Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Ganti Rugi


__ADS_3

...BAB 37...


...Ganti Rugi...


Rafa dan Rubi bergegas pergi ke Rumah Sakit. Sementara Fadil masih belum sadarkan diri. Sebab luka tusukan dalam di bahunya membuatnya kehabisan banyak darah.


Sehingga Fadil belum bisa menceritakan detail kejadiannya pada mereka. Untungnya mereka masih bisa melihat jelas rekaman video aksi penyerangan yang tertangkap dari CCTV di kamar rawat Fadil. Dan operator komputer di Rumah Sakit itu, memperbesar foto rekaman sosok penjahat yang menyerang Fadil tadi. Hingga wajah penjahat itu terlihat jelas setelah Fadil melepas topeng yang menutupinya.


Rubi tercengang. Ternyata orang yang ingin mencelakakan Fadil selama ini adalah mantan suaminya sendiri. Begitu pun Raffa yang tak menyangkanya jika Wisnu akan melakukan tindakkan kejahatan pasca perceraiannya dengan adiknya.


Raffa bergegas mengantarkan Ayah Fadil ke kantor polisi untuk menemui Wisnu. Agar lelaki itu mendapatkan hukuman seberat-beratnya. Atas melakukan aksi pembunuhan berencana.


Sementara Rubi berusaha menenangkan hati Bu Marjuki, yang sejak tadi wanita paruh baya itu tak berhenti menangis pilu.


Begitupun Rubi menceritakan duduk permasalahannya kenapa Wisnu bisa menyerang Fadil. Bisa jadi mantan suami Rubi menyimpan dendam pada Fadil. Mendengar cerita Rubi, Bu Marjuki terus mengucap istighfar seraya mengusap dadanya.


"Seharusnya tadi Ibu tidak turuti perkataanmu. Seandainya saja tadi, Ibu dan Bapakmu tidak pulang. Orang itu pasti tidak akan mencelakakanmu lek..." isaknya sesenggukan, menatap putranya yang masih terbaring di atas ranjang.


"Maafkan Rubi Tante... Ini semua memang kesalahan Rubi... Hanya karna Kak Fadil ingin menyelamatkan Rubi, Kak Fadil jadi kena getahnya..." lirihnya.


Rubi memeluk Ibunya Fadil. Dia merasa bersalah sekali pada Fadil. Tak seharusnya Fadil dulu membantunya. Bu Marjuki menggeleng kepala sambil menyusut air matanya.


"Mungkin ini sudah takdir dan kehendakNya... Tante juga tidak bisa menyalahkan siapapun..."


*****


Pagi pun tiba. Fadil sudah kembali tersadar sejak subuh tadi. Bu Marjuki pun terharu melihat putranya sudah terbangun lagi. Bu Marjuki mengusap wajah dan kening putranya.


"Puas kamu sudah buat Ibu shock, Lek. Dasar bandel, apa kata Ibu semalam. Seharusnya Ibu tak turuti kemauanmu buat ninggalin kamu!" cecarnya dengan air mata yang terus bercucuran.


Fadil terkekeh kecil. "Tidak apa-apa Bu, anggap saja Ibu sedang nonton film action. Dan tokoh utamanya adalah Fadil. Hehehe..." Fadil tahu jika orangtuanya pasti sudah melihat rekaman CCTV di kamar ini.


"Kebiasaan kamu ini. Orangtua mencemaskanmu, tapi kamu malah ngajak bercanda!" sungutnya.

__ADS_1


"Yang penting sekarang Fadil selamat kan dari serangan maut itu. Ibu jangan khawatir... Walau anak ibu ini sakit, tapi fisik Fadil, masih kuat untuk bisa menjaga diri..." ucapnya tersenyum percaya diri.


"Walau kamu pandai bela diri, tetap saja Ibu ini selalu khawatir sama kamu..."


"Iya Fadil ngerti kok Bu... Ibu hanya takut kehilangan Fadil, karna Fadil adalah anak Ibu yang paling ganteng sedunia milik Ibu satu-satunya. Betul kan?!" celetuknya lagi, sudah kebiasaan Fadil yang selalu bergurau di kala Ibunya sedang mencemaskannya.


"Iya kamu memang anak paling ganteng, tapi paling bandel juga. Suka ngeyel kalau di bilangin!" makinya kesal. Fadil pun tertawa lagi.


Sementara Rubi, baru saja terbangun dari tidurnya. Semalam ternyata dia tertidur di sofa kamar rawat Fadil. Raffa membangunkan adiknya.


"Kak, dimana ini?" tanyanya. Rubi mengusap wajahnya sehabis bangun tidur.


"Ini di Rumah Sakit, Fadil baru saja sadar. Kita temui dia sekalian kita pamitan pulang padanya. Dari semalam kita disini. Aku khawatir Keyla mencari kita di rumah..."


"Tapi Kak..."


"Kamu bisa kesini lagi nanti..."


Rubi mengangguk. "Baiklah..." lantas kedua kakak beradik itu berpamitan pada Fadil dan orangtuanya.


"Iya, soalnya Keyla harus ke sekolah Kak..." ujar Rubi. "Dan aku harus mengantar jemput dia..." ujarnya dengan berat hati, sebenarnya Rubi masih ingin menemani Fadil di sini.


"Sekali lagi. Rubi minta maaf ya Kak, atas perilaku Wisnu padamu..."


"Yang bersalah mantanmu kenapa kamu yang meminta maaf? Untungnya saja aku punya sembilan nyawa, jadi walau dia berusaha ingin membunuhku itu tidak akan mempan buatku... Heheheh..." kelakarnya tertawa sombong.


"Kak Fadil nih, masih saja bercanda walau keadaan sudah terluka parah!" gerutu Rubi.


Fadil hanya terkekeh nyaring. Lantas ia menoleh pada Raffa. "Kapan kau akan menikahi Lyra?" tanyanya tiba-tiba pada Raffa.


Raffa membulatkan matanya terkejut di tanya Fadil seperti itu.


"Em itu, InshaAllah, minggu depan..." jawab Raffa mengulum senyumnya malu.

__ADS_1


Fadil mengangguk tersenyum, ikut senang mendengarnya.


"Cepatlah kalian menikah, agar Lyra bisa kemana-mana menjaga putrimu itu. Dan... Biar Rubi yang temani aku..." celetuknya tiba-tiba.


Sontak Rubi pun membulatkan matanya mendengar perkataan Fadil pada Kakaknya. Kedua pipinya pun berubah merah.


Raffa menoleh pada adiknya lalu menatap lagi Fadil dengan tatapan mengintimidasi dengan hubungan mereka. "Kalian berdua..."


"Hahaha jangan salah paham dulu. Aku terluka begini gara-gara mantan adik iparmu! Jadi sebagai ganti ruginya. Aku meminta Rubi, adikmu untuk merawatku selama aku sakit!" terang Fadil.


Wajah Rubi semakin memerah malu. Sebab dia sudah salah sangka duluan. Dan mengira yang bukan-bukan. Rubi pikir Fadil akan memintanya untuk menemani hidupnya.


Raffa dan Rubi pun berpamitan. Setelah mereka berbincang cukup lama bersama Fadil. Khawatir Keyla mencari Papanya di rumah. Rubi berjanji pada Fadil kalau dia akan sering-sering datang untuk menjenguknya.


Siangnya setelah mengantar Keyla pulang sekolah. Rubi pun pamit pada Bundanya pergi ke kantor polisi. Dia sengaja memang ingin menemui mantan suaminya.


"Rubi..." Wisnu terkejut melihat kedatangan Rubi.


Plaak


Rubi menampar keras pipi Wisnu. Wajahnya terlihat marah sekali.


"Kamu memang sudah gila Wisnu. Aku tak sangka, kau nekad sekali ingin membunuh kak Fadil!" sentaknya menatap nyalang mantan suaminya itu.


"Aku melakukannya karna aku tak terima bercerai darimu Rubi! Aku masih mencintaimu, dan aku tidak suka melihatmu dekat-dekat dengannya!" timpalnya, matanya berkaca-kaca merah.


Wisnu menatap Rubi dengan tatapan yang getir. Wisnu masih berharap Rubi bisa kembali padanya.


Rubi berdecak sinis. Lalu tertawa meledeknya. "Hahaha... Sorry, I dont love you anymore. Bahkan aku semakin jijik sekali melihat wajahmu itu! Seharusnya, kau itu merenungi setiap kesalahanmu Wisnu. Kenapa perceraian ini bisa terjadi. Bukannya malah berbuat jahat dan ingin menyakiti oranglain! Jadi, nikmatilah hidup panjangmu di penjara selamanya. Kau memang pantas mendapatkan hukuman ini! Selamat tinggal..." ucapnya tegas.


Rubi pun beranjak dari kursi lalu berbalik pergi meninggalkan Wisnu setelah menyampaikan kebenciannya.


Wajah Wisnu memerah padam, menahan gejolak amarah yang tak bisa ia lampiaskan. Di jeruji besi dia berteriak menggila, penuh kefrustasian.

__ADS_1


Bersambung....


...*****...


__ADS_2