
...BAB 63...
...Siapa Wanita Yang Kamu Cintai?...
Sinta terduduk sambil menyenderkan punggungnya di ranjang pasien, saat ini dia dan Fadil berada di Rumah Sakit tempat Fadil bekerja. Akibat terserempet motor tadi, kaki kanannya terkilir, juga banyak luka di bagian lutut kaki dan tangan-tangannya. Setelah mengobati luka Sinta, Fadil mencuci kedua tangannya lalu menghampiri Sinta lagi.
"Gimana, mau ku antar pulang sekarang atau besok saja?"
"Aku tidak mau pulang!" ketusnya.
Sinta menoleh ke jendela kamar pasien, menatap dingin pemandangan langit yang semakin gelap gulita.
"Ya sudah, kalau kamu masih ingin disini. Kalau gitu aku pulang duluan..." Fadil berbalik hendak pergi keluar, namun tangannya segera di tahan Sinta.
"Mas! Kamu tega ninggalin aku sendirian disini?!"
"Bukan aku tega, tapi besok aku harus kerja Sinta. Dan aku ingin istirahat di rumah..."
"Kan kamu bisa istirahat disini sambil nemenin aku! Aku masih sakit Mas... Lagian besok juga kamu kan balik lagi kesini juga..." rengeknya dengan tatapan menyedihkan.
"Sinta tolong kamu jangan seperti ini, salah siapa juga tadi kamu lari menyebrangi jalan nggak lihat-lihat... Untung saja hanya luka-luka kecil..."
"Jadi Mas sama sekali nggak peduli sama aku, gitu?! Seharusnya aku tadi mati saja dan Mas tak perlu nolongin aku di jalan!" timpalnya.
Sinta memalingkan wajahnya kesal, karna Fadil sama sekali tak punya perasaan padanya. Sedang Fadil membuang nafasnya menahan gemas dan mulai lelah dengan sikapnya Sinta.
"Hahaha, Sinta-Sinta!" Fadil menggeleng tertawa, tak habis pikir.
"Memangnya dengan kamu mati, kamu akan merasa tenang disana, iya? Justru, kita nanti akan di hadapkan dengan dosa-dosa kita selama ini di dunia dan kita harus siap mempertanggungjawabkannya! Yakin kamu sudah siap bertemu dengan Tuhan? Yakin, kalau dosa-dosamu sudah di ampuni olehNya hem?!" ledeknya, dengan mimik yang jelas menakut-nakuti Sinta.
Sinta pun menundukkan kepalanya, mentalnya tiba-tiba menciut kala mendengar kata dosa.
"Jadi, berpikirlah dulu sebelum melakukan tindakan yang akan merugikan dirimu sendiri, Sinta kamu mengerti?!" tegasnya lagi, seraya menunjuki sisi kepalanya.
"Tapi setidaknya, aku tidak hidup merasakan sakit hati lagi Mas... Aku hanya ingin di temani kamu, untuk malam ini saja... Beri aku waktu, untuk bisa belajar melepasmu Mas Fadil..." pinta Sinta yang kini wanita itu memasang wajah sedihnya meminta belas kasihan Fadil. Berharap Fadil akan sedikit luluh dengan perkataannya.
"Tapi Sinta..." keluhnya.
"Baiklah kalau begitu pergilah, tinggalkan aku sendiri. Lagian aku memang tak berarti bagimu. Ya aku sadar diri, aku memang bukan siapa-siapa lagi buat kamu..." Sinta mengusap kasar air matanya yang sudah menetes keluar. Lalu berbaring dan membelakangi Fadil.
Fadil menghela nafasnya kencang, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. Terpaksa.
"Baiklah, aku temani kamu tapi besok aku antar kamu pulang ke rumah ya..."
Sinta tersenyum menyeringai, lalu kembali berbalik menghadap Fadil, akhirnya kemauannya di penuhi Fadil walaupun itu terpaksa.
__ADS_1
"Terimakasih Mas..." Sinta ingin memegang tangan Fadil, namun Fadil lebih dulu mundur ke belakang.
Sinta menekukkan wajahnya kecewa. Hatinya benar-benar seperti di iris-iris pisau. Rasanya sakit sekali.
"Aku keluar dulu sebentar..."
Fadil pun keluar kamar Sinta untuk menjawab telepon dulu, karna sejak tadi ponselnya bergetar di saku celananya.
Setelah Fadil menutup pintu kamar rawat Sinta, Fadil segera mengangkat teleponnya dengan senyuman lebar.
"Hallo sayang, belum tidur?"
["Belum, aku pengen denger suaramu sebelum tidur Kak..."]
"Uuh... Manjanya, bikin gemas aja nih..." celoteh Fadil terkekeh.
Sinta yang mendengar samar suara Fadil di luar kamarnya. Lantas beranjak dan turun dari ranjang pasien, dengan jalan tertatih-tatih dan sedikit pincang, ia mendekati pintu untuk mencuri dengar apa yang sedang Fadil bicarakan di sana. Sinta yakin jika saat ini mantan kekasihnya itu tengah berbicara dengan Rubi di telepon.
["Kamu sekarang lagi ngapain Kak, kok belum tidur juga?"] tanya Rubi.
"Em, itu kebetulan aku masih di Rumah Sakit... Ada salah satu pasien anak yang harus aku jaga.."
Fadil menggaruk kepalanya gelisah, terpaksa ia berbohong. Dia hanya khawatir jika Rubi akan salah paham nantinya kalau saat ini ia tengah menunggu Sinta di Rumah Sakit.
["Ooh gitu, ya udah tapi kamu jangan terlalu malam juga ya kerjanya. Jangan gadang nanti kamu bisa sakit..."]
["Besok siang aku ke Rumah Sakit ya, bawaain makan siang buat kamu..."]
"Oke aku tunggu besok..."
["Dadaah Kak, I love you..."]
"Daah... I love u too.." balas Fadil.
Sinta mengepal geram mendengar perkataan mesra mereka di balik pintu. Lantas ia bergegas kembali ke ranjang dan pura-pura tidur. Setelah tahu Fadil telah selesai bicara dengan Rubi.
Fadil pun masuk ke kamar Sinta lagi. Sebelum ia tidur di sofa, Fadil memastikan jika Sinta sudah terlelap tidur.
Malam berganti pagi. Tepat pukul enam, Sinta terbangun dan dia tak melihat Fadil di sofa. Namun dari jauh dia melihat jaket dan ponsel Fadil tergeletak begitu saja di meja. Sinta pun mengambil kesempatan itu untuk memeriksa ponsel Fadil.
Wajahnya memerah padam melihat runtutan chat mesra Fadil bersama Rubi. Tangannya lagi-lagi mengepal geram.
Lantas Sinta memotret dirinya di ranjang dengan wajah tersenyum manis. Lalu mengirimkan foto dirinya kepada Rubi dengan nomer Fadil tentunya.
Gambar fotonya telah terkirim dan sudah dua centang hijau, itu artinya foto itu telah di lihat Rubi. Sinta tersenyum licik, lekas ia menghapus untuk saya. Agar hanya Rubi saja yang bisa melihat kiriman foto dan Fadil tidak melihat jejaknya.
__ADS_1
"Ayo datanglah kemari Rubi, aku ingin tahu bagaimana reaksimu saat melihatku bersama Fadil saat ini..." gumamnya tersenyum menyeringai.
Sinta lekas meletakkan lagi ponsel Fadil, kala ia mendengar suara langkah seseorang dari luar pintu kamarnya. Lalu ia kembali berpura-pura berbaring.
Fadil membuka pintu, lelaki berambut hitam tebal itu masuk bersama suster yang membawa nampan sarapan untuk Sinta.
"Sarapanlah dulu, setelah ini aku antar kamu pulang..." titahnya, melihat Sinta yang sudah terbangun.
Sinta mengangguk. "Iya Mas terimakasih banyak..."
"Baiklah, kalau begitu aku tunggu di luar kamu bisa menekan tombol nanti aku kemari lagi..."
"Mas tunggu dulu.." cegah Sinta, Fadil kembali menoleh dan mengerutkan keningnya menatap Sinta.
"Ya?"
"Aku mau ke kamar kecil Mas, bantu aku jalan ya... Kakiku masih sakit...." rengeknya dengan nada yang melas dan manja. Fadil yang melihat kaki Sinta memang masih bengkak pun jadi tak tega.
"Baiklah..." Fadil terpaksa membopong Sinta dan menuntunnya ke kamar kecil. Lalu Fadil menunggu di depan pintu kamar mandi.
Sementara itu, Rubi terbelalak kaget melihat foto Sinta yang di kirim Fadil. "Apa maksudnya ini? Dia kenapa bisa?"
Rubi menghela nafasnya kencang. Lalu menggeleng kepala.
"Ah tidak, tidak mungkin kalau Kak Fadil bohongin aku. Bukankah dia bilang semalam menunggu pasien anak kecil. Tapi kenapa bisa ada foto Sinta. Baiklah aku kesana sekarang, untuk membuktikan kebenarannya."
Rubi pun bergegas memakai pakaiannya karna barusan telah mandi. Malam tadi, Rubi berniat akan pergi menemui Fadil saat jam makan siang, tapi setelah melihat foto Sinta Rubi jadi penasaran dan pergi ke Rumah Sakit tanpa menghubungi dulu Fadil.
Selang waktu kemudian Rubi telah sampai di Rumah Sakit dan ia langsung pergi menuju ruangan Fadil. Namun ternyata Fadil tidak ada di ruangannya dan hanya ada asistennya saja. Asisten dokter itu mengatakan saat ini Fadil berada di salah satu kamar pasien yang letaknya tak jauh dari ruangan Fadil.
Asisten itu menunjuk sebuah kamar dimana Fadil berada. Rubi melangkah kesana, dengan jantung berdegup kencang. Lantas membuka pelan pintu kamar yang setengah terbuka itu, perlahan dengan lebar.
Rubi membulatkan matanya, kala melihat Fadil yang sedang menyuapi Sinta makan.
"Mas aku mau minum..." pinta Sinta dengan suara manjanya.
Fadil pun mengambil gelas berisi air bening dan memberikannya pada Sinta.
Sinta yang sudah tahu jika Rubi datang, meliriknya sekilas dengan senyuman sinis.
Air mata Rubi pun menetes. Lantas mengusapnya dengan cepat. Lalu ia pergi dari sana.
"Sebenarnya siapa wanita yang kamu cintai Kak Fadil? Kenapa kamu masih berhubungan dengannya?" lirihnya menahan tangis yang menyesakkan dada.
Bersambung...
__ADS_1
...****...