
...BAB 37...
...Mimpi Buruk Rubi...
"Aaaargh!!"
Dengan penuh naf*su dan amarah, penjahat tersebut tak segan-segan mengarahkan benda tajamnya ke arah perut Fadil.
Jlebb
Namun sesaat ia terkejut, sebab Fadil telah berhasil menghindari serangannya. Hingga tubuh Dokter muda itu berguling jatuh ke lantai.
Lelaki jahat itu mengepal marah. Lantas ia mencabut lagi kasar pisaunya yang barusan menembus kasur, sehingga isi kasurnya berhamburan keluar.
Fadil melempar kasar bantal dan barang apapun yang ia lihat di kamar itu ke arahnya ketika orang itu ingin menyerangnya lagi.
Saat orang jahat itu lengah, Fadil berlari menghampiri pintu dengan langkah cepat namun tertatih-tatih. Tetapi penjahat itu ternyata lebih cepat dari Fadil dan tanpa aba pisaunya berhasil menusuk bahu Fadil.
Jraaatt
"AAAAAAARRRRRGGGHH!!"
Fadil menjerit. Dua orang perawat yang berniat menuju kamar Fadil pun, terkejut mendengarnya. Suara teriakannya sampai menggema keras memenuhi lorong rumah sakit besar itu. Lalu kedua perawat itu bergegas mempercepat langkah mereka.
"Pak Fadil?! Pak... Bapak tidak apa-apa kan?!" teriak mereka panik, seraya mengetuk keras pintu Fadil yang ternyata sudah di kunci oleh lelaki jahat itu dari dalam.
Fadil dan penjahat itu sama-sama menoleh ke arah pintu. Fadil panik, nafasnya terengah-engah cepat, bibirnya meringis menahan rasa sakit di bahunya.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Sepertinya orang ini benar-benar nekad ingin membunuhku. pekiknya dalam hati.
"Mau apa kau sebenarnya?! Dan kenapa kau ingin membunuhku?!" teriak Fadil pada penjahat yang tak ia kenali itu.
Sontak dua perawat di depan pintu tercengang mendengarnya, ternyata ada oranglain di dalam kamar Fadil. Lantas salah satunya pergi mencari security. Sementara satunya lagi berusaha ingin mendobrak pintu itu.
"Pakk! Pak Fadill, kami disini!!" teriaknya.
Fadil baru teringat, jika Bapaknya kemarin mengatakan. Bahwa penabrak yang menabraknya waktu itu adalah suruhan orang.
Apa jangan-jangan orang ini lah yang tengah mengincar nyawaku?! terkanya.
__ADS_1
Fadil memegangi bahunya yang sudah berlumuran darah. Lalu berusaha bangkit. Fadil sebenarnya pandai beladiri. Seandainya saja ia tak sakit dan tubuhnya tak lemah. Dia pasti sudah bisa melawan dan menghabisi orang jahat itu.
"Kau tak perlu tahu ini aku siapa, yang kuinginkan hanya satu, kau segera mati di tanganku!" berangnya yang kembali ingin menyerang Fadil dengan pisau yang sudah basah oleh darah.
Orang itu sepertinya tak menyerah untuk ingin menghabisi nyawa Fadil.
Sebelum lelaki itu mendekatinya, Fadil lebih dulu menarik tirai putih di samping jendela kaca, dengan gesit Fadil mengalungkan dan mengikat leher orang itu. Dengan sisa tenaga yang Fadil punya, ia dapat menarik kuat ikatannya. Sehingga Fadil berhasil membuat tubuh penjahat itu ambruk ke lantai. Dan pisaunya tadi terlepas dari tangannya.
Bajingan itu berusaha membuka ikatan tirai yang membelit kencang di lehernya. Sedang Fadil kini sudah berada di atas dan sigap menindih tubuhnya. Fadil masih tak ingin melepas ikatannya itu. Walau sebenarnya tubuhnya sudah sangat lelah.
"Tidak semudah itu kau ingin melenyapkan nyawaku! Sebelum kau melakukannya padaku, akulah yang lebih dulu menghabisimu!" seringainya tertawa sinis.
Orang itu benar-benar tercekik dan nyaris kehabisan nafas.
Tapi Fadil tak peduli. Lantas Fadil menarik dan melepas topengnya. Fadil ingin tahu siapa wajah di balik topeng itu? Sontak matanya terbelalak kaget.
"Kau?! Ternyata kau rupanya yang menyuruh orang untuk menabrakku! Dasar ba-jingan! Rubi memang pantas meninggalkan lelaki brengsek seperti mu!" makinya, wajahnya berubah merah dengan rahang yang semakin mengeras. Dokter itu benar-benar sangat marah. Setelah tahu Wisnu-lah yang ingin mencoba membunuhnya.
Pintu pun terbuka lebar setelah security berhasil membobolnya paksa. Lalu mereka bergegas membantu Fadil dan meringkus Wisnu yang sudah tak berdaya lagi.
Dua perawat tadi membopong Fadil kembali ke tempat tidurnya. Mereka lekas mengobati luka Fadil.
"Cepat bawa dia pergi ke kantor polisi... Dan tolong hubungi kedua orangtuaku..." titahnya dengan suara ngos-ngosan, dan tubuh gemetar.
Fadil lekas berbaring di atas kasur, seketika pandangannya jadi berkunang-kunang. Tak lama kemudian, Fadil mulai tak sadarkan diri.
"Pak, Pak Fadil..." teriak dua perawat itu.
*****
"Kak Fadilll... Kakk!!
Rubi tersentak bangun dari mimpi buruknya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Keringat jagung pun berjejer basah di keningnya.
"Ya Tuhan, mimpi apa barusan? Kok kayaknya aku mimpiin Kak Fadil deh..." gumamnya bertanya sendiri. Rubi mengusap-ngusap peluh keringatnya. Lantas beranjak dari ranjang.
Rubi keluar dari kamarnya lalu melangkah ke arah dapur. Dia mengambil air minum, lalu duduk dan meminumnya hingga habis.
Setelah minum, Rubi meletakkan lagi gelasnya di atas meja. Sejenak ia menghela nafasnya.
__ADS_1
"Kenapa perasaanku jadi tak tenang gini ya? Semoga saja, tidak ada apa-apa dengan Kak Fadil..." gumamnya lirih.
Ketika Rubi tengah melamun di dapur sendirian, tiba-tiba saja tepukan cukup kencang di pundaknya, mengagetkannya.
"Non Rubi!"
Rubi terlonjak kaget, dan menoleh ke belakang.
"Bi Sumi! Ya ampun Bibi ngagetin aja!" gerutunya mengusap dadanya yang sudah berdetak kencang.
"Maaf Non, habisnya Non Rubi diem aja. Dari tadi Bibik udah panggil-panggil!"
"Oh masa sih, kok aku nggak denger ya?!" Rubi memajukan bibirnya.
"Non Rubi ngapain malam-malam gini ngelamun segala di dapur. Terus lampunya pake nggak dinyalain lagi?" tanya ART itu terheran, setelah menyalakan lampu dapurnya.
"Ah aku nggak ngelamun Bik... Cuma habis minum..." sangkalnya.
Bi Sumi mengangguk. "Ooh kirain Bibik Non lagi mikirin sesuatu."
Rubi menggeleng, tetapi hatinya masih gelisah. Lalu ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya saja. "Ya sudah aku pergi ke mkamar lagi ya Bi..." ujarnya.
Bi Sumi mengangguk. " Iya Non..."
Rubi berjalan lagi menuju kamarnya, walau sebenarnya dia sudah tak lagi mengantuk. Tapi dia harus paksain tidur. Karna besok pagi Rubi harus ntar Keyla ke sekolah.
Saat ingin membuka pintu kamar. Rubi mendengar derap langkah cepat dari atas tangga. Rubi kembali berbalik.
"Baik, saya akan segera ke sana Paman!"
Raffa melangkah cepat turun ke bawah. Wajahnya terlihat panik.
"Ada apa Kak?" tanya Rubi heran.
"Fadil baru saja pingsan, dia habis ditusuk orang. Di duga orang itu juga adalah orang yang telah menyuruh penabrak itu untuk menabrak Fadil dulu!" terang Raffa.
"Apaa?!"
Rubi tercengang, menutupi mulutnya. Tak percaya. "Ya Tuhan... Kak Fadil!" pekiknya.
__ADS_1
Bersambung...
...****...