milik Susi. Sebab Susi yang menyuruhnya tadi untuk menaiki mobilnya saja.
Sebelum pergi, Doni pun mampir dahulu ke kontrakannya. Dia masuk ke kontrakan yang sudah kosong. Sontak Doni terkejut melihat seisi rumah kontrakannya sudah berantakan seperti kapal pecah. Padahal waktu ia tinggalkan kemarin bersama istri keduanya untuk pergi berbulan madu, rumah itu sangat bersih dan rapi. Lalu Kamar pun terlihat sama tak kalah kotornya, sprei kasurnya yang sudah acak-acakkan.
"Huh dasar kekanak-kanakkan!" umpatnya bertambah kesal. "Sebaiknya aku tidak lagi tinggal disini!"
Doni pun membuka pintu lemari untuk mengambil barang-barang pentingnya yang ingin dia bawa. Lalu, dia kembali terkejut karna melihat sudah tak ada lagi pakaian milik istri pertamanya, satu helai pun.
__ADS_1
Doni mendengus sinis. "Pergilah yang jauh, toh buat apa aku juga memelihara istri yang tak becus sepertimu?! Coba saja kalau orangtuamu dari keluarga kaya tentu aku akan mempertahankanmu! Tapi tak apa, aku masih punya istri kaya dan cantik seperti Susi. Aku beruntung sekali mendapatkannya, karna dia, aku tak perlu capek-capek lagi bekerja keras banting tulang seperti dulu..." ujarnya tertawa bangga.
Ya, sekarang Doni memang sudah tak lagi bekerja jadi tukang buruh bangunan. Kini dia di percaya oleh Ayahnya Susi untuk memimpin Restoran milik keluarga mereka. Karna Susi adalah satu-satunya anak perempuannya.
Setelah Doni mengambil barang yang ingin dia bawa, lalu ia melangkah ingin pergi keluar namun tak sengaja ia menginjak pecahan kaca di sisi pintu kamar. Doni pun meringis kesakitan.
"Aaaw sialan, apa ini?!" teriaknya.
Doni melihat darah menetes di telapak kakinya. Lalu mengambil pelan pecahan-pecahan kaca yang menembus ke dalam kulit kakinya. Doni kembali menggerutu kesal, lalu melihat ke arah tong sampah kecil yang berada di pojok kamarnya.
Sontak Doni melihat tertegun pada foto pernikahannya bersama Farah yang telah hancur berserakan, kacanya pecah berkeping. Sekelebat bayangan masalalu pun ikut muncul mengusik pikirannya.
Ya, dulu Doni memang tidak pernah mencintai Farah. Setelah di jodohkan oleh kedua orangtuanya karna usianya yang memang sudah tidak muda saat itu. Doni lama melajang, karna banyak wanita yang menolaknya setelah melihat apa pekerjaannya. Tak ada yang mau menerimanya, tapi Farah dengan ikhlas mau menerima lelaki miskin sepertinya. Ya, Doni terpaksa menikahi Farah demi permintaan orangtuanya. Doni pun mengakui, Farah memang wanita baik dan setia. Hanya saja wanita itu tak mau hidup sengsara bersamanya di luar kota. Jadi menurutnya buat apa juga Doni harus mempertahankan Farah, walau memang Farah tak pernah meminta nafkah lebih padanya.
"Huh, masa bodoh dengan pernikahan kita!" umpatnya lagi. "Aku sudah tak peduli lagi! Susi lebih dari sempurna dia memang wanita idaman para pria..." kagumnya kini pada istrinya.
Susi adalah wanita yang ia temui pertama kali di sebuah danau, saat itu Susi terlihat frustasi dan ingin mengakhiri hidupnya dengan cara menggores pisau ke nadi tangannya. Sebab telah di putuskan kekasihnya. Doni pun datang menghampirinya, lalu membawanya ke Rumah Sakit hingga saat itu kedua orang tua berbalas budi pada Doni. Kehadiran Doni membuat Susi lupa mantan kekasihnya dan akhirnya jatuh cinta pada Doni.
****
"Ayo habisin makannya sayang... Nanti Mama mandiin kamu kalau udah makan..." Farah duduk di kursi teras sambil menyuapi putranya yang berada di dalam baby walkernya, sore itu.
"Hallo... Om pulang Yoga!!" seru Fadil setelah masuk melewati pagar rumahnya. Mobilnya pun ia biarkan sengaja parkir di luar. Karna dia mau pergi lagi setelah mandi dan berganti pakaian.
Farah mendongak, bibirnya mengulas senyum melihat adiknya telah pulang dari bekerja.
"Kok mobilnya nggak di masukin ke garasi saja Dil? Memangnya kamu mau pergi kemana lagi?" tanya Farah heran.
Fadil pun menatap Kakak perempuannya setelah menciumi gemas kedua pipi gembul keponakannya.
"Ehm, iya mbak. Rencananya malam ini aku mau ngajak Rubi makan malam. Hehehe..." ujarnya terkekeh malu-malu, seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Farah pun menatap datar adiknya lalu menurunkan mangkuk bayi di tangannya ke dalam pangkuannya.
__ADS_1
"Kamu tidak serius kan Dil, nikahin wanita itu?" tanya Farah dingin, yang lalu menghembus nafasnya kencang.
"Kamu benar-benar tega ya Dil, mutusin Sinta demi dia. Sinta masih cinta kamu loh! Kemarin dia sampai nangis-nangis gitu sama Mbak!"
Fadil menghela nafasnya dalam dan panjang. Lalu berdiri dan menatap tak suka pada Kakaknya yang kembali membicarakan Sinta.
"Sudahlah Mbak, jangan mulai lagi. Fadil nggak mau ribut dengan Mbak soal keputusan yang Fadil ambil..."
"Tapi Dil, seharusnya kamu pikirkan perasaan Sinta dong sebelum mutusin dia! Sinta sudah setia loh nungguin kamu dari dulu sebelum kamu berniat mau nikahin Lyra! Kamu nggak sadar ya, kalau kamu itu tega sama dia?!" cecarnya lagi membela sahabat baiknya.
"Bukannya aku tega Mbak! Justru aku akan semakin bersalah kalau terus-terusan menjalin hubungan dengan Sinta, itu artinya Fadil sudah membohongi perasaan Fadil sendiri. Fadil nggak bisa Mbak membalas cintanya Sinta. Walau Sinta memang wanita baik dan pengertian, dan Fadil hanya bisa menganggapnya sebagai teman biasa, tidak lebih dari itu!" jelasnya panjang lebar.
Farah mendengus nafasnya lagi dengan kasar. "Buat apa sih harus ada cinta dulu, Dil? Nanti kalau kalian udah nikah kan, lama-lama juga kalian bakalan saling cinta!" timpal Farah tak mau kalah.
"Ya benar, tapi itu menurut pemikirannya Mbak sendiri! Cinta akan datang setelah terbiasa bersama. Namun apa setelahnya? Sekarang, apa Mbak bisa buktiin bahwa pasangan yang di jodohkan itu, mereka bisa hidup bersama selamanya? Bisa Mbak menjamin, kalau salah satunya akan merasa bahagia?" jawab Fadil yang sukses membungkam mulut Farah.
Deg!! Farah pun mulai tersentil dengan jawaban Fadil. Ya, sindiran Fadil telah berhasil merubuhkan lagi hatinya yang masih terluka akibat perselingkuhan suaminya.
"Itulah, pernikahan hasil dari perjodohan Mbak! Kalau tidak dari hati maka akan berakhir dengan perpisahan. Dulu Mbak bilang kalau Mbak dan Mas Doni pun tidak saling mencintai. Awalnya kalian memang saling menerima bukan. Tapi nyatanya sekarang? Kau bisa lihat sendiri kenyataannya. Bagaimana suamimu dengan mudahnya menghianati pernikahan kalian?!" timpal Fadil, dengan tatapan tegas dan sinisnya pada Farah.
Setelah berbicara itu pun, Fadil melangkah masuk ke dalam rumah. Sementara Farah masih berdiri terpaku. Menatap lurus dengan pandangan getir.
Yoga yang merasa bosan karna melihat Ibunya terdiam saja. Lalu berjalan dengan rodanya menuju halaman. Yoga pun menjerit senang kala seseorang memangkunya.
Sontak Farah melonjak kaget dan menoleh ke depan halaman, matanya membulat lebar melihat Doni sudah ada berdiri di depan pagar sambil memangku putranya.
"Kau, kau sejak kapan disini?!" gelagap Farah dengan bibir bergetar. "Mau apa kau kemari hah?!" cecarnya.
"Aku kemari ingin membawa Yoga!"
Bersambung....
...****...
__ADS_1